
Sesaat setelah batu mustika itu berada dalam genggamannya, Hao Long merasakan energi qi-nya terserap dengan cepat tanpa bisa Ia cegah.
Asap putih mengepul dari sela-sela jari tangannya. Bersamaan dengan itu, suara seorang perempuan terdengar di telinga Hao Long.
“Terimakasih tampan …. Kau telah membebaskan Aku dari hukuman Bibi Ratu.” Suara centil itu, membuat Hao Long mengerutkan dahinya.
“Bibi Ratu? Siapa Dia? Siapa Kau?” Perkataan Hao Long membuat ketiga orang menatap dirinya dengan heran. “Long … Apa maksudmu berkata seperti itu?” Li Annchi tak bisa menahan penasarannya.
Hao Long mengabaikan pertanyaan Li Annchi, karena suara perempuan tanpa wujud itu kembali terdengar di telinganya.
“Namaku Sai Ni, Aku adalah keponakan Ratu Kerajaan Laut Timur. Siapa namamu tampan?” Dengan centilnya Sai Ni bertanya kepada Hao Long yang kemudian menyadari dirinya mendapat tatapan marah dari sang Kekasih.
Setelah menjelaskan kepada Li Annchi dan kedua kakek itu, Hao Long lalu mulai berkomunikasi dengan Sai Ni. Dari pembicaraannya itu, Hao Long mendapat banyak informasi tentang Klan Sha.
Sai Ni juga menjelaskan tentang jati dirinya yang telah berusia lebih dari lima ratus tahun. Ia juga menjelaskan jika dirinya anggota keluarga Kerajaan Laut Timur.
Karena sebuah kesalahan, Ia mendapat hukuman dengan dipenjara dalam Batu Keong dan akan terbebaskan jika telah melakukan tiga kebaikan besar.
Namun Ia tidak mau menyebutkan apa kesalahannya itu ketika Hao Long mempertanyakannya yang membuatnya sempat terdiam beberapa waktu.
“Apakah saat ini Aku sedang berbicara dengan roh mu?” Hal itu Hao Long tanyakan karena Ia tidak bisa melihat sosok Sai Ni, setelah sekian lama mereka berbincang-bincang.
“Tubuh fanaku berada dalam batu keong itu. Tubuh Bangsa Manusia Laut bisa dimasukan dalam benda mati dan itu salah satu kekuatan hebat Bibi Ratu. Walau begitu, aku masih bisa menggunakan kekuatanku.”
Dengan kekuatannya itu, Sai Ni bisa melakukan tiga kebaikan untuk membebaskan dirinya. Sayangnya Ia baru melakukan satu kali perbuatan baik, sebelum akhirnya Guru Qiu heng meninggal karena usianya yang sudah sangat tua.
Ia juga mengatakan bahwa Ia tidak menyukai Qiu Heng, walau orangnya baik, namun Ia mudah sekali marah.
Qiu Heng mengomel dengan kesal, setelah Hao Long yang telah selesai berkomunikasi dengan Sai Ni, mengatakan hal itu kepadanya.
Huang Bao hanya tertawa dan keduanya terus berdebat sepanjang langkah mereka saat kembali ke Aula Sekte Kipas Pelangi dimana Ying Yu dan puluhan Anggotanya telah menunggu mereka.
__ADS_1
Setelah mendengar penjelasan tentang apa yang terjadi, Ying Yu kemudian mengatakan bahwa besok Ia akan pergi ke Kuil Cahaya Abadi untuk menghadiri pertemuan Ketua Sekte Aliran Putih.
***
Pagi harinya, terlihat tujuh orang telah telah berada di punggung Jin Shi. Singa bersayap itu, dipanggil oleh Hao Long setelah Jin Shi memberitahunya bahwa Ia telah selesai dengan kultivasinya.
Kini kekuatan Jin Shi telah meningkat ke Tahap Menengah Tingkat Dewa. Hal itu berkat buah dewa yang Hao Long berikan kepadanya.
Dengan meningkatnya Kultivasi Jin Shi, kecepatan terbangnya pun menjadi jauh lebih cepat lagi. Kini kecepatanyan hampir menyamai kecepatan yang dimiliki oleh tuannya.
Sementara Sai Ni terdengar kegirangan ketika Ia melihat sosok Jin Shi. Hal itu membuat Hao Long keheranan, namun Sai Ni tidak mau menjelaskan mengapa Ia bersikap demikian.
Hao Long lalu diam dan menyimpan rasa penasarannya dengan hati yang mendongkol. Di saat yang bersamaan, tempat di mana Kuil Cahaya Abadi berada, telah terlihat olehnya.
Kedatangan Jin Shi sempat membuat suasana di Kuil itu menjadi tegang, puluhan orang segera keluar dari sebuah bangunan yang diketahui oleh Hao Long sebagai Aula pertemuan.
