MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 141. Tindakan (2)


__ADS_3

Di markas yang nampak dari luar seperti gudang tak terurus dikelilingi tanaman singkong. Nyatanya di dalamnya adalah tempat yang nyaman dan bersih meski hanya ada beberapa kursi kayu sebagai tempat duduk. Tempat dimana Kang Hendra menggembleng para mantan preman untuk sebuah "tugas negara".


Ada seorang wanita duduk dengan tangan terikat ke belakang. Terus-terusan berontak dan berusaha teriak dengan mulut yang dilakban. Matanya nampak menyiratkan ketakutan menatap tempat yang sangat asing. Dua preman lagi main Congklak di bangku papan dengan satu kaki menjuntai ke bawah. Menunggu waktu kedatangan sang boss bersama yang akan datang bersama klien.


"Hmmpph....hmmmpph." Perempuan yang tak lain adalah Mona bersuara tertahan dalam bekapan lakban.


"Ssttt, diem napa, Neng. Kita gak akan nyakiti asal bisa diajak kerjasama." Asep Kawat yang belum kebagian main, merasa terganggu dengan suara berisik Mona.


"Laahh...pecong." Asep Cang Cut meremas rambut gondrongnya saat biji kewuk terakhir masuk ke lubang yang kosong.


"Maneheun (Giliranmu), Wat!" Asep Cang Cut mengeplak lengan rekannya yang malah asyik mengedip-ngedipkan mata ke arah Mona.


Baru juga Asep Kawat mencomot gundukan kewuk, pintu utama diketuk dari luar. Membuatnya urung dan segera turun menuju pintu. Irama ketukan menjadi kode jika pimpinan mereka datang.


Benar saja, Hendra masuk diiringi Mizyan. Keduanya langsung mendekati Mona dan berdiri di depan perempuan yang matanya melotot kaget.


"Lepasin lakbannya!" Hendra memberi perintah dengan suara datar.


Tanpa menunggu dua kali perintah, Asep Kawat maju dan perlahan membuka lakban yang membekap bibir bergincu merah.


"Jadi lo dalangnya yang nyulik gue??" Sarkas Mona dengan tatapan yang awalnya penuh ketakutan berubah menjadi kilatan marah menatap ke arah Mizyan.


"To the point aja. Apa lo yang bikin berita jelek soal Rahma?!" Mizyan memang masih fifty-fifty menuduh Mona. Namun perintahnya kepada Kang Hendra untuk menculik juga ada maksud untuk memberi efek jera pada perempuan masa lalunya itu. Yang masih saja agresif mendekatinya.


"Maksud lo apa? Berita apa?!" Mona mengerutkan kening. Bahkan meminta pada Mizyan agar melepaskan ikatan tangan dan kakinya.


Mizyan bergeming. Menyuruh Asep Cang Cut untuk memperlihatkan berita yang di screen shoot sebab setelah konferensi pers tadi, sebagian situs online sudah menghapusnya.


Mona tertawa lepas usai membaca berita dari ponsel yang disodori di depan matanya. Nampak rasa puas terpancar di kedua bola matanya.


"Bener kan apa kata gue. Istri lo tuh bakal kena KARMA!" Mona beralih tersenyum sinis.


"Jaga mulut lo, Mona. Karna gue gak segan-segan akan memberimu pelajaran! Mizyan berusaha tenang tak tersulut emosi oleh ledekan model yang diculik duo Asep saat terpantau sedang break pemotretan di kawasan Dago.


"Oke, fine. Kalo gitu lepasin gue sekarang juga. Manajer gue pasti panik nyariin. Gue gak akan laporin kalian ke polisi asal bebasin gue sekarang juga!" Mona mengadu peruntungan dengan raut yang kembali panik melihat duo Asep berdiri di kiri dan kanannya sambil memainkan cambuk.


"Ini kesempatan terakhir sebelum kamu dieksekusi." Tangan Hendra merogoh saku di dalam jaketnya. Mengeluarkan sepucuk pistol dan membidikkannya lurus mengarah ke jantung si sandera.


"PILIH JUJUR ATAU MATI! Mizyan menggertak dengan suara penuh penekanan. "Lo ngaku aja kalau lo biang dari penyebar gosip murahan itu agar nyawa lo selamat." Sambungnya sambil memberi kode kepada Hendra agar menarik pelatuk.


Membuat Mona terkesiap dengan wajah pucat pasi dan berkeringat serta tubuh bergetar.


