MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 160. Bonchap 6


__ADS_3

Empat bulan kemudian.


Mizyan sudah dua kali mengundur waktu pelaksanaan aqiqah anak yang ketiga. Awalnya saat usia baby seminggu, tidak terealisasi. Mengalah, ingin mengadaptasi dengan jadwal kesiapan berkumpul lengkap semua teman-teman terdekat. Dan hari ini pun tiba. Momen aqiqah sang baby terlaksana di usia 40 hari plus reunion.


Mahesa Aqil Abdillah


Putra berwajah bule terlahir dengan persalinan normal 40 hari yang lalu. Bayi yang selalu menangis kencang jika telat mendapatkan asupan nutrisinya. Membuat sang bunda kewalahan dengan aksi menyusu baby Aqil yang rakus.


Seperti biasa ustad Ahmad, sang guru teladan, memimpin acara dengan diisi tausyiah dan ditutup dengan do'a. Acara aqiqah sekaligus cukur rambut usai dilaksanakan. Satu persatu tamu undangan membubarkan diri usai prasmanan, dengan menenteng goodie bag berisi hamper aqiqah.


"Mas, aku mau pamit sekarang. Mau lanjut silaturahmi ke pesantren." Rangga didampingi Olla pamit kepada Mizyan bersamaan dengan sang ustad yang akan pulang. Anak gadis bermata bulat berusia 2 tahun, tak mau turun dari gendongan sang ayah. Mumpung berada di Bandung, akan berkunjung ke tempat Uwa nya Olla itu.


"Nanti ajalah sore. Kita ngumpul-ngumpul dulu bareng yang lain." Mizyan menunjuk dengan dagu sekumpulan hot papa yang sedang berbincang sambil tertawa-tawa.


"Kalau sore teh Sarah sama teh Ratna keburu pulang, A Iyan. Aku juga sudah pamit sama mbak Rahma barusan." Olla menimpali. Kedua sepupu iparnya itu sudah menunggu kedatangannya di pesantren.


Mizyan mengangguk mengerti. Meraih dulu anaknya Rangga yang imut mengenakan jilbab biru. Si kecil menurut. Mau saja digendong sama Om Mizyan yang pandai merayu.


"Ini buat Cila dari kakak Tari---" Dengan riang Mentari memberikan boneka kelinci yang didekapnya. Diterima si kecil Asyila dengan mata berbinar. Dengan kata yang masih cadel mengucapkan terima kasih.


Rangga dan Olla sudah pergi. Mizyan menuntun Mentari yang ikut mengantar Cila pulang, masuk ke dalam dan bergabung lagi dengan Abangnya serta anak-anak yang lain.


Mizyan menghampiri kawan-kawannya di teras belakang yang menghadap kolam renang. Tembus pandang dari ruang keluarga sebab tersekat oleh deretan kaca bening yang tinggi. Membuat sirkulasi udara yang sehat serta pencahayaan ke dalam rumah terang alami.


"Si Willi yang paling merepotkan. Masa tiap berantem sama Celine, mesti gue yang turun tangan jadi penengah. Sebal." Celetuk Ricky dengan wajah kesal menatap William yang cengengesan.


Mizyan bergabung duduk lesehan. Di tengah-tengah ada aneka suguhan cemilan dan minuman kopi panas tersaji. Menjadi pendengar obrolan yang sudah berjalan dari tadi.


"Eh, Ky. Depan banyak orang bilang sebal. Kalo gak dimintai tolong entar nanyanya ; 'Wil, kapan berantem lagi? Kangen nyamar jadi selingkuhan." ejek Willi sembari melemparkan sebungkus kuaci. Sigap ditangkap Ricky.


"Oh oke, gue faham sekarang. Sebenarnya dia tuh udah ketagihan peran jadi Neng Kiki." Sahut Rendi santai. Gelas kopi yang sudah dipegangnya urung diseruput demi membully dulu sahabat yang paling sengklek itu. Yang disambut ledakan tawa semua orang. Lain halnya Ricky yang menepuk jidat sampai terjengkang menimpa bantal panjang. Teringat untuk pertama kalinya menjalani peran itu dengan memakai gamis Safa. Dan berakhir dengan hukuman tidur di sofa dan puasa seminggu.


"Alhamdulillah...akhirnya bisa juga ya ngumpulin orang-orang sibuk." Mizyan mengalihkan topik pembicaraan usai puas tertawa-tawa. Raut kepuasan tersirat di wajahnya. Sebuah usaha yang tidak mengkhianati hasil. Berkumpul tidak untuk gibahin orang lain. Melupakan sejenak topik dunia bisnis yang tidak akan ada habisnya malah umur yang akan habis. Mengisi kebersamaan dengan saling becanda dan support system dalam kebaikan.


