
“Mengapa Ayah percaya pada penjelasan pemuda yang mengaku keturunan Klan Hao dan berasal dari masa depan itu?”
Hao Bai berkata kepada ayahnya, setelah satu kilometer mereka meninggalkan lokasi Sekte Kipas Pelangi.
Hao Tian yang sudah menduga dirinya akan mendapat pertanyaan seperti itu dari anak-anaknya, hanya menghela nafas. “Apakah Kalian tidak menyadari kekuatan gadis itu saat Ia menyelamatkan Fang’er?”
Semua terdiam saat Hao Tian menjelaskan bahwa dirinya tidak bisa gegabah setelah menyadari Kultivasi Li Annchi jauh di atas Kultivasinya. Belum lagi dengan Hao Long yang menurut Hao Tian, masih menyembunyikan kekuatan yang sebenarnya.
Semua terdiam, namun terlihat jelas dari raut wajah mereka, ketidakpuasan atas apa yang telah dilakukan oleh Ayah mereka, terutama meminang murid Sekte Kipas Pelangi menjadi menantu Klan Hao.
Lima jam kemudian mereka tiba di kediaman Klan Hao. Hao Tian segera memasuki ruangan pribadinya untuk bermeditasi.
Namun lima dari enam puteranya yang tadi ikut dengannya, segera berkumpul di ruangan pribadi Hao Bai, Putera Tertua Klan Hao yang juga adalah Ayah Hao Lang.
“Kakak … Apakah Kau akan diam saja dengan semua yang telah ayah lakukan?” Hao Jian bertanya kepada Hao Bai. Ayah Hao Yan itu, terlihat gusar sehingga bertanya demikian kepada Kakak tertuanya.
“Apakah Kalian tidak mendengar bagaimana penjelasan Ayah tadi?” Hao Bai balik bertanya dengan wajah kesal. “Kakak … Aku tahu, Kau juga tidak bisa menerima apa yang telah dilakukan Ayah pada hari ini bukan?”
Hao Bai menatap Hao Fei sejenak sebelum akhirnya Ia mengangguk dan menghela nafas panjang.
“Aku sedang memikirkan, bagaimana caranya agar Ayah segera menyerahkan kepemimpinan Klan Hao kepadaku. Dengan begitu Aku bisa membatalkan pernikahan Fang’er dengan murid Sekte Kipas Pelangi itu!”
Semua terdiam, seraya berpikir keras bagaimana membujuk Ayah mereka agar segera menyerahkan kepemimpinan Klan Hao Kepada Hao Bai.
Namun, setelah setangah jam berlalu mereka tidak menemukan cara yang tepat untuk membujuk Ayah mereka. Hingga akhirnya mereka tersentak, ketika merasakan Aura yang besar mendekati Kediaman Klan Hao.
“Siapa Kau?!” Hao Bai yang telah melesat keluar disertai keempat adiknya, bertanya pada dua orang yang tidak mereka kenali. “Dimana Ketua Hao Tian? Katakan padanya Tong Tse datang mengunjunginya.”
__ADS_1
Sosok bernama Tong Tse berkata dengan angkuhnya membuat Hao Bai dan adik-adiknya, merasa geram melihat sikapnya tersebut.
“Aku di sini Patriark Tong, terimakasih telah bersusah payah datang mengunjungi kediamanku.” Walau tidak senang mendengar ucapan Tong Tse yang datang bersama Patriak Xi Hai, namun Hao Tian menekan rasa kesalnya.
Itu karena Ia menyadari jika dirinya tidak bisa melihat kultivasi Tong Tse yang telah meningkat jauh, walau kurang dari lima tahun mereka tidak bertemu.
Hao Tian membawa kedua orang tamunya itu ke dalam ruang pertemuan mereka yang cukup luas. Setelah hidangan tersaji, Hao Tian segera bertanya tujuan Tong Tse mendatangi kediamannya.
Dengan suara tegas, Tong Tse menjelaskan bahwa kedatangannya meminta Klan Hao untuk bergabung dengan Aliansi Aliran Hitam sehingga Klan Hao bisa menguasai wilayah barat bersama sekte Kipas Neraka.
“Maafkan Aku Patriark Tong, Aku cukup puas dengan posisi Klan Hao saat ini. Sehingga aku tidak bisa bergabung dengan Aliansi Kalian.”
Wajah Tong Tse terlihat kesal, namun bibirnya masih tersenyum sesaat sebelum berkata dengan suara pelan namun penuh dengan ancaman.
