MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 105. Rahasia yang Terkuak


__ADS_3

"Alhamdulillah---" Ucap syukur lolos dari bibir Rahma juga Mizyan begitu memasuki apartemen.


Selama 4 hari berada di Semarang dalam suasana sukacita, kini tiba kembali di Bandung dengan lancar selamat sore ini. Berangkat dengan membawa 1 koper ukuran sedang, harus pulang dengan membawa 2 koper. Satu koper tambahan merupakan oleh-oleh dari Mami Kanti. Bahkan mertuanya Rahma pun menitipkan bingkisan untuk Ayah dan Uma.


"Nda-- mana mainan atu?" Dengan tak sabar Dika menepuk-nepuk koper berisi oleh-oleh.


"Bentar dong, sayang." Rahma yang baru melepas jilbabnya berjongkok di depan koper. Mengeluarkan semua isi oleh-oleh termasuk 2 mainan, mobil remote dan robot Avangers.


Malam menjelang tidur. Mizyan merebahkan kepala di pangkuan Rahma yang duduk bersandar pada kepala ranjang. Sementara Dika tiduran berbantalkan perut papa buye sambil mengutak-ngatik robot Avangersnya.


"Aku udah menghubungi kontraktor rekomendasi Papi. Berarti lusa kita ke Bogor ya, Bun. Kita meeting dengan pemilik yayasan juga kontraktor." Mata Mizyan terpejam menikmati usapan tangan Rahma di rambutnya.


Renovasi rumah tahfidz anak yatim piatu siap dimulai. Setelah mendapat update penebangan sengon sudah mencapai 200 pohon. Artinya, amanah almarhum Malik siap ditunaikan.


"Alhamdulillah. Aku merasa tenang akhirnya wasiat ayah Dika akan terlaksana. Makasih ya, Mas. Udah mau membantu." Rahma mengecup kening Mizyan yang masih memejamkan mata, penuh perasaan.


Mizyan meraih tangan sang istri, memberikan kecupan mesra. "Aku ikhlas melakukannya, sayang. Aku juga sama memegang amanah darinya, untuk menjaga kamu dan Dika.


"Maksudnya?!" Rahma mengernyit. Berharap penjelasan lebih.


Mizyan mengarahkan lagi tangan sang istri ke rambutnya untuk melanjutkan lagi mengusapnya.


"Dulu aku memint izin pada Ayah dan Uma untuk mendekatimu. Meski beliau mengijinkan, tapi kamunya kan jutek, terlihat jaga jarak membentengi diri. Aku disuruh sabar dan disuruh istikharah."


"Aku jutek karena---" Ucapan Rahma terpotong sebab telunjuk Mizyan menyentuh bibirnya diiringi gelengan kepala.


"Aku maklum kok. Dua orang saling mencintai lalu dipisahkan oleh maut, pastinya akan mengalami kesedihan yang mendalam. Butuh waktu untuk menyembuhkan bukan untuk melupakan."


"Tapi aku pun tidak menyerah untuk mengejarmu, mencuri hatimu. Karena kamu udah mencuri hatiku lebih dulu saat singgah di apartemen ini." Mizyan menatap hangat Rahma yang juga sedang tertunduk menatapnya.


"Tahu gak, sayang. Password bundadika13 itu ada maknanya." Mizyan mengulas senyum manis khasnya.


"Oh ya?!" Rahma membeliakkan mata. "Dulu waktu pertama kali ke villa Papi, waktu Mas ngasih pinjem ponsel, aku sempet pengen nanya maksud password itu apa. Tapinya malu. Tapi eh tanggal pernikahan kita juga malah sama tanggal 13." Pungkasnya dengan mimik antusias ingin mendengar penjelasan sang suami.


"Untuk bundadika nya jelas itu kamu. Angka 13 adalah tanggal dimana aku mulai tertarik padamu. Yaitu waktu kamu dan Dika singgah disini waktu abis dikejar 2 preman."


"Owh---" Rahma hanya bisa membulatkan bibirnya.


"Bisa pas juga dengan tanggal pernikahan kita . Jadi angka 13 menjadi special number." Mizyan tersenyum.


Rahma mengangguk-anggukkan kepala. Hatinya terkesan dengan ucapan sang suami.


"Eh tadi belum dijawab. Soal amanah menjaga aku dan Dika."


"Oh iya." Tangan Mizyan sejenak membelai pipi Rahma yang halus lembut.


