Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
034: Cambuk Iblis


__ADS_3

Zou Ning menjerit keras saat melihat tubuh Biksu Gao Han jatuh dari atas batu. Ia pun menangis sejadi-jadinya.


“Maafkan Aku Han!!! Aku telah salah! Aku … Aku masih mencintaimu ….” Zou Ning kemudian kembali meraung menyesali apa yang baru dia lakukan.


Tangis penyesalan atas apa yang Ia lakukan, masih berlangsung hingga lima menit kemudian dan terhenti saat tiba-tiba sebuah suara yang Ia kenali terdengar dari arah belakangnya.


“Ning’er … Aku pun sama dengan mu. Perasaan itu tetap terjaga rapi di hatiku. Namun aku sadar, langit enggan menyatukan kita di kehidupan ini. Semoga di kehidupan berikutnya, kita bisa bersatu.”


Alangkah terkejutnya Zou Ning saat membalikkan badan, mendapati Biksu Gao Han masih hidup dan baik-baik saja. Ia pun kembali menatap ke arah leher yang masih mengeluarkan darah dan potongan kepala yang terbungkus oleh pelindung kepala itu.


Ia pun segera meraih potongan kepala itu untuk melihat wajah sebenarnya.


“AARGGGHH … Tidak mungkin!!”


Tubuh Zou Ning terjatuh karena sangat terkejut saat mendapati wajah Hao long yang tersenyum ke arahnya saat Ia membalikkan wajah tersebut. Pedangnya pun terlempar tepat satu meter di depan kaki Biksu Gao Han.


Mata Kultivator Perempuan di tingkat dewa tahap awal itu, membelalak lebar saat kepala Hao Long melayang dan mendekatI jasadnya. Apa yang Ia lihat kemudian, membuatnya terpana.


Kepala Hao Long kembali menyatu dengan lehernya dan saat tangan pemuda dari masa depan itu mengusapkan tangannya, luka di leher pun menghilang tanpa bekas.


“Kau!!! Jadi kau menipuku Gao Han!” Zou Ning terlihat sangat marah. Ia menatap tajam ke arah Biksu Gao Han yang telah mengambil pedang tiga warna dan melangkah mendekatinya.


“Ambillah pedangmu dan bunuhlah Aku.” Seraya mengulurkan pedang ke Zou Ning, Biksu Gao Han berkata dengan lembut yang membuat hati Huang Bao dan Hao Long berdebar dengan keras.


Ini adalah momen penentuan berhasil atau tidaknya siasat yang direncanakan oleh Hao Long. Keduanya menahan nafas saat Zou Ning mengangkat Pedang tiga warna ke udara.


Klontang!


Suara bilah pedang yang beradu dengan batu, terdengar sesaat sebelum tubuh Zou Ning melesat meninggalkan tempat tersebut dengan berurai air mata. Hao Long mengedipkan matanya saat Biksu Gao Han melihat ke arah dirinya.


Biksu Gao Han segera melesat ke arah yang sama dengan Zou Ning.

__ADS_1


Lima menit kemudian, Jin Shin datang dengan Ao Lang yang terlihat sedang rebahan di punggungnya.


Setelah Huang Bao dan Hao Long berada di atas punggungnya, Jin Shin segera melesat meninggalkan tempat tersebut.


Namun baru beberapa ratus meter. Tiba-tiba Zou Ning melesat menghadang jalannya. Beberapa detik kemudian, Biksu Gao Han datang menyusulnya.


“Ning’er … Apa yang akan kau lakukan? Bukankah Kau sudah memaafkan Aku?” Biksu Gao Han terlihat kebingungan dengan sikap Zou Ning.


“Tenanglah Han Gege … Aku akan memberi hadiah pada bocah cerdik ini.” Selesai berkata demikian, Zou Ning mengeluarkan Tiga Belas Manusia Kayu dari cincin ruangnya dan menyuruh Hao Long menahannya agar tetap di udara dengan kekuatan yang Ia miliki.


“Jangan melawan aliran energi yang kusalurkan. Akan ku ajari Kau jurus Tiga Belas Manusia Kayu milikku.”


Setelah meminta izin Ao Lang untuk mengajari muridnya, Zou Ning segera memberi arahan kepada Hao Long.


Hampir satu jam proses itu berlangsung, sebelum akhirnya Hao Long berteriak kegirangan saat Ia berhasil mengendalikan ketiga belas manusia kayu itu dengan sempurna.


