
Dua orang yang sebelumnya melarikan di dari hadapan Hao Long dan yang lainnya, kembali ke Dimensi tersebut yang mereka beri nama Dunia Payau.
Kedatangan keduanya tanpa Hung Fei, membuat Pemimpin sekaligus pencipta Dimensi Dunia Payau mengerutkan dahinya. Sosok yang memiliki Aura mempesona bagai seorang dewa itu, segera bertanya pada keduanya.
“Zamrud Khatulis dan Tiwa ? Apakah kalian tidak salah melihat?” Sosok pria yang terlihat berusia sekitar lima puluhan tahun itu, tersentak berdiri karena terkejutnya.
“Tidak Yang Mulia Thian Bei, Kami yakin itu adalah kedua Zamrud Milik Dewa Naga Api dan Dewi Naga Es.” Keduanya meyakinkan Sang Penguasa Dunia Payau, Thian Bei.
Thian Bei tampak termenung, Ia kembali duduk dengan dahi yang berkerut. Wajahnya kini terlihat cemas. “Quan Rong, Weng Du … Kalian pergilah ke Bukit Bulan Hitam. Katakan pada Putriku dan suaminya, jika Aku yang meminta mereka kemari sekarang juga.”
Keduanya terlihat saling berpandangan sejenak. “Yang Mulia … Bukankah Tuan Putri Thian Li dan Tuan Muda Chao Cheng sedang dalam latihan tertutup?”
“Mereka baru saja selesai, Aku bisa merasakan kekuatan mereka telah berada di Ranah Langit.” Mendengar perkataan Thian Bei, keduanya bergegas pergi ke Bukit Bulan Hitam.
Bukit tersebut berada satu kilometer dari bangunan yang megah yang terlihat seperti sebuah kastil itu. Hanya sekitar satu menit, keduanya telah tiba di sebuah bukit batu berwarna hitam.
Di puncak Bukit itu terlihat seorang perempuan berusia sekitar dua puluhan tahun dengan parasnya yang sangat cantik, sedang menggerakkan tangannya, hal yang sama dilakukan oleh Pemuda tampan yang duduk di sebelahnya.
Setelah lima menit menunggu, barulah sepasang suami isteri itu membuka mata mereka dan lantas menanyakan maksud kedatangan keduanya.
Weng Du segera menjelaskan apa yang diperintahkan oleh Thian Bei. Sesat kemudian, tubuh keduanya menghilang karena begitu cepatnya mereka bergerak yang membuat keduanya berdecak kagum.
“Jauh sekali perbedaan Ranah Bumi dan Ranah langit? Berapa ratus tahun lagi kita bisa mencapai ranah itu?” Quan Rong bertanya seolah pada dirinya sendiri.
“Mungkin Kita tidak akan pernah bisa mencapainya. Buah Qin dari Pohon Suci telah habis oleh mereka berdua. Kita harus menunggu seratus tahun lagi.” Weng Du terlihat murung.
Sementara di Dalam Kastil, Thian Bei tersenyum melihat kedatangan putri dan menantunya itu. “Selamat kepada Kalian berdua yang telah menembus Ranah Langit.”
Thian Bei mengeluarkan dua buah pedang dari dalam cincin ruangnya. “Pedang Bulan Hitam dan Pedang Bulan Merah Aku berikan kepada kalian. Berhati-hatilah saat kalian menggunakannya.”
__ADS_1
“Terimakasih Ayahanda!?” Senyum manis Thian Li terkembang di Bibirnya, Sudah lama Ia menunggu saat ini, Saat bisa memiliki Pedang Bulan Merah yang kini telah berada di genggamannya.
Kegembiraan juga terlihat di wajah Chao Cheng, suami Thian Li itu mengangkat Pedang Bulan Hitam ke udara dan berdecak kagum saat merasakan energi kuat yang berada di dalamnya.
Kedua pedang tersebut adalah Dua Senjata Pusaka terkuat ke dua di Dunia Payau ini, setelah Pedang Matahari milik Thian Bei.
Wend Du dan Quan Rao tiba di dalam ruangan, Thian Bei lalu menjelaskan ulang kepada Thian Li dan Chao Cheng tentang Zamrud Khatulis dan Zamrud Tiwa.
Mereka ditugaskan oleh Thian Bei untuk merampas kedua zamrud itu dari tangan sepasang suami Isteri di Dunia Elemen. Dengan mendapatkan kedua Zamrud itu, maka mereka bertiga bisa menembus tingkatan tertinggi, setara dengan kekuatan para Dewa Yaitu Ranah Surgawi.
“Jangan kembali ke Dunia Payau tanpa membawa kedua zamrud tersebut. Cari sampai dapat sekalipun kalian harus membunuh ribuan orang.”