"Sum pah demi Tuhan, Mizyan. Gue bukan pelakunya. Gue gak tau apa-apa...tolong jangan bunuh gue." Mona geleng-geleng kepala dengan penuh ketakutan dan tatapan memelas. "Gue memang berencana mau nyebarin video lo waktu lagi new year party di Singapore sama si Ozi. Tapi sial hape gue kecebur di laut. Plis jangan bunuh gue---"


Mizyan nampak berpikir sejenak. Memberi kode sama Kang Hendra untuk menurunkan senjata.


"Oke. Gue kali ini akan percaya." Mizyan membuat keputusan. "Lo akan dilepasin dengan syarat harus tutup mulut tentang penculikan ini. Terserah lo mu beralasan apa sama orang-orang. Berani ngomong maka karirmu akan hancur. Bukan hanya kehilangan karir tapi mungkin kamu tinggal nama."


"Okeee." Sahut Mona lemah sebab masih syok dengan ancaman yang hampir merenggut nyawanya. Tapi dalam otaknya berpikir picik.

__ADS_1


"Gue udah pegang kartu As. Lapor polisi or skandal kamu sama Glen tersebar di media dan siap-siap lo bakal mati di tangan istrinya Glen." Mizyan seolah bisa membaca akal bulus Mona.


Lagi-lagi Mona terkesiap dan menelan saliva berkali-kali.


"Lo pikir gue gak punya rekaman skandal lo sama boss agensi lo." Mizyan tersenyum sinis. "Gue diem karna ngasih kesempatan sama lo buat insaf."


"Mulai sekarang pergi jauh-jauh dari kehidupan gue dan keluarga gue. SELAMANYA!"


"Ba - baik." Mona tergeragap dan menundukkan wajah. Merasa takut dengan tatapan tajam Mizyan yang seolah mengulitinya.


.


.


.


"Bukan dia pelakunya, Mas." Kang Hendra buka suara saat perjalanan pulang dari markas. Urusan mengembalikan Mona sudah dihandle rapih oleh duo Asep. Sampai sang model itu kembali ke hotel dengan menunjukkan gestur yang normal di hadapan manajer dan crewnya. Bersikap seolah tak terjadi penculikan terhadapnya. Dengan alibi bertemu teman lama.


"Iya, Kang. Aku sependapat. Tapi dengan begini si Mona tidak akan lagi mengusik kehidupanku." Sahut Mizyan yang beralih menjadi penumpang, menjelaskan maksud triknya.


"Anda sangat cerdas." Hendra menoleh sekilas sambil mengacungkan jempol. Jalanan menjelang tengah malam mulai lengang. Sehingga ia bisa melajukan mobil milik Mizyan itu dengan kecepatan tinggi dan terukur.


"Willi udah lacak posisi pemilik akun yang upload berita. Aku udah share sama akang ya!" Mizyan tersenyum sumringah mendapat pesan dari William barusan.


Beruntung punya sahabat empat sekawan yang care. Meski tidak bertemu muka sebab kesibukan masing-masing, tapi komunikasi lewat video call grup cukup mewakili. Perhatian dan support mereka membuatnya terbantu mengungkap masalah yang sedang menimpanya dengan cepat.


"Di Cimanggis Bogor, Kang." sahut Mizyan.


Kang Hendra manggut-manggut. "Oke. Untuk wilayah Bogor, aku akan dibantu Asep Kadal untuk terjun ke lapangan."


"Iya Kang, atur aja. Aku ingin secepatnya urusan ini beres." Mizyan menghela nafas panjang. Cuaca malam yang dingin membuat udara yang keluar dari mulut nampak berbentuk asap putih.


"In shaa Allah. Semoga Allah melancarkan niat baik kita dalam memberantas orang-orang jahat."


Mizyan mengaminkan dengan khusyu.


Keduanya berpisah di depan ruko percetakan. Mizyan kembali menyetir untuk pulang ke rumah Ayah Badru.


****


Lampu ruang tamu masih menyala saat Mizyan sampai di rumah tepat tengah malam. Nampak Ayah Badru keluar membukakan pintu utama. Membuat Mizyan merasa tidak enak sudah merepotkan mertuanya. Ia lupa kebiasaan di aprtemen yang suka membawa kunci cadangan. Lupa jika ini bukan rumahnya.


"Ayah sama Papi, kenapa belum tidur?" Mizyan menatap heran. Ternyata Papi Mark juga ada di ruang tamu ditemani 2 gelas minuman dan cemilan di meja.


"Orangtua akan selalu khawatir sama anaknya meskipun dia sudah gede. Sudah larut malam tapi belum pulang juga, mana bisa Papi sama Ayahmu tidur nyenyak." Papi Mark mewakili menjawab.


Jawaban yang membuat hati Mizyan terenyuh dan terharu akan kasih sayang tulus keduanya.


