Legenda Liontin Naga

Legenda Liontin Naga
033: Kekuatan Naga Bumi


__ADS_3

“Bagaimana bisa?!! Senjata Aneh dari Ki Jogowono ini keluar dari cincin ruangku tanpa aku sendiri yang mengeluarkannya?!”


Pertanyaan dalam benak Hao Long segera berlalu tanpa jawab, saat senjata berlekuk tujuh itu, tiba-tiba memancarkan cahaya merah yang sangat terang sebelum melesatkan seekor ular naga.


“Naga Bumi!”


Terdengar teriakan dari Beast Gurita yang segera menenggelamkan dirinya ke dalam laut berair merah itu, seolah ketakutan melihat ular naga yang melesat ke arahnya dengan mulut terbuka lebar.


Ular Naga sepanjang lebih seratus meter itu, menghilang di dalam air laut yang kemudian bergolak hebat seolah sedang terjadi badai besar.


Cukup lama gejolak air itu terjadi hingga sesuatu yang mengejutkan mereka terjadi. Beast berwujud Gurita raksasa, terlempar dari dalam air setinggi lebih dari seratus meter dengan meraung-raung meminta ampun.


Sosok ular Naga Bumi yang mengejarnya, segera melilit tubuh Gurita itu saat masih berada di udara dan membelenggunya hingga tidak berkutik sama sekali.


Perlahan Naga Bumi membawa sosok Gurita itu ke hadapan Hao Long yang tubuhnya bergetar hebat menyadari betapa kuat dan mengerikannya sosok naga yang keluar dari dalam senjata pemberian Ki Jogowono.


“Bocah Naga, perintahkan Ia melakukan apa yang kau inginkan. Ia sudah tunduk dan patuh kepadamu sejak saat ini.”


Biksu Gao Han, Huang Bao dan Ao Lang menelan ludah mereka mendengar Naga itu berbicara demikian kepada Hao Long yang tubuhnya masih bergetar menahan rasa jerih di hatinya.


“Ba ..Baik … Tuan … Naga … Aku ke sini..“ Hao Long menelan ludahnya sesaat. Ia melanjutkan perkataannya setelah detak jantungnya kembali normal.


“Aku ke sini untuk meminta Ginseng Merah yang konon berada di dalam air laut yang airnya berwarna merah ini.”


Wajah Beast Gurita itu terlihat murung mendengar ucapan Hao Long. “Kau dengar apa yang di minta?! Segera ambilkan!” Naga Bumi segera membentak Beast Gurita yang terlihat hendak menyampaikan sesuatu.


“Tuan Naga Bumi … Jika Ginseng Merah itu diambil … maka Aku tidak bisa hidup lagi di tempat ini.” Dengan terbata-bata, Gurita itu mengatakan hal yang membuatnya sedih.


Setelah menjelaskan mengapa demikian, Biksu Gao Han tiba-tiba melesat menghampiri mereka. Di tangannya terlihat sebuah pecahan batu yang membuat udara seketika bernuansa merah.


“Jika Kau tidak bisa hidup di air laut yang tidak berwarna merah, maka bawalah pecahan batu ini sebagai gantinya. Batu ini akan membuat lautan ini tetap berwarna merah.”


Mata Beast Gurita itu melotot lebar melihat pecahan batu yang membuat luka di tubuhnya berangsur-angsur membaik dan sembuh dengan cepat hanya dengan terpaan cahayanya saja.


“Batu Mirah Delima milik Raja dari Gurun Pasir!” Dalam benaknya Beast Gurita itu berteriak kegirangan. “Baiklah Aku akan mengambil Ginseng merah itu dan menerima batu merah itu.”

__ADS_1


Beast Gurita segera melesat ke dalam Air Laut setelah Naga Bumi membebaskannya dari lilitan.


“Hahahaha … Aku akan jadi lebih kuat lagi, pecahan terakhir batu Mustika Mirah Delima akan kudapatkan. Naga Bumi, suatu saat aku akan mencarimu dan bocah itu untuk membalas perlakuan kalian hari ini. Tunggulah setelah tujuh purnama berlalu.”


Beast Gurita tanpa ragu segera mencabut ginseng merah setibanya Ia di dasar laut merah yang dalamnya lebih dari dua ribu meter itu.


Ginseng berukuran sebesar kepala manusia itu, segera Ia bawa ke permukaan laut merah. Dengan tentakelnya Ia menjulurkan Ginseng berwarna merah darah kepada Hao Long.


Warna Air laut itu, seketika berubah menjadi normal seperti warna air laut pada umumnya, saat Ginseng merah tidak berada lagi di dalamnya.


