
“Manusia Bodoh!”
Hao Long terdiam saat mendapatkan kesadaranya kembali dan menemukan dirinya berada disebuah tempat yang sangat terang oleh cahaya putih yang memancar dari sosok besar di depannya.
“Siapa Kau!” Tanya Hao Long dengan suara keras, setelah melihat sosok manusia besar yang tubuhnya diselimuti oleh api berwarna putih itu.
Bletak!
Hao Long menjerit keras sambil berjingkrak kesana kemari memegangi kepalanya yang terkena jitakan jari raksasa makhluk tersebut. “Manusia tak punya akhlak!”
Suara serak dan berwibawa sosok berselimut api itu, membuat hati Hao Long menjadi jerih. “Maafkan Hamba Dewa!” Hao Long segera bersujud.
Kemarahan sosok itu terlihat mereda melihat apa yang dilakukan oleh Hao Long. “Kau ceroboh sekali menyerap energi dari Zamrud Khatulis tanpa mengukur kekuatan tubuhmu sendiri!”
Hao Long terdiam, Ia pun menyadari kesalahannya saat teringat hal yang terjadi pada tubuh fananya, sesaat sebelum Ia kehilangan kesadarannya.
“Beruntung Zamrud Tiwa berhasil mentralisir energi itu. Jika tidak, tubuhmu sudah meledak dan hancur berkeping-keping.” Sosok itu kembali berbicara dengan nada suara yang terdengar kesal.
Sosok itu juga, Ia menjelaskan jika Naga Biru yang bersemayam di Meridian Naga milik Hao Long, saat ini sedang terluka parah akibat menyerap energi panas yang melebihi kekuatan tubuhnya sendiri. Dan hanya Hao Long sendiri yang bisa mengobatinya.
“Bagaimana caraku mengobatinya?”Tanya Hao Long kebingungan. “Dasar Bodoh! Gunakan Energi Persik Dewa dan salurkan seluruhnya ke dalam Meridian Naga di tubuhmu itu!”
Hao Long mengangguk memahami petunjuk tersebut. Lalu Sosok itu menjelaskan bahwa Hao Long harus memperkuat tubuh dan jiwanya terlebih dahulu, untuk bisa menyerap Energi Murni Zamrud Khatulis dan memasuki Tahap Dewa Sejati hingga ke level lima.
Sosok itu mengatakan bahwa Ia hanya bisa memperkuat Jiwa Hao Long saja saat ini. Namun karena hal itu, Ia akan tertidur dalam waktu yang lama hingga tidak bisa membantu Hao Long ketika ingin menyerap kembali energi Zamrud Khatulis setelah menguatkan tubuh fananya.
Hao Long mengangguk, memahami situasinya. Lalu dari kedua mata sosok berselimut Api putih yang kini bercahaya terang, memancarkan sebuah sinar yang menggulung tubuh Hao Long dan membuatnya menjerit keras.
Proses itu berlangsung cukup lama, seiring dengan jeritan Hao Long yang semakin pelan dan kemudian tidak terdengar lagi karena dirnya tidak lagi merasakan sakit.
__ADS_1
Sesaat kemudian, hanya warna putih yang Hao Long lihat sebelum akhirnya Ia terlelap dan tersedak bangun di tubuh fananya.
Ia merasa sesak saat membuka matanya dan menyadari berada dalam dada Li Annchi yang masih meratapi kematiannya.
“Ann…chi …. Kendurkan pelukanmu. Aku susah bernafas.” Li Annchi pun tersentak mendengar suara Hao long yang terbata-bata.
”Long !!! Kau Masih Hidup?!” Bukannya mengendurkan pelukannya, Li Annchi justru semakin kuat memeluk Hao Long dan membuat kepala kekasihnya itu, semakin terbenam di dadanya yang membusung padat.
Li Annchi melepaskan pelukannya saat Hao Long menggigit bagian sensitif di balik gaun putihnya. “Long!! Kau … “
Li Annchi yang hendak marah, tertegun saat menatap wajah Hao Long yang entah kenapa, begitu menawan di matanya walau kekasihnya itu sedang menyeringai dengan tatapan nakal.
“Sepertinya Kau sudah begitu merindukan Aku ya?” Hao Long tersenyum seraya menjulurkan tangannya. Li Annchi hanya terdiam, Ia tidak bisa menyanggah ucapan Hao Long yang meraih dagunya.
