Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
118: Kakek Misterius


__ADS_3

Hao Long segera melesat dan memasuki pertarungan diantara keduanya. Reinbi pun menjadi kewalahan karena serangan yang Hao Long lepaskan.


Hawa panas yang memancar dari tubuhnya yang menyala dengan api biru, seolah tidak terasa sama sekali oleh Hao Long. Hal itu membuat Reinbi sedikit curiga.


Li Annchi melesat mundur ketika merasakan aura panas Hao long meningkat. Saat itulah Reinbi mengetahui mengapa hawa panas dari tubuhnya tidak mengganggu konsentrasi Hao Long.


“Dia memiliki energi qi berjenis panas seperti ku, pantas saja Ia tidak terganggu dengan panasnya api biru!”


Reinbi mulai gelisah, apalagi saat hawa panas dari tubuh Hao Long terus meningkat hingga akhirnya, Reinbi harus melesat mundur.


Hawa panas yang memancar dari tangan kanan Hao Long, memiliki pancaran panas yang menurut Reinbi, berbeda dari yang ia miliki. Hal itu membuatnya waspada apalagi setelah mengetahui kekuatan tangan kanan Hao Long.


Menyadari Yuenbi sudah melarikan diri dari tempat tersebut, Reinbi memutuskan untuk bertarung hidup mati dengan Hao Long. Setidaknya guru mereka sudah tahu Ia mati di tangan siapa.


“Cepat habisi orang itu!” suara sepuh terdengar kembali di telinga Hao Long, membuatnya segera mengeluarkan Zamrud Khatulis dan mengalirkan ke tangan kanannya.


Melihat nyala tangan kanan Hao Long semakin terang, Reinbi pun memutuskan untuk menggunakan jurus yang sama dengan Yuenbi.


Melihat Jurus Pedang Kristal Level Tiga telah lawan gunakan, Hao Long menyerap lebih banyak lagi energi dari Zamrud Khatulis. Tangan Kanan Hao Long mulai bersinar biru keputihan yang menunjukkan energinya semakin membesar.


Reinbi mengayunkan pedang energi sepanjang enam meter itu ke arah kepala Hao Long dengan kekuatan penuhnya di Level Tiga Tingkat Dewa Sejati.


Hao Long lalu melepaskan Tinju Naga dari tangan Kanannya. Sosok Naga Petir berwarna Putih, melesat menghadang Pedang Energi raksasa itu.


JEDAAAR


BLAAAAMM


Udara kembali berfluktuasi hebat, tubuh keduanya sama-sama terlempar dengan kondisi yang berbeda jauh. Reinbi kehilangan kesadarannya dengan tubuh bagian bawah yang menghitam hangus.


Sementara Hao Long, berhasil menjejakkan kakinya di tanah dan segera melesat kembali ke udara, mengejar Reinbi yang mungkin saja akan melarikan diri dari tempat tersebut.


Namun yang Hao Long lihat adalah tubuh Reinbi yang tadi terlempar ke atas, mulai jatuh tepat ke arahnya. Dengan kuatnya Hao Long menghantamkan tangan kanannya ke tubuh Reinbi yang telah tak sadarkan diri itu.


JEDAAAAR


BLAAARR


Tubuh Reinbi hancur berkeping-keping, ketika tangan Kanan Hao Long menyentuh punggungnya dan melepaskan sebuah petir besar yang mengoyak tubuh itu hingga menjadi serpihan kecil.


Hao Long yang masih di udara, memandang sejenak ke arah jatuhnya bagian-bagian tubuh Reinbi. Lalu berusaha mencari keberadaan sosok tua yang berbicara kepadanya tadi.


“Di sana rupanya!” Hao Long segera melesat ke sebuah pohon yang sangat besar. Dan di balik batang pohon itu, Ia menemukan seorang kakek dengan pakaian compang-camping sedang duduk bermeditasi seraya memejamkan matanya.


“Sesepuh, terimakasih telah membantuku tadi. Namaku Hao Long, bagaimanakah Aku harus memanggil sesepuh.” Tanya Hao Long bertepatan dengan kedatangan Li Annchi.


“Long … Siapa sesepuh ini?” Tanya Li Annchi. Hao long segera memberi isyarat untuk membuat Li Annchi diam terlebih dahulu.

__ADS_1


“Hao Long … Nama yang bagus. Aku tua bangka yang tak dikenal namanya, orang lebih mengenalku sebagai Pengemis Abadi.” Kakek itu membuka matanya. Namun tidak mendapatkan keterkejutan di wajah Hao Long maupun Li Annchi.


Kakek itu lalu berdiri, “Apakah Kalian berasal dari luar dunia kristal?” Hao Long pun mengangguk cepat. “Bagaimana Sesepuh bisa mengetahuinya?” Tanya Hao Long kemudian.


“Hanya orang dari luar dunia kristal yang tidak terkejut saat mengetahui julukanku!” jawab Kakek itu terkekeh. Hao Long menggaruk kepalanya.