"Waktu itu aku menuruti saran Ayah. Istikharah tiap malam sampai seminggu lamanya. Di hari ke tujuh istikharah, aku ketiduran di sajadah saat lagi berdzikir.


"Aku mimpi melihat kamu memeluk Dika di sebuah taman sambil ketakutan dan nangis. Pas aku mendekat, matamu melotot memberi isyarat untuk melihat ke bawah bangku. Ternyata ada 2 ular kobra siap mematuk. Dengan hati-hati aku berhasil menangkap 2 ular itu. Aku gak membunuhnya tapi melempar sejauh mungkin ke lembah."


"Disaat mau kembali ke taman, aku berpapasan dengan laki-laki tampan berbaju serba putih. Wajahnya bersinar, tatapannya teduh dan tenang. Aku aja sampe iri. Melihatnya begitu sempurna." Mata Mizyan menerawang dengan wajah sumringah. Seolah sedang mengingat mimpinya lagi.


"Dia lalu bilang, Rahma dan Mahardika aku percayakan padamu."


"Aku mau bertanya 'kamu siapa'. Tapi anehnya bibir gak bisa dibuka, susah untuk ngomong. Dengan cepat sosok laki-laki itu hilang saat aku mengedipkan mata."

__ADS_1


Hening.


Rahma terdiam, larut dalam cerita Mizyan dengan penuh renungan. Mimpinya dan mimpi sang suami tentang ular ternyata sama.


"Waktu aku ke rumahmu ngasih robot sapi buat Dika, tidak sengaja menatap foto yang ada di dinding ruang tengah. Kaget, ternyata wajahnya sama dengan yang aku lihat di mimpi. Dari situ aku faham. Dan makin semangat dan percaya diri untuk meluluhkan hatimu."


Tes.


Mizyan merasakan ada air yang jatuh di keningnya. "Sayang, kamu nangis?" Ia menatap wajah Rahma yang sibuk menyeka sudut mata.


"Aku terharu." Jawabnya dengan suara serak. "Kenapa baru bilang?"


"Kalau bilang dari dulu entar dikira mengada-ngada. Malah tadinya mau aku simpan rapat sebagai rahasia. Ya, mungkin sekarang sudah waktunya terkuak."


"Jangan nangis. Aku hanya ingin selalu melihat senyum di wajahmu." Tangan Mizyan terulur mengusap pipi Rahma yang masih basah.


"Ini tangis haru. Bukan tangis sedih." Elak Rahma mengoreksi. "Apa masih ada rahasia lagi?"


"Ada. Tapi aku malu bilangnya." Mizyan membawa tangan Rahma ke dada. Menautkan dengan tangannya.


"Bilang aja. Aku gak akan menertawakan."


Mizyan menghela nafas panjang.


"Masih ingat gak kejadian dulu aku pingsan depan rumahmu?"


Rahma menganggukkan kepala.


"Sebelumnya aku menemui teman lama di hotel. Kita udah lama gak ketemu soalnya dia kerja di Singapore. Aku kecewa ternyata dia ngajak party dengan menyiapkan 2 cewek."


Rahma masih menyimak


"Setelah itu aku divonis mengalami impotensi koinde gara-gara minuman itu. Si kecil mati rasa gak bisa bangun." Mizyan menunjuk inti tubuhnya.


Rahma membeliakkan mata menatap Mizyan yang tersenyum meringis.


"Sampai aku mengkhitbahmu, aku masih berjuang untuk sembuh. Berganti 2 dokter andrologi tetep gak ada hasilnya."


"Sempet minder dan ingin mundur saat tanggal pernikahan kita ditentukan. Untung Bang Kemal selalu memotivasi. Katanya, si kecil akan terbangun pada waktunya."


Mizyan mengulas senyum lebar.


"Benar saja. Saat pertama kali aku mencumbumu usai ijab kabul, si kecil menggeliat, tegak sempurna."


"Masya Allah." Rahma memuji. "Itu kuasa Allah, Mas."


Mizyan mengangguk. "Iya, sayang. Is nothing impossible with Allah."


Keduanya larut dalam kesyahduan malam yang sunyi. Dengan jemari yang saling bertaut mengalirkan segenap rasa yang membuncah di dada.


"Wuah, pantesan gak bersuara." Rahma mencondongkan wajah memperhatikan Dika yang ternyata terlelap berbantalkan perut Papa Buye. Robot yang dipegangnya terlepas di sisi badan.


