
Rahma terjebak oleh ucapannya sendiri dan kini Mizyan meminta mengulang ucapannya tadi. Tubuhnya kini saling berhadapan dan ia harus sedikit mendongak kala matanya bersirobok pada bola mata hazel yang menatapnya lembut dan tenang. Dan ia tak mampu beradu tatap lebih dari 5 detik, memilih menundukkan wajah sebab tubuhnya mendadak panas dan menegang kala merasakan gelenyar aneh merasuki aliran darah.
"Nda---"
"Om Buye---"
Tahu-tahu Dika sudah menempelkan wajahnya pada kaca jendela berwarna gelap itu dan menggedor-gedornya dengan wajah riang.
Alhamdulillah selamat.
Rahma bernafas lega. Teriakan Dika menolong di waktu yang tepat, kala ia sangat gugup untuk mengulang ucapannya lagi. Pintu pun di dorong dari luar oleh Dika yang langsung menubruk Om Buye nya dengan girang. Seperti biasanya Mizyan langsung mengangkat tubuh gempal itu, yang membuat Dika tertawa dan menjerit-jerit antara takut dan senang kala tubuhnya di lempar-lempar ke udara.
Rahma mengulas senyum tipis melihat interaksi dua orang yang tampak tulus saling merindu itu. "Aku ke depan dulu ya, nemenin tamu." Rahma pamit pada Mizyan yang merespon dengan anggukkan sebab lagi sibuk mengacak-ngacak rambut Dika dengan gemas.
"Dia siapa?!" Koko menyambut kedatangan Rahma dengan pertanyaan penuh keingintahuan.
"Temen pengajian Ayah." Jawab Rahma singkat. Dan menurutnya itu memang jawaban yang tepat. Sebab nggak mungkin juga ia memperkenalkan Mizyan sebagai teman apalagi pacar.
"Rahma, sorry. Aku harus pulang sekarang. Barusan Mami telpon, tamu dari Jakarta sudah datang."
"Oh, oke. Orang sibuk emang nggak bisa keluar lama-lama ya." Rahma terkekeh menggoda Koko yang lalu tertawa mendengar candaannya. "Sebentar aku bilang dulu sama Ayah dan Uma."
Satu tamu sudah pulang usai pamit terhadap Ayah dan Uma. Rahma membiarkan pintu depan terbuka sebab ada Mizyan di teras belakang lagi menemani Dika bermain sepatu roda.
"Aghh, atuuut Om---"
Rahma berdiri di ambang pintu menatap Dika dengan perlengkapan keselamatan yang dipakai tampak memegang erat-erat lengan Mizyan sebab takut jatuh.
"No no no--- cowok harus berani. Lebarkan lagi kakinya, lututnya sedikit ditekuk. Yes, seperti itu--- come on jalaaan--- kalau Om bilang rem, Dika rem ya!"
Ia memperhatikan Dika yang menuruti arahan Mizyan. Pelan tapi pasti menggerakkan kakinya yang kaku dengan satu tangan yang berpegangan pada telunjuk Om Buye nya itu. Masih tampak ketegangan pada wajah Dika meski sudah bergerak sepanjang teras.
"Udah dulu mainnya, istirahat dulu!" Rahma mendekat dengan membawa nampan berisikan 3 gelas jus strawberi.
"Maaf aku nggak tanya dulu kamu suka jus strawberi atau tidak." Rahma menatap Mizyan yang tengah membuka inline skate Dika.
"Whatever. Asal kamu yang buatinnya pasti aku suka." Mizyan tersenyum simpul menatapnya.
"Ish, lebay." Rahma mencebik namun rona merah di pipi tak bisa berbohong jika hatinya sebenarnya tersanjung.
"Atu ausss---" Dika memang penyelamat. Tingkah bocah yang menyerobot mengambil segelas jus berhasil mencairkan kegugupannya.
"Dika jarang latihan ya, Bun. Gerakannya masih takut-takut gitu." Mizyan beralih membahas Dika yang kurang keberanian dalam bermain sepatu roda.
Rahma tersenyum meringis sebab memang tebakan Mizyan benar adanya. "Aku memang nggak pernah melatihnya, nggak ada waktu. Aku bilang sama Dika nanti aja belajarnya kalau ada Om Buye." Pungkasnya dengan wajah meringis malu.
Tetiba otak player Mizyan muncul menguasai diri melihat bibir tipis yang meringis, membuat darahnya berdesir. Ingin sekali menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukannya. Merasa gemas ingin.....
Astagfirullah hal'adziim.
Mizyan mengerjapkan mata untuk mengusir dorongan dan godaan setan yang terkutuk.
"Wani piro? (Berani bayar berapa)" Ia mampu menguasai diri dengan beralih tersenyum usil menggoda Rahma.
