
Lereng sebelah barat Bukit Halilintar, memiliki sebuah dataran yang cukup luas. Sehingga di sisi sebelah barat bukit itulah, pendahulu Sekte Bukit Halilintar mendirikan bangunan-bangunan mereka.
Karena lawan datang dari sisi sebelah timur, tentu saja Ou Jie dan yang lainnya tidak mengetahui dengan pasti, apa yang terjadi setelah petir maha besar tadi menggelegar.
“Tetua Fu … Bisakah Kau melihat apa yang terjadi diatas sana?” Setelah mengangguk, Fu Xia segera menghilang dari pandangan mereka. Sedetik kemudian, tubuhnya telah berada di atas puncak Bukit Bukit Halilintar.
Dahi Fu Xia mengerut, menatap heran ke arah seseorang berjubah hitam yang memunggungi dirinya karena menghadang sekitar lima ratus orang yang mendatangi Bukit Halilintar.
Fu Xia memberi tanda kepada Ou Jie. Beberapa detik kemudian, Ou Jie telah berada di dekatnya bersama dua ratus lebih murid senior lainnya dan sepuluh orang tetua sekte.
“Siapa orang itu?” Tanyanya yang dijawab Fu Xia dengan menggelengkan kepala. “Ia sudah berada di tempat ini saat Aku tiba. Aku belum sempat melihat wajahnya”
Perkataan selanjutnya dari Fu Xia, membuat Wakil Ketua Sekte Bukit Halilintar itu menatap tajam ke arah sosok laki-laki yang sedang mematung seraya menatap lawan yang juga terlihat ragu untuk bergerak.
“Tidak mungkin … “ Suara Ou Jie bergetar. Ia merasa pernah melihat Sosok itu dari belakang sewaktu masih kecil.
Lalu Ia memutuskan untuk melesat menghampiri Sosok berjubah hitam itu dan Ia berseru kaget setelah melihat wajahnya.
“Kakek!!! Kakek masih hidup?!” Ou Jie melotot lebar, seolah tak percaya jika melihat Sang kakek masih hidup dan kini tersenyum ke arahnya.
“Jie’er … Kau sudah dewasa dan begitu mirip dengan ayahmu, kemana Kakakmu? Kenapa Aku tidak bisa merasakan aura kekuatannya?”
Belum sempat Ou Jie menjawab, seseorang dari pihak lawan datang mendekati mereka. “Melihat Kalian berbicara begitu akrab, sepertinya kau adalah orang yang bernama Ou Feng berjuluk Iblis Halilintar bukan?!”
“Siapa Kau dan mengapa Kalian menyerang Sekte Bukit Halilintar?” Kakek yang dipanggil Ou Feng itu balik bertanya dengan dahi berkerut, heran karena ada seseorang yang mengetahui identitasnya.
“Hahahaha … Ternyata dugaan Ketua kami benar. Kau memalsukan kematianmu dan terus berlatih tertutup selama puluhan tahun demi mengalahkan Ayah dari Ketua Kami bukan?”
Ou Feng terlihat menghela nafas panjang. Kini Ia menyadari, siapa sosok di balik penyerangan besar ini.
__ADS_1
“Apakah Ketua Kalian bernama Xiong Hu?” Tanyanya pada sosok yang tak lain adalah Xi Hai yang mengiyakan pernyataan Ou Yang. “Di mana Xiong Lu saat ini?”
Xi Hai ingin menjawab, namun didahului oleh sosok pria yang melesat mendekatinya. “Patriark Xi … Apa yang Anda lakukan?! Kita kesini untuk memusnahkan sekte Bukit Halilintar, bukan untuk wawancara.”
Xi Hai menatap kesal ke arah Pria berusia sekitar empat puluhan tahun yang tak lain adalah Jing Hung, Patriark Sekte Kipas Neraka.
“Jika Kau gentar melawannya, biar Aku yang menghadapi Tua Bangka ini!” Lanjut Jing Hung yang segera mengeluarkan Kipas Neraka dari dalam cincin ruangnya.
Ou Feng tersenyum dengan kesal melihat kearoganan anak muda di depannya itu. Tanpa di duga, Ia bergerak cepat dan menampar Jing Hung yang terbelalak kaget melihat kecepatan gerak Kakek itu.
PLAK
DUAAGH
Tubuh Jing Hung terpental belasan meter dengan bibir pecah serta dua buah giginya tanggal. “Kurang Ajar!!”
