MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 109. 60 Juta


__ADS_3

Baru menyadari jika pemandangan yang tersaji dari jendela kamar hotel sangatlah elok. Hamparan kebun teh yang hijau berbukit-bukit sejauh mata memandang. Sebagiannya masih diselimuti kabut putih sebab belum tersentuh sinar mentari yang baru terbit. Dengan rambut setengah basah terurai dan tertiup angin sepoy-sepoy, Rahma menikmati itu dari balkon kamar.


Kabar dari rumah Papi Mark membuatnya tenang. Dika yang tidur dengan Opanya belum bangun di jam 7 pagi ini. Semalam sang anak asyik bermain dengan fasilitas play ground yang dibuatkan Opa. Arena mandi bola dan pelengkapnya membuat bocah itu senang dan semangat mencobanya. Bahkan Opa dan Rangga menemani sambil ngopi.


Rahma mengulas senyum. Bersyukur memiliki mertua yang tidak hanya menerimanya tapi juga menyayangi Dika. Papi Mark makin menampakkan perhatian. Memanjakan Dika dengan sengaja menyiapkan sapi di halaman belakang villa agar tidak perlu berpanas-panasan di peternakan. Ditambah fasilitas permainan kualitas SNI seluas satu kamar yang tentunya bernilai jutaan rupiah.


"Kenapa senyum-senyum sendiri?!" Mizyan muncul membawa nampan berisi sarapan pagi yang baru diantar roomboy. Meletakkannya di meja. "Lagi bayangin enaknya semalam ya..." Dengan santai melakukan streching di ujung tembok balkon. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya melalui hidung, menghembuskan pelan-pelan lewat mulut.


"Hadeuh, mesum mulu otaknya." Rahma menggelengkan kepala. Beralih menuangkan teh panas dari poci berbahan tanah liat pada dua gelas kosong yang masih menangkup.


Mizyan terkekeh. Beralih duduk usai melakukan peregangan tangan dan kaki. Mengambil gelasnya dan menghirup uap teh kualitas premium yang wangi khas teh Puncak.


"Aku bersyukur, Papi sangat sayang sama Dika. Sempet khawatir Dika rewel nyari-nyari aku, Alhamdulillah anteng." Rahma menjelaskan alasan dia senyum-swnyum sendiri. Mizyan tentu tahu jika Dika masih tidur sebab yang menelpon Papi adalah suaminya itu.


Mizyan mengangguk setuju.


"Oh ya, sayang. Kemarin waktu jogging Papi nanyain berapa lama proses aku menjadi mualaf. Aku ceritakan sampai detail. Semoga aja Papi lagi berproses menjemput hidayah." Mizyan menatap lurus ke depan dengan mata menerawang penuh pengharapan sang ayah mengikuti jejaknya.


"Pas aku tanya apakah Papi mau menyusulku menjadi mulaf, jawabannya hanya senyum misteri. Aku gak bisa menebaknya." Mizyan menggedikkan bahu. Teringat saat Papi Mark tersenyum simpul dan berlalu setelah menepuk bahunya.


Rahma mencerna dengan seksama. Cerita sang suami mengingatkan akan perbincangannya dengan Papi Mark tempo dulu.


"Aku lupa cerita, Mas. Tempo dulu ke Bogor, Papi pernah bertanya adakah meditasi dalam Islam." Rahma menceritakan awal mula sharing sang mertua kala sedang meditasi di gazebo dan diganggu Dika yang tiba-tiba duduk di pangkuan sehingga membuyarkan konsentrasi meditasinya.


Mizyan mendengarkan penjelasan ulang Rahma terhadap Papi Mark tentang zikir. Raut kepuasan nampak di wajahnya.


"Bisa jadi Papi mempraktekannya. Lihat wajahnya sekarang lebih cerah dan gak mengeluh lagi insomnia."


"Mudah-mudahan cahaya Islam makin menerangi hatinya." Harapan Mizyan dengan wajah mendongak menatap langit yang biru berhias asap putih.


Rahma mengaminkan harapan suaminya itu dengan penuh kesungguhan. Waktu yang akan menjawab.


Usai sarapan keduanya langsung check out. Bertolak pulang menuju villa Papi Mark yang menawarkan ketenangan dan kenyamanan bagi siapapun yang singgah ke sana. Sampai di villa tak ada sambutan sang anak. Rahma yang merasa kangen terhadap Dika bergegas masuk memanggil-manggil nama anaknya itu.


