
"Nda---atu mau itut Nda!" Kali ini Dika merajuk untuk ikut ke toko, tidak mau diantar ke neneknya. Menatap sang bunda dengan bibir mengerucut yang tengah memasangkan seatbelt untuknya.
Rahma tampak berpikir sejenak. Sudah lama juga Dika tidak main ke toko. Sejak aksi dibuntuti waktu berziarah ke makam Bang Malik, Ayah melarang Dika dibawa sebab khawatir akan keselamatannya. Malah Ayah Badru sempat menduga ada hubungannya dengan mama Indah yang ingin mengambil Dika. Namun waktu itu ia sanggah.
"Papa, Dika mau ikut ke toko gak mau ke Uma. Gimana?" Rahma meminta pendapat Mizyan yang baru naik ke belakang kemudi.
"Boleh. Tapi Bunda sama Dika jangan pergi keluar. Di toko aja sampai nanti Papa jemput lagi." Mizyan memberi izin dengan lugas demi keselamatan keduanya. Barusan ia menjauh dari mobil sebab Hendra menghubunginya. Mengabari jika duo Asep sedang mengintai gerak Alex yang dipastikan akan melakukan transaksi sore ini.
"Aciiiik--" Dika yang duduk di jok beΔΊakang bundanya bertepuk tangan girang.
Sampai di toko, kehadiran Dika mencuri perhatian karyawan di sana. Betapa mereka sangat kangen sebab bocah itu sudah sangat jarang dibawa ke toko. Menjadi kesempatan untuk Fitri menciumi kedua pipi Dika dengan gemas.
"Makin emess aja ya Dika. Jadi pengen nyium Papanya---" Dari balik meja kasir Lia berbisik pelan kepada Dewi yang baru saja menyimpan sederet red velvet di showcase dekat meja kasir. Membuat keduanya cekikikan dengan kehaluan yang impossible namun sangat menghibur itu.
Mizyan menuntun Dika naik ke lantai 2. Membiarkan bocah itu duduk di sofa dengan mengeluarkan semua mainan yang dibawa dari dalam goodie bag. Mizyan berdiri di depan jendela yang menghadap ke jalan raya. Menyaksikan hiruk pikuk laju kendaraan berbagai jenis, dengan otak yang keras berpikir untuk sidang keluarga yang akan dibuatnya sore nanti.
"Mas, lagi mikirin apa? Serius sekali." Tetiba Rahma yang terakhir naik ke lantai 2 sudah berada di sampingnya. Membawa piring berisi aneka kudapan.
"Nggak kok, cuma mikirin kerjaan yang harus dibereskan sebelum kita ke Semarang." Mizyan memilih menyimpan rencana sendiri. Menjaga agar Rahma tidak merasa takut atau tidak tenang dengan apa yang sedang direncanakannya.
"Aku pulang sekarang ya. Mau ngebut bikin layout baru. Desain rumah si selebgram udah deal." Tangan kanannya mencomot satu kue sus dari piring saji.
Rahma mengangguk. "Mau bawa buat teman ngopi, Mas?" Ia menawarkan kue yang ada di piring untuk dibawa.
"Hmm, bika ambon sama pie buah aja, sayang. Pie buah itu bersejarah. Cara aku pedekate sama Nda Lahma yang jutek." Mizyan mengerling. Menggoda Rahma yang tersipu malu, yang lalu mencubit pinggangnya.
"Mas sih nyebelin suka godain...makanya aku galak. Padahal aslinya ramah, baik hati, rajin menabung..." Ujung-ujungnya Rahma tertawa dengan ucapannya sendiri.
"Padahal aslinya hot, nackal, agres....." Mizyan tak bisa melanjutkan ucapan sebab mulutnya dibekap Rahma dengan kuat. Membuat tubuhnya terjungkal ke sandaran sofa dengan tawa yang tertahan oleh bekapan tangan istrinya itu.
