
Hao Lang bergerak lebih cepat dan berhasil menahan serangan itu. Hao Yan pun segera melayang ke udara sambil membawa jasad ketiga orang saudaranya dengan energi qi-nya.
Perempuan itu terlihat kesal melihatnya, lalu Ia melesatkan beberapa jarum yang sangat kecil, membuat Hao Lang yang ingin menggagalkan serangan ke arah adiknya itu, sedikit kerepotan dibuatnya.
Sebuah jarum berhasil mengenai Hao Yan. Menyadari serangannya telah berhasil, perempuan itu lantas memusatkan serangannya kepada Hao Lang.
Setelah pertukaran serangan lebih dari seratus kali, akhirnya Hao Lang yang sebelumnya telah terluka dalam saat bertarung melawan Dewa Tongkat Merah, mulai terdesak hebat.
Akhirnya Hao Lang harus menerima konsekuensi atas perbuatan buruknya di masa lalu terhadap perempuan yang kini bertarung dengannya.
Perempuan yang memiliki kelincahan sangat tinggi itu, berhasil menikamkan pedangnya yang berwarna ungu, tepat menusuk jantungnya.
“Huh … Akhirnya kalian binasa di tanganku. Satu orang lagi pun tidak akan bisa hidup lebih dari dua jam.”
Senyum tersungging di sudut bibirnya. Lalu Ia melesat meninggalkan jasad Hao Lang yang matanya melotot lebar, seolah tidak percaya dirinya akan binasa di tangan seorang perempuan.
Dua jam kemudian, di bangunan utama Klan Hao, terjad kegemparan. Hao Yan yang berhasil mencapai tempat tersebut, akhirnya jatuh tersungkur dengan nafas yang terputus-putus.
Racun yang membuat seluruh kulit tubuhnya berwarna merah seperti api, telah merasuki seluruh aliran darahnya. Hal yang membuat Sang Ayah, Hao Jian, terlihat cemas.
“Cepat panggil Ayah!” Ia berteriak kepada adiknya Hao Fei yang sedang terpaku menatap jasad puteranya, Hao Fang, yang telah terbujur kaku.
Teriakan sang Kakak, segera mneyadarkannya dari pemandangan menyedihkan itu, Ia melesat ke sebuah bangunan megah, di mana sosok Ayah mereka, Hao Tian berada.
Beberapa saat kemudian, Hao Tian datang dengan wajah yang terlihat marah, mendapati tiga orang cucunya telah terbujur kaku dan satu orang sedang sekarat.
Ia segera mengalirkan energi qi nya kepada Hao Yan. Apa yang Ia lakukan, berhasil menyadarkan cucunya itu dari pingsannya.
“Siapa yang melakukan semua ini? Dimana Lang’er?” Hao Yan segera mendapat pertanyaan beruntun dari Sang Kakek, Ia pun terbata-bata menjawabnya.
__ADS_1
“Perem puan … sep…perti … gadis .. Hao Long.. Argh ….” Hao Yan pun meregang nyawa, membuat Sang Ayah menjerit keras. Ibu dari keempat jasad itu pun telah datang jeritan histeris segera memenuhi udara di kediaman Klan Hao.
Hao Tian, hanya memejamkan matanya dengan amarah yang menggelegak seolah hendak meledakkan kepalanya. Pemimpin Klan Hao itu melesat ke udara dan melayang menuju sebuah tempat.
Beberapa saat kemudian, terdengar dentuman demi dentuman menggelegar, sebuah bukit menjadi rata dengan tanah akibat kemarahan Hao Tian.
“Perempuan gadis Hao Long? Siapa dia? Siapa Hao Long?” Perkataan Hao Yan dengan suara lirih saat menyebutkan kata “Seperti” membuat Hao Tian dan yang lainnya, mengabaikan kata tersebut.
Kini Li Annchi dan Hao Long yang menjadi tersangka atas kematian ke empat orang itu. Sementara hilangnya Hao Lang masih menjadi pertanyaan lain.
***
Setelah kepergian kelima orang Klan Hao dari hadapannya, Dewa Tongkat Merah segera melangkah mendekati Li Annchi, seraya menatapnya dengan benak dipenuhi pertanyaan.
“Apakah kau dari Sekte Pulau Es Utara?” Li Annchi menganggukkan kepalanya. “Bagaimana kabar Matriark Lin Yu?” Lanjut Dewa Tongkat Merah yang nama sebenarnya adalah Qiu Heng.
Wajah Li Annchi segera tertunduk sedih, air menetes dari sudut matanya. Kesedihan akan kematian mereka membuatnya bersikap demikian.
