
Cara laki-laki dalam mengekspresikan rasa berbeda dengan perempuan. Jika perempuan cenderung emosional meluapkan perasaan baik sedih atau bahagia dengan menangis, laki-laki lebih bisa mengendalikan diri dan rasional. Namun itu pun tidak mutlak, tergantung karakter. Seperti halnya pertemuan 2 pria beda generasi yang merupakan ayah dan anak bernama Mark dan Mizyan.
Begitu Mizyan menghambur memeluk Mark yang merentangkan kedua tangannya, ia cengkram erat bahu papi nya itu sebagai luapan rasa bahagia dan rindu. Matanya berkaca-kaca dengan bibir yang merekah menyunggingkan senyum lebar. Sebaliknya Mark balas memeluk dan menepuk-nepuk punggung anaknya itu dengan hati yang basah penuh keriaan. Keduanya saling mentransfer rasa rindu yang tidak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Cukup lama adegan mengharukan itu tercipta. Dan Rangga pun meninggalkan keduanya, memberikan keleluasan bagi ayah dan anak itu untuk saling melepas rindu.
Mereka melanjutkan quality time dengan duduk bersama di teras belakang yang menyajikan pemandangan alam serba hijau menyehatkan mata dan menyegarkan pernafasan. Saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing selama ini.
Banyak surprise yang didapat Mizyan. Ia tak menyangka jika Papi Mark sudah tahu jika dirinya kini seorang muslim. Bahkan menyediakan musholla dalam villa untuknya. Tidak hanya sekadar ruangan namun dihiasi interior yang mengagumkan. Berupa karpet tebal kualitas premium, lukisan tiga dimensi Kabah berikut lantai shaf nya dengan ukuran gambar seluas tembok. Gambar persis aslinya itu terpampang di tembok depan arah kiblat, seolah kita benar-benar sedang sholat di Masjidil Haram Mekah.
"Mizyan Abdillah. The good name." Puji Mark tampak tulus sambil merangkul bahu Mizyan untuk mengantarnya ke musholla yang akan melaksanakan sholat ashar begitu terdengar adzan berkumandang.
"Musholla ini dibuat setahun yang lalu. Karena Papi yakin suatu saat kamu akan datang. Musholla ini especially for you. Papi melarang orang lain memakainya sebelum kamu injak. Untuk karyawan sudah ada musholla di luar."
Speechless. Begitu yang Mizyan rasakan usai mendengar penjelasan Mark. Sang ayah ternyata bukan hanya memantaunya tetapi juga mendukung dan memfasilitasi kegiatan ibadahnya.
"Papi sholat juga?!" Ia bertanya dengan ragu begitu sampai di depan musholla tanpa pintu itu sehingga siapapun yang melintasinya bebas memandang keindahan di dalamnya.
"Not yet." Jawaban yang ambigu. Namun Mizyan tak lagi melanjutkan bertanya sebab papinya berlalu pergi meninggalkannya sendiri.
Semilir angin sore menerpa tubuh dua pria dengan garis wajah yang sama. Keduanya berjalan-jalan di seputaran halaman villa yang luas dan dihiasi pepohonan aneka buah juga tanaman hias yang tertata apik. Gonggongan anjing yang diikat di dekat pos jaga mengusik perhatian Mizyan.
"Dia belum kenal sama kamu jadinya berisik. Ayo ke sana!" Dengan isyarat dagu, Mark mengajak Mizyan mengikutinya menuju si Toby.
"Keep calm, Toby. He's my son!" Mark menggerakkan tangannya agar si Toby tidak meronta-ronta ingin lepas untuk menyerang Mizyan. Anjing itu mendadak tenang usai mendengar ucapan tuannya. Hidungnya tampak mengendus-ngendus dengan tatapan mata tajam seolah memindai sosok yang berdiri di sisi tuannya itu.
"Dia anjing pintar. Instingnya bisa membaca gelagat orang yang niat jahat." Jelas Mark.
"Hallo, Toby." Mizyan menjentikkan tangannya ke atas mengikuti arahan Mark. Sontak anjing berbadan besar itu berdiri dengan kedua kaki depannya terulur.
"Toby ngajak salaman." sahut Mark.
