MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 102. Sehari Dua Misi


__ADS_3

Terminal Cicaheum


Bus-bus dari berbagai daerah memasuki kawasan terminal Cicaheum yang tidak pernah sepi oleh hiruk pikuk berbagai jenis kendaraan angkutan. Meski suasana sore dengan mendung yang bergelayut dan sesekali terdengar gemuruh petir, namun hujan tak kunjung turun. Sepertinya daerah lainlah yang saat ini sedang diguyur hujan. Seorang pemulung bertopi lusuh dengan rambut gondrong terurai, berjalan santai di area kedatangan bus AKAP (Antar Kota Antar Propinsi) mengais-ngais botol-botol bekas. Dimasukkannya botol bekas air mineral yang ditemukannya ke dalam karung yang disampirkan di punggung.


Berjarak 5 meter dari posisi seorang pemulung, ada seorang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) sedang duduk-duduk bersandar di pilar tembok ruang tunggu penumpang. Dengan kaki selonjoran dan pakaian compang camping serta kumal, ia bernyanyi-nyanyi lagu Rhoma Irama tanpa beban


Pertemuan yang kuimpikan


Kini jadi kenyataan


Pertemuan yang kudambakan


Ternyata bukan khayalan


Sakit karena perpisahan


Kini telah terobati


Kebahagiaan yang hilang


Kini kembali lagi


Tak jauh dari sana, Alex yang mengenakan hoodie hitam dan topi hitam serta menggendong ransel, berdiri menatap kedatangan bus-bus sembari membaca nama trayek yang tertera di kaca depan bus.


Pertemuan yang kuimpikan


Kini jadi kenyataan


Pertemuan yang kudambakan


Ternyata bukan khayalan


Alex menolehkan wajah pada sosok ODGJ yang masih bernyanyi diselingi ketawa-ketawa.


"Suaranya bagus, sayangnya gila." Alex tersenyum sinis. Memalingkan lagi wajah pada bus AKAP warna oren yang baru masuk ke dalam terminal dengan running text terbaca Surabaya-Bandung.


Alex menggosok-gosokkan tangan menghilangkan kegugupan yang tiba-tiba hadir. Ia tahu pasti bisnisnya ini haram, terlarang. Sehingga rasa takut kalau-kalau terpergok aparat hukum mulai menguasai tubuh. Ia berusaha mensugesti diri untuk bisa bersikap tenang dan normal. Menurut informasi, orang yang akan mengantar 'barang' ada di bus ini dengan ciri fisik yang sudah dihafalnya dalam kepala.


Sementara si ODGJ dengan alat komunikasi tersemat di telinga kanan, tersembunyi dibalik rambut gimbalnya mulai melakukan kontak.


"Jarcok 2 batang!" ujarnya.


"Dicopy kapal api---" sahutan dari jarak 5 meter jawaban si pemulung yang masih asyik mengitari wilayah lintasan pemberhentian bus AKAP.


Bersamaan dengan sosok wanita berbaju merah ketat plus rok mini, yang memperlihatkan lekuk tubuh yang indah dan kaki jenjang berbalut stocking. Melintas di depan si ODGJ. Ia pun mengangkat wajah, bersiul menatap lekat-lekat postur sempurna dari belakang itu dengan jakun naik turun. Ngiler.


"An nying bencong!" Spontan bibirnya berucap keras. Si ODGJ yang tak lain adalah Asep Cang Cut yang sedang menyamar. Begitu sosok wanita itu mengeluarkan kecrek dari tas dan bernyanyi dengan suara fals. Ia bersungut-sungut, merasa rugi matanya tercemari makhluk jadi-jadian.


Bus AKAP Surabaya-Bandung berhenti di lintasan. Menurunkan semua penumpang yang tidak banyak sekitar 16 orang. Mata tajam si pemulung yang tak lain adalah Asep Kawat, mengamati 5 orang yang siaga berpencar dengan pakaian preman. Mereka merupakan anggota Sat Resnarkoba bersiap menangkap target atas informasi yang didapat dari aduan masyarakat. Yang sebenarnya pemberi informasi adalah si pemulung tersebut.


"Jangan bergerak!"


Dalam waktu singkat, kepanikan dan jeritan penumpang di samping badan bus terdengar. Saat tiga orang berpakaian preman menjatuhkan tubuh Alex dan seorang pria berjaket abu yang terindikasi memasukkan bungkusan ke dalam ransel. Saat hampir terjatuh, Alex dan temannya berhasil melakukan perlawanan dan melarikan diri ke arah yang berbeda.


"Bugh." Pukulan besi alat pengais botol dilayangkan si pemulung yang bersiaga menghadang. Membuat si jaket abu tersungkur tak berdaya untuk bangun. Dengan mudah 2 orang petugas meringkus. Si pemulung pun dengan langkah tergesa melenggang pergi melipir ke sela-sela kerumunan orang yang menonton.


Dengan gaya berjingkrak-jingkrak dan tertawa si ODGJ sengaja menubrukkan badan pada Alex yang tampak berlari kencang ke arahnya.

