
Sudah tiga bulan berlalu sejak Hao Long meninggalkan Kuil Cahaya Abadi. Huang Bao terus menggalang kekuatan Aliansi Aliran Putih agar semakin kuat untuk menghadapi pertempuran melawan Aliansi Aliran Hitam.
Tindakan Aliansi Aliran Hitam semakin brutal setelah kemunculan kembali Xiong Hu. Ketua Aliansi Aliran hitam itu dikabarkan menghilang seminggu setelah Hao Long dan Li Annchi memasuki Alam Pertengahan.
Namun, setelah satu minggu menghilang, Xiong Hu dikabarkan telah kembali dengan membawa sebuah pusaka bersinar merah. Pusaka itu mampu memecahkan kepala Kultivator Tingkat Dewa, hanya dalam sekali serang saja.
Kekuatan yang dimiliki oleh Aliansi Aliran Hitam, kini juga telah berkali-kali lipat lebih kuat dari tiga bulan yang lalu. Hal itu karena adanya puluhan Kultivator tingkat tinggi dari dunia lain yang datang dan bergabung dengan mereka.
Saat ini sekitar tujuh puluh persen daratan kuno, telah di kuasai oleh mereka. Rakyat pun menderita akibat tindakan semena-mena dari anggota Aliansi Aliran Hitam yang justru berasal dari manusia bumi sendiri.
Sedangkan kultivator dari dunia lain yang menjadi pemimpin dan penguasa kota-kota besar itu, justru tidak melakukan kekejaman terhadap rakyat biasa. Sungguh ironis sekali.
Mereka hanya berlaku kejam terhadap kultivator yang melawan saja. Selain itu, mereka tak berhenti mencari informasi tentang keberadaan Hao Long dan Li Annchi yang telah diketahui memiliki Zamrud Khatulis dan Zamrud Tiwa yang mereka inginkan.
Namun setelah dua bulan lebih mencari kedua orang itu dan tidak menemukan keberadaan mereka, akhirnya pencarian pun dihentikan.
Namun begitu, Aliansi tetap menyebarkan anggotanya ke seluruh penjuru yang menjadi wilayah kekuasaan mereka. Berharap suatu hari nanti, kedua orang yang mereka cari, menampakkan dirinya sendiri.
Di Pihak Aliansi Aliran Putih, demi keamanan seluruh anggotanya, Sekte Kipas Pelangi dan Sekte Golok Halilintar memindahkan Markas mereka yang berjarak satu kilometer dari Kuil Cahaya Abadi.
Selain kedua sekte besar tersebut, masih ada tujuh sekte kecil yang berhasil selamat dari pembantai Aliansi Aliran Hitam dan bertempat tinggal di tempat yang sama, sebelah barat Kuil Cahaya Abadi.
Ketenangan di Kuil Cahaya Abadi pagi itu terusik dengan kedatangan Fu Xia yang tubuh penuh luka dan jubah berlumur darah.
“Apa yang terjadi dengan mu?” Patriark Ou Yang segera memeriksa luka Fu Xia yang dipenuhi lendir. “Siapa yang melakukannya?!” Tanyanya dengan suara terdengar sangat geram.
“Patriark … Ada manusia aneh yang bisa berubah wujud … menjadi seekor gurita sebesar bukit. Ia … telah menghancurkan … tiga pos penjagaan kita … dengan mudah.”
Fu Xia berhasil memberi keterangan walau terlihat susah payah sekedar untuk berbicara. Banyaknya darah yang keluar, membuat Ia lalu jatuh tak sadarkan diri.
“Jie’r lekas Kau bawa Tetua Fu menemui Biksu Chang Lin agar segera diobati lukanya. Aku akan mencari makhluk itu.”
__ADS_1
Tepat setelah Ou Yang selesai dengan kata-katanya, terdengar dentuman keras dan pekik ketakutan dari penjaga gerbang Kuil Cahaya Abadi.
Ou Yang segera melesat dan tiba bersamaan dengan Ying Yu Sang Dewi Kipas Pelangi yang datang bersama Huang Bao dan Dewa Tongkat Merah, Qiu Heng.
Mereka mendapati seorang pria gemuk berkepala botak dengan kulit yang terlihat seperti kulit seekor cumi-cumi. Jubahnya yang usang, terlihat basah seolah Ia baru saja keluar dari sungai besar yang berada tak jauh dari tempat tersebut.
“Dimana Naga Bumi! Suruh Dia keluar!”