Thian Li dan Chao Cheng pun menyanggupi tugas tersebut karena sudah lama mereka ingin keluar dari Dunia Payau. Namun belum mendapat izin dari sang Ayah.
Thian Bei lalu memberi keduanya, sebuah Artefak yang dapat mereka gunakan untuk keluar masuk dari Dunia Payau ke dunia lain, tanpa harus meminta persetujuan dari dirinya.
Thian Li dan Chao Cheng segera pamit undur diri, mereka akan mengunjungi makam sang Ibu, untuk berpamitan. Setelah itu mereka segera menuju menembus Tirai Dimensi Dunia Payau.
Sesaat kemudian keduanya telah berada di atas permukaan laut timur Dunia Elemen. Saat merasakan sebuah energi besar di bagian barat, keduanya segera menuju ke sana.
Energi besar itu adalah milik Wushang yang telah kembali berada di Kota kekuasaanya. Ia yang baru saja sampai bersama ratusan anak buahnya, saat merasakan dua aura yang sangat besar mendatangi mereka dari arah timur.
“Ketua! … Siapakah Pemilik Aura yang sangat kuat ini?” Salah satu tetua Klan bertanya dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
“Entahlah … Aku tidak tahu. Kalian semua segera bersiap lindungi Kota. Kita tidak tahu apakah mereka lawan atau kawan.” Wushang segera melesat ke timur hingga melewati tembok Kota.
Setelah satu kilometer jauhnya dari tembok kota, Kedua orang pemilik energi besar itu telah berada di depan matanya yang membuat Wushang sangat terkejut melihat kecepatan gerak keduanya.
Ketiganya saling berpandangan sejenak sebelum Chao Cheng bertanya tentang keberadaan sosok yang telah membunuh Hung Fei.
__ADS_1
Wushang menyadari jika keduanya bukan dari pihak teman, Ia pun merasa was-was saat Chao Cheng membentaknya. “Logat bicara mereka dan juga motif pakaian yang digunakan, hampir sama dengan kedua orang Guru Hung Fei … jangan-jangan ..”
***
Hao Long dan lainnya telah tiba di Dunia Bangsa Siluman/Beast. Mereka muncul di wilayah utara Dunia Siluman. “Jauh sekali kau mendaratkan kami di sini, butuh sehari lebih untuk tiba di kota dimana Istanaku berada.”
Beiju hanya terkekeh mendengar kekesalan Annabi. “Aku tak tahu kenapa bisa berada di sini, sepertinya leluhurku pernah berada di sini, maka tongkat pusaka ku membawa kita semua ke sini, jadi jangan salahkan Aku.”
Annabi pun terdiam setelah mendengar perkataan Beiju. Ia lalu berpikir keras tentang di mana Ia pernah mendengar tentang Bunga Roh yang kini menjadi tujuan pertama mereka memasuki Dunia Ini.
Annabi pun mengajak mereka untuk melayang perlahan di udara seraya mengamati hutan yang mereka lewati, Jika menemukan sosok siluman, maka mereka akan berhenti dan bertanya tentang keberadaan bunga tersebut.
Keenam orang itu, melayang ke arah selatan dengan mata yang terus menatap hutan di bawah mereka. Keenam orang itu, melayang dengan jarak satu sama lainnya sejauh lima puluh meter.
Setelah hampir satu jam mereka melayang, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh enam serangan dari bawah berupa jerat seperti jala yang melesat sangat cepat untuk menangkap mereka.
“Kurang Ajar, aku lupa jika kita berada si wilayah kekuasaan Siluman laba-laba” Annabi berkata setelah mereka menghancurkan ke enam jala energi itu.
Sesaat kemudian, mereka bisa merasakan puluhan aura di level tujuh Tingkat Dewa Sejati, memancar dari dalam hutan di bawah mereka.
“Apa!?” Laba-laba bersayap?! Yang benar saja!” Hao Long terbengong kaget saat melihat ratusan laba-laba sebesar rumah, muncul dari dalam hutan, melayang dengan menggunakan sayap hitam.
“Siapa Kalian! Berani sekali memasuki Hutan kami!” Salah satu laba-laba itu berbicara yang membuat mata Hao Long melotot lebar, “Sudah bersayap bisa bicara lagi. Dasar siluman!”
Annabi mendengus kesal mendengar perkataan Siluman Laba-laba yang bermata belok itu. “Apakah Kau tak mengenaliku hingga berbicara lancang seperti itu kepadaku!”
Annabi segera berubah ke wujud aslinya yaitu siluman Ular putih dengan tubuh bagian pinggang ke bawah berupa tubuh ular sepanjang lima meter.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=-O-\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1