“Long’er … Kau juga datang rupanya.” Biksu Chang Lin terlihat gembira saat Ia melihat Hao Long berada di atas punggung Singa bersayap sepanjang lebih dari sepuluh meter itu.
Rombongan itu disambut dengan penuh hormat, mengingat Huang Bao dan Qiu heng adalah dua dari empat Tokoh legendaris . Lalu mereka memasuki Aula tempat dimana pertemuan besar itu dilaksanakan.
Rahang Hao Long terlihat menggembung, saat mendengar penjelasan dari beberapa ketua Sekte Aliran Putih yang hadir pada pertemuan tersebut.
Sosok pria berusia lima puluhan tahun bernama Hong Jun yang merupakan Ketua Sekte Pedang Emas, mengatakan jika adiknya, telah tewas dibantai oleh aliran hitam bersama ratusan muridnya.
Sang Adik mendirikan sekte sendiri dan menghuni sebuah kota di bagian timur sekaligus menjadi pilar pengaman bagi penduduk kota tersebut.
Namun setelah mereka binasa, penduduk kota dan desa di sekitarnya, kini hidup menderita akibat penindasan yang dilakukan oleh Aliran Hitam.
Lain halnya dengan perkatan Ou Yang, Ketua Sekte Golok Halilintar itu mengatakan bahwa sektenya mulai terdesak, setelah mengalami beberapa kali serangan dari Aliansi Aliran Hitam.
Hal senada dikatakan oleh Ketua Sekte Pedang Bumi yang bernama Ruan Bei. Ia mengatakan setidaknya telah tiga Sekte Aliran Putih di wilayahnya yang binasa oleh Aliansi Aliran Hitam tersebut.
__ADS_1
Mereka juga mendengar tentang binasanya Sekte besar seperti Sekte Tangan Dewa dan Sekte Pulau Es Utara. Berita kehancuran kedua sekte besar itu, menimbulkan kekhawatiran terhadap beberapa sekte besar lainnya.
Selain itu penderitaan rakyat akibat ulah Aliansi Tiga Belas Sekte Aliran Hitam, membuat Pang Hu merasa perlu membentuk Aliansi untuk melawan mereka.
Setelah membicarakan hal tersebut dengan Biksu Chang Lin yang ditemuinya sebulan lalu, Pang Hu dan Ruan Bei pun memutuskan mengundang mereka semua hari ini.
Hal pertama yang mereka lakukan adalah dengan menunjuk ketua dan wakilnya. Dengan kompak, ketujuh Ketua Sekte besar aliran putih itu, mengangkat Huang Bao sebagai Ketua dan Qiu Heng sebagai Wakilnya.
Awalnya Huang Bao dan Qiu Heng menolak jabatan tersebut dengan alasan mereka merasa sudah terlalu tua dan tidak akan mampu untuk mengemban tugas tersebut.
“Kakek … Sebaiknya Kakek menerima jabatan itu. Karena …” Huang Bao menoleh ke arah Hao Long yang sedari tadi diam saja.
“Kami berdua bersedia menerima jabatan itu asal kau mau membantu kami. Karena hanya Kau yang bisa mengalahkan Xiong Hu, Ketua Aliansi Tiga Belas Sekte Aliran Hitam itu.”
Semua Ketua Sekte, kecuali Biksu Chang Lin dan Ying Yu, tersentak kaget mendengar ucapan Huang Bao. Mereka menatap Hao Long seolah tak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Namun karena Huang Bao yang mengatakan hal tersebut, mereka pun akhirnya mempercayainya. Sosok legenda seperti Huang Bao, tidak mungkin berkata demikian jika hal itu tidak benar adanya.
Setelah Hao Long berkata akan membantu mereka dengan segenap kekuatannya, Huang Bao dan Qiu Heng lalu memimpin jalannya pertemuan itu.
Langkah pertama, mereka akan membentuk tim yang bertugas untuk mengumpulkan informasi. Masing-masing Sekte mengirim salah satu Tetuanya untuk menjadi anggota tim tersebut.
Setelah mereka mendapat informasi yang cukup, maka langkah selanjutnya adalah melakukan penyerangan terhadap Sekte yang menjadi anggota Tiga Belas Aliansi Aliran Hitam.
Saat mereka selesai membentuk tim pengumpul informasi itu, tiba-tiba Pintu Aula terbuka dan masuklah seorang Pria yang jubahnya berlumuran darah.
“Patriark …. “ Pria itu seketika jatuh karena telah mencapai batas kekuatannya.
Hao Long segera melesat menghampirinya, untuk melihat apakah Ia masih bisa menyelamatkan pria tersebut.
------------------------- ---O---------------------------
__ADS_1