
Tubuh Patriark Ruan Bei luncur deras ke tanah, salah satu anak buah Shui Lin melesat cepat menghampiri jasad itu lalu mengambil pedang pusakanya.
Ou Feng terlihat sangat marah, Ia mengerahkan seluruh kekuatan yang ada di dalam tubuhnya. Merasa bertanggung jawab atas kematian Ruan Bei, Ia memutuskan untuk bertarung habis-habisan melawan Huo An.
Tubuhnya seketika memancarkan cahaya putih yang sangat terang disertai petir yang semakin lama semakin membesar. Cuaca pun mendadak berubah menjadi gelap oleh awan hitam yang berpusar seratus meter di atas kepala Ou Feng.
Hal itu membuat pertarungan yang lainnya terhenti setelah menyadari mereka berada di bawah Awan Hitam yang kini mulai mengeluarkan petir.
Huo An tertegun melihat hal itu, tidak menduga jika Ou Feng memiliki kekuatan elemen petir yang sangat dahsyat. Huo An segera mengeluarkan senjata pusakanya, tak ada lagi raut meremehkan di wajahnya.
Udara seketika berubah menjadi sangat panas. Hawa itu berasal dari pedang Huo An yang bernama Pedang Batu Neraka.
Melihat hal itu, Shui Lin dan keempat muridnya, mengeluarkan benda yang dimiliki oleh semua manusia elemen air untuk menatralisir hawa panas yang bisa menguapkan mereka.
Pusaka itu berupa Batu Giok Putih yang memancarkan hawa sejuk dan menetralisir hawa panas yang menerpa tubuh mereka. Sementara di pihak Huang Bao, Ou Yang segera mendekati ketiga rekannya.
Dengan menggenggam Tombak Dewa Petir, hawa panas dari Pedang Huo An berhasil Ia netralisir dan melindungi ke tiga rekannya yang sedang terluka cukup parah, terutama Qiu Heng.
JEDAAAR JEDAAR
Ou Feng segera mengarahkan petir-petir dari awan hitam besar itu ke arah Huo An yang dengan menggunakan pedang pusakanya, menghadang serangan petir yang hendak menghantam tubuhnya.
“Tidak mungkin?!” Ou Feng terkesiap melihat serangan petirnya berhasil dipentalkan oleh lawan. Hal itu di luar dugaannya.
Ia segera berteriak keras, sebuah petir berukuran besar, melesat dari inti pusara awan hitam yang menghantam dengan sangat kuat ke arah Huo An.
JEDAAAAR!
Tubuh Huo An terpental jauh, namun Ia berhasil menghadang petir besar itu dengan Pedang Batu Neraka miliknya. Sekali lagi Ou Feng terkejut melihat serangan kuatnya berhasil digagalkan oleh lawan.
“Keluarkan semua jurus petirmu Pak Tua!? Ataukah tadi itu jurus terkuatmu?!” Huo An yang kembali melesat dan telah berada dekat Ou Feng, berkata dengan seringai di bibirnya.
“Yang’er … Ajak teman-teman kalian pergi dari sini! Aku akan menahan mereka.” Ou Feng berteriak dengan keras seraya memusatkan seluruh energi qi kea arah kepalanya.
Ou Yang ingin membantu sang Kakek, namun Ia memahami bahwa situasi buruk ini berada diluar perkiraan mereka. Ia dan tiga orang lainnya, segera melayang untuk menjauhi tempat tersebut.
Hal itu tidak dibiarkan oleh Shui Lin dan dua pria jubah merah lainnya. Mereka melesat hendak menghadang.
__ADS_1
JEDAAAR JEDAAAR JEEEDAAARR
Tujuh buah petir sangat besar, keluar dari tujuh lubang di kepala Ou Feng. Shui Lin nyaris saja terkena hantaman petir itu, jika setengah detik saja Ia terlambat menghindari serangan itu.
Dua orang berjubah merah lainnya, tidak seberuntung Shui Lin. Tubuh mereka terlempar puluhan meter karena terhantam petir dengan kekuatan penuh Ou Feng.
Tubuh keduanya yang hangus dan terkoyak, membuat Huo An terlihat sangat murka sekali. “Tua Bangka! Beraninya Kau membunuh orangku!”
Sedetik kemudian, ledakan energi yang sangat kuat, memancar dari tubuh Huo An. Ou Feng terkesiap dan posisinya goyah karena kuatnya pancaran energi Huo An yang kemudian membuat tubuhnya terlempar puluhan meter.
Api di tubuh Huo An berubah menjadi putih kebiruan dan hawa panas menjadi tiga kali lipat dari sebelumnya. “Matilah Kau!” Ou Feng terkesiap, karena tiba-tiba Huo An telah berada di depannya.
