MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 93. Sehari Tanpamu


__ADS_3

Malam hari kala menikmati waktu santai di ruang keluarga, Mizyan memperlihatkan amplop yang didapatnya dari Hendra. Rahma termenung menekuri foto-foto yang dipegangnya. Mama Indah yang bak sosialita berkumpul dengan sesama ibu-ibu seusianya tengah pesta di rooftop hotel bintang 5. Minuman entah apa jenisnya dan bungkus rokok tersaji di meja. Lalu foto memasuki gedung mewah dengan logo klinik skin care ternama. Dan beberapa foto lagi yang sama sekali tak menunjukkan keadaan sakit.


Lebih parah lagi foto-foto Alex yang berada di dalam club bersama teman-temannya dikelilingi banyak wanita seksi dan minuman. Bahkan melakukan perbuatan tak senonoh di atas meja. Membuat Rahma bergidik jijik. Merasa enggan untuk melihat foto lainnya lagi. Memilih memasukkannya lagi ke dalam amplop.


"Terus kita harus ngapain, Mas?" Rahma tampak resah. Dialihkannya pandangan menatap Dika yang tengah fokus menyusun lego di karpet ditemani sapi opa.


"Menunggu." Jawab Mizyan lugas. "Kita akan bertindak tegas jika mereka berulah." Ia pun membawa tubuh sang istri dalam pelukan. Memberikan usapan yang menenangkan. "Jangan takut. Aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu dan Dika."


Rahma mendongak. Pandangannya kini beradu dan sama-sama mengulas senyum manis.


Lima hari berlalu. Belum ada kabar mantan mertua Rahma akan datang ke Bandung atau sekadar menelpon. Padahal Mizyan menanti akan hal itu. Apalagi besok ia harus ke Surabaya untuk urusan project bersama Jason.


"Papa, liat dulu ada yang kurang gak?" Rahma melongokkan kepala dari pintu kamar. Menginterupsi Mizyan yang tengah mengajari Dika menggambar di meja belajar lipat. Meminta suaminya itu recheck isi koper sebelum menutupkannya.


"Dari titik ini tarik garis ke atas lalu ke samping. Coba ya!" Mizyan menyerahkan pensil pada Dika sebelum beranjak menghampiri Rahma ke kamar. Ia sudah melihat jika Dika memiliki bakat menggambar. Setiap coretan tangan yang dibuat selalu menghasilkan bentuk.


"Udah cukup, sayang." Mizyan menutupkan kopernya. Besok ia akan berangkat dengan pesawat jam 9 pagi.


"Aku bakalan rindu." Keluh Rahma dari tepi ranjang. Untuk pertama kalinya setelah menikah, melepas sang suami pergi ke luar kota.


Mizyan tersenyum lebar. Tak ingin memperlihatkan jika ia pun sebenarnya berat jika harus jauh-jauh dari sang istri. Tabungan pun sangat cukup meski ia tak mengambil job di luar kota. Namun sikap profesional harus diterapkan. Ini merupakan schedule bulan lalu yang harus dikerjakan.


"Nanti kita vc tiap malam biar rindunya terobati. " Mizyan mengecup bibir tipis yang mengerucut. Gemas dengan sang istri yang merajuk.


"Kita main 2 kali ya. Batre harus full." Mizyan mengerling nakal.


Rahma menggeleng. "Aku datang bulan."


"Yaahh---" Mizyan menghempaskan tubuh telentang di kasur. Membuat Rahma terkekeh melihat reaksi kekecewaan suaminya itu.


"Berapa lama?" tanyanya dengan lesu.


"Seminggu."


"Yaaah---lama amat." Lagi-lagi Mizyan mendesah kecewa. Membawa tangan Rahma mengusap-ngusap inti tubuhnya. " Berangkat gak dijamu, pulang gak disuguhi." Keluhnya yang akan pergi selama 3 hari itu.


Giliran Mizyan yang merajuk. Membuat Rahma tertawa lepas, merasa lucu. Ia menekan tangan pada sesuatu yang terbangun lalu berlari keluar kamar sembari tertawa begitu suaminya itu mengaduh.


Begitu tahu Papa Buye besok akan pergi ke Surabaya, Dika yang kini merajuk minta tidur bersama. Malam ini pun kamar utama menjadi saksi kehangatan keluarga kecil yang tidur sambil berpelukan.


