MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 43. Medan, at The Moment (2)


__ADS_3

Mizyan dan Kemal baru kembali ke hotel selepas magrib usai meninjau lokasi tanah yang akan dibangun home stay. Padahal Kemal sudah menolak untuk menundanya esok hari sebab keadaan wajah Mizyan yang bonyok dan tentunya terasa sakit. Keduanya memutuskan untuk makan malam dengan room service menu, merasa malas untuk keluar kamar hotel lagi.


Mizyan mengambil ponsel yang tergeletak di ranjang yang memang sengaja disimpan kala pergi ke klinik tadi. Miscall dari beberapa nama terpampang di layar. Ada nama Satya, Mami, Pak Badru, dan yang terakhir Bunda Dika yang membuatnya menyunggingkan senyum lebar.


"Aduh---" Ia meringis. Saking senangnya menjadi lupa jika sudut bibirnya pecah.


"Kenapa, Le?!" Kemal yang duduk di sofa mendongak dari fokusnya menatap laptop, mendengar suara Mizyan mengaduh keras.


"Nothing." Ia menjawab singkat dengan pandangan tetap ke layar ponselnya sebab kini tengah membuka chat dari Rahma. Namun ternyata tanpa isi alias sudah dihapus pengirimnya. Ia beranjak dari ranjang dan memilih bergabung dengan Kemal sambil menunggu makanan datang.


"Maaf baru buka hp."


"Baru pulang dari klinik. Abis accident kecil."


Tak disangka pesannya langsung di read. Membuat hatinya mengembang.


"Kecelakaan apa?"


"Kondisimu gimana?"


Mizyan spontan tersenyum lebar merasa senang mendapat perhatian bundanya Dika. "Auwww---" Lagi-lagi ia lupa jika sudut bibirnya masih perih dan kaku. Membuatnya mengaduh lebih keras sambil memegang mulutnya.


Kemal yang tengah memangku laptop, terkejut dibuatnya. Spontan mengeplak paha Mizyan yang duduk didekatnya. "Bikin kaget aja kau. Kenapa sih?"


"Lagi chat sama doi." Mizyan berkata jujur. Kemudian ia memasang telunjuknya di bibir, meminta Kemal tak lagi berbicara. Ia pun melanjutkan membalas pesan.


"Biasalah, cowok."


"Maaf, aku belum bisa vidcall hari ini."


"Susah bicaranya coz bibir terluka."


"Please kasih pengertian sama Dika ya."


"Btw, masih di Aceh?"


Mizyan menyimpan ponselnya di meja mendengar bell berbunyi. Ternyata ada petugas yang mengantarkan pesanan makanan.


"Le, udah berobat belum tuh burung?" Kemal membuka kacamatanya dan menutupkan laptopnya sambil meregangkan kedua tangan. Makanan yang ada di meja menggugah seleranya sehingga memutuskan untuk menyudahi dulu pekerjaannya.


"Sudah, bang. Tapi belum ada reaksi." Mizyan meraih ponselnya setelah mendengar bunyi notif pesan.


Spontan ia berdiri kaget usai membaca pesan balasan. "So surprise." Pekiknya riang sambil mengepalkan tangan ke udara.


"Apalagi sih." Kemal mendelik dengan kelakuan Mizyan yang dari tadi meletup-letup. "Jatuh cinta kayak ABG aja. Ingat umur kau!" Pungkas Kemal.


"Doi ada di Medan juga ternyata. Baru nyampe tadi siang. Bukankah ini pertanda jodoh, Bang?!" Mizyan mengabaikan gerutuan Kemal. Malah meminta pendapat untuk memperkuat keyakinannya.


"Share loc, please!"


Ia melanjutkan mengirim pesan. Tak mempedulikan Kemal yang tak menyahut sebab tengah memulai makan.


"Buat apa?"


"Mastiin kamu gak bohong."


"Ya Allah, gak percayaan nih orang 😔."

__ADS_1


Sebuah map terkirim. Dan Mizyan mengamati lokasi rumah yang tertera di peta. Sebuah senyum tipis melengkung di bibir seksinya.


"Bang, besok jadwal meeting di kantor kan Bang?"


"Iya. Kenapa?" Kemal menatap heran.


"Nothing." Mizya mengulum senyum. Suatu kebetulan yang menyenangkan hati sebab rumah yang ditinggali Rahma dan kantor cabangnya Kemal berada di jalan yang sama.


