
“Long’er Kau baik-baik saja bukan?” Tanya Huang Bao. “Lebih dari sekedar baik-baik saja, Ia sedang bersuka cita!” Huang Bao tertegun mendengar Li Annchi yang menjawab pertanyaannya.
Ia melihat ke arah Tetua Fu Xia yang tersenyum seraya mengangkat kedua bahunya. Hao Long pun heran dengan sikap Li Annchi, namun Ia tidak membahasnya lebih lanjut.
Hao Long lalu menjelaskan bahwa saat ini adalah saat yang tepat untuk menguasai Kota Kaiping. Selain Shui Lin sudah mati, kekuatan Aliansi aliran putih sudah cukup kuat untuk menguasai kota tersebut.
Lalu sekitar lima ratus orang Aliansi Aliran putih melesat memasuki kota Kaiping setelah menerima sebuah catatan dari Shi Mey. Catatan itu berisi tempat-tempat di mana Anggota dan tetua Sekte Elang Hitam berada.
Sementara Hao Long dan Li Annchi, melesat ke arah timur, arah dari mana tadi Hao Long sempat merasakan Dua Aura besar memancar.
“Aneh … Kenapa Aku tidak bisa merasakan lagi Aura mereka.” Setibanya di Sisi timur Kota Kaiping, Hao Long berhenti. “Annchi apakah Kau tadi merasakan …” . “Tidak” jawab Li Annchi singkat dan ketus.
“Kau kenapa sih dari tadi ketus melulu …” Tanya Hao Long gusar. “Jawab Sendiri! Dasar Lelaki ga peka!” Li Annchi kembali berkata dengan nada ketusnya.
Hao Long terdiam mendengar ucapan kekasihnya. Melihat Hao Long belum menyadari kesalahannya, Li Annchi kesal lalu mendampratnya.
“Kau pikir Aku tidak tahu kau berkali-kali mencuri pandang pada Si Shi Mey itu Hah!” Hao Long tertegun, tidak menduga dirinya ketahuan oleh Li Annchi. Ia pun diam saja sambil menggaruk kepalanya, tak berani bersuara satu kata pun.
BLAAAAM
Li Annchi yang ingin kembali memarahi Hao Long, membatalkan niatnya setelah ledakan besar terdengar dari tengah-tengah kota Kaiping.
Aura besar yang tadi sempat Hao Long rasakan secara samar-samar, kini memancar dengan jelas. “Siapa dua orang ini. Kekuatannya besar sekali.” Hao Long menelan ludahnya.
Tatapan keduanya segera beralih ke sebuah bangunan besar yang sedang runtuh. Keduanya pun segera melesat ke tempat tersebut.
Amarah Hao Long seketika menggelegak, saat Ia melihat puluhan Anggota Aliansi Aliran putih terkapar tewas dengan tubuh yang terkoyak.
Sementara Huang Bao dan Qiu Heng, terduduk di tanah, sedang memuntahkan darah segar dari mulut mereka.
Dua orang yang sedang bersama Sha Du terdiam saat mendapati Hao Long dan Li Annchi, tiba-tiba datang dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Hao Long segera mengalirkan energi Penyembuh Persik Dewa. Namun Kali ini Wajah Hao Long terlihat sedih. “Ada apa?” Tanya Li Annchi kemudian.
Memang nyawa keduanya telah berhasil diselamatkan, namun Hao Long mendapati jika titik dantian Kakek Huang Bao dan Kakek Qiu Heng tersegel oleh sebuah racun yang tidak bisa Ia netralkan dengan energi Persik Dewa.
“Siapa kedua orang itu.” Hao Long yang sangat marah berdiri dan menatap kedua orang yang berhasil tiba di kota Kaiping, sebelum dirinya tiba di sisi timur kota tersebut.
Kedua orang itu, bertemu dengan Sha Du bertepatan dengan datangnya Huang Bao dan Qiu Heng serta puluhan kultivator aliran putih lainnya.
Terjadi pertarungan yang dalam satu kali serangannya, Orang itu berhasil membunuh setidaknya lima puluh anggota Aliansi Aliran Putih serta melukai Huang Bao dan Qiu Heng yang memimpin mereka.
Sesaat kemudian, Patriark Ou Yang datang bersama Tetua Fu Xia dan Dewi Kipas Pelangi. Ying Yu segera melesat menghampiri kedua pimpinan Aliansi Aliran putih yang tergeletak dengan tubuh lemas.