__ADS_1


Brukk


Benturan tubuh membuat keduanya jatuh terpental ke aspal. Sehingga 3 orang petugas berbaju preman yang mengejar bisa meringkus dengan mengikat tangan Alex ke belakang.


"Hi hi ha ha hi hi---" Si ODGJ tertawa-tawa dengan tubuh telungkup di aspal. Ia sama sekali cuek melihat sebagian orang memperhatikannya dan menilainya sebagai orang gila yang sudah membantu menangkap tersangka.


Riuh ramai di dalam terminal, menarik perhatian orang-orang yang tak melewatkan aksi penangkapan itu dengan merekam via kamera ponsel.


Si pemulung memilih menjauh pergi ke luar terminal, tersampir karung di punggungnya. Tak jauh di belakangnya, si ODGJ berjalan santai sembari melanjutkan bernyanyi.


Rindu yang selama ini sudah menggunung


Mencair diterpa cinta dalam senandung


Cinta yang selama ini masih terpendam


Tercurah sudah penuh dengan kemesraan


Tak ingin lagi terpisah


Cukup sekali berpisah


Tak ingin lagi merana


Cukup sekali merana


Ha aaaaaa.....


"Kayaknya nu gelo anyar (orang gila baru). Baru liat muncul di sini."


"Atau ditinggal istri yang kabur sama selingkuhannya. Jadinya gila. Banyak kasus gitu teh."


Bisik-bisik orang di warung kopi saat si ODGJ sudah melintas jauh.


****


"Saya mendukung keputusan istri." Mizyan menimpali tanpa melepas tautan jemari tangannya. "Bu Indah gak perlu akting sakit dan harus operasi untuk dapat uang 100 juta. Saya orang yang tidak suka dibohongi. Saya tahu pasti kegiatan sehari-hari Anda. Hati-hati ucapan bisa menjadi do'a!" Dengan sikap tenang dan lugas, ia menatap tajam Ibu Indah yang tampak pias melihat foto-foto yang kini dijajarkan di meja.


Uma yang duduk di samping Ayah Badru, hanya bisa beristigfar dalam hati yang sedari tadi mendengar semua ucapan mantan besannya itu. Kok ada seorang ibu yang perhitungan dalam membesarkan anaknya.


"Saya beneran sakit. Orang sakit bukan berarti harus bedrest. Butuh refreshing agar gak stress." Indah membela diri. Menyatukan semua foto menjadi satu tumpukan, menangkupnya. Tidak ingin melihatnya lagi.


"It's oke Bu Indah. Gak masalah kalau Ibu tetap mengaku sakit.Tadi sudah saya bilang, ucapan adalah do'a. Sekarang sebutkan jumlah uang yang Ibu minta. Kita akan siapkan!" Mizyan tidak ambil pusing dengan sanggahan wanita berambut pendek yang dicat warna coklat terang itu.


"Maaf, semuanya. Saya minta izin untuk berbicara berdua dulu dengan istri di luar." Theo menginterupsi. Menunjuk dengan jempolnya ke arah pintu keluar.


"Silakan, Pak." Ayah Badru mewakili menjawab. Semuanya menatap dua orang tamu yang beranjak berpindah ke kursi yang ada di teras.


Mizyan meraih ponsel yang disimpan di belakang punggungnya. Saat mode vribate terasa getarannya menyentuh punggung. Menatap nama yang tampil di layar dengan kedua alis bertaut. Kang Hendra calling.


"Siapa, Mas?" Rahma penasaran melihat raut muka sang suami yang tampak serius itu.


"Bentar, ya!" Mengabaikan pertanyaan Rahma. Dengan tergesa beranjak ke bagian dalam rumah menuju ruang makan.


"Assalamu'alaikum, Kang." Mizyan menarik satu kursi, duduk sendiri menghadap meja makan yang tersaji aneka buah dalam satu wadah.


Terdengar jawaban salam dari sebrang. "Mas, misi duo Asep sukses. Tunggu aja beritanya di tv."

__ADS_1


"Alhamdulillah--" Senyuman lebar menghiasi wajah Mizyan. "Makasih banyak, Kang." Sambungan komunikasi pun terputus usai Kang Hendra menjawab ucapan terima kasihnya.


Mengambil satu buah jeruk, mengupasnya. Tangan kiri Mizyan berselancar mencari satu nama yang harus dihubungi agar datang di akhir sidang nanti. Pengacara.


Ia kembali bergabung usai menghabiskan satu jeruk santang yang kesegarannya membuat pikiran dan mata segar lagi. Ditambah good news yang diterimanya barusan. Bersamaan dengan Indah dan Theo yang masuk menuju tempat duduk semula.