****


"Ayah, Uma, aku mau nitip Rahma sama Dika selama pergi ke Surabaya." Mizyan duduk sopan di hadapan mertuanya. Menyampaikan maksud kedatangan keluarga kecilnya pagi-pagi sekali. "Aku lebih tenang meninggalkan anak istri di sini daripada di apartemen cuma berdua." Pungkasnya sembari mendekap Dika yang duduk di pangkuan. Yang sejak bangun tidur terus lengket, tak mau jauh darinya.


"Iya nak Mizyan. Bekerjalah dengan tenang. Rahma sama Dika aman di sini." Sahut Ayah Badru sembari mendoakan keselamatan dan kelancaran urusan menantunya itu.


"Berapa lama di Surabaya?" tanya Uma. Yang ssbentar berlalu ke dapur dan kini bergabung lagi membawa pisang bakar keju dan coklat yang masih hangat. Dika tampak sumringah, turun dari pangkuan lebih dulu meminta pisang bakar buatan neneknya itu.


"InsyaAllah 3 hari Uma." Sahut Mizyan yang mendapat jatah pisang bakar keju yang dituangkan Rahma ke piring kecil.


Usai berpamitan pada Ayah dan Uma, Mizyan ditemani Rahma dan Dika duduk di kursi teras sembari menunggu kedatangan taksi online. Rahma awalnya memaksa ingin mengantar sampai bandara, namun sang suami menolaknya. Dengan alasan khawatir Dika yang pastinya ikut mengantar, akan rewel dan menangis gak mau ditinggalkan. Dan tentunya akan membuat bundanya kerepotan.


Mobil yang menjemput sudah tiba. Mizyan berdiri bersiap berangkat. Mengangkat dulu bocah kriwil yang bergelayut manja di lengannya. "Dika jaga Bunda ya. Gak boleh nakal, harus rajin mengajinya. Oke?" Seperti biasa Mizyan mengajak ber high five yang disambut Dika dengan semangat.


"Aylapyu, Papa." Dika yang berada dalam gendongan lebih dulu mencium pipi papa buye kesayangannya itu.


Mizyan tersenyum haru. "Love you too, my boy." Dikecupnya kedua pipi bakpau itu dengan gemas. Ia lalu menurunkan Dika, beralih memeluk Rahma usai mencium punggung tangannya.


"Aku pergi dulu, sayang. Doakan urusanku lancar ya." Dikecupnya kening Rahma dalam dan lama.

__ADS_1


Rahma mengangguk. "Iya, sayang. Aku akan selalu mendoakanmu." Rahma menatap hangat ke dalam manik mata hazel yang selalu mampu menggetarkan dadanya.


"Dadah Papa---" Teriakan riang Dika yang melambaikan tangan di depan pintu gerbang yang terbuka, mengiringi mobil yang melaju perlahan meninggalkan komplek perumahan.


Rahma menghela nafas panjang. Ada rasa hampa sepeninggal Mizyan yang baru saja hilang dari pandangan. Tak ingin larut dalam rindu yang mulai menyeruak, ia bersiap memulai aktifitasnya pergi ke toko. Uma seperti biasa melarang membawa Dika ikut serta ke toko. Sama sekali tidak merasa keberatan mengasuh satu cucu malahan membuat hari Uma tidak merasakan jenuh.


Rahma memarkirkan mobil BMW hitam di depan toko, bertempat di parkiran khusus. Mobil yang diharuskan Mizyan untuk dipakainya kemanapun pergi selama suaminya itu tidak bisa mengantar.


Berjalan menuju pintu masuk, kedua alisnya saling bertaut melihat ada sosok pria berpakaian serba hitam berdiri di sisi pintu kiri.


"Selamat pagi, dengan Bu Rahma ya?" pria kekar berbaju hitam itu lebih dulu menyapa tanpa senyum.


"Iya. Anda siapa ya?!" Takut-takut Rahma mengamati pria tanpa ekspresi bak bodyguard itu dengan seksama.


"Saya Asep Oray, anak buahnya Kang Hendra. Ada perintah dari Pak Mizyan untuk menjaga Bu Rahma selama di toko lalu mengawal kemanapun Bu Rahma pergi sampai pulang ķe rumah." Lapornya dengan berdiri tegak.


"Hah?!" Kening Rahma mengkerut antara percaya dan tak percaya. Namun ponselnya yang berdering menjawab rasa terkejutnya.


"Sayang, udah ada bodyguard ke toko?" Suara Mizyan dari sebrang bersaman dengan sayup-sayup pengumuman operator agar penumpang segera menaiki pesawat.


"Ada-- Oh jadi benar ya Mas yang suruh?!"


"Iya, sayang. Biar aku tenang selama pergi. Sudah ya, mau siap-siap take off."