"Den Dika lagi main mandi bola, Neng. Ditemani tuan Mark di dalam." Sahut Bi Cicih yang baru muncul dari ruang perpustakaan dengan membawa sapu.


"Den Dika gak mau Bibi mandiin. Katanya pengen sama Bunda. Tapi kalau makan sudah Bibi suapin. Makannya banyak, neng." Pungkas Bi Cicih melaporkan.


"Oh iya, Bi. Makasih ya." Rahma mengulas senyum. Berbelok langkah menuju ruang bermain.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum--" Rahma berucap salam dengan riang. Sengaja berdiri di ambang pintu yang terbuka. Menunggu reaksi Dika yang sedang bermain ayunan mengarah padanya.


"Wa'alaikum salam." Papi Mark menoleh dari kursi goyang yang berada di sudut ruangan sambil menjawab salam.


Rahma menatap terpana. Namun tidak lama keburu Dika menjerit senang dan berlari ke arahnya.


"Nda Lahma--- Nda atuuu." Dika menubruk memeluk bundanya yang sudah bersiap berjongkok menyambut dengan pelukan.


"Nda--- atu bobo cama Opa. Opa dongeng buaya dan tancil. Tancilnya nyeblang cungai ada buayanyaaa." Dika menggelayut manja sambil memainkan bros yang tersemat di bahu bundanya. Menceritakan isi dongeng Opa sesuai yang ia ingat.


"Lagi mendongeng banyak interupsinya, banyak tanya. Haduh, Papi sampe cape jelasinnya, durasi dongengnya jadi panjang deh. Ini calon anak cerdaa nih." Tetap duduk di kursi goyang sambil mendongak dari layar ponsel, Papi Mark menimpali.


Rahma terkekeh. Tentu saja ia juga sering mengalaminya. Tidak aneh dengan keceriwisan sang anak yang selalu banyak bertanya dengan rasa keingintahuan yang besar.


"Papa Buye atuuuu---" Dika berdiri tegak dan berjingkrak-jingkrak dengan kedua tangan diangakat ke atas. Matanya awas akan kedatangan papa kesayangannya yang sudah berdiri di belakang bundanya yang masih jongkok.


Rahma hanya menggeleng. Sebab ia menjadi diabaikan sang anak yang kini tertawa-tawa dalam gendongan papa buye. Ia memilih melangkah mendekati sang mertua yang sedang mengulas senyum menatap anak dan cucunya.


"Papi, maaf udah direpotin semalam jadi mengasuh Dika." Rahma duduk di kursi single di samping Papi Mark. Merasa tidak enak hati terhadap sang mertua yang notabene yang kedudukannya di luar sebagai seorang boss besar.


"Jangan bicara gitu, Rahma." Papi menatap sang menantu dengan hangat. "Kan Papi yang nyuruh kalian nginep. Kalian itu butuh quality time. Hopely, cucu kedua soon to be." Diakhiri dengan terkekeh menatap menantunya itu yang tersipu malu.


****


Dengan berat, Papi Mark melepaskan kepulangan sang anak bersama keluarga kecilnya. Ia sangat senang menyaksikan menantunya yang sabar saat mengajari


Dika mengaji sambil bermain. Adem saat mendengar suara Mizyan sang anak, yang menjadi imam sholat di musholla. Tanpa ada yang tahu jika keharuan selalu menyeruak bahkan membuat mata berkaca.


Ia memilih bungkam. Merasai kejutan-kejutan yang menghinggapi diri. Sejak mencoba terapi insomnia dengan metode meditasi zikir sesuai penjelasan Rahma, Mark merasakan manfaatnya. Tidurnya selalu berkualitas. Tak lagi mengalami insomnia. Bahkan hatinya selalu diselimuti rasa hangat.


"Papi auranya beda ya sekarang. Kayak orang falling in love. Beuh....cerah shining. Ha ha ha."


Mark teringat ucapan Mizyan saat semobil berdua menuju pabrik. Sampai-sampai ia menimpuk bahu anaknya itu dengan berkas yang sedang dibacanya. Merasa digoda.


"Let me know, Papi. Apa Papi mau menyusul aku menjadi mualaf?!"


Mark melukis senyum tipis. Terngiang lagi ucapan anak semata wayangnya itu usai jogging. Baginya yang sudah mengalami banyak makan asam garam kehidupan, tidak boleh gegabah dalam membuat keputusan krusial tentang memilih keyakinan. Butuh kemantapan hati penuh. Dan sekarang masih setengah hati.


