Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
026: Mencari Informasi


__ADS_3

“Itu semua karena Keahlian menyusup Dewi Bunga Hitam dan dirimu yang begitu tinggi, hingga Aku tidak bisa mengetahui kalian berdua telah berada di dalam wilayah Sekteku.”


Huang Bao tersedak nafasnya sendiri karena tersindir oleh ucapan Matriark Lin Yu.


“Eh Aku tidak menyusup … Aku hanya datang diam-diam untuk memberi kejutan kepadamu. Tapi tak kusangka … Aku justru bertemu dengan Dewi Bunga hitam. ” Huang Bao sedikit canggung saat berkata demikian.


“Begitukah?”


Saat itulah Hao Long menyadari ada hubungan spesial antara Pertapa Sakti Pulau Persik dengan Matriark Lin Yu. Hal itu terlihat dari rasa cemburu dalam nada suara Pemimpin Pulau Es Utara itu.


“Matriark Lin … Mengapa kita tidak mengejar Dewi Bunga Hitam sekarang juga?” Ao Lang mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bertanya demikian.


“Tidak … Saat ini kekuatan kita berempat tidak akan bisa menandingi kekuatan kedua orang itu. Sebelum mengetahui cara untuk membebaskan Li Annchi, sebaiknya Kau dan muridmu ini tidak mencoba mendekatinya.”


Setelah terdiam beberapa saat, Matriark Lin Yu lalu mengajak mereka bertiga kembali ke Aula Sekte Pulau Es.


Dalam benaknya, Ia sedang berpikir keras bagaimana bisa Dewi Bunga Hitam mengetahui keberadaan Li Annchi yang selama ini dirahasiakan olehnya dan seluruh anggota Sekte.


Setibanya di Aula Sekte, Matriark Lin Yu memberi perintah kepada Ji Xiofu agar mengumpulkan seluruh Tetua yang ada di dalam Aula Sekte.


Setelah Lonceng tanda para Tetua untuk berkumpul dibunyikan satu persatu para Tetua mendatangi Aula dengan wajah yang terlihat tegang.


Setidaknya sekitar lima puluh tetua yang kini berada di dalam ruang Aula Sekte. Mereka duduk sesuai dengan kursi yang bernomor sesuai dengan tingkatan Tetua. Ji Xiofu menempati kursi dengan nomor satu.


Matriark Lin Yu segera berdiri dan menjelaskan peristiwa yang baru saja terjadi tentang menyusupnya Dewi Bunga Hitam dan keberadaan Li Annchi yang telah diketahui oleh orang luar.


“Aku menduga bahwa ada anggota sekte kita yang menjadi mata-mata Dewi Bunga Hitam. Untuk itulah Aku meminta Kalian untuk menyelidiki siapa orang tersebut dan menangkapnya. Ji Xiofu … Kau bentuklah Tim khusus untuk menyelidiki hal ini.”


Selain memberitahu tentang hal tersebut, Matriark Lin Yu meminta mereka untuk semakin meningkatkan penjagaan terhadap wilayah Sekte.


Setelah membubarkan para Tetua, Matriark Lin Yu mengajak Hao Long, Ao Lang dan Huang Bao untuk mencari tahu bagaimana cara melepaskan Li Annchi dari pengaruh Energi Roh Iblis Es.

__ADS_1


Huang Bao yang merasa bersalah karena gagal menangkap Dewi bunga Hitam, ikut membantu Hao Long dan Matriark Lin Yu mencari cara tersebut dengan membaca kitab-kitab di Perpustakaan Sekte Pulau Es Utara.


Satu hari telah mereka lalui, dimana setidaknya lima puluh kitab telah selesai mereka baca. Namun belum ditemukan cara untuk membuat Li Annchi terbebas dari pengaruh Energi Roh Iblis Es itu.


Hao Long menyandarkan tubuhnya di dinding dengan menghela nafas panjang, rasa putus asa terlihat dari raut wajahnya yang terlihat sedih.


Saat itulah, secara tak sengaja, Ia melihat sebuah kitab yang sampulnya telah usang dan robek di beberapa bagian.


Hao Long lalu meraih buku tersebut dan membacanya setelah membersihkan debu yang menempel cukup banyak di bagian sampulnya.


