
Kota Lipu sejak empat bulan lalu telah dikuasai oleh Dua Sekte Aliansi Aliran Hitam yaitu Sekte Rantai Iblis dan Sekte Kaki Baja.
Pemimpin kedua Sekte, sepakat membagi wilayah kota Lipu menjadi dua bagian. Sekte Rantai Iblis yang dipimpin oleh Patriark Cao Hung menguasai wilayah utara sedang Sekte Kaki Baja menguasai bagian selatan.
Keamanan gerbang Utara dan Barat, menjadi tanggung jawab Sekte Rantai Iblis. Gerbang Timur dan Selatan menjadi tanggung jawab Sekte Kaki Baja yang dipimpin oleh Patriark Peng Chu.
Namun begitu, Xiong Hu tidak menjadikan kedua Ketua Sekte itu sebagai penguasa tertinggi Kota Lipu, mengingat Kultivasi mereka yang masih berada di Tingkat Dewa Tahap menengah.
Xiong Hu menjadikan Qian Bhu, sebagai penguasa tertinggi kota tersebut. Manusia Elemen Angin yang berhasil Ia rekrut saat mendatangi Dunia Elemen, sebelum berangkat ke masa depan.
Saat itu, Qian Bhu yang berjuluk Dewa Angin Hitam, sedang marah besar, setelah dua dari tiga muridnya telah tewas di tangan Hao Long.
Patriark Peng Chu dan Patriark Cao Hung yang dipanggil olehnya, raut keduanya terlihat jerih saat melihat wajah Qian Bhu yang berubah menghitam.
Hal itu menunjukkan Penguasa tertinggi Kota Lipu itu sedang marah besar. “Aku tidak mau tahu! Kalian harus mendapatkan informasi tentang pemuda itu dan ketiga rekannya yang lain!”
Seorang Tetua Sekte Rantai Iblis, yang memiliki kultivasi di tingkat Langit tahap akhir, terlihat kesal melihat sikap arogan Qian Bhu.
Ia yang baru saja kembali setelah lima bulan menjalankan misi rahasia dari Patriark Cao Hung, segera menyanggah perkataan Qian Bhu.
“Bagaimana kami bisa mencari keberadaannya sedangkan nama dan rupa pemuda itu belum kami ketahui.” Ucapnya tanpa sedikit gentar sekalipun.
Hal itu Ia lakukan karena belum mengetahui sekejam apa Qian Bhu. Sementara Patriark Cao Hung terkesiap dengan wajah yang pucat, melihat sikap Tetua sektenya yang sangat gegabah.
Ia akan segera berbicara untuk meminta maaf atas sikap Tetuanya itu, namun Qian Bhu yang sedang sangat marah, telah lebih dulu bertindak. Dari telapak tangannya, melesat angin berwarna Hitam yang dengan cepat menghantam dada Tetua tersebut.
Apa yang terjadi kemudian membuat , semua orang yang ada di dalam ruang itu diselimuti rasa takut dan ngeri saat menyaksikan kematian mengenaskan yang di alami oleh rekan mereka.
__ADS_1
Saat angin hitam yang melesat sangat cepat itu menghantam dada Tetua tersebut, seketika tubuhnya menghitam hangus dan perlahan daging tubuhnya meleleh hingga menyisakan tulang belulangnya saat menyentuh lantai tiga bangunan tersebut.
Suasana menjadi hening, kemarahan Qian Bhu terlihat sudah mereda. “Itu yang akan kalian alami jika tidak berhasil menemukan keberadaan pemuda itu dalam tiga hari ke depan.”
Perkataan Qian Bhu adalah perintah yang tidak bisa dibantah lagi. Patriark Cao Hung dan Patriark Peng Chu segera meninggalkan ruangan tersebut, setelah Qian Bhu membentak mereka.
“Bagaimana kita mencari pemuda itu? Petunjuk satu-satunya hanya Beast berwujud Singa Bersayap saja yang kita ketahui.” Suara Patriark Cao Hung terdengar mengeluh.
Patriark Peng Chu hanya menghela nafas panjang, Ia juga terlihat kebingungan. Namun setibanya di lantai pertama, seorang anggotanya yang menjabat sebagai pemimpin keamanan, datang dengan terburu-buru.