"Momen ini bisa terlaksana karena semata-mata Allah yang izinkan." Arya bersuara menaggapi. Bapak 3 orang anak itu makin bertambah usia makin bijak dan alim dalam ucapan dan perbuatan.


"Setuju." Satya mengacungkan jempol. "Gue aja yang tetanggaan sama Mizyan, gak ketemu tiap hari. Jadi pas ada acara gini antusias banget pengen ikutan," sambungnya. Jauh-jauh hari ia sudah mengosongkan agenda hari minggu ini yang rencana awalnya akan liburan keluarga ke Bali.


Suara keras tawa anak-anak di ruang keluarga dengan tersekat kaca itu terdengar. Menarik perhatian sebagian pria dewasa yang sedang berkumpul dengan santai itu.


"Lihat tuh si ganteng jadi idola ciwi-ciwi." Dengan dagunya, Nico menunjuk ke arah kumpulan anak-anak. Dimana Athaya dikerubuti bocah-bocah yang nampak senang dan antusias. Entah sedang melakukan permainan apa mereka.


"Gue berharap diantara kita ada yang besanan. Seru kali ya!" Lanjut Nico diiringi kekehan.


"Wah boleh juga tuh, bro." Arya mengacungkan kedua jempol. Moga Allah mendengar dan kelak mengabuฤบkan ucapan kita saat ini." Dengan sungguh-sungguh mengaminkan ucapannya sendiri.


"Anak gue cewek semua." Celetuk Ricky yang kini memiliki tiga orang putri. "Nanti biar tebar pesona sama anakmu, Ren." Mengedipkan mata penuh arti kepada sang dokter yang memiliki dua orang putra itu.


Rendi tertawa. Tahu arti kedipan mata Ricky. Karena kalau anaknya ketemu anaknya Ricky selalu saja sepeti Tom and Jerry. Jarang akur. "Moga aja kalau dah gede beneran akur ya, bro."


"Mumpung ngumpul nih ya. Aku mau ngasih usulan." Giliran Hendra angkat bicara disela candaan yang terus mengalir tanpa henti.


Semua atensi tertuju pada Kang Hendra. Dengan rambut gondrong yang dikuncir menjadi ciri khas sang secret service agent.


"Gimana kalau kita agendakan pengajian keliling. Misal, pertama di rumah kang Arya. Selanjutnya di rumah siapa. Yang menjadi tuan rumah Entah itu sebulan sekali atau 2 bulan sekali, kita rundingkan. Insyaa Allah, ilmu dapat, silaturahim kita dan juga anak istri kita makin kuat."


Mizyan menjentikkan jari. "Setuju banget, Kang. Thank you idenya. Yang lain gimana?"


Semuanya menyepakati. Termasuk Wiili meski satu-satunya yang non muslim, selalu kompak mensupport kegiatan kawan-kawannya itu.


****


Athaya. Remaja kelas 8, satu-satunya yang paling tua diantara sekumpulan anak-anak yang sedang mendengarkan dongengnya. Pesona remaja tampan yang mampu membuat anak-anak diam dan fokus mendengarkan narasi yang dibawanya. Bahkan Mentari yang duduk di depan Lala, juga Kei yang duduk di depan Manda, mulutnya mangap menatap sang narator yang pandai berimprovisasi.

__ADS_1


"Pergilah dari sini, gajah! Ini daerah tempat kami tinggal," kata salah satu semut.


Athaya menceritakan kesombongan kawanan gajah yang memasuki hutan untuk mencari makan. Kehadiran gajah ini mengganggu kawanan semut yang tinggal di sana. Banyak rumah semut hancur karena diinjak gajah yang mencari makan.


"Wuahhh mati dong gajahnya keinjek semut," komentar Mentari dengan ekspresi wajah kaget.


"Iya bener---" Diamini Kei dengan anggukkan yakin.


Membuat Lala, Manda, Dika serta Memey tertawa lepas. Mentari sepertinya tidak sadar akan kesalahannya berucap. Juga si bule Keisha yang ikut-ikutan saja.


"Adek, kebalik ih." Dika menggelengkan kepala.


"Apanya?!" Mentari memperhatikan baju yang dikenakannya. Mengira yang dimaksud abangnya adalah salah memakai baju.


"Tadi kamu bilangnya gajah mati keinjek semut. Harusnya semut dong yang mati keinjek gajah. Kan semut kecil." Rezvan, anaknya dokter Rendi mengoreksi.


