Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
098: Rahasia Besar Tetua Fu Xia


__ADS_3

“Apa yang terjadi dengan Annchi?” Hao Long terus menatap kekasihnya dengan benak yang dipenuhi pertanyaan. Beberapa detik kemudian, Aura yang memancar dari tubuh Li Annchi pun menghilang.


“Terimakasih telah menyelamatkan nyawa kami berdua Nona Annchi.” Shi Mey segera mengucapkan rasa terimakasih walau kesedihan kembali merasuki hatinya.


Li Annchi hanya mengangguk, tanpa sepatah kata terucap dari bibirnya. “Tetua Fu … Benarkah sosok yang anda lihat tadi adalah Adik anda dan suaminya?


Tetua Fu Xia mengangguk. Hao Long mengerutkan dahinya. “Mengapa mereka mengirimi Anda surat itu? Apa yang mereka inginkan dari Anda dan Nona Shi Mey?”


Tetua Fu Xia terdiam, Ia memandang Shi Mey yang juga tak tahu apa tujuan mereka. “Semua ini, berkaitan dengan Mey’er.” Shi Mey terlihat terkejut, begitu juga dengan Hao Long dan Li Annchi.


Melihat mereka begitu penasaran, akhirnya Fu Xia memutuskan untuk menceritakan sebuah rahasia besar yang hanya tiga orang yang mengetahuinya, yaitu Ia sendiri, adik dan suami adiknya tersebut.


Semua bermula dari hari di mana Shi Mey dilahirkan, tujuh belas tahun silam. Sesaat setelah Shi Mey lahir, terjadi sebuah peristiwa ganjil di depan mereka.


Saat itu ada seorang perempuan lain yang membantu proses persalinan tersebut, namun Ia tewas karena sangat terkejut melihat keganjilan itu.


Saat bayi Shi Mey selesai dibersihkan, tiba-tiba petir besar menggelegar di atap rumah dan menyambar tubuh bayi Shi Mey yang entah bagaimana bisa, tidak tewas bahkan terjadi sebuah hal yang ganjil.


Tubuh bayi Shi Mey tiba-tiba terangkat ke udara lalu diselimuti oleh Aura merah kehitaman. Kemudian terlihat bayangan di atas tubuhnya yang dilihat jelas oleh Fu Xia, Shi Tong dan Fu Ling.


Bayangan itu berupa gambaran yang memperlihatkan kengerian akan sebuah peristiwa yang mustahil terjadi. Dimana terlihat gumpalan awan raksasa yang maha besar sedang bergulung di atas langit.


Pusaran awan hitam itu, menarik seluruh benda yang ada dipermukaan bumi dan menghisapnya ke dalam pusaran. Namun hal di luar dugaan terjadi kemudian.


Terlihat tiga orang muncul, yaitu seorang pria dan dua wanita dimana salah satunya terlihat begitu mirip dengan Fu Ling.


Kemudian di kedua tangan perempuan mirip dengan Fu Ling itu, terlihat dua tangannya terangkat ke udara seraya memegang dua buah kristal yang berbeda warna.


Sementara dua sosok yang lain memiliki Aura berupa seekor naga berselimutkan api putih dan seekor ular naga yang mengeluarkan asap putih.


Tetua Fu Xia menghela nafas sejenak, memandang ke arah tiga orang anak muda yang berada di depannya. “Melihat kalian bertiga saat ini, Aku merasa melihat kembali gambaran yang terpancar dari kedua mata Mey’er saat itu.”


Ketiga anak muda itu terlihat terkejut mendengarnya. Sementara Shi Mey terdiam dengan tubuh bergetar. “Paman … Apakah Paman melihat jika pusaran awan hitam maha besar itu hendak menelan kita semua?”


“Mey’er … Bagaimana kau tahu hal itu? Apakah …” Tetua Fu Xia terlihat terkejut mendengar ucapan Shi Mey.


“ Satu minggu terakhir ini, setiap malam Aku bermimpi hal tersebut Paman… Biasanya mimpi itu aku alami satu bulan sekali. Entah mengapa selama tujuh hari ini aku mengalami mimpi yang mengerikan itu, terutama semalam.”


