Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
021: Dua Sumber Daya Langka


__ADS_3

Hao Long tertunduk lesu mendengar perkataan Biksu Gao Han. Ia hanya bisa berharap bahwa Li Annchi baik-baik saja. Keinginannya untuk segera bertemu dengan kekasihnya itu, semakin menguat.


“Biksu Sepuh … Ada hal lain yang ingin Aku tanyakan, mengapa Aku tidak bisa membuka dua lagi titik meridianku?”


Biksu Gao Han meminta Hao Long mengulurkan tangannya untuk mengetahui apa penyebab kegagalan Hao Long dalam membuka dua titik merediannya itu.


Beberapa saat kemudian, Biksu Gao Han selesai memeriksa tubuh Hao Long. Ia dibuat kagum dengan kualitas tulang dan otot yang dimiliki oleh Hao Long di usia semuda ini.


Namun saat mendapati kelainan dalam dua titik meridian Hao Long yang belum terbuka, Biksu Sepuh itu terkejut dan hal itu membuatnya berpikir keras.


“Dua titik meredianmu itu memiliki keistemewaan. Namun akan jadi kelemahan mu jika kau tidak bisa membukanya.”


Biksu Gao Han mengatakan bahwa Titik meridian Ren dan Du Hao Long, dua kali lipat lebih besar dari titik meridian manusia pada umumnya.


Itulah mengapa titik itu sulit dibuka dengan metode kultivasi biasa. Untuk bisa membukanya, Hao long memerlukan bantuan dari luar.


Biksu Gao Han lalu melangkah ke sebuah sudut ruangan. Dengan cahaya dari obor yang ada di dalam ruangan, Ia mencari sebuah kitab kuno yang berisi tentang metode kultivasi dan pengolahan tulang dan otot.


“Pelajarilah Kitab ini, Mudah-mudahan kau bisa menemukan jawaban dari pertanyaanmu itu.”


Hao Long mengucapkan terimakasih. Ia pun segera mempelajari kitab tersebut setibanya di ruangan menginap yang disediakan oleh Biksu Chang Lin.


Hingga pagi harinya Hao Long pun telah selesai membaca kitab tersebut. Dari raut wajahnya, terlihat Ia sedang berpikir keras.


“Rumput Jiwa Api, Ginseng Merah, dimana kedua sumberdaya itu bisa Aku dapatkan?” Hao Long terdiam dengan pertanyaan tersebut bercokol di dalam benaknya.


Setelah membaca seluruh isi kitab Kuno itu, Hao Long menyimpulkan bahwa dua Titik meridiannya bisa dibuka dengan menyerap energi dari kedua sumber daya langka tersebut.


Setelah Ia memeriksa isi cincin ruangnya, terlihat raut wajahnya berubah kecewa. Ia tidak menemukan kedua sumber daya tersebut di dalam cincin pemberian Dewa Naga Api.

__ADS_1


Hao Long segera melesat ke tempat dimana Biksu Gao Han berada tepat saat sinar matahari mulai menerangi bumi. Biksu Gao Han menerima kembali kitab kuno itu dan menyimpannya di tempat semula.


“Biksu Sepuh … Apakah Anda pernah mendengar tentang Rumput Api Jiwa dan Ginseng Merah.


“Jika Ginseng Merah Aku tahu tempatnya karena Aku pernah ke sana. Namun tempat itu sangat jauh. Kau akan dihadang oleh Beast yang memiliki kekuatan setara dengan Kultivator Tingkat Dewa.”


Biksu Gao Han menjelaskan bahwa Tempat itu berada di barat daya daratan kuno, tepatnya di laut yang memiliki Air berwarna semerah darah.


Sementara tentang Rumput Jiwa Api, Ia hanya mendengar mitosnya saja. Rumput itu berada di sebuah pulau yang terletak di wilayah selatan daratan kuno, di sebuah gunung berapi yang bernama Rakatao.


Namun kabarnya tidak pernah ada orang yang bisa kembali ketika berusaha mengambil Rumput Ajaib tersebut.


Menurut mereka cerita yang beredar, hawa udara di kawah tersebut bisa berubah dengan drastis hingga manusia bisa meleleh oleh udara panas tersebut sekalipun telah dilindungi oleh energi qi.