__ADS_1
"Wani pilo, Ndaaa--" Dika ikut-ikutan latah menggoda bundanya sambil terkikik. Membuat Mizyan tertawa lepas merasa terhibur dengan kekonyolan Dika.
"Rahma---"
"Rahma---"
Ketiganya sontak menolehkan wajah ke arah pintu begitu mendengar teriakan wanita yang memanggil nama Rahma.
"Eh, maaf. Nggak tau lagi ada tamu." Dia adalah Suci yang terkaget dan langsung mengatupkan bibir. Ia datang diiringi Nico di belakangnya.
"Barusan Om Badru suruh aku langsung ke belakang. Kirain nggak ada tamu." Suci menganggukan kepala ke arah Mizyan pertanda permohonan maaf sebab sudah berteriak-teriak.
"Mizyan kan?!" Nico menodongkan telunjuknya. Merasa surprise melihat teman bisnis ada di rumahnya Rahma.
"Hei, Nico. Pa kabar." Mizyan berdiri dan mengulurkan tangannya. Keduanya pun berpelukan saling menepuk punggung. Sudah cukup lama keduanya tidak bertemu.
"Mas Nico kenal dengan Mas Mizyan?!" Rahma tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya melihat dua pria tampan itu ternyata saling mengenal dan tampak akrab.
"Om--- ini Om Buye atu, Om nda juja." Dika mendongak menatap Om Nico sambil bergelayut manja di lengan Om Buye nya.
"Ooohhh, jadi ini toh yang namanya Om Buye?!" Suci tentu merasa surprise sampai mulutnya menganga. Beberapa kali ia mendesak Rahma ingin tahu siap om buye yang pernah disebutkan Dika waktu di Jakarta juga selalu diceritakan dan dibangga-banggakan Dika kalau sedang bermain dengan Manda. Namun Rahma hanya menjawab kalem ; "temennya Ayah."
"Yes, tante Uci. Ini Om Buye atu, Om nda juja---" Dika mempertegas lagi dengan penuh keriaan menatap tantenya.
"Oh, ya ya. Om nda juga ya---" Sahut Suci dengan mata mengerling ke arah Rahma yang wajahnya sudah memerah seperti tomat. Satu cubitan tangan Rahma di pinggangnya membuat Suci meringis.
****
Rahma duduk diam di jok belakang dengan pikiran dipenuhi spekulasi akan reaksi Nico sebenarnya setelah melihat Mizyan di rumahnya. Ia berniat untuk menjelaskan atau mungkin klarifikasi kalau dirinya sama sekali belum melupakan Malik, entah esok atau lusa. Apakah kekhawatirannya berlebihan jika ia merasa takut Nico menganggapnya wanita murahan sebab kedatangan pria baru di hidupnya padahal baru setahun ditinggal Malik.
Kenapa aku jadi suudzon.
Rahma meremas jemarinya diiringinhelaan nafas panjang. Ia tak mengindahkan 2 orang pria beda generasi di baris jok depan yang berbicara saling menimpali. Mereka adalah Dika yang duduk di samping Mizyan yang santai sebagai driver.
Rencananya akan mengurus pembuatan SIM dan kartu baru ditemani Suci batal. Sebab Suci beralasan mendadak harus mengantar Manda les renang. Tentu saja Rahma bisa menduga jika alasan Suci itu mengada-ngada saja melihat sepupunya itu malah meminta Mizyan yang mengantar. Ia yang awalnya menolak dengan alasan takut merepotkan dan memilih akan naik taksi, malah mendapat ijin Ayah dan Uma. Dengan alasan khawatir akan keselamatannya setelah kejadian kemarin.
"Bun, kita ke mana dulu?" Mizyan menatap penumpang di belakangnya dari spion tengah. Membuat Rahma yang tengah melamun terbuyarkan.
"Ke Grapari dulu aja. Mau minta kartu baru."
"Apa nggak beli hape dulu?!" Mizyan kembali melirik dari spion.
"Hape udah ada kok." Rahma berniat memakai ponsel milik almarhum saja yang tadinya ia simpan sebagai barang kenangan.
"Nomernya mau ganti juga or tetep yang lama?"
"Nomer lama aja, biar nggak repot lagi." Rahma menyahut pendek. Tampak dari belakang Mizyan menganggukkan kepala.
Rahma merasa bersyukur, KTP yang ia kira berada di dompet ternyata ada di laci meja riasnya. Ia baru ingat terakhir kali KTP nya dipinjam Ayah untuk membayar pajak mobil.
Masuk ke dalam Grapari, ia mendapatkan antrian no 75. Itu artinya harus menunggu panggilan 12 antrian lagi.