Terlihat tubuh Shi Mey bergetar lebih hebat saat mengingat mimpi semalam yang sedikit berbeda dari mimpi enam malam sebelumnya.

__ADS_1


Dengan suara serak menahan isak, Shi Mey lalu menceritakan mimpinya. Bahwa dalam mimpinya, Ia melihat pusaran awan itu berubah bentuk menjadi sesosok wajah yang memiliki mata merah menyala.


Pusat pusaran awan itu adalah mulut dari makhluk tersebut, yang sempat berkata kepadanya jika kalian bertiga tidak akan bisa menghentikan dirinya.


“Aku Adalah Iblis Waktu yang bangkit dan menjadi kuat karena ulah kalian sendiri. Kini Akulah yang akan menguasai Dunia.”


Wajah itu tertawa dengan sangat keras hingga membuat bumi yang mereka pijak berguncang hebat.


Di saat itulah Shi Mey terbangun dengan tubuh bersimbah keringat. Dan Ia begitu tertekan dengan mimpi yang semalam ia alami.


Tetua Fu Xia terlihat menghela nafas panjang, sementara Hao Long dan Li Annchi masih terdiam dengan pikiran masing-masing tentang apa sebenarnya arti mimpi Shi Mey tersebut.


Ketika Hao Long menanyakan hal tersebut kepada tetua Fu Xia, Paman Shi Mey itu terlihat ragu untuk menjelaskannya.


Namun saat mengingat dua orang asing yang bisa terlihat seperti Shi Tong dan Fu Ling, akhirnya Fu Xia memutuskan untuk menjelaskan apa yang terjadi saat Shi Mey berusia sebelas tahun.


Ayah dan Ibu Shi Mey mendengar suara yang memerintahkan mereka untuk mencari sebuah goa yang berada di balik air terjun besar.


Goa tersebut adalah tempat yang menjadi pintu dimensi antar dunia. Hanya dengan menemui sosok bernama Zhen Jian di Dunia Manusia Kristal, mereka akan mengetahui apa arti dari gambaran yang mereka lihat, sesaat setelah Shi Mey dilahirkan.


Untuk melakukan hal itu, maka ayah dan ibu Shi Mey, berkali-kali mendapatkan misi dari Sekte Golok Halilintar agar dapat mencari keberadaan air terjun besar yang memiliki goa di sisi belakangnya.


“Itulah mengapa Ayah dan Ibumu menghilang selama ini. Maafkan Paman Mey’er. Paman baru menceritakan hal itu sekarang. Semua atas permintaan Ibumu yang tak ingin membuat mu menunggu mereka dan memintaku agar membuat kabar kematian mereka berdua.”


“Apakah Ketiga orang yang bersama Due Hai tadi pernah bertemu dengan Ayah dan Ibu Mey’er? Karena jika tidak bagaimana mereka mengetahui raut wajah keduanya?”


Hao Long berkata seolah bertanya pada dirinya sendiri. Banyak pertanyaan yang melintas di kepalanya saat ini. “Menurut paman, apakah tujuan mereka mengirim surat adalah untuk menangkap Mey’er?”


Fu Xia terdiam sejenak. “Sepertinya begitu, mereka mungkin telah mengetahui apa yang diketahui ayah dan ibunya. Dan semua ini berkaitan dengan apa yang terjadi dengan Mey’er semasa baru lahir.”


Hao Long menghela nafas panjang. “Sepertinya sosok sepuh itu, memiliki kekuatan yang menggunakan pikiran, sehingga bisa jadi mereka mungkin telah menangkap ayah dan Ibu Mey’er.”


Ucapan Hao Long itu membuat Shi Mey kembali bersedih. Tetua Fu Xia pun mengangguk, karena Ia memiliki pemikiran yang sama dengan Hao Long.


“Kemanakah kita akan mencari mereka paman?” Tanya Hao Long kemudian. “Tidak mudah menemukan mereka, namun bagaimana jika kita ke kota Lipu?”


Hao Long pun setuju, namun Li Annchi kembali terlihat kesal. “Bukankah sebaiknya kita kembali dulu ke Kuil Cahaya Abadi dan mengantar mereka berdua?” Tanyanya pada Hao Long.