Hao Long tertunduk lesu mendengarnya. Saat itulah keduanya merasakan adanya tiga belas pancaran energi yang sangat kuat berjarak satu kilometer lagi.


Hal itu membuat Hao Long menjadi heran. Mengapa Sosok sekuat Biksu Gao Han terlihat gentar oleh tiga belas orang yang baru saja datang.


Hao Long lalu mengedarkan Indera spiritualnya, Ia pun terkejut saat menyadari bahwa Ia tidak bisa mengukur tingkat kultivasi ketiga belas orang yang baru datang itu.


“Pancaran energinya tidak lebih besar dariku, tetapi mengapa Aku tidak bisa mengukur Tingkat kultivasi mereka?”


Dalam benaknya Hao long berkata demikian. Dan Ia semakin heran setelah mendengar perkataan Biksu Gao Han berikutnya.


“Mereka pasti mengetahui Aku masih hidup setelah kemunculanku kemarin. Ning’er … Sebesar itukah kebencianmu padaku, hingga Kau terus memburuku? ”


Suara Biksu Gao Han terdengar seperti meratap. Hal yang tidak di duga sama sekali oleh Hao Long yang melihat Biksu Gao Han kembali duduk dan mulai bermeditasi lagi.


Saat itulah Hao Long merasakan pancaran energi Biksu Chang Lin dan Gurunya serta ratusan orang tetua Sekte Kuil Cahaya Abadi.

__ADS_1


“Biksu Sepuh Apakah Anda tidak akan membantu mereka menghadapi ketiga belas orang berkekuatan besar itu?”


Biksu Gao Han menggelengkan kepala sebelum menjawab pertanyaan Hao Long. “Pasukan Tiga Belas Jaring Jiwa itu memiliki teknik yang bisa melumpuhkan teknik dan semua jurus yang ku miliki. Long’er bantulah mereka dan jangan segan untuk membunuh lawanmu.”


Hao Long pun meninggalkan tempat Biksu Gao Han dengan benak di penuhi pertanyaan akan sikap dan ucapan Biksu sepuh itu yang bertentangan dengan prinsip para biksu yang terlarang untuk membunuh sesama mahkluk hidup.


Hao Long tiba di Aula Sekte di mana tiga belas Sosok yang baru datang itu, telah dikepung oleh ratusan Anggota Sekte Kuil Cahaya Abadi, yang dipimpin oleh Biksu Chang Lin.


“Biksu Ketua … Siapakah sebenarnya mereka, mengapa Aku tidak bisa mengukur tingkat kultivasinya walau pancaran energi mereka di bawah kita?”


Hao Long bertanya kepada Biksu Chang Lin setelah Ia menjejakkan kakinya tepat di samping Pemimpin Sekte Kuil Cahaya Abadi itu.


“Lima puluh tahun lalu, mereka pernah mendatangi Kuil ini. Tetapi pergi mengejar Biksu Sepuh yang tiba-tiba melayang pergi dari tempat ini, Aku tidak tahu siapa sebenarnya mereka.”


Suasana hening setelah Biksu Chang Lin berkata demikian. Sementara Ketiga belas sosok yang baru datang itu, hanya diam mematung.


Ketiga belas orang itu, mengenakan seragam seperti yang dikenakan oleh para prajurit Kekaisaran yang sering Ia lihat di dalam komik maupun film tentang kerajaan tempo dulu.


Namun saat ini, di daratan kuno belum ada satu pun Kekaisaran yang terbentuk. Hal ini membuat Hao Long semakin waspada terhadap ketiga belas sosok yang wajahnya tidak terlihat karena mengenakan topeng dari besi.


“Suruh Keluar Si Gao Han itu! Atau Aku musnahkan kalian semua!”


Suara seorang perempuan terdengar nyaring dari salah satu sosok yang memiliki tubuh terbesar. Hal ini mengejutkan Hao Long dan lainnya.


Sosok bertubuh paling besar itu, jelas seorang laki-laki. Hal ini terlihat dari postur tubuhnya. Namun bagaimana bisa Ia memiliki suara seorang perempuan?


“Long’er … Hati-hatilah. Ada yang aneh dengan mereka.” Ao Lang memperingatkan Hao Long seraya mengerahkan kekuatan penuhnya di tingkat Langit Tahap Menengah.


-------------------------O-------------------------

__ADS_1


__ADS_2