Rahma menggenggam ponselnya usai panggilan mati.


"Akang kalau stay di sini tolong ya wajahnya jangan kaku gitu. Pembeli yang mau masuk nanti takut. Senyum dan mengangguk ramah!" Pinta Rahma.


Sang pengawal mengangguk sembari mempraktekkan permintaan Rahma.


"Bagus!" Rahma pun berlalu masuk ke dalam toko. Disambut Fitri dan Sandi yang tampak penasaran dengan pria asing yang belum lama datang itu.


Dari layar cctv di lantai 2, Rahma memperhatikan gerak gerik Asep Oray yang kadang mondar mandir, kadang duduk di kursi yang diberikan oleh Fitri. Sesekali masuk ke dalam mengawasi seputaran ruangan. Ia menjadi tersenyum geli.


Siang harinya Koko Andreas datang dan menghampiri Fitri yang tengah mengecek display di rak depan.


"Fit, Rahma ada?"


Belum sempat Fitri menjawab, Asep Oray datang menghampiri dan berhadapan dengan Koko Andreas. "Maaf, Anda siapanya bu Rahma?"


Koko mengernyit. Menatap Fitri dengan sorot mata meminta penjelasan tentang siapa orang asing di toko Citarasa yang baru dilihatnya itu.


"Ini pengawalnya mbak Rahma." Fitri menjelaskan singkat.


"Kang, ini Koko Andreas suplier toko sekaligus teman mbak Rahma. Orang baik, kang. Aman." Juga menjelaskan pada Asep Oray.


"Oke." Sang pengawal berlalu keluar. Meninggalkan Fitri dan Koko yang saling pandang lalu terkekeh bersamaan.


Fitri mempersilakan Koko duduk sementara ia akan mengkonfirmasi via interphone pada sang boss yang berada di atas.


Koko menyambut kedatangan Rahma yang baru turun dari lantai 2 dengan gelengan kepala. "Udah jadi nyonya Mizyan jadi ada protokol keamanan euy." Ujarnya yang baru bertemu lagi sejak Rahma menikah.


Rahma menggedikkan bahu sembari duduk di depan Koko. "Tau deh. Mas Mizyan tadi berangkat ke Surabaya. Eh tanpa bilang dulu, sewa bodyguard. Biar tenang kerja katanya."


"Salut." Koko manggut-manggut. "Suamimu keliatan cinta banget sama kamu." Diiringi acungan jempol.


Rahma tersenyum malu. Tentu saja ia sangat tahu akan besarnya cinta sang suami padanya.


"Udah lama gak ketemu kamu, kangen. Pas ke sini kamu lagi di Bogor. Mumpung lewat sini mampir aja siapa tahu ketemu. Eh ternyata Bunda Dika ada. Beruntung sekali aku. Plong deh kalau udah liat wajahmu live. Mau balik lagi ah, udah cukup kangennya." Cerocos Koko yang selalu bicara ringan tanpa beban.

__ADS_1


"Lebay ih." Rahma tertawa diiringi geleng-geleng kepala. "Aku tau kamu pengen kue gratis makanya mampir." Cebiknya.


"Issh, kalau ngomong suka bener deh." Koko cengengesan.


Obrolan santai pun mengalir membahas beberapa harga bahan baku yang naik. Seperti minyak goreng dan margarin. Sembari menunggu Fitri mengemas beberapa kue untuk dibawa pulang Koko.


"Titip buat Mami ya, Koko. Salam dariku." Rahma menyerahkan kantong berisi bika ambon sebagai tambahan kue yang akan dibawa pulang oleh Koko. Ia juga tak lupa memperhatikan sang pengawal dengan menyuruh Fitri memberikan makan siang juga cemilan kue.


"Ish jadi enak kalau gini." Koko mengangkat 2 kantong yang ditentengnya dengan sumringah. "Aku pamit ya. Salam sama suamimu."


Rahma mengangguk. Lalu menatap punggung Koko yang berlalu keluar pintu usai menyapa Fitri dan karyawan lainnya. Pria bermata sipit itu memang humble dengan seluruh karyawannya.


****


Selepas magrib, ponsel tak pernah jauh dari genggaman. Rahma gelisah menunggu telepon dari Mizyan. Meski tadi siang sang suami sudah mengirim pesan jika sudah sampai di Surabaya. Dika juga sama. Begitu ia pulang ke rumah sore tadi, langsung merajuk ingin menelpon papa buye.


"Sayang, tunggu ya. Aku lagi meeting." Bu yi pesan yang dikirim Mizyan begitu Rahma menghubunginya.