"Mas, 12 antrian lagi. Gimana?!" Rahma mendekati Mizyan yang sudah duduk di kursi tunggu bersisian dengan Dika yang anteng memegang robot Ultramen. "Nanti bosen lho nungguin."
__ADS_1
"Santai aja. Seharian ini aku free. Aku nggak akan bosen, kan ada temen Dika."
Setengah jam kemudian antrian no 75 pun dipanggil. Rahma menuju salah satu CS dan mengutarakan maksudnya.
"Dika, Om mau beli minum dulu. Mau di sini sama Bunda, mau ikut Om?" Mizyan berbisik pada bocah yang merebahkan kepala di pangkuannya sambil memainkan robot. Tak ada customer lain yang duduk di kursi jajarannya sehingga Dika leluasa selonjoran kaki.
"Itut Om." Dika segera duduk tegak seolah takut ditinggal.
Dengan menuntun Dika, Mizyan mendekati security yang berjaga di pintu. "Pak, istri saya yang lagi duduk di CS 2." Ia menunjuk wanita berjilbab coklat susu. "Nanti kalau beres, tolong bilangin saya nunggu di kantin luar ya." Pungkasnya sambil berlalu keluar pintu dengan senyum dikulum usai security mengangguk ramah.
Sim card baru sudah diaktifkan. Rahma mengerutkan kening kala mendapati kursi tempat Mizyan dan Dika menunggu kini kosong.
"Mbak, suaminya menunggu di kantin luar."
"Oh. Eh, ya makasih---" Rahma tergeragap kala petugas security menghampiri dan berucap dengan menunjuk ke arah luar.
Suaminya?!?
Ini siapa yang ngarang sih.
Rahma menggeleng sembari keluar dari ruangan ber AC yang menurutnya terlalu dingin.
"Nda---" Teriakan Dika memanggilnya membuat Rahma turut bergabung duduk di meja yang sama.
"Nda mo minum yang mana?" Dika memegang dua botol air mineral yang ada di meja. Dimana yang satu masih segel dan satunya lagi bekas minum.
"Bunda yang ini aja ya." Rahma memilih botol air mineral yang bersegel.
"Sekarang lanjut kemana, Bun?" Mizyan menatap Rahma yang selesai meneguk minumannya.
"SIM dulu deh. Ganti SIM yang hillang prosesnya lebih cepat. Aku kan udah dikasih surat kehilangan. Ke bank terakhir aja."
"Om, minum!" Dika menyerahkan botol bekas minum bundanya. Rahma menegur sikap anaknya itu tapi justru Mizyan menerima dengan senang hati.
"Jangan, Mas! Itu bekas aku. Sebentar aku belikan yang baru." Rahma bersiap beranjak. Namun Mizyan menggoyangkan tangannya. Melarang.
"Hm, kayak ada manis-manisnya." Mizyan berlagak cuek seperti iklan di tv. Ia menyimpan lagi botol yang tersisa air setengahnya.
"Atu juja mau---" Dika tak mau ketinggalan minum di botol yang sama. "Hm, manis-manis---" Ia kembali latah mengikuti gaya om buye nya barusan.
Mizyan tertawa lepas. Rahma menggeleng sambil menutup mukanya melihat kelakuan absurd anaknya itu.
Biasanya Dika tidak suka berlama-lama di tempat umum. Anak itu akan cepat bosen dan berujung rewel mengajak pulang. Tapi seharian ini pergi bersama Mizyan, sama sekali.anaknya itu tidak mengeluh. Malah selalu riang tak kenal lelah. Kala makan di gerai fast food Dika duduk anteng tidak turun berlari-larian. Berada di bank pun Rahma tak luput memperhatikan interaksi Dika dan Mizyan yang duduk di kursi tunggu. Entah apa yang dibisikkan Mizyan yang membuat Dika cekikikan.
Senja hari ini tak menampakkan semburat jingga. Berganti awan kelabu yang menandakan hujan akan segera turun. Rahma duduk di teras menemani Mizyan yang bersiap pulang menunggu taksi online datang menjemput.
"Aku terlalu banyak hutang budi sama kamu." Rahma mengerucutkan bibirnya sambil memainkan jemari lentiknya. Ia sudah memaksa Mizyan untuk menerima uang sebagai ganti biaya rumah sakit kala di Bogor. Namun Mizyan bersikeras menolaknya.
"Aku nggak mau minta bantuan kamu lagi."
Mizyan membalas tatapan jutek itu dengan senyum khasnya yang kalem namun berdampak menghanyutkan untuk wanita yang menatapnya itu.
"Oke deh. Kamu boleh bayar, bukan pakai uang. Tapi pertolongan.
__ADS_1
"Tolong apa?" Rahma menunggu kelanjutan ucapan Mizyan dengan rasa penasaran tingkat tinggi.
"Tolong deadline jawaban majukan jadi 1 bulan, please!!"