Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
096: Menuju Selatan


__ADS_3

“Apa!?” Zang Hu terpana, menyaksikan dua tangan Hao Long yang telah putus, mampu bergerak sendiri. Ia pun membalikkan badannya dan mendapati hal yang lebih mengejutkan, tepatnya menakutkan baginya.


“Han.. Hantuuuuu!!” Zang Hu melesat secepat kilat dengan wajah pucat. Meninggalkan Kota Kaiping dengan keringat dingin mengucur deras.


Seumur hidupnya, baru kali ini Zang Hu melihat kepala bisa melayang dan tersenyum sendiri setelah terpisah dari lehernya.


Sedari kecil, satu-satunya hal yang Ia Takuti dalam hidupnya adalah makhluk bernama Hantu. Trauma semasa kecilnya itu, terus membayanginya hingga saat ini.


Yu Xuan yang baru tiba di tempat itu, tentu saja memahami apa yang terjadi pada Kakak seperguruannya. Ia menggelengkan kepala sebelum melesat menyusul Zang Hu yang sudah sangat jauh darinya.


Hao Long sendiri sedang tertegun, tidak menduga Jurus Rawa Rontek yang semula Ia gunakan untuk merebut kembali pedangnya dan juga pedang lawan, justru membuat lawannya lari terbirit-birit.


Setelah seluruh bagian tubuhnya yang terpenggal kembali menyatu, Hao Long segera melayang kembali. Tepat di saat itu, Patriark Ou Yang melesat ke arah Sha Du.


Sha Du tentu saja bukan lawan sepadan bagi Ketua Sekte Golok Halilintar itu. Dalam tiga kali serangan, Ia tewas dengan kepala yang remuk terhantam Tombak Dewa Petir.


Dalam sekejap, Kota Kaiping berhasil direbut kembali oleh Aliansi Aliran Putih. Hampir semua anggota Sekte Elang Hitam tewas terbunuh.


Mereka yang masih hidup dan terluka parah, segera dihabisi oleh para pemuda yang sudah sangat kesal dengan sikap mereka selama ini.


“Kakek Huang … Kakek Qiu, Maafkan Aku. Aku tak tahu cara untuk mengeluarkan racun di dantian Kakek berdua.” Hao Long berkata dengan suara sedih, saat mereka sudah berada dalam ruangan di sebuah bangunan yang dulu menjadi tempat tinggal Shui Lin.


“Mungkin ini sudah takdir kami berdua. Terimakasih sudah menyelamatkan nyawa kami.” Huang Bao mencoba menghibur Hao Long.


Huang Bao juga mengatakan bahwa Ia akan menyerahkan Jabatan Ketua Aliansi Aliran Putih kepada Patriark Ou Yang dan Biksu Chang Lin sebagai wakilnya.


Semua orang setuju dengan perkataan Huang Bao yang berencana untuk mengasingkan diri bersama dengan Qiu Heng.


“Sebenarnya ada sepasang suami isteri yang merupakan Alchemis hebat, sayangnya Aku tidak mengetahui di mana mereka berada saat ini.” Tetua Fu Xia berkata dengan mata berkaca-kaca.


“Apakah yang kau maksud Shi Tong dan Fu Ling? Bukankah mereka sudah tewas dalam sebuah misi?” Patriark Ou Yang bertanya setelah menyadari siapa yang dimaksud oleh Tetua Fu Xia.


Tetua Fu Xia mengangguk seraya menatap Shi Mey yang dalam penyamarannya. “Apa! Ayah dan Ibuku masih hidup? Benarkah itu Paman?!”

__ADS_1


Semua orang tersentak kaget, kecuali Hao Long, Li Annchi dan Patriark Ou Yang ketika sosok nenek Mey berbicara dengan suara aslinya.


Shi Mey lantas mendekati Tetua Fu Xia dengan berjalan tegak tidak membungkuk seperti biasanya. “Paman? Benarkah Ayah dan Ibu masih Hidup?” Shi Mey bertanya untuk kedua kalinya.


Tetua Fu Xia mengangguk. Ia sendiri baru mengetahui hal tersebut setelah dua hari yang lalu, Ia menerima sebuah surat dari adiknya itu, setelah bertahun-tahun dinyatakan tewas.


“Ayah dan Ibu mu berada di sebuah tempat di mana kami dulu sering bermain di sana. Sebuah goa tersembunyi di selatan Bukit Halilintar. Dalam suratnya, Ia meminta Kita untuk menemuinya di sana.” Tetua Fu Xia berkata seraya menyerahkan surat tersebut kepada Shi Mey.


“Bukankah sangat berbahaya jika kalian pergi ke Bukit Halilintar saat ini?” Patriark Ou Yang berkata, mengingat Wilayah Selatan saat ini berada dalam kekuasaan Aliansi Aliran Hitam.


“Kami akan menemani Paman Fu Xia dan Mey’er ke sana Patriark Ou.” Semua orang bernafas lega kecuali Li Annchi yang terdiam karena sangat marah mendengar perkataan Hao Long.


“Huh bisa-bisanya Kau menemukan kesempatan dalam kesempitan!” Dalam hatinya Li Annchi mendengus kesal. Perkataan cucunya di masa depan, tentang Hao Long sempat tergoda Janda Kembang kembali terngiang.