Sementara Hao Long melayang perlahan-lahan mendekati kedua orang yang tak berhenti menatapnya. “Apakah Dia orang yang telah menghabisi Shui Lin?”
Sha Du terlihat ragu, namun pancaran energi Hao long yang tak asing baginya membuat Ia menjawab jika Hao Long lah yang menghabisi Shui Lin.
__ADS_1
“Jadi Kau yang menghabisi Sahabatku Shui Lin?” salah satu Pria yang kulit tubuhnya terlihat berwarna keperakan seperti logam, bertanya kepada Hao Long yang hanya diam setelah ditanya demikian.
“Yu Xuan, mundurlah. Dia diam saja, itu berarti dia yang melakukannya.” Sosok yang berdiri di samping Sha Du berkata dengan suara memerintah.
Dia adalah Zang Hu, teman Sekaligus kekasih Shui Lin yang datang hendak menemui kekasihnya.
Namun tidak Ia duga, dirinya mendapat berita kematian Shui Lin dari Sha Du, sesaat sebelum Huang Bao dan Qiu Heng datang menghampiri mereka.
Kemarahan Zang Hu, dilampiaskan olehnya dengan menghajar mereka dalam satu kali serangan yang mematikan.
Mendapati pertanyaannya tidak mendapat jawaban dari Hao Long, kemarahan Zang Hu kembali meledak.”Bocah bau pesing, berani sekali kau mengabaikan Aku!”
Dari tangan Zang Hu yang berkelebat, melesat lima larik cahaya yang seketika membesar dengan cepat. Dalam jarak sedekat itu, mustahil bagi Hao Long untuk menghindarinya.
Hao Long yang telah waspada segera melakukan gerakan menampar ke kanan dan kiri sebanyak lima kali. Kelima bola energi itu pun terpental keluar dari kota Kaiping dan meledak di luar tembok kota.
Zang Hu melototkan matanya lebar-lebar. Serangannya bisa digagalkan dengan mudah oleh Hao Long. Padahal dengan jurus yang sama, Ia menghancurkan gedung di depan mereka.
“Kakak … Pemuda ini bukan pemuda biasa. Kita serang bersama-sama saja.” Yu Xuan lalu mendekati kakak seperguruannya itu.
“Mana ada pemuda biasa bisa mementalkan serangan ku dengan mudah. Kalau bicara otakmu dipakai juga!”
Zang Hu berkata dengan gusar. Yu Xuan hanya tersenyum jengkel mendengar perkataannya. Namun Ia sudah terbiasa dimaki seperti itu oleh Sang Kakak.
Hao Long yang semula kesal, mendapati lawannya temperamental segera mengejek dengan menggerakkan jari tangannya, menyuruh Zang Hu datang menyerang.
Tentu saja Zang Hu yang besar emosinya, segera melesat menerjang Hao long dengan tendangan ke arah kepala. Hao Long melesat mundur menghindarinya. Dan terus mundur hingga melewati tembok utara kota Kaiping.
Sosok manusia logam itu berteriak keras mengeluarkan kekuatan penuhnya. Amarahnya sudah tidak bisa Ia tahan lagi, meledak seiring dengan memancarnya Aura Kultivator Tingkat Dewa Sejati tahap Empat.
Kini, Hao Long yang terkesiap, mendapati lawannya memiliki energi yang jauh lebih besar darinya. “Walau tidak sekuat aura guru Tan, kekuatan orang ini jelas berada di atas kekuatanku. Aku harus berhati-hati.”
Hao Long yang tidak merasakan jerih sama sekali, segera bersiap dengan mengeluarkan Pedang Api Emas dari cincin ruangnya. Hal itu karena Ia menyadari bahwa lawan adalah Manusia Elemen Logam.
Tubuh Zang Hu kini sepenuhnya berkulit seperti logam berwarna keperakan yang bercahaya terang. Ia lalu melesat ke arah Hao Long, tidak merasa jerih walau lawan menggunakan pedang.
TRANG
Tebasan Pedang Api Emas ditahan oleh Zang Hu dengan lengan kirinya. Manusia elemen logam itu terkesiap, karena lapisan logam yang menyelimuti tubuhnya, terkoyak sobek, walau bilah pedang tidak mengenai kulitnya.
Sejak saat itu, Zang Hu berusaha menghindari tebasan pedang Hao Long. Langkahnya itu, membuat Zang Hu mulai terdesak hebat.