“Keluarlah Kau Bairi! Jangan sembunyi terus atau aku akan membakar jubahmu hingga Kau tak akan keluar selamanya!” Sosok pengemis Abadi tiba-tiba berkata dengan lantang.


Hao Long dan Li Annchi terkejut mendengar perkataan kakek Pengemis Abadi itu. Karena keduanya tidak bisa merasakan aura Gao Bairi sama sekali, hingga akhirnya saudara kembar Gao Baidi itu muncul dari portal dimensi berwarna hijau.


“Sesepuh Pengemis Abadi! Sebuah berkah bisa bertemu dengan Anda!” Gao Bairi langsung membungkuk memberi hormat, membuat Hao Long dan Li Annchi tersedak melihatnya.


“Sesepuh Bairi siapa Sesepuh ini seb… “ Ucapan Hao Long terputus. “Cepat membungkuk dan beri hormat kepada Beliau!” Gao Bairi membentak Hao Long dengan keras.


Hal itu membuat Hao Long dan Li Annchi segera membungkuk dan memberi hormat kepada Sosok kakek di depannya. Pengemis Abadi terkekeh melihat semua hal itu.


“Sudahlah … Aku tidak butuh peradatan kalian yang seperti itu!” Ucapnya lalu memandang ke arah Hao Long. “Bocah … sepertinya Kau memiliki beban berat di pundak mu, sehingga harus berjodoh dengan Tangan Petir Dewa Langit!”


Hao Long terkesiap mendengarnya. “Sesepuh … Bagaimana Anda bisa tahu?” Tanya Hao Long keheranan. Namun Sosok Pengemis Abadi hanya diam dan tak menjawabnya.


Ia lalu mengangkat bagian bawah celana kanannya yang utuh, hanya bagian itu satu-satunya pakaian di tubuhnya yang tidak compang-camping.


Dahi Hao Long dan Li Annchi mengerut, mendapati Kulit Kaki Kanan Kakek tersebut berwarna kebiruan persis seperti tangan Kanan Hao Long. Saat itulah Gao Bairi baru menyadari warna kulit tangan Kanan Hao Long.


“Karena Aku juga punya berkah sepertimu, inilah Kaki Awan Dewa Langit!” Kakek Pengemis Abadi berkata seraya tersenyum lebar.


“Mengapa Demikian Sesepuh?” Tanya Hao Long dengan hati berdegup kencang. “Itu karena Aku bertemu denganmu Bocah! Jika Kau berjodoh dengan Tangan Petir Dewa Langit, maka Kau juga akan berjodoh dengan Kaki Awan miliknya.”


Degup jantung Hao Long seolah berhenti, karena mendapati dugaannya ternyata benar. Namun Ia menyadari adanya tugas berat di balik semua itu. Hao Long lantas bertanya kepada kakek Pengemis abadi itu.


“Tugas ku ya … Tugas ku adalah menjaga agar Iblis Waktu tidak lepas dari Segelnya. Selama seribu tahun terakhir, Aku bisa melakukannya. Tapi akhir-akhir ini, Aku merasa sudah tak mampu lagi, karena Segel Pengurung Iblis Waktu semakin melemah.”


Tentu saja berita itu sedikit mengejutkan Hao Long. Ia baru tersadar jika berkah yang Ia terima, memiliki tugas berat di belakangnya.


“Bocah … Tugas mu sepertinya jauh lebih berat dariku. Kita harus segera mencari seseorang yang berjuluk Alkemis Langit. Hanya dia yang bisa memindahkan Kaki Awan ini ke tubuh mu!”


Tentu saja ucapan Pengemis Abadi itu mengejutkan Gao Bairi dan Li Annchi. Namun tidak dengan Hao Long, Ia sudah mengetahui sebelumnya maksud dari kakek yang berusia lebih dari seribu tahun itu.


“Sejak Kapan Kau memiliki tangan Petir itu Long’er” Tanya Gao Bairi. “Aku barus saja memilikinya Sesepuh.” Jawab Hao Long.


“Lalu di mana Si Alkemis Langit sekarang? Dia Kan yang memindahkan tangan petir itu ke tubuh mu!” Tanya Pengemis Abadi terlihat gembira.


Hao Long menggaruk kepalanya. Lalu menjelaskan bagaimana Ia mendapatkan tangan Petir itu.


“APA! Mustahil! Jangan-jangan kerangka yang Kau temui itu adalah Jasad Si Alkemis Langit! Di mana Kerangka itu sekarang?” Tanya Sosok Pengemis Abadi dengan antusias.


Hao long lalu membawa kdua sosok sepuh itu ke dalam goa, Saat itulah Hao Long teringat akan Raja Conda dan ratu Ana yang ternyata masih tergeletak tak sadarkan diri.