Ia mengucek matanya yang perih. Baru saja selesai video call 1 jam lamanya dengan Miki kesayangannya. Tentu juga ada Rahma dan tak ketinggalan Dika yang selalu mendominasi memenuhi layar. Berbincang berbagai hal dari yang serius juga santai. Diiringi gelak tawa.

__ADS_1


Sepi kembali menyergap bersamaan dengan layar yang kembali hitam. Mark yang baru keluar dari ruang kerjanya menghentikan langkah di depan musholla yang terbuka tanpa pintu. Sudah 2 minggu tak lagi mendengar suara merdu dan syhadu sang menantu yang mengaji dari musholla. Tempat ibadah yang dipersembahkan untuk anak semata wayang yang memilih jalan hidup menjadi muslim. Merasa rindu.


"Pak, ada tamu yang keukeuh ingin bertemu tanpa janji."


"Security masih menahannya di pos. Menunggu konfirmasi."


Suara Rangga membuyarkan pikiran yang sedang menerawang. Mark menoleh ke samping menatap sang asisten dengan kedua alis bertaut. "Siapa?"


"Namanya Fatimah."


****


Jakarta


Monoton dengan rutinitas kerja membuat seorang Theo merasa lelah dan jemu. Apalagi di rumah, kondisi Indah yang lemah usai 3 mi minggu yang lalu operasi pemasangan ring di jantung. Masa pemulihan di rumah sakit selama seminggu lamanya belum membuat fisik istrinya itu kembali bugar dan segar. Dokter menyarankan untuk istirahat dan tidak boleh bekerja berat.


Theo, pria normal yang sedang mengalami stress. Tanggungjawab di kantor yang penuh tekanan, istri yang sakit, anak yang berada pusat rehabilitasi narkoba. Complicated.


Sebagai pria normal yang butuh asupan biologis. Memutuskan menginjakkan kaki di sini. Di tempat hiburan dimana dua orang penari stiptis meliuk-liukkan tubuh seksi berbalut kostum mini. Me rang sang hasrat para pria yang hanya kelas tertentu yang bisa masuk ke dalamnya. Butuh merogoh cuan banyak.


"Boss, ada barang bagus. Body kaleng tanpa dempul, tahun muda. Pokoknya dijamin 1000 persen semua sparepart ori." Seseorang berbisik di samping Theo yang sedang menikmati segelas wine. Masih mengenakan setelan jas kerja dengan dasi yang dilonggarkan.


"Harga?" sahut Thea tanpa melirik orang di sampingnya itu. Fokus pada minuman yang dituangkan bartender pada gelasnya yang sudah kosong.


"Harga 60 juta untuk 2 jam, udah plus kamar hotel bintang 5. Pokoknya servis memuaskan. Stress dijamin hilang. Dan akan ketagihan." Berapi-api, pria yang ditaksir umurnya seusia Alex itu mempromosikan barang dagangannya.


"Dia artis, boss." Masih dengan berbisik, memperlihatkan foto-foto close up seorang perempuan dengan gestur menggoda.


Theo menelan saliva. Jakunnya naik turun. "Bayarnya gimana?" Ia merasa ingin mencobanya. Salah siapa gak bisa melayani. Batinnya membela diri.


"Transfer sama saya. Dia sudah siap 1 jam lagi." Si sales memperlihatkan rekening bank di layar ponsel.


Antara takut dan ingin mencoba. Nampak kegelisahan dari tangan Theo yang sedikit gemetar saat menyentuh send di akun mobile bankingnya. Nominal 60 juta pun berhasil terkirim.


10 menit kemudian.


"Room 2199 ya boss." Si sales menunjukkan booking room dengan tertera nama hotel bintang 5.


"Have fun tonight, boss." Sembari melesat pergi dengan mengedipkan sebelah mata. Jualannya sudah laku.

__ADS_1


Dua penari striptis semakin bersemangat meliukkan tubuh seksinya. Melepas satu persatu kain yang melekat di tubuh dalam iringan musik DJ. Merendahkan diri ke dasar lumpur hina demi rupiah yang ditaburkan di dance floor oleh para pria hidung belang, penikmat tubuh top les.


Theo menikmati pemandangan itu. Membuat hasrat naik ke ubun-ubun, memanas. Ia pun bergegas pergi menuju hotel untuk menikmati jajanan senilai 60 juta, durasi 2 jam.


__ADS_2