"Gimana, nak. Ada kabar apa dan tadi bertemu siapa?!" Ayah tak sabar ingin mendengar cerita sang menantu yang buru-buru pergi saat menerima telepon.

__ADS_1


Mizyan memilih jujur menceritakan di depan Ayah dan Papi tentang tindakan yang dibuatnya, siasat yang dimainkannya. Termasuk jujur menceritakan secara garis besar siapa itu Mona.


"Hm, jadi pelakunya orang Bogor?!" Papi menaikkan kedua alisnya. "Itu sama aja cari gara-gara sama Papi." Sambungnya dengan wajah geram.


"Itu baru adminnya. Belum tentu otaknya. Bisa jadi dia dibayar." Mizyan mengemukakan pendapatnya.


Obrolan tidak berlangsung lama. Ayah menyuruh Mizyan ke kamar untuk beristirahat sebab malam semakin larut. Dan semuanya bubar pergi ke kamarnya masing-masing.


Mizyan dengan perlahan mendorong pintu. Tidak ingin membangunkan Rahma yang mungkin sudah terlelap. Nyatanya, Rahma sedang duduk bersandar di kepala ranjang sambil menatap daun pintu yang terbuka.


"Bun, kenapa belum tidur hmm?!" Mizyan mendekat tanpa berani menyentuh Rahma. Merasa tangannya tidak higienis sebab pulang dari tempat yang kotor melewati kebun singkong.


"Mana bisa tidur setelah di doping sama gombalanmu. Ditambah kamu perginya lama sekali." Rahma mengerucutkan bibir menatap Mizyan yang mulai melepaskan jaket kulit.


Mizyan terkekeh. "Kapan aku ngegombal, sayang?" Lanjut membuka bajunya yang lengket oleh keringat. Sehingga menampilkan tubuh atas yang polos.


"Ish, pura-pura lupa ya. Tadi itu waktu preskon---" Sahut Rahma sambil menggigit bibir dengan wajah tersipu malu.


Mizyan mendesah. "Jangan menggodaku, Bunda. Tanggung jawab lho ya nanti abis mandi!" Pungkasnya sambil melesat pergi ke kamar mandi.


"Idih--- menggoda dari mananya?!" Rahma bergumam sendiri sambil menggedikkan bahu. Ia turun dari ranjang menyiapkan baju ganti untuk suaminya itu.


Dika sama sekali tidak terganggu dengan aktifitas kedua orangtuanya yang sedang berbincang santai di dekatnya. Bocah kriwil itu lelap memeluk boneka sapi Opa.


"Kenapa pulangnya terakhir, Mas?!" Rahma mulai bertanya dengan perranyaan yang menggelitik pikirannya. Ayahnya tadi hanya bilang jika Mizyan masih belum selesai urusannya.


"Tadi minta tolong dulu Willi untuk melacak pemilik akun yg nyebarin berita." Mizyan menutupi sebagian cerita. Seperti yang dipintanya juga terhadap Ayah agar merahasiakan sebagian tindakannya. Tidak ingin Rahma bertambah terbebani dengan kecemasan.


"Ternyata pemilik akun itu orang Cimanggis, Bogor. Besok anak buah Kang Hendra akan turun ke lapangan." Mizyan membelai rambut Rahma yang sengaja disuruhnya tiduran di pahanya.


"Mas, aku pengen ngadem dulu di villa Papi, boleh gak? Aku masih syok dengan kejadian kemarin. Jadi takut keluar rumah." Keluh Rahma menatap kedua bola mata hazel yang sedang menunduk menelusuri wajahnya yang masih sayu.


"Apa sih yang enggak buat kamu. Mau berangkat kapan hmm?" Mizyan balas menatap hangat.


"Terserah Mas bisanya kapan."


"Besok juga oke."


"Emangnya gak cape?! Rahma menatap heran. Sejak pulang dari Bali, suaminya itu belumlah istirahat dengan benar.


"Kalo di charge dengan ini cape jadi ilang." Mizyan mengecup bibir tipis merah jambu yang saat Rahma menggigitnya membuat inti tubuhnya menggeliat.


"Ish, modus ini mah." Rahma mengerucutkan bibirnya. Tentu saja menjadi umpan buat Mizyan untuk meraup dan mengeksplorasinya dengan segenap perasaan.


*********


NEXT....BAB 142 SIAP-SIAP PENGUMUMAN PEMENANG HAMPERS YA GUYS 👏


PENENTUAN PEMUNCAK TOP FANS AKAN DILIHAT SENIN 28 FEBRUARI JAM 12 WIB. SEBAGAI SATU PEMENANG YG BERHAK MENDAPATKAN HAMPER.

__ADS_1


__ADS_2