Suara yang sedikit ketus dari Li Annchi membuat Hao Long menjadi serba salah. “Annchi akan terlalu lama jika kita kembali dulu ke Kuil Cahaya Abadi, toh kita juga akan melewati kota tersebut saat kembali ke sana.”

__ADS_1


Perkatan Hao Long tidak bisa Li Annchi bantah. Ia hanya merasa kesal, karena Hao Long selalu menemukan situasi yang membuat Dia bisa terus bersama Shi Mey.


Tetua Fu Xia hanya tersenyum kecut, Ia mengetahui jika Li Annchi merasa sangat cemburu kepada keponakannya.


“Semoga Nona Li , bisa segera mengubah Sikapnya pada Mey’er … Satu rahasia lagi masih Aku jaga. Jika saatnya telah tiba, aku harap mereka sudah berteman.”


Dalam benaknya, tetua Fu Xia berkata seraya menatap sedih ke arah Shi Mey. “Semoga kami bisa mengubah takdirmu Mey’er … Walau rasanya itu tidak mungkin, biarkan Aku, ayah dan Ibumu berusaha.”


Wajah sedih yang baru saja ditunjukkan oleh Tetua Fu Xia, sempat terlihat oleh Hao Long. Ia berencana untuk berbicara dengannya empat mata setelah mereka tiba di Kota Lipu.


Dengan menunggangi Jin Shi mereka tiba lebih cepat di sebuah tempat berjarak dua kilometer dari gerbang selatan Kota Lipu. Keempatnya segera turun dan memilih untuk jalan kaki setelah melakukan penyamaran.


***


Di sudut barat daya Kota Lipu, terlihat sebuah bangunan yang sudah tua dan sepertinya tidak lagi di huni.


Namun tidak ada yang menduga jika di dalam bangunan itu, terdapat empat orang yang sedang duduk sambil memandang sepasang suami isteri yang sedang terikat di kursinya masing-masing.


Tentu saja tali yang mengikat mereka adalah sepasang energi yang bentuknya menyerupai seutas tali. Mereka adalah Due Hai dan Gao Baidi serta dua orang manusia kristal lainnya.


Mata Gao Baidi terlihat bersinar kemerahan saat menatap mata sepasang suami isteri di depannya. Ia sedang menggunakan jurus pikirannya untuk mencari informasi tentang sosok gadis yang membuatnya ketakutan.


“Bagaimana Pemimpin ketiga?” Due Hai yang penasaran segera bertanya setelah melihat mata pemimpin ketiganya itu kembali normal.


“Mereka berdua tidak mengenal siapa gadis tersebut.” Gao Baidi berdiri dengan raut wajah yang terlihat sangat kesal.


Ia tidak menduga sama sekali jika di dunia ini, dirinya harus bertemu dengan sosok yang diramalkan menjadi malaikat maut bagi dirinya.


Selama ini, secara diam-diam Ia telah menyelidiki ke seluruh penjuru Dunia Kristal, tentang siapa sosok yang akan menjadi malaikat mautnya.


Tidak dinyana, saat Ia menemukan orang yang mengetahui tentang Iblis Waktu, dirinya justru bertemu dengan Sosok Sang Malaikat Maut yang ditakdirkan untuk membunuhnya.


Dahi Gao Baidi terlihat mengerut, wajahnya yang muram itu, membuat Due Hai dan kedua manusia kristal lainnya, diam tak bergeming.


“Dimana Aku harus mencari Raja Iblis, agar aku bisa segera membangkitkan Iblis Waktu dan menguasai seluruh dunia di dimensi yang berbeda.”


Gao Baidi lalu memerintahkan kedua orang anak buahnya agar keluar mencari informasi tentang Si Raja Iblis yang menurut informasi yang Ia dapat, sedang berada di Alam manusia di mana mereka berada saat ini.


Kedua manusia kristal itu, segera melangkah keluar dari bangunan tua itu. Di saat yang sama, Hao Long dan Li Annchi, baru saja melewati Gerbang Selatan Kota Lipu.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Tetua Fu Xia dan Shi Mey yang menyamar menjadi seorang Kakek dan Nenek, berhasil memasuki Kota Lipu tanpa sedikitpun mengundang kecurigaan dari para penjaga kota.


---------------------------O-----------------------------


__ADS_2