
Ledakan keras itu membuat udara berfluktuasi dengan hebat, Jing Li pun terjajar beberapa meter dengan mulut yang terbuka, saat melihat puluhan bangunan kota Longnan berderak runtuh.
Sementara Jing Hung tersenyum saat melihat bola salju Iblis Es meledak hancur oleh serangannya. Namun senyumnya itu segera sirna karena menyadari sesuatu.
Tidak terdengar jeritan, dari sosok yang terlihat seperti Li Annchi walau Api biru sedang membakar tubuhnya. Untuk beberapa saat Jing Hung terdiam dengan dahi berkerut.
“Kurang Ajar!”
Jing Hung segera melesat melewati sosok duplikat Li Annchi yang meleleh karena panasnya api biru dari Kipas Neraka. Rahangnya menggembung saat menyadari Iblis Es sudah tak terlihat lagi.
“Kali ini Kau boleh lolos dariku, tapi jika bertemu lagi, jangan harap Kau bisa pergi dariku?”
Jing Hung berkata dengan geram dalam benaknya. Jing Li yang datang kemudian segera mendapat pertanyaan yang sedari tadi Jing Hung simpan.
“Mengapa Kau berpose seperti Guru Nenek Bunga Hitam? Apa yang sedang Kau rencanakan?”
“Aku belum bisa mengatakannya sekarang Hung Gege, semua yang ku lakukan ini atas perintah guru sendiri. Aku ditugaskan mencari sebuah informasi tentang sesuatu yang sangat guru butuhkan untuk bahan racun terkuatnya.”
Jing Hung mendengus kesal. Ia sudah sangat paham dengan karakter adik keduanya itu, memaksanya untuk mengatakan apa yang Ia rahasiakan adalah hal sia-sia.
“Dimana Kakakmu Jing Bai? Apakah Kau pernah bertemu dengannya?”
Jing Li menggelengkan kepalanya, sudah lebih dari dua tahun Ia tidak bertemu dengan kakak keduanya itu.
Jing Hung pun melesat pergi, setelah menitipkan pesan kepada Jing Li jika Ia bertemu dengan Jing Bai.
Jing Li hanya menganggukkan kepalanya sebelum melesat ke arah yang berbeda dengan Sang Kakak.
***
“Benarkah begitu caranya?”
Matriark Lin Yu menatap tajam Hao Long setelah mendengar tentang sebuah cara yang ditemukan olehnya dalam kitab usang yang kini berada di dalam genggaman tangan pemuda dari masa depan itu.
“Benar Nenek Lin … Itu adalah cara ke dua yang mudah untuk dilakukan. Selain itu ada cara lain yang Aku sendiri belum tentu bisa melakukannya dengan kekuatan saat ini.”
Mata Matriark Lin Yu segera menatap ke arah kitab tersebut dan memintanya dari Hao Long dan kembali duduk untuk membacanya.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Matriark Lin Yu telah selesai membaca kitab tersebut. Ia berdiri dengan wajah yang terlihat kesal.
“Cara ini kau sebut cara yang mudah? Apakah otakmu sudah Konslet Hah?!”
Hao Long menelan ludahnya mendapati tatapan marah dan suara yang ketus dari Matriark Lin Yu. Sementara Ao Lang dan Huang Bai terlihat menahan senyum mereka.
“Yun’er … Bukankah mereka sepasang Kekasih? Melakukan hal tersebut, Aku kira sah-sah saja bukan?“
“Sah-sah dengkulmu! Kalian lelaki memang ingin seenaknya sendiri!”
“Kau masih saja seperti yang dulu, Yun’er” Huang Bao terkekeh menanggapi hal tersebut.
Ingatannya pun segera melayang pada masa puluhan tahun lalu, saat Ia dan Matriark Lin Yu masih sepasang kekasih muda yang tak direstui oleh kedua guru mereka.
Kata-kata terakhir yang diucapkan Matriark Lin Yu tadi, adalah kata-kata yang sama saat Ia pergi meninggalkan Huang Bao setelah keduanya hampir saja melakukan hubungan terlarang di dalam sebuah goa.
Mendengar ucapan Huang Bao yang membuatnya mengingat masa lalu mereka, Matriark Lin Yu segera melesat pergi dengan wajah yang memerah menahan malu, mengingat dirinya pernah tidak mengenakan sehelai benangpun di depan Kekasih masa mudanya itu.
Hanya Huang Bao yang terkekeh melihatnya. Sementara Hao Long dan Ao Lang terlihat kebingungan dengan sikap Ketua Sekte Pulau Es Utara itu.
“Aku pikir cara yang berada dalam kitab itu akan sangat sulit dilakukan, karena Kau harus mengalahkan Iblis Es terlebih dahulu atau merayunya untuk melakukan hal itu dengan sukarela. Namun.... tidak mudah merayu perempuan baik-baik melakukan hal itu, jika kalian belum punya ikatan resmi yaitu pernikahan.”