Mizyan terkekeh menyaksikannya. "Mungkin obrolan kita serasa dongeng pengantar tidur." Sambil bangun perlahan agar Dika tidak terusik. Ditanggapi Rahma dengan kekehan juga.


"Papa, Dika biar bobo di sini aja ya." Rahma meminta persetujuan.

__ADS_1


"Iya, Bunda. Aku betulin dulu." Mizyan menempatkan Dika di tengah ranjang. Memindahkan mainan ke atas nakas.


Malam ini mereka tidur lelap bertiga penuh kedamaian dan ketenangan.


Pagi menjelang. Usai sarapan, bertiga mereka menuju rumah Ayah. Mengantarkan oleh-oleh dan titipan salam dari Mami Kanti dan Papa Suryo.


"Rahma, bilangin makasih ya ke Bu kanti." Uma tampak senang saat melihat isi kotak hamper. Meski tidak seiman, besannya itu memberikan gamis set yang sangat cantik.


"Sama, Ayah juga." Sahut Ayah begitu melihat kotaknya berisi sepatu sandal berwarna coklat bahan kulit.


Rahma mengangguk.


"Yah, Uma, besok kami akan ke Bogor. Mau mulai renovasi rumah tahfidz amanahnya bang Malik." Mizyan menyampaikan kabar.


"Alhamdulillah." Ayah dan Uma menjawab serempak penuh syukur.


Selanjutnya Mizyan mengantarkan Rahma ke toko. Mengecek laporan serta situasi toko selama ditinggal ke Semarang. Ia hanya mengantar sampai parkiran sebab akan melanjutkan meeting ke kantor Arya.


"Mas yakin Dika mau diajak?" Rahma menahan pintu mobil yang sudah dibukanya. Memastikan lagi.


"Iya, sayang. ini meeting santai. Arya juga suka bawa anaknya yang cewek ke kantor. Kalau ketemu Dika pasti seneng ada teman main."


"Atu da akan nackal, Nda." Dika yang mendengar percakapan orangtuanya itu turut meyakinkan.


Membuat Rahma dan Mizyan menolehkan wajah ke penumpang cilik di belakang sambil tertawa.


****


Bogor


Mark menyimpan ponsel di meja. Baru saja anaknya mengabari akan ke Bogor pagi ini. Meski dirinya complain sebab memberi kabar mendadak, tak urung wajahnya tampak sumringah.


Rangga masuk ke ruang kerja Mark membawakan kopi. Udara pagi yang segar dari jendela yang terbuka lebar memberi semangat memulai aktifitas.


"Rangga, Miki akan datang siang ini. Suruh bibi bersih-bersih lagi di kamarnya, ganti seprai baru yang wangi!"


"Suruh Iwan masak banyak menu untuk makan siang!"


"Oh ya, kamu ke peternakan sekarang. Pilihkan sapi indukan gemuk sama anaknya yang masih nyusu. Tempatkan di halaman belakang. Dika pasti seneng ada sapi di sini."


"Si Toby juga pindahin dulu ke pos security pabrik. Saya gak mau mantu dan cucu ketakutan lihat si Toby."


Dengan semangat dan binar yang nampak di wajah bulenya, Mark mendikte tugas untuk Rangga.


"Siap, Pak!"


Tanpa menunggu lagi, Rangga keluar dari ruang kerja bossnya itu. Bergegas menaiki motor trail yang menjadi tunggangan ringkih favoritnya untuk menuju peternakan usai memberi tugas pada Bibi dan chef Wanda. Urusan si Toby.sudah diserahkan pada salah satu security villa agar hewan penjaga itu di bawa ke pabrik.


Motornya berhenti di sisi rumah Pak Yunus sebab heran melihat banyak orang yang datang memasuki halaman rumah ayahnya Olla itu. Pakaian yang dikenakan para tamu seolah menandakan sedang ada hajatan. Apalagi ia melihat beberapa orang wanita memegang hangaran di tangan.


"Mang, di rumah Pak Yunus ada apa?" Rangga mencegat tetangga samping rumah Yunus yang akan masuk memakai pakaian batik.


"Neng Olla akan dikhitbah oleh ustad Syahrul. itu loh pemilik sekolah tempat neng Olla mengajar. Ini rombongannya udah pada datang."


Rangga menganggukkan kepala, mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2