
“Hah!????”
Mulut Gao Bairi terbuka dan wajahnya terlihat bengong mendengar ucapan Pengemis Abadi.
”Jika Aku suka sesama, Aku memilih dirimu Sesepuh. Anak ini Bau kencur sedang Anda seperti kelapa, semakin tua semakin kental minyaknya. Bagaimana Mau bermain denganku?!”
Gao Bairi yang kesal, berkata dengan suara yang dibuat seperti perempuan, membuat Pengemis Abadi merinding mendengarnya.
“Long! … Apa yang terjadi dengan mu?” Li Annchi yang baru datang dari belakang tubuh Gao Bairi dengan membawa dua Apel besar, segera melesat ke depan Kakek sepuh itu.
“AAAHH !!” Li Annchi berteriak saat telah berada di depan Gao Bairi dan terkejut mendapati Kekasihnya tanpa busana.
Karena terkejut, satu buah Apel jatuh tepat di bagian bawah perut Hao Long yang saat itu mulai tersadar dari pingsannya.
“AAAAARGGGHHH”
Hao Long menjerit panjang sebelum jatuh pingsan lagi karena pusakanya terhantam Apel yang besarnya tiga kali besar buah kelapa itu.
Pengemis Abadi dan Gao Bairi tertegun melihatnya. Lalu tertawa terbahak-bahak. Li Annchi yang menjadi salah tingkah, melesat ke sebuah batu di belakang Gao Bairi dan mulai menyantap buah apel raksasa yang masih berada di tangannya.
Lima menit kemudian, Hao Long yang telah tersadar dan mengenakan jubah lain, segera mendekati Li Annchi bersama kedua kakek berusia lebih dari lima ratus tahun itu.
Sambil membakar daging kelinci raksasa, Pengemis Abadi lalu menceritakan apa yang Ia temukan selama tujuh hari kepergiannya. Ia mengatakan bahwa Dunia tempat mereka berada saat ini, benar Dunia Bangsa Org.
Namun yang membuat ketiga orang lainnya terkejut adalah mereka terlempar ke masa lebih dari seribu tahun sebelum masa mereka saat berada di dunia Manusia Kristal.
Tentu saja ketiganya tidak percaya, namun tidak juga memiliki alasan lain untuk menyanggahnya. Hanya saja mereka beruntung bisa menemui hewan-hewan Raksasa yang memiliki kultivasi level Lima tingkat Dewa Sejati.
Setelah mengetahui bahwa kedua muda-mudi itu telah menembus level lima Dewa Sejati, Pengemis Abadi lalu menyarankan kepada Hao Long dan Li Annchi agar meneruskan kultivasi mereka untuk menembus Level enam yang sangat sulit sekali dicapai di masa mereka saat itu.
“Chi’er memiliki energi dingin, hewan-hewan air akan sangat cocok dengan jenis energinya. Long’er … Kau harus sedikit bersabar, ada banyak hewan-hewan yang memiliki jenis api, tapi tempatnya sangat jauh dari sini.”
Hao Long dan Li Annchi menyetujui rencana Pengemis Abadi. Sementara Gao Bairi terlihat sedang disibukkan oleh pikirannya sendiri. Hal itu tak luput dari perhatian Pengemis Abadi.
__ADS_1
Hao Long dan Li Annchi pun disuruh untuk memburu seekor Ikan Laut bersayap di level tiga Dewa Sejati. Setelah keduanya pergi ke lautan luas tempat mereka sebelumnya tiba, Pengemis Abadi lalu bertanya sesuatu kepada Gao Bairi.
“Yang Aku pikirkan bagaimana cara kita kembali ke masa kita yang sebenarnya?” Jawab Gao Bairi. Pengemis Abadi tersenyum tipis.
“Jadi Kau belum bisa membuat Portal Dimensi untuk berpindah ke Waktu yang berbeda?” Tanya Pengemis Abadi seraya duduk di sebuah batu.
“Aku hanya bisa berpindah tempat saja dengan portal dimensi ku, tapi tidak dengan berpindah waktu ke masa depan atau ke masa lalu.” Jawab Gao Bairi.
BLAAM BLAAMM
Dua ledakan terdengar menggelegar dari lautan, tampak Hao Long dan Li Annchi sedang di serang oleh ratusan ikan raksasa bersayap.
Dua ikan raksasa mati dengan tubuh yang hancur berkeping-keping. Hal itu membuat dahi Pengemis Abadi berkerut melihatnya. “Ah Aku lupa memberitahu mereka jika tubuh hewan itu harus tetap utuh.”
Pengemis Abadi segera melesat dan memberitahu Hao Long dan Li Annchi. Lalu kembali ke tempatnya berada kurang dari satu menit saja.
Sesaat kemudian, Li Annchi datang bersama Hao Long dengan membawa seekor ikan sebesar bukit. “Sesepuh apa yang harus aku lakukan?” Tanya Li Annchi setelah berada di depan Pengemis Abadi.