Mizyan berdecak kagum dengan kepatuhan si Toby. Ia pun mengulurkan tangan menyambutnya sekilas. Jaga-jaga agar anjing pintar itu tidak menjilat tangannya.
Stok bahan obrolan sepertinya belum habis-habis. Malamnya keduanya kembali duduk bersama di ruang tengah usai makan malam yang dihidangkan 2 asisten rumah tangga yang berasal dari kampung setempat.
"Mami nikah lagi, kenapa Papi tidak?" Ia menolehkan wajah ke sampingnya dimana Mark duduk sambil bertumpang kaki.
Tampak Mark menghembuskan nafas panjang dengan pandangan lurus ke depan menatap perapian yang menyala untuk mengusir hawa dingin sebab di luar hujan deras. Pantas saja jika Bogor dijuluki sebagai Kota Hujan sebab intensitas hujan yang tinggi dan sering turun secara tak terduga. Bahkan, Kota Bogor kerap mengalami hujan saat musim kemarau.
"Honestly, waktu Papi dulu terbuang sia-sia oleh kesibukan kerja dan...yeah, hiburan diluar.... main perempuan." Kembali ia menghela nafas panjang. "Rasa jenuh bikin Papi mencari daerah sepi untuk menyepi dan membuat usaha baru, start to zero."
"Itu sebagai langkah awal sebelum Papi mengerahkan orang untuk mencari keberadaanmu. Papi ingin kamu datang disaat Papi sudah sukses. Like now."
"Cheating (curang)." Mizyan tampak mendelik dan meninju pelan bahu papinya itu sebagai protes. "Papi tahu banyak tentang aku tapi aku blank dengan kehidupan Papi. Namun Mark hanya menjawabnya dengan kekehan.
"Kesibukan di peternakan dan pengolahan kayu mengalihkan rasa kesepian."
"Papi tak butuh menikah lagi, tapi butuh melihat kamu menikah dan memberikan Papi banyak cucu."
Mizyan tersentak mendengar ucapan terakhir Papi Mark. Sebab membuatnya teringat akan Dika dan bundanya. Ia mengusap wajah dengan kasar. Pertemuan dengan Papi Mark yang tak disangka-sangka semudah ini membuatnya melupakan sejenak hal lain seharian penuh ini. Ia bahkan tak ingat ponselnya ada di mana begitu meraba saku hoodie dan saku celananya. Ia meninggalkan tas bajunya dan tas laptop di mobil kala datang ke peternakan. Sebeb belum tentu orang yang ditemuinya itu adalah benar papinya.
Ia tak risau dengan pakaian ganti sebab di lemari kamar luas yang diperuntukkannya, sudah terisi pakaian untuknya dengan ukuran yang pas. Papi Mark benar-benar prepare it. Alhasil, ia gelisah menunggu pagi untuk mencari ponselnya yang hilang. Sebab begitu dicoba dihubungi dengan ponsel papinya ternyata tidak aktif.
__ADS_1
****
Olla berinisiatif masuk lebih dulu ke dalam rumah, membereskan meja bekas makan begitu sang ayah dan Mizyan sudah keluar dari pekarangan rumah. Ia tak ingin ibunya kelelahan sebab belum istirahat sejak tiba di rumah. Ia menumpuk piring kotor yang semuanya licin hanya menyisakan kerangka ikan. Memisahkan sampah makanan itu dalam satu wadah. Namun kekagetan tampak di wajahnya begitu mengambil lap tangan sebab di bawahnya ada ponsel tergeletak.
"Ini pasti milik A Iyan," gumamnya lalu berlari ke depan. Siapa tahu motor yang dibawa Mizyan belum jauh.
"Kunaon lumpat (kenapa lari), Olla?" Ibu Nur mengernyit melihat anak pertamanya itu berlari dengan panik sampai pinggir jalan.
"Hape A Iyan ketinggalan." Olla mengacungkan ponsel berwarna hitam itu. "Tapi udah nggak keliatan---" ujarnya dengan raut menyesal sambil mendekati ibunya yang berdiri di ambang pintu. Ia menyayangkan Mizyan yang sampai lupa dengan barang penting itu.