"Rahma, saya ingin meralat dulu ucapanmu tadi." Indah mulai membuka suara. Tatapannya khusus mengarah pada Rahma yang duduk rapat dengan Mizyan. "Saya tidak minta ganti uang jasa membesarkan Malik, bukan itu maksudnya. Kamu juga pasti tahu, pengorbanan seorang ibu tidak bisa dinilai dengan uang. Saya hanya minta kamu bijaksana pada saya. Saya ini kan ibu kandung Malik. Wajar dong kalau saya juga mendapatkan hak juga balas budi anak pada orangtua." Pungkasnya dengan penyampaian yang dibuat sesendu mungkin.


"Apa bedanya?!" suara hati Rahma. Namun ia tidak mau mendebat ucapan sang mantan mertua. Bahkan menggeleng pada Nico yang bersiap membuka mulut untuk menjawab perkataan Tante Indah.


"Baik, Ma. Aku akan kasih sesuai alasan Mama itu. Berapa jumlahnya?" Tantang Rahma. Berharap urusan cepat kelar.


"Saya minta uang 500 juta, dan bagian sepertiga dari kebun sengon. Bisa kan?" Tegas Indah dengan wajah penuh kepuasan.


"Gak bisa!" Nico menggeleng.


"Nico kamu bisa gak sih jangan terlalu ikut campur!" Kali ini Indah meradang menatap Nico dengan kesal.


"Untuk urusan keadilan, aku harus ikut campur, Tante." Nico menyanggah cepat.


"Kebun sengon itu warisan keluarga almarhum Om Juliar untuk dibagi-bagikan dengan 2 saudaranya. Dan dibeli sama Om semuanya karena 2 saudaranya butuh uang. Itu jual belinya setelah Tante dan Om bercerai. Jadi bukan harta gono gini, TANTE." Nico sudah merasa geram menahan kesabaran dengan sifat licik orangtua itu.


"Soal ini Rahma gak tahu apa-apa. Aku saksi hidup Malik, Tante. Tolong sadar.... jangan serakah dengan harta. Malik punya keturunan. Jangan mau makan harta anak yatim. Hukuman dari Allah sangatlah berat." Dengan nafas naik turun menahan emosi yang mendoring ingin meledak. Lagi-lagi Om Badru menenangkan Nico dengan mengusap-ngusap punggungnya.


Rahma memejamkan mata menahan desakan air mata yang ingin tumpah. Sebab sudah berpuluh kali nama almarhum Malik diucapkan dalam perdebatan. Sosok pria soleh yang sudah ia simpan nama dan kenangan manisnya di sudut hati yang paling dalam. Tangan kekar yang kini merangkum bahunya, mengusap-ngusapnya, membuat ia menghela nafas panjang untuk kembali tegar.


"Sabar, sayang." Mizyan berbisik menenangkan.


Indah dan Theo sudah mati kutu. Indah menatap Nico dengan sengit. Diplomasi yang sudah dirancangnya berantakan.


"Ini penawaran terakhir untuk Bu Indah dan Pak Theo." Mizyan mengambil alih menguasai sidang keluarga. Sudah jelas kekalahan di wajah-wajah sang tamu.


"Uang 750 juta untuk pertama dan terkahir. Sebagai rasa kepedulian Rahma kepada Anda sebagai neneknya Dika. Atau tidak sama sekali. Karena Anda sudah memakan lebih dulu uang 8 miliyar yang harusnya investasi properti itu menjadi hak Dika." Tegas Mizyan sembari mengacungkan ponselnya. "Kalau deal, saya transfer sekarang juga!"


"Oke. Deal." Tanpa berpikir panjang lagi, Indah menyanggupi.


"Tunggu pengacara saya datang nanti jam 7. Saya ingin semua poin persetujuan tertulis hitam di atas putih." Pungkas Mizyan dengan helaan nafas lega. Dua misi akan beres hari ini.


Adzan magrib berkumandang. Uma menahan tamunya untuk menunggu para pria break sholat Magrib di masjid. Agar nanti sama-sama makan malam. Namun Indah menolak, memilih pergi makan diluar dan akan kembali pukul 7 nanti.


"Siap-siap shock tuan dan nyonya serakah." Mizyan tersenyum samar sembari melangkah bersama Nico dan Ayah keluar rumah menuju masjid komplek.


"Mau pada ke masjid ya?!" Ceu Imas dengan senyum-senyum menyambut ketiga pria yang baru keluar dari pekarangan rumah.


"Ia, Ceu--" Dijawab Mizyan dengan mengulas senyum manis.


" Duh gusti...eta senyumna matak diabetes." Batin Ceu Imas meronta. "Belum pada wudhu kan mas bule dan mas Nico? Salaman dulu atuh...sesama tetangga harus saling bersalaman. Biar terlihat rukunnya." Sembari menyodorkan kedua tangan.


Disambut jabat tangan Mizyan dan Nico dengan senyum dikulum. Ayah Badru hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan ceu Imas.


"Duh gusti....rejeki...rejeki...." Ceu Imas menangkup kedua tangan di dada. Sampai menutup pintu pagar pun dengan kakinya.


********


Mau double up gak nih????


Kasih doping kopi dulu yang banyak dong papa Buye nya. Biar bisa lanjut....😉😉😉

__ADS_1


__ADS_2