Seketika Kipas itu menyala, hawa panas pun segera menyebar di udara. “Kipas Neraka! Apakah Dia cucu Jing Gong?” Terlihat raut wajah Ou Yang berubah serius.
Jing Hung mengibaskan Kipas neraka ke udara di depannya beberapa kali, gerakan yang membuat kipas pusaka itu melesatkan belasan pisau energi ke arah Ou Yang.
Dengan mudah Ou Yang menghancurkan serangan itu dengan mengeluarkan petir dari kedua telapak tangannya.
Suasana pun menjadi tegang karena suara petir yang begitu keras, saat menghantam energi serangan Jing Hung. Terdengar teriakan kesal dari Jing Hung yang lantas mengganti jurusnya.
Sadar jika lawannya memiliki kultivasi yang tinggi, Jing Hung tak ingin gegabah. Kipas Pusaka yang tadinya megeluarkan api merah kekuningan, kini mengeluarkan api biru yang jauh lebih panas lagi.
Jing Hung memutar tubuhnya dengan cepat seraya mengibaskan Kipas Neraka dengan kuat ke udara, sebuah energi berbentuk Kipas sepanjang lima meter terbentuk di udara.
Dahi Ou Feng berkerut, apa yang kini di lihatnya, membuat ingatannya kembali ke masa tujuh puluh tahun lalu saat Ia menghadapi sosok Jing Gong. Hanya saja, panjang energi kipas itu dua kali lebih besar dari yang pernah Ia lihat.
__ADS_1
“Tidak ku sangka, anak muda ini memiliki kekuatan jauh diatas kekuatan Jing Gong. Aku tidak boleh gegabah. Semoga latihanku selama puluhan tahun ini bisa menghadapi jurus Birunya Kematian.”
Saat berkata demikian dalam benaknya, Ou Feng juga mengalirkan delapan puluh persen energi qi-nya. Tubuh Kakek yang sudah sangat tua itu, memancarkan aura kekuatan di Tahap Akhir Tingkat Dewa setelah Ia selesai mengalirkan energi qi-nya.
Ou Jie segera melesat mundur hingga lebih dari lima puluh meter, demikian juga dengan Xi Hai. Jing Hung yang telah selesai dengan persiapan jurusnya, segera melepaskan serangan terkuatnya.
Petir kecil yang memercik dari tubuh Ou Feng, membesar dengan tiba-tiba dan sesaat kemudian.
JEDAAAR !!!!
Ratusan orang terkejut akan suara menggelegar dari petir yang sama besarnya dengan petir yang tadi menghadang langkah mereka.
Petir Maha besar itu, menghantam dengan kuat energi biru berbentuk kipas yang seketika hancur dan membuat udara berfluktuasi dengan sangat hebatnya.
Bahkan Bukit Halilintar terguncang hebat seolah gempa bumi besar sedang terjadi di wilayah tersebut. Apa yang terlihat setelahnya, membuat mata semua orang melotot lebar.
Pepohonan yang berada di bawah mereka, hangus terbakar dengan api yang menyala biru, sementara kedua orang yang bertarung, sama-sama terpental ke belakang dan memuntahkan darah segar.
Jing Li segera melesat meraih tubuh Sang kakak yang wajahnya terlihat pucat. Hal yang sama akan dilakukan oleh Ou Jie, namun Ia kalah cepat dari Fu Xia yang telah lebih dulu berada di belakang Kakek Ou Feng yang hampir kehilangan kesadarannya.
Ou Feng mengeluarkan sebutir Pil dari Cincin ruangnya. Sesaat Ia sedikit ragu untuk menelan Pil yang memercikkan petir kecil berwarna biru itu.
Namun mengingat sekte dan keturunannya berada dalam situasi yang sangat berbahaya, Ia pun segera memutuskan untuk menelan Pil yang sangat berharga yang hanya ada sebutir itu.
Namun jari tangannya tertahan untuk melempar pil sebesar ibu jari itu, karena mendengar pekikan keras dari barisan belakang pihak lawan dan juga raungan keras.
Saat Ia melihatnya, matanya pun melotot lebar melihat seekor ular naga api sepanjang lebih dari seratus meter, bergerak meliuk-liuk membunhi lawan yang tak menduga akan mendapat serangan dari belakang mereka.
----------------------------O----------------------------
__ADS_1