“Singa bersayap?”Tanya Peng Chu setelah Tetua tersebut selesai melaporkan jika beberapa anggotanya yang berjaga di atas pagar Kota Lipu bagian selatan, melihat seekor Singa bersayap terbang ke udara dari sebuah tempat berjarak dua kilometer dari gerbang Selatan.
“Apakah ada empat orang yang memasuki kota dari gerbang selatan? Tiga orang diantaranya berusia belasan tahun dan satu orang pria berusia empat atau lima puluhan tahun.”
Pertanyaan Peng Chu membuat Tetua sektenya itu terdiam. Dahinya berkerut mencoba mengingat keempat sosok yang disebutkan oleh Pemimpin Sektenya.
Siang itu, suasana di kota Lipu menjadi riuh, ratusan anggota dari kedua sekte yang berkuasa, sedang bergerak mencari keberadaan Hao Long dan yang lainnya.
Hampir semua rumah makan dan penginapan telah mereka periksa, namun tidak menemukan keempat orang yang mereka cari.
Sementara di depan sebuah rumah makan yang berada di ujung barat, dua orang anak buah Gao Baidi, terlihat sedang berbincang dengan dua orang anggota sekte Kaki Baja.
Namun yang sebenarnya terjadi adalah kedua anggota Sekte Kaki Baja itu sedang dalam situasi yang tidak baik-baik saja. Nyawa keduanya sedang terancam saat dipaksa untuk menjawab semua pertanyaan kedua orang dari dunia Kristal itu.
“Sungguh Tuan, kami tidak tahu siapa Raja Iblis itu. Yang kami tahu Pemimpin tertinggi kami bernama Qian Bhu. Hanya itu yang kami tahu, mohon lepaskan kami.”
Salah satu anggota Sekte Kaki Baja berusaha meyakinkan orang yang telah memasukkan bubuk racun ke dalam mulut mereka dengan paksa.
__ADS_1
Kedua Manusia Kristal itu, terlihat sangat gusar. Setelah saling menatap satu sama lain, kemudian keduanya meninggalkan kedua orang itu.
Kedua anggota sekte itu segera melesat ke arah berbeda. Namun saat baru tiba di sebuah jalan yang masih seratus meter lagi dari markas mereka, keduanya berhenti secara mendadak.
Tubuh keduanya tiba-tiba melayang ke udara dengan perut yang membesar dengan cepat. Sesaat kemudian, sesuatu yang mengerikan terjadi.
BUM BUM
Dua ledakan terdengar keras seiring dengan tubuh keduanya yang meledak. Sementara kedua orang anak buah Gao Baidi, tersenyum mendengar suara ledakan tersebut.
Bubuk yang mereka sebut racun tadi, sebenarnya adalah Serbuk Kristal Penghancur. Senjata rahasia yang sangat mematikan dan tidak pernah gagal menghancurkan lawan-lawan mereka.
Senyum kedua orang itu segera menghilang saat melihat sepasang suami isteri berusia tiga puluhan tahun, keluar dari rumah makan itu dan menatap keduanya dengan tajam.
“Rao Di, Siapa mereka berdua? Mengapa menatap kita? Apakah mereka mengetahui apa yang kita lakukan tadi?” Tanya salah satu manusia kristal ke pada rekannya.
Sosok yang dipanggil Rao Di segera menggelengkan kepalanya. “Entahlah Tu Bei. Tapi untuk apa kita takut ketahuan oleh mereka. Apa susahnya membunuh mereka berdua.”
Rao Di berkata dengan santainya, sambil menyandarkan punggungnya ke tembok bangunan di samping rumah makan tersebut.
Sosok yang dipanggil Tu Bei terlihat tidak setuju dengan niat Rao Di yang akan membunuh sepasang suami isteri itu, ketika keduanya nanti lewat di depan mereka.
Tentu saja Rao Di dan Tu Bei tidak mengenali jika sepasang suami isteri itu adalah Hao Long dan Li Annchi yang saat itu tak sengaja berhasil menemukan mereka.
“Long … Apakah kita akan menangkap mereka berdua?” tanya Li Annchi yang menyamar sebagai seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan tahun.
---------------------------O----------------------------
__ADS_1