Rahang Qiu Heng menggembung keras, kemarahan terlihat jelas dari raut wajahnya yang kini berubah menakutkan. “Siapa yang melakukan perbuatan keji itu?! Apakah Kau tidak memiliki petunjuk apapun tentang siapa pelakunya?”
Li Annchi menggelengkan kepalanya, Ia sengaja tidak menyebutkan, jika Hao Long yang menulis pada nisan mereka, atas nama dirinya.
Ia sendiri yang harus menyelesaikan urusan ini setelah bertemu dengan Hao Long yang masih Ia yakini sebagai pelakunya.
Lan Yue dan Hao Fang datang mendekati keduanya. Setelah berterimakasih kepada Qiu Heng dan memastikan jika Ia adalah Dewa Tongkat Merah, Lan Yue tersenyum sebelum berkata yang mengejutkan jagoan tua itu.
“Guru akan senang jika mengetahui Kakek masih hidup dan baik-baik saja. Ia memutuskan menyepi dari kehidupan luar setelah tidak menemukan kakek walau Ia mencari selama sepuluh tahun.”
“Siapa gurumu?” Dahi Qiu Heng mengerut sambil menebak siapa guru dari Lan Yue. “Beliau berjuluk Dewi Kipas Pelangi.” Raut wajah Qiu Heng berubah. Ia memejamkan matanya dengan kepala menghadap langit.
__ADS_1
“Yu’er … Maafkan Aku.” Desisan Qiu heng membuat Lan Yue tersenyum. Qiu Heng adalah satu-satunya pria yang membuat gurunya masih melajang hingga saat ini.
Malam yang menjemput beberapa jam kemudian, membuat Qiu Heng memutuskan untuk bermalam bersama mereka di tepi sungai itu.
Dari pembicaraan mereka berempat, Ia mengetahui jika karakter Hao Fang, berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain.
Hal itumembuatnya tertarik untuk mewariskan Ilmu Tongkat Merahnya kepada Pria tersebut. Namun Ia harus menelan kekecewaan, saat mendapati kerusakan pada meredian Hao Fang.
“Sewaktu kecil, aku pernah di gigit ular yang memasuki ruang tidurku.” Hao Fang menjelaskan mengapa merediannya menjadi rusak.
Ia tidak menyebutkan jika Hao Lang yang memasukan ular berbisa yang langka itu. Sejak digigit ular yang hampir membunuhnya, Hao Fang tidak bisa lagi berkultivasi hingga saat ini.
“Pantas saja jalur meredian mu seperti itu. Seandainya guruku masih hidup, mungkin Ia bisa mengobatinya.” Wajah Qiu Heng terlihat sedih dan berubah saat Lan Yue berkata dengan penuh harapan.
“Bagaimana jika kau ikut denganku, Aku yakin guru bisa menemukan jalan keluar dari permasalahan ini.” Dahi Hao Fang berkerut. “Bukannya gurumu sangat benci terhadap kami Klan Hao?” Tanya-nya pada Lan Yue.
Lan Yue lalu menjelaskan bahwa Hai Fang telah berjasa menyelamatkan dirinya dari kematian di arus sungai, selain itu, keinginan Dewa Tongkat Merah menjadikan dirinya sebagai pewaris Ilmu Tongkat Merah, akan membuat gurunya bersikap berbeda.
Wajah Qiu heng terlihat cerah, Ia menyetujui rencana Lan Yue dan setuju untuk kembali ke tempat dimana Dewi Kipas Pelangi berada.
Li Annchi yang tidak memiliki arah tujuan yang jelas, akhirnya memutuskan untuk mengikuti mereka yang berangkat pada ke esokan harinya.
Keempatnya melayang di udara dengan Hao Fang yang tubuhnya diselimuti energi qi dari Qiu Heng. Arah barat yang mereka tuju semakin mendekatkan mereka kepada Dewi Kipas Pelangi, setelah lebih dari empat jam mereka mengudara.
“Apa yang terjadi? Siapa yang menyerang kami?” Lan Yue tercekat saat mereka tiba di atas bukit besar yang dipenuhi oleh puluhan bangunan itu.
“Long …?” Li Annchi terlihat geram saat melihat hao long sedang bertarung dengan seseorang yang memiliki kemampuan tinggi.
---------------------------O------------------------
__ADS_1
Selamat tahun baru untuk pembaca Setia Legenda Liontin Naga. Semoga yang sering lupa like tidak lupa lagi di tahun ini. Yang ga pernah Like menjadi suka nge-like.😂😂😂
🙏🙏🙏