Setelah Hao Long menyimpan Ginseng Merah. Biksu Gao Han pun menyerahkan pecahan batu Mirah Delima dengan membuatnya melayang ke Beast Gurita yang matanya berbinar-binar setelah menerima batu mustika tersebut.


Setelah Gurita Raksasa itu menyelam kembali, Air laut itu pun kembali berubah merah.


Sosok Naga pun kembali ke dalam Keris ber-luk Tujuh yang kemudian disimpan kembali oleh Hao Long setelah mengucapkan terimakasih.


Jin Shin yang berada sangat jauh setelah ketakutan melihat Sosok Naga Bumi, kembali mendekat setelah Hao Long memanggilnya. Keempatnya segera melompat ke atas punggung Jin Shin yang akan membawa mereka kembali ke Daratan Kuno.


Mereka berempat pun meninggalkan tempat tersebut dengan benak yang dipenuhi oleh kekaguman atas apa yang baru saja terjadi.


Pertanyaan Hao Long membuat wajah Biksu Gao Han memerah sejenak. Saat itu Ia sedang memikirkan Zou Ning yang akan segera ditemuinya dan Hao Long sepertinya mengetahui apa yang ada dalam benaknya.


“Tentu saja, Aku sudah berjanji untuk itu. Semoga setelah membunuhku hatinya akan menjadi tenang dan tidak memiliki dendam lagi.” Hao Long tersenyum mendengarnya.


“Menurutku, sesepuh Zou Ning masih sangat mencintai Anda, Sesepuh Gao. Hanya saja Ia tidak bisa menerima keputusan Anda di masa lalu.”


“Tahu apa kau masalah Cinta Bocah!” Ao Lang menyela seraya memelototi Hao Long yang dinilainya telah terlalu jauh mencampuri utusan pribadi Biksu Gao Han.


Hao Lang hanya tersenyum kecut.” Aku sudah Dewasa Guru, bukannya saat ini diantara kita berempat, hanya aku saja yang punya kekasih.”


BLETAK


Suara Kepala Hao Long yang dijitak oleh gurunya, terdengar keras membuat Huang Bao dan Biksu Gao Han tertawa melihat Bocah Naga itu mengelus kepalanya yang masih terasa sakit.


“Lalu menurutmu Aku harus bagaimana Long’er?”

__ADS_1


Biksu Gao Han menyadari ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh Hao Long berkenaan dengan masalah pribadinya itu.


Hao Long lalu mengungkapkan rencananya, hal sempat membuat Biksu Gao Han ragu untuk sejenak. Namun Huang Bao dan Ao Lang berhasil meyakinkan.


***


Siang hari yang masih sangat dingin di puncak Gunung Salju Himalaya, Zou Ning terlihat telah berada di sebuah tebing, tempat kemarin Ia melihat Gao Han yang meninggalkan tempat tersebut ke arah barat.


Ia menatap pedang yang baru saja dikeluarkan dari cincin ruangnya dengan hati yang tak menentu. Pedang dengan tiga warna pada bilahnya itu, membuat Ia teringat akan masa-masa indah bersama dengan Gao Han.


Sesaat kemudian, Ia menatap ke arah dari mana sebuah aura besar datang mendekat kepadanya. Saat Ia telah waspada, Sosok itu telah tiba di depannya yang ternyata adalah Huang Bao.


“Dimana Gao Han Sekarang? Mengapa kau yang datang?” Zou Ning menatap Huang Bao dengan tajam.


“Aku kemari diutus oleh temanku, Biksu Gao Han. Ia menunggumu ditempat yang telah Ia pilih sebagai tempat kematian sekaligus makamnya.”


Zou Ning segera melayang mengikuti Huang Bao ke arah darimana dirinya tadi datang. Setibanya di tempat tersebut Ia menemukan Gao Han sedang duduk membelakangi dirinya dengan duduk bermeditasi di atas sebuah batu yang tertutupi salju.


“Ia tidak ingin berkata-apapun lagi padamu, Karena Ia merasa tidak ada gunanya lagi berbicara dengan perempuan yang dipenuhi dendam sepertimu.”


Perkataan Huang Bao membuat amarah Zou Ning tersulut. Luka di hatinya kembali menganga lebar karena merasa direndahkan oleh pesan yang dititipkan kepada Huang Bao.


“Gao Han!! Kau benar-benar lelaki kejam tak berperasaan!”


SREEET


GLUDUUK


Kepala Biksu Gao Han yang sedang duduk bermeditasi, jatuh menggelinding dengan darah yang menyembur dari lehernya yang putus hingga membasahi jubah Kuning bercorak merah yang Ia kenakan.


Tubuh Zou Ning bergetar hebat, sesaat setelah menyadari kematian Gao Han.


“Tidaaakkkk!”


-------------------------O------------------------------

__ADS_1


__ADS_2