Jurus yang digunakan oleh Hao Long adalah jurus tingkat tinggi yang belum pernah Zang Hu lihat sebelumnya.
Dalam tiga menit kemudian, sebuah tendangan kuat Hao Long berhasil mendarat telak di punggung Zang Hu yang membuat tubuhnya terlempar belasan meter.
Tentu saja Zang Hu menjadi murka. Ia lalu mengeluarkan Pedang Besi Hitam yang mempunyai kemampuan menarik pedang lawan saat menyentuhnya.
__ADS_1
Hao Long yang tidak menyadari hal tersebut, kembali menyerang Zang Hu dengan tebasan pedang yang sangat kuat. Hao long terlambat menyadari tipu muslihat yang sedang lawan mainkan.
TRANG
“APA!” Hao Long terkejut mendapati bilah pedangnya menempel erat pada bilah Pedang Zang Hu.
DUAGH
Tubuh Hao Long terpental dengan mulut menyemburkan darah segar. Sementara Pedang Api Emas, berhasil diraih oleh Zang Hu yang segera menelitinya, saat Hao Long sedang menyembuhkan diri dengan Energi Persik Dewa.
“Pedang yang luar biasa. Dengan pedang mu sendiri Aku akan memenggal kepalamu.” Hao Long mendengus kesal mendengar hal tersebut.
Ia lalu melayang turun, saat menemukan sebuah muslihat untuk merebut kembali Pedang Api Emas dari tangan Zang Hu.
“Apa Kau menyerah dan ingin bersujud padaku sehingga mengajakku bertarung di tanah? Percayalah Aku akan tetap memenggal kepalamu sekalipun Kau bersujud minta ampun.”
Perkataan menghina dari Zang Hu, sebenarnya membuat Hao Long sangat marah. Namun Ia berhasil meredamnya.
“Siapa yang akan bersujud padamu?! Justru Aku yang akan membuatmu bersujud minta Ampun padaku.” Hao Long berkata dengan bibir tersenyum mengejek.
Zang Hu terpancing emosinya. Ia segera melesat, menyerang Hao long dengan menggunakan dua pedang sekaligus. Hao Long menghindari kedua serangan tebasan hingga beberapa kali.
Saat tebasan ke Lima, Hao Long melakukan hal tak terduga. Ia menangkis tebasan pedang dengan lengan kirinya.
CRAASHH
Lengan kiri Hao Long terputus dan jatuh ke tanah. Zang Hu tidak berhenti menyerang. Ia menebaskan Pedang Api Emas di tangan kirinya ke arah leher Hao Long yang sedang pura-pura terkejut.
Dengan lengan kanannya, Hao long menangkis tebasan tersebut.
CRAASH
Kini kedua tangan Hao Long telah jatuh ke tanah. Hal itu membuat Zang Hu tertawa senang. “Hahahaha … Kau pikir kekuatanmu cukup besar untuk membuat perisai pelindung tubuh? Kau meremehkan kekuatanku bocah!”
Hao Long terdiam dengan menunjukkan wajah pucatnya. Satu hal lagi dari rencananya akan segera mendekati saat untuk segera di mulai.
“Tidak ku sangka Kau sangat hebat. Tapi Kau tidak akan bisa membunuhku manusia karatan!” Ucap Hao Long dengan senyum mengejek.
Mendengar kata “karatan”, membuat emosi Zang Hu meledak. Kata itu adalah kata yang sering digunakan oleh kakak-kakak seperguruannya, ketika mengejek dirinya yang belum menikah walau telah berusia empat puluhan tahun.
“Karatan” adalah kata-kata hinaan yang diberikan pada pusaka miliknya yang belum sekalipun Ia gunakan sebagaimana mestinya.
Itulah kenapa Ia begitu gusar mendengar Hao long menghinanya dengan kata-kata tersebut. “KAU! … Matilah Kau!” Tangan Zang Hu bergerak cepat menebas leher Hao Long yang terlihat kaget sehingga lehernya harus tertebas putus.
Gluduk
Kepala Hao Long jatuh ke tanah. Sementara Zang Hu tertawa puas seraya mengacungkan kedua pedangnya ke udara. “ Kematian bagi siapa saja yang mengatai aku bujang karatan!”
__ADS_1
Namun Tawa itu segera terhenti saat tiba-tiba saja ada dua tangan yang merampas ke dua pedang tersebut dari tangannya dengan gerakan yang sangat cepat.
---------------------------O----------------------------