Tubuh Li Annchi tersentak dengan mata terpejam merasakan lonjakan energi hangat menjalari tubuhnya, sesaat setelah bibirnya berada dalam mulut Hao Long.
Air terjun yang telah kembali bergerak seperti semula, menjadi saksi bagi sepasang kekasih yang beberapa saat kemudian, tidak lagi mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya.
Satu jam kemudian terdengar pekikkan panjang Li Annchi yang kini sedang dalam pangkuan Hao Long yang dalam keadaan terduduk.
Tubuh Li Annchi mengejang berkali-kali disusul oleh erangan keras Hao Long yang bagaikan harimau, seraya mendekap erat tubuh sang kekasih yang masih terus mengejang mencapai puncak percintaan mereka.
Sesaat kemudian, keduanya tergeletak dan terkulai lemas, menatap langit-langit lembah tersebut yang tertutupi dedaunan sangat rimbun sehingga menyembunyikan keberadaan area tersebut.
******
Saat sepasang Kekasih itu sedang memadu kasih, Sekte Kipas Pelangi baru saja kedatangan tamu di alun-alun sekte mereka.
Sembilan orang yang telah berada di tengah Alun-alun adalah orang-orang dari Klan Hao yang dipimpin langsung oleh Hao Tian.
__ADS_1
Delapan orang lainnya, tidak menyembunyikan kultivasi mereka yang semuanya berada di tahap Awal Tingkat Dewa.
Huang Bao, Qiu Heng dan Ying Yu bersama puluhan anggota Sekte Kipas Pelangi berada disisi yang berbeda. “Hao Tian … Ada apa kau kemari dengan membawa kekuatan sebesar ini?”
Hao Tian hanya tersenyum tipis mendengar ucapan Qiu Heng. “Aku tidak ada urusan denganmu Dewa Tongkat Merah. Dewi Kipas Pelangi! Apakah benar seorang pemuda bernama Hao Long dan seorang gadis muda berada di sini?”
Qiu Heng merasa geram diremehkan oleh Hao Tian. Namun Ying Yu menahan kemarahannya seraya melangkah maju sebelum menjawab pertanyaan Hao Tian.
“Bukan hanya pemuda itu, cucumu Hao Fang juga berada disini, Hao Tian.”
Dahi Hao Tian berkerut saat mendengar Hao Fang berada di Sekte Kipas Pelangi. Raut kemarahan terlihat diwajah sombongnya ketika Ia melihat Hao Fang tiba di tempat tersebut bersama Lan Yue.
“Hormat kepada Kakek.” Hao Fang segera berlutut di hadapan Hao Tian seraya memberi hormatnya. “Fang’er … kenapa Kau berada di sini?!”
Dengan suara bergetar, Hao Fang lalu menjelaskan peristiwa yang Ia alami sejak kedatangan lima saudaranya di tempat tinggalnya setelah di usir dari Klan Hao.
“Fang’er Jangan Bohong! Kami yakin Kau dan gadis itu terlibat dalam pembunuhan kelima saudaramu itu!”
Hao Fang tersentak kaget, demikian juga Lan Yue dan Qiu Heng. Huang Bao dan Ying Yu menghela nafas panjang mendapati situasi yang pelik di hadapan mereka.
“Kakek … Paman … Sungguh bukan salah satu dari kami yang melakukan perbuatan keji itu!” Hao Fang yang terkejut mendengar kabar buruk itu, mencoba memberi keterangan.
Namun lambaian tangan Sang Kakek, Hao Tian, menghempaskan tubuhnya yang segera meluncur deras ke arah sebuah bangunan.
“Tidak!” Lan Yue berteriak histeris dan melesat mencoba untuk menyusul tubuh Hao Fang yang semakin mendekati bangunan itu dengan kepala yang akan menyentuh lebih dahulu tembok bangunan tersebut.
Di saat kritis itu, melesat bayangan putih meraih tubuh Hao Fang dengan kecepatan yang membuat Hao Tian terkesiap melihatnya.
Aura dingin segera memenuhi udara sesaat setelah bayangan putih yang ternyata Li Annchi adanya, tiba di alun-alun sekte Kipas Pelangi dengan wajah yang terlihat sangat marah.
__ADS_1
------------------------O---------------------------