Satu lembar telah Hao Long baca setelah tiga menit kemudian. Wajahnya terlihat antusias, saat Ia menemukan beberapa catatan tentang tubuh dengan Akar Roh Yin.


Semakin banyak lembar yang Ia baca, wajah Hao Long semakin terlihat antusias dan berubah ceria. Saat di lembar terakhir, wajah Hao Long memerah untuk beberapa saat.


Kerinduannya terhadap Li Annchi kembali membelenggu jiwanya. Namun senyum simpul segera tersungging di sudut bibirnya setelah berhasil menemukan apa yang Ia cari.


***


Bukit tersebut cukup terpencil dan jauh dari pemukiman penduduk. Desa terdekat yang berada di sekitar wilayah tersebut berjarak hampir lima puluh kilometer.


Terlihat sebuah jalan besar berada satu kilometer dari puncak bukit tersebut.


Namun jarang sekali para penduduk atau pedagang yang berani melewati jalan besar tersebut.


Selain banyak hewan buas di dalam hutan yang berada di kedua sisi jalan, alasan lainnya adalah kabar tentang tempat tersebut yang merupakan wilayah kekuasaan Sekte Kipas Neraka.


Sekte tersebut adalah Sekte yang menempati urutan ke lima dari tiga belas Sekte yang bernaung dalam aliansi Tiga Belas Sekte Aliran Hitam.


Pemimpin Sekte Kipas Neraka, adalah seorang Kultivator yang memiliki kultivasi di tingkat Pendekar Dewa Tahap Menengah. Selain itu, Ia memiliki sebuah Pusaka Tingkat Bumi yang sangat hebat.


Pusaka itu adalah sebuah Kipas yang mampu melesatkan api biru yang sangat panas. Bahkan sebuah hutan pun bisa dibakarnya dengan mudah menggunakan kipas tersebut.

__ADS_1


Tidak ada yang mengetahui dengan pasti dimana sebenarnya pusat Sekte tersebut berada.


Demikian juga dengan Dewi Bunga Hitam yang saat itu tengah bersama Li Annchi yang kesadarannya telah diambil alih oleh Roh Iblis Es.


“Hu Gege!!! Dimana Kau berada!”


Sosok Dewi Bunga Hitam berteriak dengan menggunakan qi nya setelah Ia menunggu beberapa saat.


Dua menit kemudian, puncak bukit tersebut telah terkepung oleh empat orang kultivator yang berada ditingkat Pendekar Langit Tahap Awal.


Keempatnya muncul dari balik pepohonan besar yang tingginya hampir seratus meter itu. Sikap garang keempat orang itu menghilang, saat melihat kecantikan Li Annchi yang bergaun biru muda.


Di balik cadarnya, wajah Dewi Bunga Hitam terlihat kesal saat mendapati mata keempat orang itu yang melotot lebar melihat kecantikan Li Annchi.


Hal itu sudah bukan sesuatu yang asing baginya, Ia sudah mengetahui jika anak buah Kakak pertamanya itu, sering menculik gadis-gadis untuk bersenang-senang.


“Dimana Hung Gege? Mengapa Ia tidak datang sendiri menemuiku?!”


“Nona Jing Li … Patriark Jing Hung sedang bersenang-senang dengan seorang gadis, Kami tidak berani mengusiknya.”


Salah satu dari keempat orang itu, berkata dengan mata yang menatap tajam ke arah Li Annchi. Terlihat Ia sedang menahan hasrat besar yang mendera dalam tubuhnya.


“Baiklah jika begitu. Katakan pada Hung Gege, Aku menunggunya di penginapan Mawar Hitam. Ada hal penting yang ingin ku sampaikan padanya! Ayo kita pergi dari sini”


Jing Li segera meraih tangan Li Annchi yang masih terdiam sejak mereka tiba di Puncak Bukit tersebut.


“Tunggu Nona … “


Dua orang terlihat melesat ke udara, menghadang jalan Jing Li dan Li Annchi yang hendak pergi dari tempat tersebut.


“Apa maksudmu menghadang jalanku Hah!” Jing Li terlihat kesal saat mendapati kedua anak buah kakaknya itu, bersikap demikian padanya.

__ADS_1


---------------------------O--------------------------


__ADS_2