
“Kurang Ajar Kau!” Niu Yie yang sangat marah mendengar ada yang berani menghina dirinya, kembali mengeluarkan jurus Jarum Es dengan kekuatan yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
Aura Kultivator Tingkat Antara segera memancar dari tubuh Niu Yie yang membuat Kakek di belakang Li Annchi, segera melesat menjauhi keduanya.
Namun Ia segera melesat kembali ke arah rekannya, yang sedang terdesak hebat oleh serangan gencar Niu Ing. Nyawa rekannya itu, kini sedang berada di ujung tanduk.
Namun gerakannya terhenti karena telah didahului oleh seorang pria berusia sekitar tiga puluhan tahun yang melesat dua kali lipat lebih cepat darinya.
Hao Long tidak bisa membiarkan kakek itu tewas di tangan murid Shui Lin, Manusia dari dunia lain yang rupanya menjadi Penguasa di kota Kaiping.
Sehingga saat melihat lawan Niu Ing hampir terbunuh, Hao Long melesat dan segera menghancurkan jurus Jarum Air dengan Tinju Naga Apinya.
“Kakek biar Aku yang melawannya. Kakek istirahatlah. Jangan khawatir, racun di tubuh kakek sudah aku musnahkan.”
Setelah mengalirkan energi penyembuh Persik Dewa, Hao Long berbalik dan menatap Niu Ing yang sedang terlihat resah melihat sang adik sedang terdesak hebat oleh seorang perempuan yang tidak Ia kenali.
“Di mana Gurumu Shui Lin? Kenapa Ia tidak menunjukkan dirinya?” Pertanyaan Hao Long disambut oleh dahi berkerut Niu Ing. “Siapa Kau sebenarnya, Aku merasa pernah mendengar suaramu.”
Hao Long hanya tersenyum, saat Niu Ing hendak bertanya lagi terdengar pekikan keras dari tempat di mana LI Annchi dan Niu Yie bertarung.
Tubuh Niu Ing bergetar hebat, entah marah atau jerih melihat adiknya kini telah tergeletak di tanah dengan tubuh yang terbungkus bongkahan Es. “Jangaaaan!”
BLAAM
Niu Ing berteriak histeris melihat tubuh adik yang sangat Ia sayangi, hancur berkeping-keping. Hal itu membuat Niu Ing menjadi murka. Ia melesat menyerang Li Annchi secara brutal.
Namun Niu Ing bukan lawan yang sepadan bagi Li Annchi yang sudah sangat marah saat tiba-tiba Ia teringat akan kematian Gurunya Lin Yu di tangan Aliansi Aliran Hitam.
__ADS_1
Kurang dari satu menit, terdengar pekikan Niu Ing yang tubuhnya baru saja terkena serangan tapak dingin Li Annchi yang segera membuatnya jatuh ke tanah dengan tubuh membeku.
Dengan cara yang sama, Li Annchi pun menghabisi Niu Ing yang tubuhnya hancur berkeping-keping setelah terkena hantaman jurus Tapak Dewi Es.
Hao Long menelan ludahnya, tidak menduga Li Annchi bisa bertindak sekejam itu. Begitupun dengan kedua kakek yang melihat kejadian itu. Tubuh keduanya bergetar saat Li Annchi mendekati Hao Long.
“Tuan dan Nyonya, terimakasih atas pertolongan anda berdua. Perkenalkan nama saya Kang Jian dan ini rekan Saya Leng Bao. Sedang teman kami yang sedang bertarung itu, Ia bernama Gong Shun. Kami bertiga Adalah Pelindung Sekte tapak Emas.”
Tanpa diminta, Kang Jian lalu menjelaskan bahwa kedatangan mereka mencari He Jing adalah untuk membalas dendam atas apa yang dilakukannya terhadap Sekte Tapak Emas yang mereka lindungi.
Saat itu terjadi, Ia dan kedua rekannya sedang melakukan latihan tertutup selama hampir dua tahun untuk meningkatkan kekuatan jurus gabungan mereka bertiga.
Namun tidak mereka duga sama sekali, saat kembali ke Sektenya, ketiganya mendapati bangunan sekte mereka telah menjadi puing-puing dan bau busuk yang sangat menyengat dari jasad-jasad anggota sekte.