"MESUM!" Rahma beralih menggelitik pinggang Mizyan yang tergelak lepas. Menarik perhatian Dika yang sedari tadi anteng memainkan remote control gerak robot sapi atu, sapi nda, sapi papa juja.
"Nda--- Nda da boyeh nackal!" Dika menyimpan remote. Beralih mendekati bundanya yang ketawa sembari menindih papa buye yang akting mengaduh minta ampun. "Nda, kacian Papa atit---" sambungnya dengan wajah memelas sebab rintihan Papa Buye terdengar menyedihkan.
"Bunda gak nakal, sayang. Papa cuma pura-pura kesakitan aja. Coba Dika pencet idung Papa!"
__ADS_1
Dika menurut. Begitu memencet hidung mancung Papa Buye, orangnya langsung tertawa sebab geli dengan tangan Dika yang malah menggoyang-goyang hidung.
****
Mizyan kembali ke apartemen sendirian usai sejenak becanda tawa dengan Rahma dan Dika di toko. Membuka pintu ruang kerjanya lalu duduk di kursi kebesaran. Sembari menunggu laptop menyala sempurna, ia membuka layar ponsel memcari nama Nico untuk dihubungi.
"Wa'alaikum salam--" sahut Mizyan kala suara Nico di sebrang sana berucap salam.
"Bro, sorry ganggu waktunya. Aku mau konfirmasi nanti sore Bu Indah dan suaminya mau datang nemui Rahma." Mizyan langsung bicara pada tujuan. Khawatir mengganggu Nico di jam kerja ini. "Bilangnya ada pembicaraan penting. Feeling aku, ini ada kaitannya dengan peninggalan almarhum Malik. Jadi aku harap kamu bisa datang nanti sore ke rumah Ayah Badru."
Terdengar decakan dari sebrang sana. "Tante Indah pasti mau minta bagian dari harta Malik. Sudah kuduga lah--" Suara Nico terdengar kesal. "Aku akan datang, bro. Pastikan lagi waktunya nanti." Pungkasnya.
"Oke. Thanks, bro. Aku ingin ini menjadi sidang keluarga yang pertama sekaligus terakhir. Bu Indah pernah datang ke Bogor nemuin pengurus kebun sengon, ngancam minta jatah hasil kebun. Kasian Rahma suka sedih kalau keluarga almarhum ngungkit-ngungkit warisan." Mizyan mempertegas tujuan sidang keluarga nanti sore.
"Dasar maruk mereka!" Lagi-lagi suara kesal Nico terdengar. "Tenang, bro. Aku akan bantu lawan tante Indah."
Obron berakhir dengan ucapan terima kasih Mizyan pada Nico yang akan bersedia turun tangan mendukung misinya. Dengan bernafas lega, Mizyan memulai pekerjaannya membuat gambar.
Makan siangnya terlambat di jam 2 lebih sebab tanggung menyelesaikan satu pekerjaan. Ia bangun dari duduknya usai membaca pesan dari sang istri yang dikirim 1 jam yang lalu. Bibirnya melukiskan senyum membaca pesan beruntun itu.
"Simpan dulu kerjaannya."
"Jangan telat makan, sayang...."
Ponsel Mizyan berdering kala sedang menikmati kuah sop ayam ditemani kerupuk udang. Memilih menyelesaikan makan dulu yang tinggal suapan terakhir.
"Sayang, ada apa?" Mizyan menelpon balik kala dilihat nama pemanggil adalah Rahma.
"Mas, Mama Indah udah keluar tol. Kita ke rumah Ayah sekarang yuk!" Suara Rahma dengan backsound suara Dika sedang mengikuti lantunan Asmaul Husna terdengar jelas.
"Oke, sayang. Aku jemput sekarang!" Mizyan segera masuk lagi ke ruang kerjanya. Membawa map yang sudah disiapkan untuk antisipasi memanasnya sidang keluarga. Ia pun mengirim pesan pada Nico agar bersiap ke rumah Ayah Badru 1 jam lagi.