"Syafakallah."


Mizyan membelalakkan mata. Ternyata masih ada kiriman pesan dari sebrang sana. Ia pun mengetik dengan cepat balasannya.


"Thanks, Bun."


"See you later."


"Makan!" Kemal melotot dengan mulut penuh. "Malah senyum-senyum kayak orgil."


"Keep calm!" Mizyan mengangkat tangan kanannya. "Hargai anak muda yang lagi kasmaran." Pungkasnya dengan senyum menyebalkan.


Keheningan tercipta sesaat selama makan berlangsung. Cara makan yang cepat dari kedua pria itu bisa menandakan karakternya. Katanya mereka yang suka cepat menghabiskan makanannya sebagai tipe orang yang suka bekerja keras dan tidak sabaran. Selain itu juga memiliki karakter yang ambisius dan goal-oriented pada tujuan.


"Bang, tolong jaga aibku. Hanya abang aja yang tahu." Mizyan menatap serius ke arah Kemal yang mulai menyalakan rokok.


"Kau ini kayak ngomong sama siapa aja." Kemal mengibaskan tangannya pertanda kurang suka dengan ucapan Mizyan. "Aku yang harus ucapin makasih sama kau, Le. Selama ini aibku kau tutup rapat sampai aku bisa tobat."


****


Rahma menyimpan ponselnya. Chat terakhir dari Mizyan membuat kedua alisnya bertaut. Merasa ambigu.


"See you later."


Ia menggendikkan bahu. Memilih menyimpan ponselnya di meja rias lalu keluar kamar untuk bergabung dengan Uma dan tantenya di ruang keluarga. Dika tengah diajak jalan-jalan bersama Mira dan Alfat. Dari siang rewel terus sebab keinginan berbicara dengan om buye nya belum juga kesampaian. Dan menjadi lega perasaan Rahma, kala Dika pulang dalam keadaan sudah tertidur. Aman, tak akan mendengar rengekan lagi.


Pagi hari, Rahma mengajak Mira serta Eva jogging ke taman kota untuk menikmati pagi yang cerah sekalian kulineran buat sarapan pagi. Dika tidak mau ikut, memilih mengikuti kakeknya ke pasar membeli ikan segar. Hanya tersisa Uma dan adiknya setelah Alfat sudah siap dengan seragam SMA nya hendak berangkat sekolah.


"Rahma sekarang gimana, kak? Udah siap nikah lagi?" Hamidah membantu Uma mengiris bawang merah untuk digoreng sebagai taburan soto medan yang tengah dibuat.


"Entahlah. Dia masih betah sendiri malahan bilang tak ingin nikah lagi." Uma melakukan tes rasa. Setelah pas langsung mematikan kompor. "Punya Dika, ayah dan uma udah bahagia. Bilangnya gitu. Padahal udah ada lelaki yang serius meminta sama si ayah ingin melamar Rahma."


"Oh ya, orang mana, kak?" Hamidah tergelitik ingin tahu lebih jauh.


"Orang Bandung. Tapi aku bilang harus sabar untuk bisa meluluhkan prinsipnya Rahma."


Perbincangan keduanya terhenti kala mendengar suara ucap salam dari arah depan. Hamidah bergegas pergi untuk melihatnya. Selang 5 menit kemudian kembali ke dapur dengan wajah penuh rasa penasaran.


"Kak, ada tamu yang nyari Rahma."


"Siapa?" Uma yang tengah mencuci tangan menoleh dengan raut heran.


"Laki-laki ganteng tapi wajahnya lebam-lebam dan pake perban."


Tanpa kata, Uma segera beranjak ke depan diikuti adiknya itu.


"Nak Mizyan?!" Uma membelalakkan mata diiringi senyum bahagia. Orang yang tengah dibicarakannya kini hadir tanpa diduga.


"Uma, apa kabar?" Mizyan mencium tangan Uma dengan takzim.

__ADS_1


Belum juga Uma menjawab, terdengar panggilan nyaring dari arah pintu pagar besi yang terbuka.


"Om---"


"Om Buye----"


Uma dan Mizyan serempak menoleh ke asal suara. Dimana Dika yang baru turun dari mobil berlari ke arahnya. Tampak pula Pak Badru menyusul masuk sambil menenteng kresek besar.