Hao Long terdiam mendengar ucapan Huang Bao, Ia pun membenarkan hal tersebut dan memilih menempuh cara kedua untuk menolong Li Annchi.
Hao Long juga mengatakan, bahwa dirinya ingin menjadi lebih kuat lagi dengan mencari sebuah Zamrud agar bisa membuka dua titik meridiannya yang tersisa.
Zamrud bernama Khatulis itu, konon berada di wilayah selatan dan berada di sebuah kawah Gunung Rakatao yang terletak di tengah laut diantara dua daratan luas.
“Zamrud Khatulis? Gunung Rakatao?” Dahi Huang Bao berkerut.
“Aaah … Aku ingat sekarang.… Hmmm menurutku sebaiknya Kau batalkan saja niatmu kesana, tempat itu sangat berbahaya.”
Setelah Hao Long bertanya mengapa Huang Bao melarangnya, Pertapa Sakti Pulau Persik Lalu menjelaskan bahwa Gunung Rakatao di jaga seseorang yang menurut Gurunya orang itu memiliki kesaktian bagai seorang Dewa.
“Kalau tidak salah sosok itu bernama Ki Jogowono. Ia berhasil mengalahkan guruku yang juga berniat mengambil Zamrud Khatulis itu.”
Hao Long dan Ao Lang saling berpandangan, untuk sesaat keduanya terdiam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
“Guru …Siapapun dan sekuat apapun dia, Aku harus bisa mendapatkan Zamrud Khatulis itu demi menolong Li Annchi dan Daratan Kuno ini.”
Ao Lang menganggukkan kepalanya, Ia menyetujui tekad muridnya, karena hanya itulah satu-satunya cara agar Hao Long yang tersisa, bisa terbuka.
Huang Bao masih berusaha menahan kedua orang guru dan murid itu, karena gurunya saja tidak berhasil mengalahkan Ki Jogowono itu walau kultivasinya berada di Tingkat Dewa Tahap Menengah.
Namun Hao Long tetap bersikeras dengan niatnya tersebut. Huang Bao pun akhirnya menyerah dan memutuskan untuk mengikuti keduanya karena tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk kepada mereka.
Sementara di sisi lain, Ia juga penasaran, sekuat apa sosok Ki Jogowono yang pernah membuat gurunya harus kembali dengan tangan hampa.
***
“Benarkah Kau ingin ikut mereka? Apakah tujuanmu sebenarnya datang ke tempatku?”
Pertanyaan dengan suara bergetar dari Matriark Lin Yu yang saat itu akan melepas kepergian mereka ke wilayah selatan, membuat Huang Bao terlihat gamang.
Pertanyaan kekasih masa lalunya itu, juga menyadarkan Huang Bao akan tujuan kedatangannya ke Pulau Es Utara ini. Sesaat kemudian, Huang Bao terlihat sedang berpikir keras.
Hao Lang dan Ao Lang segera meninggalkan mereka untuk berbicara berdua. Guru dan Murid itu, segera melesat ke punggung Jin Shin yang telah lama menunggu mereka.
Sesaat kemudian, Huang Bao melesat ke atas Beast singa bersayap itu, dengan wajah yang dipenuhi rona bahagia. Seolah sebuah beban telah terlepas dari bahunya.
Lalu Jin Shin segera melesat ke udara dan membawa ketiganya ke arah selatan dengan kecepatan penuhnya.
Matriark Lin Yu masih berdiri melayang, hingga tubuh Jin Shin menghilang dari pandangannya. Ia pun mendesah sebelum menggumamkan sesuatu.
“Cepatlah kembali Bao … Aku sudah tak sabar untuk memberi jawaban atas pertanyaanmu tadi.”
Dengan tersenyum, Matriark Lin Yu melesat meninggalkan tempat tersebut. Hal itu membuat para Tetua yang melihatnya sedikit heran dengan sikap Matriark mereka.
Perjalanan ke Gunung Rakatao setidaknya akan mereka tempuh dalam waktu lima hari tanpa henti dengan kecepatan penuh yang dimiliki oleh Jin Shin.
Setelah tujuh hari, akhirnya mereka berhasil menemukan sebuah gunung yang terletak di tengah laut di antara dua daratan luas yang mereka yakini itu adalah Gunung Rakatao.
“Waspadalah … Aku bisa merasakan Aura besar di depan sana.” Huang Bao menelan ludahnya.
Aura itu terasa sangat mengintimidasi dirinya saat mereka berada satu kilo meter lagi dari puncak gunung yang setengah bagiannya berada di dalam air laut.
__ADS_1
-------------------------O---------------------------