Mentari dan Kei saling tatap, membulatkan mata. "Hi hi hi-----" Keduanya terkikik bersamaan. Baru sadar akan kesalahan ucapannya.


"Kalian gemesin sih. Aku bungkus ya bawa pulang!" Lala, yang kini duduk di bangku SD kelas 4 bersama soulmate nya Manda, menjawil pipi Mentari, beralih menjawil pipi Kei, dengan gemas.


"Kak Taya.....lanjut!" Ujar si kembar anaknya Ricky berteriak bersamaan.


Athaya mengangguk.


"Mendengar ucapan itu, gajah hanya tertawa. Ia tak peduli dan menganggap semut adalah binatang kecil yang tidak berbahaya."


"Kawanan semut merasa kesal dan berencana untuk mengusir gajah-gajah itu dari hutan tempat mereka tinggal. Keesokan harinya, semut-semut mencoba bicara pada kawanan gajah dan meminta mereka meninggalkan hutan."


"Gajah menolak untuk meninggalkan hutan dan hal ini membuat kawanan semut semakin marah. Semut-semut itu pun menyerang kawasan gajah dengan menggigit kulit dan masuk ke dalam telinga hingga gajah-gajah terjatuh."


"Kawanan gajah akhirnya menyerah dan meninggalkan hutan. Mereka sadar bahwa semut-semut itu tidak bisa diremehkan hanya karena memiliki badan kecil."


Athaya menutup cerita dengan memberi pesan moral bahwa kita tidak boleh meremehkan orang lain. Juga tidak boleh merasa kuat karena memiliki tubuh besar.


"Kak Taya, lagi dongengnya!" Kay yang duduk di samping Dika mengangkat tangannya.


"Hmm udah dulu ya cape. Ganti permainan aja!" Usul Athaya itu disambut antusias para bocah.


Manda yang baru saja berlari pergi, datang lagi membawa segelas minuman es jeruk.


"Ini buat Kak Taya. Pasti haus deh." Manda menyerahkannya dengan wajah sumringah.


"Makasih, Manda." Athaya menerima dengan senyuman manis.


"Ecieee....Manda suka sama Kak Taya. Ahiww---" Dika menggoda sang sepupu sekaligus sebagai teman mainnya di komplek.


"Apaan sih, Dika." Manda tersipu malu sebab para bocah jadi ikut-ikutan menyorakinya. "Ish awas ya!" sambungnya. Merasa kesal gara-gara sepupunya itu ia menjadi bahan olok-olokkan


"Kabuuurrrr---" Dika segera menghindar dan berlari sebab Manda akan menyerangnya dengan cubitan.


****


Di ruang tengah merupakan kumpulan para istri. Baby Aqil yang baru saja menyusu kini beralih ke dalam gendongan Andina. Bayi berhidung mancung itu belum mau tidur. Anteng mengerjap-ngerjapkan mata. Sepertinya betah mendengarkan suara riuh seisi ruangan.


"Aku sama Mas Arya berniat mau ngasih adek buat Al. Tapi sampe sekarang belum dikasih." Curhat Andina sembari menimang-nimang baby Aqil.


"Sampe sekarang gak KB dong, teh?" Rahma menyahut.


Andina menggelengkan kepala. "Tapi kita gak ngoyo sih. Dikasih lagi Alhamdulillah. Nggak dikasih juga Alhamdulillah tetap disyukuri udah punya amanah tiga orang," ujarnya bijak.


"Rade nih yang irit. Belum mau nambah, De?" Giliran Safa mencolek lengan Rade yang sedang anteng membalas chat.


Rade memyimpan ponselnya. Anaknya Zwastina sudah seusia Dika. Dan juga teman main bersama Manda. "Aku baru lepas KB. Rencana tahun ini mau program anak kedua," ujarnya diiringi meminta do'a agar dilancarkan promilnya.

__ADS_1


Ada Suci, Celine, Marisa, serta Uci, yang menjadi bagian dari kumpulan para macan (mama cantik). Obrolan santai mengalir ringan. Sharing pengalaman berbagai tema. Dari membahas skin care serta klinik kecantikan. Menceritakan resahnya jika anak sakit. Sampai berbagi trik mengatasi suami pas lagi ngambek. Ini yang paling menciptakan tawa geli sebab masing-masing mempunyai trik berbeda.


****


Seminggu berlalu dari momen acara aqiqah.


Mentari pulang sekolah dengan wajah cemberut. Mbak yang menemaninya nampak kewalahan saat Mentari turun dari mobil langsung berlari memasuki rumah. Segera mengejarnya sembari menenteng tas sekolah.