“Janda Kembang? … Tunggu dulu, berarti bukan Shi Mey karena Ia masih gadis.” Raut wajah Li Annchi berubah ceria menyadari bukan Shi Mey yang membuat Hao Long tergoda dan akan meninggalkan dirinya.


Pertemuan itu pun berakhir setelah malam datang menenggelamkan Sang Surya. Hao Long dan Li Annchi kembali ke penginapan setelah diputuskan jika besok pagi, mereka akan berangkat ke selatan, menuju Bukit halilintar.


Setibanya di penginapan Heiying yang saat ini telah kembali berada di tangan pemilik yang sebenarnya. Hidangan pun disajikan, sebagai tanda terimakasih mereka kepada Hao long dan Li Annchi.


“Annchi kenapa tadi Kau begitu kesal kepadaku?!” Tanya Hao Long seraya merebahkan dirinya di pembaringan besar.


“Perempuan mana yang tidak cemburu jika kekasihnya melirik perempuan lain!” Jawab Li Annchi ketus. Hao Long tersenyum mendengarnya.


Ia bangkit lalau memeluk Li Annchi yang masih membenahi rambutnya yang panjang terurai. “Lepaskan!” bentakan Li Annchi membuat Hao Long salah tingkah.


“Bukankah beristri dua hal yang wajar dilakukan di masa ini? Kenapa Kau begitu cemburu!” tanya Hao Long kembali merebahkan tubuhnya.


“Sebenarnya perempuan rela dimadu asalkan laki-laki rela diracun!” Ucap Li Annchi ketus.


***


Keesokan paginya, mereka meninggalkan penginapan Heiying dengan wajah Hao Long yang terlihat kesal. Hasratnya tidak berhasil tersalurkan karena Li Annchi tidak mau Ia sentuh sama sekali.

__ADS_1


Berbeda dengan Li Annchi, Ia sangat senang melihat kekesalan Hao Long. “Rasakan sendiri! Itulah akibatnya kalau menyakiti perempuan.” Dalam hatinya Li Annchi berkata seraya tertawa kecil.


Setibanya di bangunan berlantai lima di pusat kota Kaiping, terlihat semua orang telah berkumpul, beberapa diantaranya telah bersiap untuk pergi.


Mereka adalah Patriark Hong Jun dan Matriark Lin Yu yang akan mengantarkan Qiu Heng dan Huang Bao ke kuil Cahaya Abadi. Sementara Patriark Ou yang bersama ketua sekte yang lain akan menjaga kota Kaiping.


Hao Long lalu memanggil Jin Shi yang masih berada sebuah bukit di sebelah timur Kuil cahaya Abadi. Ia datang lima belas menit kemudian.


Hao Long memutuskan untuk mengantar Huang Bao dan Qiu Heng terlebih dahulu. Sehingga Patriark Hong Jun dan Matriark Lin Yu bisa tetap berada di kota Kaiping.


Setelah tiga puluh menempuh perjalan di atas punggung Jin Shi, mereka akhirnya tiba di Kuil Cahaya Abadi. Biksu Chang Lin terkejut melihat kondisi Huang Bao dan Qiu Heng.


Setelah menjelaskan apa yang terjadi dan rencana berikutnya, Hao Long kembali meninggalkan Kuil Cahaya Abadi dan menuju ke selatan.


Dalam perjalanan, beberapa kali Li Annchi mendengus kesal melihat Hao Long masih berani mencuri pandang ke arah Shi Mey yang hari ini terlihat jauh lebih cantik dengan mengenakan gaun biru.


Fu Xia yang melihat hal itu, hanya tersenyum kecut. Ia menyadari jika keponakannya itu, menyukai Hao Long yang sudah bersama dengan Li Annchi.


Namun Sikap Hao Long yang terlihat menyukai Shi Mey, membuat Tetua Fu Xia menghela nafas panjang. Menyadari tidak mudah bagi keponakannya untuk bisa bersama pemuda tersebut.


“Long’er … Tidak jauh lagi, kita akan melewati kota Lipu, kota besar lain yang sudah dikuasai Aliran Hitam.” Tetua Fu Xia berusaha mengalihkan pembicaraan melihat suasana yang begitu canggung itu.


“Kota Lipu? Apakah sebaiknya kita singgah dulu di kota itu Paman?” Tanya Hao Long seraya kembali melirik Shi Mey. “Hal itu kau saja yang memutuskannya, Long’er.”


Hao Long terdiam sesaat, Kota Lipu masih berjarak seratus kilometer lagi, butuh waktu sekitar lima menit untuk Jin Shi tiba di sana. Hao Long masih terdiam hingga Kota Lipu telah terlihat pada jarak lima kilometer lagi.


Saat itulah Hao Memerintahkan Jin Shi untuk berhenti. Ia bisa merasakan beberapa aura besar berada di depan mereka.


“Sepertinya ada yang menghadang perjalanan kita Paman.” Ucap Hao Long sambil melirik ke arah Li Annchi yang masih diam saja. Sementara Tetua Fu Xia tercekat mendengarnya.


“Annchi apakah Kau tidak merasakan adanya Aura besar ini?” Tanya Hao Long heran, melihat Li Annchi masih bersikap tenang.


“Tidak! Aku hanya merasa Kau tidak menganggap ku ada disini!” kata Li Annchi dengan suara yang ketus.

__ADS_1


---------------------------O----------------------------


__ADS_2