Ketua Sekte Tapak Emas saat itu adalah Gong Bei, yang merupakan adik kandung Gong Shun. Gong Bei terbunuh dengan tubuh yang tercerai berai, akibat terkena jurus yang dikenal sebagai Jurus Cakar Elang Mengoyak Mangsa milik He Jing.
Ia tidak ingin bersikap naif saat menghadapi mereka yang berasal dari aliran hitam.
Tanpa diketahui oleh kedua Kakek tersebut, Hao Long melepaskan serangan energi tersembunyi dari ujung jari tangannya.
Hal itu Ia lakukan bertepatan dengan sebuah serangan dari Gong Shun yang mendarat telak di punggung He Jing. Gong Shun terlihat senang, mendapati He Jing telah tewas akibat serangan kuat darinya.
Namun itu belum cukup untuk memuaskan hatinya, dalam satu kali serangan tapak, tubuh He Jing Ia hancurkan. Barulah Gong Shun merasa tenang puas.
Ia pun segera melesat ke tempat kedua rekannya berada dan dua orang penolong mereka. Mengetahui ketiganya berasal dari Aliran Putih, Hao Long lalu meminta mereka bergabung dengan Aliansi yang dipimpin oleh Huang Bao.
Ketiganya pun bersedia, karena memang mereka berniat ke kuil Cahaya Abadi setelah berhasil membunuh He Jing. Hao Long dan Li Annchi kembali memasuki kota Kaiping dari arah yang berbeda.
__ADS_1
Dua jam berlalu, kota Kaiping menjadi gempar saat mengetahui dua murid Shui Lin tewas mengenaskan bersama dengan Patriark He Jing dengan kondisi tubuh yang tak berbeda.
“Long sepertinya jasad mereka sudah ditemukan. Ratusan anggota Sekte Elang Hitam melakukan pemeriksaan ke setiap bangunan untuk mencari mereka bertiga.”
Li Annchi segera berbalik, meninggalkan jendela tempat Ia melihat ratusan anggota Sekte Elang Hitam telah menyebar hampir di setiap sudut kota.
“Begitukah? Sepertinya Aku harus menunda dulu langkah berikutnya.” Jawab Hao Long santai seraya merebahkan tubuhnya. “Apa yang kau rencanakan bersama Tetua Fu Xia? Siapa Nenek itu?”
Hao Long hendak menjawab pertanyaan Li Annchi, namun Aura yang sangat besar, tiba-tiba memancar kuat dari pusat kota Kaiping.
“Aura ini, milik perempuan itu. Mengapa Aku baru merasakannya setelah sekian lama berada di kota ini?” Hao Long sempat tertegun menyadari Aura Shui Lin jauh lebih besar dari terakhir kali Ia merasakannya.
Sesaat setelah Hao Long berkata demikian, dua Aura yang tak kalah besarnya, tiba-tiba memancar dari arah timur dan melesat dengan cepat menuju pusat Kota Kaiping.
Hao Long segera melangkah ke tepi jendela dan Ia sempat melihat seorang pria dan seorang wanita, memasuki sebuah bangunan berlantai lima yang merupakan satu-satunya bangunan tertinggi di kota Kaiping.
Di tempat itu, dua orang tersebut disambut dengan wajah ceria Shui Lin yang baru saja keluar dari Ruang Latihan tertutupnya yang berupa ruang dimensi buatan.
“Kakak Pertama, Kakak kedua. Lama tak bertemu!” Shui Lin segera menggenggam Tangan perempuan yang merupakan Kakak seperguruannya yang kedua. Sementara pria yang merupakan Murid Tertua dari Guru mereka, hanya tersenyum dingin.
“Adik Lin, Kemana saja Kau Selama ini?” setelah beberapa saat, Perempuan itu bertanya kepada Shui Lin.
Namun saat hendak menjawab Ia dikejutkan oleh dua muridnya yang datang dengan mata yang berair.
“Ada Apa? Mengapa kalian menangis?” Shui Lin bertanya dengan penuh keheranan. Namun rasa herannya berubah menjadi kemarahan setelah satu murid perempuan itu, menjawab pertanyaannya.
----------------------O------------------------
__ADS_1