"Bunda---"


"Bundaaa---"


Mentari berteriak kencang. Wajahnya sudah memerah menahan tangis yang mendorong ingin segera tumpah.


"Sstt, jangan teriak sayang! Adek lagi bobo." Rahma yang berada di depan laptopnya, menempelkan telunjuk ke bibir. Beralih menghampiri Mentari yang kini mulai terisak.


"Kakak Tari kenapa? Pulang sekolah gak salam dulu, malah nangis." Rahma membawa Mentari duduk di pangkuannya. Mengusap kepala yang masih berbalut jilban oren seragam sekolah. Malah membuat anak gadisnya itu menangis kencang.


"Maaf, bu. Tadi di sekolah Neng Mentari diledek---" Mbak pengasuh melapor.


Rahma mengerutkan kening. "Ceritain semuanya, mbak!"


.


.


.


Malam menjelang tidur. Dika dan Mentari sudah lelap di kamar masing-masing. Mizyan seperti biasa selalu mengecek ke kamar sang anak. Memastikan keamanan jendela, lampu, dan membenahi selimut. Tak tertinggal ciuman sayang di kening putra putrinya sebelum keluar meninggalkan kamar.


Berpindah ke kamar utama. Menyaksikan Rahma yang meng ASI hi dengan mata terpejam karena mengantuk. Baby Aqil dengan sendirinya melepaskan sumber nutrinya dengan mulut mengecap-ngecap kenyang. Perlahan Mizyan mengangkat baby montok dengan kedua pipi yang tumpah ruah itu. Yang membuat gemas siapapun yang melihat bayi montok itu.


Beralih lagi ke ranjang usai menyimpan aby Aqil di dalam box. Menutupi sumber nutrisi sang anak yang masih terpampang jelas. Mencium kening yang sedang lelap itu penuh sayang.


Rahma membuka mata. Terkejut saat menyadari ketiduran. Tapi tahu jika Mizyan pasti sudah memindahkan baby ke boxnya. Sebab ia kadang mengalami ketiduran saat menyusui.


"Lanjutin aja tidurnya, sayang!" Mizyan menarik selimut sampai ke perut Rahma dan ikut masuk di dalamnya. Memeluk sang istri dan mencium pipinya sepenuh hati.


"Mas, tadi siang Mentari ngambek." Percakapan sebelum tidur dimulai. Suasana tenang saat tidak ada gangguan anak-anak.


"Pengen apa katanya?" Mizyan mengusap anak rambut Rahma yang berantakan. Seharian bekerja, malam menjadi momen untuk mendengarkan kegiatan anak-anak selama tidak bersamanya.


"Ngambek minta adek cewek." Rahma terkekeh mengingat tadi siang anak gadisnya merajuk.


"Kata si mbak, temannya di sekolah mengompori kalau punya adek cewek itu menyenangkan. Bisa maen boneka bareng. Kalau adek cowok mainnya pasti sama kakak cowok lagi. Aduh ada-ada aja....Mentari sampe niupin perut aku, biar nanti keluar adek cewek katanya." Rahma terkekeh lagi.


Mizyan menarik sudut bibir penuh arti. "Ide bagus tuh, sayang," ujarnya dengan tangan yang mulai bergerilya.


"Jangan macem-macem, Pa! Aqil baru mau 2 bulan." Rahma menahan tangan Mizyan yang mulai bermain-main. Ingin mencoba KB alami seperti pengalaman Andina. Namun masih was-was berhasil tidaknya sebab sang suami rajjn minta jatah.


"Kita kabulin permintaan si kakak!" Suara Mizyan terdengar berat di telinga. Membuat tubuh Rahma meremang akan sensasinya.


"Jangan sekarang ah. Pakai balon kalau pengen----" Rahma menggelinjang. Sentuhan bibir sang suami menyusuri leher mulai melenakannya.


"Stok habis, sayang," ujar Mizyan dengan santainya. Beralih mengungkung di atas dengan bertumpu pada kedua lutut.


"Ih, atuhlah-----"


...******************...


...A L H A M D U L I L L AH...


Story benar-benar sudah tamat. Yuk berikan hadiah terbaik sebagai kenang-kenangan di akhir perjumpaan MELUKIS SENJA.

__ADS_1


Terima kasih tuk semua pembaca setia. Papay....๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿšถโ€โ™€๏ธ๐Ÿšถโ€โ™€๏ธ๐Ÿšถโ€โ™€๏ธ


__ADS_2