“Di Sini tidak ada yang bernama Naga Bumi! Siapa Kau?! Berani sekali berbuat kerusuhan di Kuil Suci ini!” Huang Bao membentak pria botak itu dengan suara lantang.
Bukan jawaban yang Huang Bao dapati, sebuah serangan tak terduga berupa tentakel raksasa dari tangan kanan pria botak itu, melesat sangat cepat ke arahnya.
Walau sempat menghindar, Huang Bao berada dalam posisi yang tidak menguntungkan saat serangan dari tentakel lain menderu ke tubuhnya.
BUGH
Qiu Heng yang melihat Huang Bao dalam bahaya, melesat dan menghadang tentakel itu dengan memukulkan tongkat pusakanya. Namun yang terjadi di luar dugaannya.
JEDAAAAR!
Petir besar menggelegar saat menghantam tubuh Pria botak yang membuatnya terpental hingga puluhan meter jauhnya dan jatuh tergeletak seolah tewas akibat serangan Ou Yang.
Tiba-tiba tanah dalam radius seratus meter, bergetar seiring dengan terjadinya perubahan wujud pria itu yang perlahan membesar dan berubah menjadi seekor Gurita dengan tinggi lebih dari tiga puluh meter.
Bangunan yang berada di sekitarnya, luluh lantak terhempas oleh perubahan tubuhnya yang memiliki delapan tentakel raksasa sepanjang lebih dari lima puluh meter dan juga pancaran energi yang sangat besar.
Gurita raksasa bertubuh merah itu , lalu mengamuk, mengibaskan tentakelnya ke segala arah dan meluluhlantakkan apa yang ada di sekitarnya.
Teringat akan Hao Long dan Naga Bumi yang telah menghajarnya beberapa bulan yang lalu, di Laut Merah, membuat beast Gurita itu semakin brutal..
Huang Bao dan puluhan orang lainnya bergerak puluhan meter ke belakang, hanya Ou Yang saja yang masih di tempatnya dan melesat ke udara setelah Ia melihat semua orang menjauh darinya.
__ADS_1
“Badai Petir Dewa!” Melihat situasi yang sangat berbahaya, Ou Yang melesat ke udara, lalu melepaskan jurus terkuat yang telah Ia pelajari dari Kitab Tombak Dewa Petir.
JEDAAARR JEDAAAR JEEDAAARRRR
Tiga buah petir sangat besar yang belum pernah dilihat oleh Huang Bao dan lainnya, menghantam tubuh Gurita raksasa dengan sangat telak.
“APA!!!?”
Mata Ou Yang terbelalak. Seketika Ia kehilangan kepercayaan dirinya karena jurus terkuatnya hanya mementalkan tubuh gurita raksasa itu sejauh dua puluh meter saja.
Batu sebesar rumah saja hancur lebur saat Ia berlatih menggunakan jurus itu. Namun di tubuh gurita raksasa itu, tidak terlihat luka satu pun.
Aura Merah kini terlihat menyelimuti tubuh Gurita raksasa itu. Sementara tubuh Ou Yang bergetar menyadari kemampuan lawan berwujud hewan itu, jauh di atas kekuatannya.
Karena terkejut akan serangan terkuatnya gagal, Ou Yang pun menjadi lengah.
BUGHHH
Patriark Sekte Golok Halilintar itu, menjerit keras saat tubuhnya terlempar tinggi ke udara akibat terhantam Tentakel yang berada di dua puluh meter di bawah kakinya. Tulang punggungnya remuk di beberapa bagian.
Tombak Dewa Petir terlepas dari genggaman tangannya. Seiring dengan kesadarannya yang mulai menipis. Namun Ia sempat melihat dua bayangan bergerak cepat ke arah dirinya.
“Patriark Ou! … Syukurlah dia masih bernafas.”
Bayangan yang adalah Hao Long adanya, segera mengalirkan energi penyembuh Persik Dewa yang membuat Patriark Ou yang mendapatkan kembali kesadarannya.
Li Annchi datang seraya membawa Tombak Dewa Petir yang terlepas dari tangan Ketua Sekte golok Halilintar yang telah kembali tersadar dengan tubuh yang pulih seperti sediakala.
Ia sangat heran mendapati empat tulang punggungnya patah, kini telah menyatu dan tidak terasa sakit sama sekali. “Long’er! Syukurlah Kau datang. Terimakasih atas pertolongan mu!”
“Awas serangan!” LI Annchi berteriak, saat melihat Satu tentakel menderu cepat ke arah mereka.
__ADS_1
---------------------------O-----------------------------