__ADS_1


Hao Long lalu mengalirkan Energi Persik Dewa untuk menyembuhkan keduanya yang terluka dalam.


Pengemis Abadi baru percaya jika Hao Long benar-benar memindahkan sendiri tangan Petir Dewa Langit ke tubuhnya, setelah melihat Hao Long mampu menyembuhkan Raja dan Ratu Siluman Ular Putih itu.


Enam orang kembali memasuki goa kecil tempat selama ini kedua Raja dan Ratu Siluman Ular itu bertempat tinggal. Pengemis Abadi segera mengambil cincin ruang yang masih berada di tulang jari kerangka itu.


Setelah memeriksa isi dalam cincin ruang itu, Pengemis Abadi lalu memejamkan matanya. “Saudaraku Alkemis Langit, Tak ku sangka Kau berakhir di tempat sesunyi ini.”


Terlihat kesedihan di raut sepuh Pengemis Abadi. Sementara Hao Long sedang keheranan menatapnya. Bagaimana bisa Pengemis Abadi mengenali kerangka itu hanya dengan melihat Isi cincin ruangnya.


Setelah melihat Sang Pengemis Abadi selesai dengan kesedihannya, Hao Long lalu bertanya kepadanya. “Sesepuh Abadi, bagaimana anda bisa mengetahui jika jasad ini adalah Jasad Alkemis Langit hanya dengan melihat isi cincin ruangnya?”


Alkemis langit tersenyum pada Hao Long. “Apakah Kau tahu tentang Ikat Pinggang Lima Permata dan juga Lemari Semesta?” Tanyanya kepada Hao Long yang terkejut mendengar pertanyaan tersebut.


“Tentu saja Sesepuh … Aku mendapat tugas untuk mendapatkan Lemari Semesta yang berada dalam Ikat Pinggang Lima Permata itu?” Jawa Hao Long.


“Jika begitu, cincin ruang ini akan menjadi milikmu, karena di dalamnya Ikat Pinggang Lima Permata tersebut berada.” Pengemis Abadi melempar cincin ruang milik Alkemis Langit kepada Hao Long.


Dengan wajah yang gugup, Hao Long menerima Cincin tersebut. Lalu Ia meneteskan darahnya pada Cincin ruang agar bisa mengambil Isi yang berada di dalamnya.


Setelah melihat begitu banyak barang di dalam cincin ruang itu, Hao Long akhirnya menemukan Ikat Pinggang berwarna biru dengan lima permata berwarna sama melekat pada tali ikat pinggang itu.


“Inikah Pusaka Dewa Langit Itu? Pancaran energinya begitu menyejukkan.” Benak Hao Long berkata setelah mengeluarkan Ikat Pinggang Lima Permata tersebut.


Hao Long lalu mengenakan Ikat Pinggang itu. Namun Ia terlihat kebingungan bagaimana mengetahui di permata mana Lemari Semesta berada.


“Sentuhlah Setiap Permata itu dan pejamkan matamu, maka Kau akan bisa melihat Isi yang ada di dalamnya.” Pengemis Abadi memberi arahan kepada Hao Long yang segera melakukannya.


Pada permata Pertama, Hao Long melihat sebuah Pedang berwarna biru, pada permata ke dua Hao Long melihat Sebuah Tombak dengan warna yang sama.


Baru pada permata ketiga Hao Long melihat sebuah lemari berukir yang terbuat dari besi yang mengeluarkan asap biru keputihan. Hao Long lalu membuka matanya.


“Sesepuh Bagaimana caraku mengeluarkan Lemari semesta dari dalam permata ini?” tanya Hao Long kemudian. Pengemis Abadi hanya menggelengkan kepalanya.


“Aku juga tidak mengetahui hal itu, Ikat Pinggang Lima Permata memiliki fungsi yang sama dengan Cincin Ruang, Mungkin dengan meneteskan darah mu pada permata itu, kau baru bisa mengambilnya.”


Hao Long melakukan seperti apa yang diucapkan oleh Pengemis Abadi. Ia kembali meneteskan darah dari ujung jarinya yang Ia gores ke arah batu permata tersebut.


Batu permata itu menyala terang untuk sesaat, Hao Long memejamkan matanya dan mengambil lemari semesta tersebut. Setelah berada Diluar Ikat Pinggang Lima Permata, sesuatu di luar dugaan mereka terjadi.


Dinding Gua bergetar dengan hebat seolah hendak runtuh, di luar, awan-awan bergulung secara tak beraturan seolah terjadi badai besar.


“Cepat masukan lagi!” Pengemis Abadi berteriak panik. Saat itulah Ia baru teringat tentang hal berbahaya dari Lemari Semesta dari penjelasan Sang Alkemis Langit.


Hao Long pun segera memasukkan kembali Lemari Dewa Setinggi dua meter itu ke dalam Ikat Pinggang Lima Permata. Wajahnya terlihat tegang dengan apa yang barus saja terjadi.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=-O-\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2