Zou Ning cukup terkejut dengan pencapaian Hao Long yang begitu cepat. Sementara Ia sendiri membutuhkan beberapa bulan untuk bisa mengendalikan ketiga belas manusia kayu tersebut.


Sementara Biksu Gao Han memutuskan akan menemani Zou Ning di Gunung Salju tersebut hingga akhir hayat mereka, sebagai bentuk penebusan atas kesalahan masa lalunya yang meninggalkan Zou Ning tanpa pesan.


Jin Shin segera melesat ke arah daratan kuno sesuai dengan perintah Hao Long yang akan berkultivasi di Pulau Persik untuk menyerap kedua sumber daya itu.


***


BLAAAM


Ledakan menggelegar di depan sebuah goa besar saat Li Annchi menghantam Perisai Energi yang melindungi lubang goa tersebut.


Telah berhari-hari Ia mencari keberadaan Aura yang sangat Ia kenali itu. Aura yang terasa samar dan seringkali berpindah tempat dengan sangat cepat.


Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya Ia mendatangi tempat dimana Aura itu terakhir kali Ia rasakan keberadaannya.

__ADS_1


“Siapa Kau!? Berani sekali mengusikku!”


Walau dari perkataannya yang terdengar marah, namun sosok Pria berusia sekitar empat puluhan tahun itu, bertanya dengan suara lunak setelah mengetahui seorang gadis cantik berambut putih, berada di depan goa.


Suasana menjadi canggung saat Li Annchi yang tubuhnya dikuasai oleh Iblis Es, tetap diam mematung sambil menatap tajam ke arah pria itu dan mengacuhkan pertanyaannya.


Sesat kemudian wajah pria itu terlihat panik saat tiba-tiba Cincin ruang di jari tangan kanannya, bereaksi aneh tanpa bisa Ia kendalikan.


Sesaat kemudian, sebuah cambuk melesat keluar dari dalam cincin ruangnya menuju ke arah dimana Li Annchi berada. Aura mencekam segera memenuhi udara sesaat setelah Cambuk Iblis itu berada di udara.


“Kembalikan Cambuk Iblis milikku!” Sosok pria itu membentak Li Annchi dengan kekhawatiran terlihat jelas dalam suaranya.


Seseorang yang bisa memaksa keluar benda yang berada di dalam Cincin Ruang tanpa menyentuhnya, pastilah bukan seorang kultivator biasa.


Cambuk Iblis adalah senjata andalannya yang telah membuatnya menjadi kultivator yang sangat disegani di wilayah timur Daratan Kuno.


Senjata di tingkat langit itu, kini telah berada di tangan sosok gadis yang tidak bisa Ia ukur kultivasinya. Menandakan kultivasi gadis itu, melebihi tingkat kultivasinya di tingkat Dewa Tahap Menengah.


Hal itulah yang membuatnya menjadi khawatir, karena Ia tahu akan kekuatan tersembunyi dari Cambuk Iblis yang sangat dahsyat.


“Milikmu?!! Apa Aku tidak salah dengar?” Iblis Es tersenyum sinis saat Ia mendengar perkataan Sosok pria itu.


“Akulah pemilik sebenarnya dari Cambuk ini. Bukankah Ia keluar sendiri dari cincin ruangmu? Itu karena Ia mengetahui siapa sebenarnya tuan pemiliknya.”


Ucapan Iblis Es, membuat Pria itu tertegun sejenak. Ingatannya segera melayang akan perkataan Sang Guru belasan tahun lalu, saat Ia menerima Cambuk itu darinya.


“Cambuk Iblis ini adalah milik seorang Perempuan Iblis yang bernama Iblis Es. Konon, Ia telah dibunuh dan rohnya disegel oleh Dewi Es yang terkenal dengan jurus Tapak Salju Abadinya.”


Teringat akan kata-kata sang Guru yang telah mengasingkan dirinya, Pria itu memiliki dugaan bahwa sosok gadis yang berada di depannya adalah reinkarnasi Iblis Es.


Hal itu membuat tubuhnya bergetar, namun rasa jerihnya segera menghilang saat dari arah selatan, Ia merasakan Aura besar yang Ia kenali, datang mendekat dengan sangat cepat.

__ADS_1


------------------------O--------------------------


__ADS_2