Membuat Rahma menghibur dulu Dika agar sabar menunggu Papa buye yang telpon balik. Menjadi lega setelah kakeknya membujuk dengan mengajak pergi ke masjid dan baru pulang selepas isya.


"Nda, mana Papa atu?!" Dika menubruk bundanya yang tengah menyiapkan piring untuk makan malam.


"Nanti abis makan, Papa akan telpon." Jawab Rahma dengan spekulasi. Membuat Dika semangat ingin makan lebih dulu. Meminta sang bunda mengambilkan nasi dan lauk. Ayah dan Uma hanya tersenyum simpul.


Sudah hampir jam 8 malam. Dan Dika memanyunkan bibir sembari mendekap ponsel bundanya. Begitu menunggu ponsel itu berdering panggilan video.


"Bawa pindah ke kamar aja, Rahma. Nunggunya biar sambil tiduran di kasur." Usul Uma kala semuanya berkumpul di ruang tv. Kasihan melihat cucunya yang murung.


Rahma menurut. Menuntun Dika masuk ke dalam kamar dan menyimpan ponsel di holder phone. "Siap-siap sayang, bentar lagi Papa telpon." Ia menyemangati Dika yang masih manyun dan duduk di pangkuannya. Bukan hanya Dika yang tidak sabar menunggu. Ia juga.


Ponsel berdering. Dika terperanjat senang bukan main. Jarinya spontan menggeser icon video seolah sudah tahu siapa yang menghubungi.


"Papa buye...Papa atu---" Pekiknya senang, bertepuk tangan menatap wajah familiar di layar yang tengah tersenyum.


Senyum yang malah membuat Rahma berdesir dan gugup. Padahal sudah tidur seatap dan menyatu tapi begitu berjauhan rasa yang seperti dulu hadir kembali.


"Papa atu lindu, Nda juja lindu---" Sewot Dika. Yang dijawab Mizyan dengan tertawa lepas dan riang. Tergugu dengan kepolosan Dika yang mengutarakan perasaannya.


Sejenak komunikasi dikuasai Dika yang menceritakan kegiatannya seharian ini bersama nenek dan kakek. Dan dengan sabar Mizyan menanggapinya. Ia mengulum senyum menatap Rahma yang bertopang dagu dengan bibir cemberut di belakang Dika.


"Dika, giliran Papa bicara sama Bunda ya!" Mizyan membujuk Dika untuk bergeser agar bisa menangkap keseluruhan sang istri yang duduk di atas kasur. Beruntung Dika menurut. Beralih tiduran di samping bundanya sembari memeluk sapi opa yang dibawanya.


"Hai ladies, rambut cepol dan daster ungu yang membuatku rindu. Sengaja ya pengen dejavu?" Mizyan menatap hangat wajah Rahma yang tampil cantik natural sesuai deskripsinya itu.


Rahma tersipu. "Ini kan seragam waktu pertama kali kamu melihatku tanpa jilbab." Terkekeh menutupi wajahnya yang malu.


"Sayang, jadi pengen gigit itu--" Mizyan dengan isyarat mata mengarah pada leher putih nan mulus istrinya.


"Mesum ih---" Rahma mencebik sebal tapi tak urung tersenyum sumringah. Ia lalu menceritakan peran bodyguard yang mengawalnya memakai motor sampai depan rumah. Juga menyampaikan salam dari Andreas yang tadi siang berkunjung ke toko.


Tampak kelegaan di wajah Mizyan usai mendengar cerita Rahma.


"Bun, besok aku bakalan sibuk seharian. Ada meeting juga meninjau lokasi pembangunan villa. Lokasinya jauh dari kota. Kita vc lagi besok malam ya."


Rahma mengangguk. "Jaga kesehatan, Papa." Sending kiss dan ucap love you tanpa suara pada wajah bule yang memenuhi layar.


Mizyan mendesah. Tersulut gairah dengan gestur Rahma yang menggoda. "Sayang, bisakah dipersingkat tamu bulanannya? Aku ingin pas pulang ada jamuan."


"Papa, nenek atu syuka minum jamu juja." Dika bergerak bangun dan melongokkan wajah di layar. Mendengar ucapan jamuan mengingatkannya pada kebiasaan sang nenek yang suka merebus jamu di dapur.

__ADS_1


Rahma tertawa lepas dengan bahu terguncang. Mizyan meringis sembari meremas rambutnya kasar. Bocah kriwil ternyata nguping pembicaraan intimnya. Untung tadi tidak berkata vulgar.


__ADS_2