“Apakah Anda sudah mengetahui konsekuensi dari penolakan ini Ketua Hao? Itu artinya Klan Hao berada pada sisi yang berlawanan dengan Aliansi Kami.”
“Ayah … Kurasa sebaiknya kita bergabung dengan Aliansi tersebut. Dengan demikian, Klan kita akan semakin kuat kekuasaannnya di wilayah barat ini.”
“Diam Kau Bai’er!” Hao Tian membentak Hao Bai yang berbicara tanpa diminta olehnya. “Ayah! … Aku adalah Ketua Klan Hao berikutnya, mengapa Aku tidak boleh berbicara tentang masa depan Klan kita?”
Hao Bai memprotes sikap Hao Tian yang rahangnya telah menggembung mendnegar perkataan putera Tertuanya itu. Sementara Tong Tse tersenyum melihat hal tersebut. Sebuah rencana segera melintas dalam benaknya.
“Ouh Saudara Hao Bai … Pemikiran Anda sangat bagus sekali. Kurasa memang sudah sepantasnya Anda yang menjadi Ketua Klan Hao menggantikan Ayah Anda yang sudah tiba waktunya untuk beristirahat.”
“Apa maksud ucapan mu Tong Tse?!” Hao Tian berdiri dari duduknya dengan amarah yang meluap melihat tindakan Tong Tse yang berani ikut campur dalam urusan Klannya.
“Bukankah sudah jelas Ketua Hao? Aku ingin Putera Tertuamu segera menjadi Ketua Klan Hao sehingga dengan begitu, Klan Hao bisa bekerja sama dengan Aliansi kami.”
__ADS_1
“Tong Tse! Kau sudah lancang mencampuri urusan keluarga kami! Pergilah sebelum kesabaranku habis!” Hao Tian segera mengerahkan energi qi-nya yang membuat suasana menjadi sangat tegang.
Tong Tse hanya tersenyum, walau Ia terkejut melihat kultivasi Hao Tian telah meningkat, namun Ia merasa yakin mampu mengalahkan Ketua Klan Hao itu.
“Kau pikir Aku Akan pergi dengan tangan hampa Ketua Hao? Jika Kau memaksaku, mari kita bertarung di luar.” Tong Tse melesat keluar yang segera diikuti oleh Hao Tian yang telah sangat marah mendengar ucapan tamunya itu.
“Kakak … Bagaimana ini?” Hao Jian terlihat khawatir saat menyadari kemampuan yang ditunjukkan oleh Tong Tse.
“Kita lihat saja nanti, Jika Ayah kalah, Aku akan meminta Patriark Tong untuk tidak membunuhnya. Dengan begitu Aku bisa memaksa ayah untuk mengangkatku menjadi Ketua Klan Hao.”
Keempat adik Hao Bai yang juga berada di dalam ruangan itu, tersenyum mendengar ucapan Kakak Tertua mereka.
“Benarkah ucapanmu tadi saudara Hao Bai?” Hao Bai mengangguk dan memberi hormat kepada Xi Hai. “Patriark Xi … Bisakah Anda meminta Patriark Tong agar tidak membunuh Ayah kami?”
“Tentu saja … Bukan hanya itu, Aku bisa memaksa Ayah Kalian menyerahkan Jabatan Ketua Klan kepada mu Saudara Bai, dengan syarat, Kau bersedia bekerja sama dengan aliansi kami.”
Hao Bai menganggukkan kepalanya sebagai tanda persetujuan. Kelima orang itu segera melesat keluar dan melihat pertarungan Ayah mereka melawan Tong Tse di halaman kediaman yang sangat luas itu.
Tendangan dan pukulan silih berganti dilepaskan oleh kedua orang yang tengah bertarung di udara. Kecepatan keduanya nyaris seimbang, namun terlihat cukup jelas jika Tong Tse memiliki kekuatan dan kecepatan yang lebih besar dari Hao Tian.
Suara benturan energi dari kedua orang itu, semakin lama semakin terdengar kuat, membuat seluruh anggota Klan Hao yang lain, segera berkumpul dan melihat apa yang terjadi.
Setelah lebih dari seratus kali pertukaran serangan terjadi, keduanya sama-sama melesat mundur. Hao Tian segera mengeluarkan pedang pusaka Klan Hao yang telah terkenal di daratan kuno. Pedang Phoenix Api.
Tong Tse yang melihat pedang pusaka andalan Ketua Klan Hao telah dikeluarkan, segera mengeluarkan Tombak Golok Harimaunya yang pernah membuat Iblis Es menjadi jerih setelah melihatnya.
--------------------------------O-------------------------------
__ADS_1