Keduanya lalu melayang mendekati Hao Long yang sedang mengangkat ikan bersayap sebesar bukit itu dengan tangan kanannya.
Sesuai perintah Pengemis Abadi, Li Annchi segera mengambil alih posisi Hao Long yang kemudian melesat ke samping pengemis Abadi.
“Pejamkan matamu dan bermeditasilah!” Li Annchi mengikuti petunjuk tersebut. “Rasakan dengan seksama dua lapis energi yang menyelimuti tubuh Ikan Raksasa ini. Lalu seraplah energi yang semakin melemah di bagian dalam ini.”
Awalnya Li Annchi kesulitan dalam membedakan mana energi roh dan mana energi tubuh Hewan Raksasa tersebut. Namun dengan ketekunan dan keyakinan penuh jika dirinya bisa, Li Annchi akhirnya berhasil melakukan hal tersebut.
“Sekarang Alirkan energi itu, ke dalam jantung mu dan organ-organ lainnya. Lakukan terus menerus hingga seluruh energi roh hewan ini habis.”
Setelah memastikan Li Annchi berhasil melakukan proses Kultivasi Roh, Pengemis abadi melayang bersama Hao Long ke tempat dimana Gao Bairi berada.
“Sesepuh … Berapa lamakah bagi Chi’er untuk menyelesaikan kultivasi rohnya itu?” Tanya Hao Long. “Setidaknya besok sore Ia baru akan selesai.” Jawaban pengemis Abadi sedikit mengejutkan Hao Long, mengingat, harus empat puluh ikan bersayap yang harus di serap energi rohnya oleh Li Annchi.
Namun baru tiga jam Li Annchi menyerap energi roh hewan itu, tubuhnya telah hancur yang menandakan proses itu selesai, hal ini membuat Pengemis Abadi terkejut melihatnya.
__ADS_1
Saat malam tiba, Li Annchi telah selesai menyerap energi roh tiga Ikan bersayap. Dan saat ini sedang dalam proses ikan yang keempat.
Sementara Hao Long dan Pengemis Abadi sedang dalam proses pemindahan kekuatan Kaki Awan Dewa Langit, dan saat proses itu selesai mereka dikejutkan dengan adanya ratusan energi besar mendekati tempat mereka.
“Bahaya Kelelawar Api!” Pengemis Abadi segera melesat ke tempat Li Annchi berada yang berjarak dua ratus meter dari mereka. Lalu pengemis Abadi membuatkan perisai pelindung agar proses kultivasi Li Annchi tidak terganggu.
Gao Bairi yang sedang bermeditasi, segera bersiap bersama dengan Hao Long, menghadang ratusan kelelawar yang tubuhnya berukuran tiga kali tubuh manusia dengan mata yang menyala seperti bola api.
Hao Long yang ingin mencoba kekuatan Kaki Awan segera menendangkan kaki kanannya yang kini berkulit biru. Energi besar dan tajam melesat sangat cepat ke arah gerombolan Hewan Malam itu.
Terdengar pekik kematian dari belasan kelelawar raksasa yang terkena energi dari tendangan Kaki Awan Hao long. Hao long pun segera menendang beberapa kali hingga membuat puluhan kelelawar tewas dengan tubuh terbelah.
Namun saat tendangan berikutnya Hao long dikejutkan dengan melesatnya puluhan cahaya energi berwarna merah yang dengan cepat menghadang laju serangannya.
BLAAAMMM
Ledakan menggelegar sangat kuat, membuat udara berfluktuasi dengan hebat. Sesaat kemudian, empat cahaya besar berwarna merah, menderu cepat ke arah Hao Long dan Gao Bairi berada.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=-O-\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
NB:
Mohon Maaf sebelumnya Author sedang dalam kondisi bingung, apakah melanjutkan atau menghiatuskan Novel ini, karena bulan kemarin sudah Update 60 K kata tapi level karya masih jalan di tempat.
Jadi itulah sebabnya kemarin tidak Update. Karena tanggal 1 gagal bernegosiasi dengan Pihak NT tentang level karya novel ini.
Jadi mungkin bulan ini slow Update, menunggu Level karya naik terlebih dahulu. Karena ini berkaitan dengan Income Author. Mohon pengertiannya dari reader semua.
Like dan share sangat Author butuhkan untuk meningkatkan Level Karya novel ini. Karena itu akan sangat membantu sekali dalam peningkatan Level karya.
Selain itu, melihat situasi dimana saat ini sulit untuk meningkatkan level Karya sebuah Novel Silat, maka Author merilis satu novel bergenre nusantara, agar setelah Novel ini tamat, level Karya Novel berikutnya sudah mencapai level maksimal.
Novel itu berjudul Aji Sena. Akan update 1 chapter dalam dua hari sekali. Terimakasih untuk pengertian dan bantuan dari reader semua.🙏🙏🙏
__ADS_1