DUAAGGHHH
AAARGGHHH
Ou Feng menjerit keras, tubuhnya meluncur sangat cepat menuju tanah.
DUAGHH
AAARGGGH
Ia pun menjerit keras dan hampir kehilangan kesadaranya, sesaat setelah tubuhnya melesat tinggi ke udara akibat tendangan keras dari Huo An.
Huo An kembali melesat menyusul tubuh Ou Feng, untuk memberikan serangan terakhirnya, menggunakan Pedang Batu Neraka yang telah berada di atas kepalanya, tergenggam kuat oleh kedua tangannya.
BLAAAAMM
JEDAAARRR
Tanpa di duga oleh Huo An, dari tubuh tubuh Ou Feng melesat petir sangat besar sebelum tubuh tua itu meledak, tepat saat dirinya berada lima meter dari tubuh lawan.
AARGGGHHH
Petir itu tidak bisa ditangkis oleh Huo An dan menghantam tubuhnya dengan telak, energi dari Tubuh Ou Feng yang meledak, membuat tubuh manusia elemen Api itu terlempar hingga puluhan meter.
Namun tidak seperti kedua orang klan Api lainnya, tubuh Huo An tidak hangus. Pedang Batu Neraka melindungi tubuhnya dan hanya membuatnya terluka dalam yang tidak parah.
__ADS_1
“Tak kusangka, manusia di dunia ini ada yang memiliki kekutan yang merepotkan.” Setelah menelan Pil Mutiara Api putih, tubuh Huo An kembali pulih seperti sediakala.
Huo An lalu mengalihkan pandangannya ke arah di mana Huang Bao dan yang lainnya melesat pergi dan telah berjarak lebih dari dua kilometer darinya.
“Jangan harap kalian bisa pergi hidup-hidup dari sini!”
Huo An segera melesat mengejar mereka, mengabaikan teriakan Xiong Hu yang memintanya untuk tidak mengejar ke empat orang yang tadi menyerangnya.
Hal itu bukan tanpa sebab, Xiong Hu mendapat bisikan agar berhati-hati dengan tombak yang berada di tangan Ou Yang, karena tombak itu sangat kuat, bahkan bisa menghancurkan dunia ini.
Sayangnya, kekuatan maha dahsyat dari tombak itu, belum diketahui dan belum sempat dipelajari oleh Ou Yang. Sehingga Ia memilih menuruti kata-kata sang Kakek yang mengorbankan diri, agar mereka bisa pergi dari tempat itu.
Namun, alangkah terkejut keempat tokoh Aliansi Aliran Putih itu, saat mereka merasakan hawa sangat panas mendekat cepat dari arah belakang.
“Awas serangan!”
Huang Bao yang segera menoleh, berteriak keras saat melihat api berbetuk pedang sangat besar, menderu ke arah mereka dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Keempat tokoh ttua itu, melesat keempat arah yang berbeda, namun jubah mereka yang terkena sambaran energi pedang api itu, mulai menyala.
Sesaat setelah memadamkan api di jubah masing-masing, sosok Huo An telah berada di depan mereka dengan tubuh yang diselimuti oleh api putih kebiruan.
“Jangan harap bisa pergi dari tempat ini dengan membawa nyawa kalian!” mendengar perkataan Huang Bao, Ou Yang menyadari jika Kakeknya telah tewas oleh sosok di depannya.
“Biar Aku yang melawannya untuk membalas kematian kakek. Ketua Huang, silakan anda dan yang lainnya meninggalkan tempat ini.”
Huang Bao tentu saja menolak, demikian juga dengan QiuHeng dan Patriark Hong Jun. “Kita lawan bersama-sama Ketua Ou. Tidak mungkin kami meninggalkan anda bertarung sendirian.”
Ou Yang terdiam, merasakan ketulusan dari teman lamanya, Patriark Hong Jun yang berniat bertarung hidup dan mati untuk melawan Huo An.
“Benar … Kami tak akan membiarkan Anda bertarung sendiri melawannya. Patriark Ou.” Huang Bao mengeluarkan cambuk pusakanya, demikian juga dnegan Qiu Heng yang mengeluakan Tongkat Merahnya.
Dahi Huo An mengerut, saat Ia melihat tongkat merah di tangan Qiu Heng. Degup jantungnya berdebar keras.”Tongkat Batu Api?! Bagaimana bisa berada di tangan manusia dunia ini?”
Huang Bao dan yang lainnya, terlihat heran dengan raut yang ditunjukan oleh Huo An yang sedang menatap jerih ke tongkat merah di tangan Qiu Heng.
“Sepertinya, Tongkat Merahmu itu, membuat lawan kita ketakutan.” Huang Bao berkata dengan sebuah harapan. Namun segera menghilang karena kedatangan lima perempuan yang dipimpin oleh Shui Lin.
__ADS_1
----------------------------O----------------------------