"Hm. Tau aja ya Dika siapa yang datang." Uma geleng-geleng kepala menyaksikan Dika yang tergelak riang kala Mizyan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi.


****


Rahma mencengkram setir mobil dengan kuat. Rasa gugup dan tegang mulai melanda tubuhnya. Ia sudah berada di parkiran gedung perkantoran sesuai alamat yang disebutkan Uma. Tak jauh, hanya berjarak 2 km dari rumah. Antara mimpi atau bukan, ia masih tak percaya begitu pulang ke rumah mendapatkan kabar jika Mizyan baru saja berkunjung ke rumah. Yang paling heboh bercerita tentu saja Dika, sambil memamerkan sepatu roda.


"Nda, ini hadiah dali om buye."


Laporan Dika yang penuh semangat membuatnya baru percaya jika Mizyan benar sudah datang. Inikah maksudnya Mizyan meminta shareloc? batinnya.


Rahma menarik nafas panjang lalu menghembuskan perlahan. Sebenarnya ia enggan menemui Mizyan. Tapi Uma memaksanya untuk memberikan sop ikan gabus agar luka dan jahitan di wajah Mizyan cepat kering dan sembuh, katanya. Berarti benar dia kecelakaan.


Ia mendekatkan ponsel ke telinganya, menunggu panggilannya tersambung.


Dari lantai 8 gedung perkantoran, Mizyan berdiri tegak dengan wajah semringah usai menerima telepon dari seseorang. Meeting bersama tim yang akan mengurus pembangunan homestay baru saja usai kala ponselnya berdering.


"Bang, ijin dulu mau jemput teman dibawah." Tanpa menunggu jawaban, ia berlari keluar ruangan menuju lift. Ia sudah berpesan pada Rahma untuk menunggunya sebentar.


Mizyan urung memasuki lift. Ia berbelok dahulu ke toilet untuk memastikan penampilannya. Pakaian dan rambut dirapihkannya. Perfect. Meski lebam biru dan perban penutup jahitan masih tampak di wajah, ia tetap percaya diri.


Rahma duduk di kursi tunggu lobi kantor sesuai arahan Mizyan. Sebuah goodie bag tersanding di sampingnya berisi 3 susun box makanan yang dikemas oleh Uma sehingga ia tak tahu isinya apa saja selain sop ikan gabus. Beberapa kali ia menolehkan kepala dengan gelisah sambil menjalin jemari yang mulai berkeringat dingin.


Coba kalau Dika ikut, mungkin tak akan setegang ini.


Ia menyayangkan Dika yang memilih bermain sepatu roda ditemani kakek dan neneknya. Padahal sudah dikatakan akan menemui om buye tapi Dika tak bergeming lebih memilih meneliti sepatu roda yang siap dipakainya.


"Atu udah tetemu om buye. Nda beyum." Jawaban yang membuatnya mengatupkan bibir.


"Hai, Rahma."


"Sudah lama nunggu?"


"Ke atas yuk! Biar lebih enak ngobrolnya."


Rahma entah mendengarkan atau tidak apa yang diucapkan pria yang berdiri di depan tempat duduknya. Sebab tatapannya terkunci pada wajah yang berhias perban sepanjang pelipis kanan serta lebam pada tulang pipi kiri dan sudut mata, serta garis robekan di sudut bibir yang telah mengering.


Genggaman tangan yang hangat yang menuntunnya berdiri, barulah mengembalikan kesadarannya.


"Terpesonanya nanti dilanjut di atas aja. Di sini jadi pusat perhatian."


Bisikan di telinga kirinya membuat tangan Rahma reflek memukul dada pria yang tak lain adalah Mizyan. Membuatnya terkaget sendiri diiringi pipi yang kini memerah seperti tomat. Ia sampai menutup muka melihat Mizyan terus terkekeh mentertawakan kelakuannya.


****


Hayo, sejak kapan kamu tahu jika bahasa gaul 'doi' adalah sebuah kepanjangan? 😉


Istilah ini sebenarnya berasal dari bahasa Inggris DOI atau digital object identifier yang berarti alat pengenal permanen suatu dokumen elektronik. Nah, karena kegunaannya berbeda, istilah doi dalam bahasa Indonesia diberi kepanjangan unik, yaitu dia orang istimewa.


Dukung terus yuk story om buye agar konstan berada di 10 besar. VOTE VOTE VOTE !

__ADS_1


__ADS_2