****
Mizyan memasukkan mobil ke pekarangan yang pintu pagarnya dibuka oleh Rahma. Datang ke rumah Ayah beriringan dengan mobil Nico yang mengambil posisi parkir di tepi jalan.
__ADS_1
Uma keluar dari dalam rumah dengan raut heran melihat ada Nico dan Suci turut datang bersama. "Tumben datang rame-rame?" Masih dengan kening mengkerut menjawab salam dan menerima uluran tangan anak mantu dan cucu yang mencium tangannya serta cipika cipiki. Dika dan Manda lebih dulu berlari masuk ke dalam untuk main bersama.
Rahma baru menjelaskan setelah semuanya bwrada di dalam rumah..Bersamaan dsngan Ayah Badru masuk, baru pulang dari masjid.
"Mama Indah mau datang, Uma. Saran Mas Mizyan, kita semua harus kumpul. Soalnya Mama Indah bilang ada pembicaraan penting." Rahma menjelaskan di depan Ayah dan Uma yang tampak saling tatap dengan wajah yang sulit diartikan.
"Aku sih udah nebak, Om. Tante Indah pengen minta jatah." Dengan lugas Nico menyampaikan pendapatnya pada Om Badru.
"Ya...kita liat saja. Tapi ingat, jangan kepancing emosi. Hadapi dengan kepala dingin." Ayah Badru mengingatkan kepada semua yang bergabung di ruang keluarga.
Dari rumah di sebrang jalan, sepasang mata Ceu Imas mengintip dari sela fiber yang menutupi pintu pagar besi. Yang sebelumnya sedang rebahan sambil menonton serial India. Begitu mendengar riuh-riuh suara orang dewasa dan anak-anak di rumah Uma, ia setengah terlonjak buru-buru ke luar. Jiwa keponya selalu meronta ingin tahu dengan kehidupan keluarga Uma.
"Wuah ada mas bule, mas Nico, dengan para nyonyanya." Ceu Imas bergumam sendiri dengan wajah sumringah. Ia hafal sesiapa saja keluarganya Pak Badru.
"Ah, kalau aja tahu bakalan datang cowok-cowok ganteng, saya main dari tadi di rumah Uma. Lumayan bisa salaman juga. Bisa buat ngehalu sebelum tidur." Ceu Imas senyum-senyum sendiri dengan otaknya yang mendadak traveling.
Karena yang dilihatnya sudah masuk semua ke dalam rumah, Ceu Imas berbalik badan untuk masuk lagi melanjutkan menonton. Namun suara pintu mobil yang ditutup 2 kali, membuatnya kembali lagi mengintip. Dua orang tampak berdiri di depan mobil sedan hitam sedang merapihkan tampilannya. Mobil yang baru datang dan terparkir di belakang mobil putih milik Nico.
"Ini mah kan mantan mertuanya neng Rahma." Ceu Imas mengkerutkan kening dengan otak menduga-duga. Ia masih hafal dengan sosok Bu Indah yang pernah ribut saat meninggalnya Malik. Menyalahkan Rahma sebagai pembawa sial. Tapi kesininya menjadi baik pada Rahma dan Dika. Sampai hadir pula pas acara lamaran Rahma dan Mizyan.
"Ma, kita harus tenang dan bersikap manis. Pakai gaya kita saat melobi klien agar mau investasi."
Sepasang telinga Ceu Imas tajam mendengar ucapan pria paruh baya yang berhenti berjalan di depan rumahnya.
"Wah bakal ngabahas naon nya...pake nyebut ngelobi-ngelobi segala." Rasa ingin tahu Ceu Imas makin meronta di dada. Sayangnya hanya bisa mengintip dari pagar rumah. Terlalu kentara jika harus ke rumah Uma membawa sepiring ubi rebus sebagai alibi.
***********
Alhamdulillah 100 bab terlewati.
Waktunya kuis.....kuis. π
Para member yg sudah tergabung di GC Me Nia, luangkan waktu di jam 20 WIB untuk mengikuti kuis yaaaach. Kita seru-seruan together.
Les gow....ππππ
__ADS_1