"Simpan aja di kamarmu. Itu hape mahal. Nanti juga bakalan pulang lagi ke sini."
Nyatanya Ayah Yunus pulang seorang diri. Olla mendengarkan dengan seksama cerita sang ayah selama di peternakan tadi.
Ponsel Mizyan yang tersimpan di meja rias berdering. Olla yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di tubuh, mendekati asal suara iti.
Mr. Andrew calling.
Ia hanya menatapnya bingung. Sampai kemudian nada dering dan getar itu berhenti dengan sendirinya. Selesai memakai baju rumahan, ponsel di meja rias kembali berdering. Dilihatnya nama pemanggil, Bang Kemal.
Itu bukan ponsel miliknya. Olla berpikir tidak ada hak untuk membuka ataupun menjawab panggilan masuk itu. Selesai dering panggilan yang mati dengan sendirinya, ternyata disusul bunyi notif pesan yang beruntun.
Huft, orang sibuk harusnya jangan pelupa.
Olla geleng-geleng kepala. Ia beralih naik ke atas ranjang untuk rebahan. Istirahatnya di atas kasur sambil membalas chat dari sesama guru di ponpes terusik kala ponsel Mizyan berdering lagi. Penasaran, diintipnya nama pemanggil sekarang.
Mami calling.
Maminya cantik. Pantes aja anaknya handsome.
Olla tersenyum simpul sendiri.
Belum sampai ke tepi ranjang, lagi-lagi ponsel di atas meja rias menjerit. Ia menghembuskan nafas panjang. Istirahatnya lagi-lagi terganggu.
Bunda Dika?!
Siapa dia?!
Ia mengernyit melihat layar yang menampilkan video call dari Bunda Dika. Foto profilnya hanya gambar tangan dewasa menggenggam tangan mungil anak kecil dengan posisi membelakangi.
Siapa ya?!
Rasa penasarannya makin memuncak kala dering kedua kali terdengar dan terlihat dari nama yang sama. Ia tetap pengkuh pada sopan santun. Tak akan menjawabnya hanya kepo membaca namanya.
Terakhir ponsel milik Mizyan berdering selepas magrib, miscall dari Satya, Leoni, dan Mami. Lalu kemudian mati dengan sendirinya sebab habis daya batre. Membuat Olla bernafas lega bukan karena merasa terganggu tapi merasa tidak enak hati terhadap orang-orang di sebrang sana yang pastinya berpikiran heran kenapa Mizyan tak jua menjawab.
Jam 7 pagi usai dirinya jogging sepanjang jalan kampung, Olla bergegas menuju garasi. Empat tahun lamanya tak menyentuh si Capung sebab menimba ilmu di Al Azhar Kairo, membuatnya rindu untuk memanaskan motor trailnya juga memanaskan adrenalinnya. Ia dorong si capung ke halaman dan mulai menghidupkannya, meraung-raungkan gas pelan, lalu naik dan naik lagi memekik nyaring.
"La, kirain dah pensiun." Teriak tetangga samping rumah yang melongokkan kepala dari balik tembok pagar.
"Sono (kangen), Mang---" balas Olla diiringi tawa, sama-sama berteriak menyalip suara knalpot motor trailnya. Sambil menunggu si capung dipanaskan ia pun melakukan warming up untuk melenturkan persendian.
__ADS_1
"Kade ah ulah jauh-jauh (Jangan jauh-jauh)." Pak Yunus mewanti-wanti melihat Olla yang sudah bersiap memakai helm cross dengan setelan pakaian pemotor membungkus tubuh rampingnya lengkap dengan memakai keamanan lutut dan sikutnya. Sepintas tak akan menyangka jika pemotor berbaju serba hitam itu adalah perempuan.
Olla menjawab dengan raungan gas, lalu melesat keluar halaman dengan tujuan jalan berbatu dan berbukit di kawasan perkebunan.
Sepuluh menit kemudian sebuah mobil double cabin berhenti di depan rumah Pak Yunus. Ternyata Mizyan yang datang diantar sopirnya Pak Emsi. Begitu Mizyan turun, mobil pun berlalu pergi untuk kembali ke villa.
Ada Ibu Nur yang membuka pintu dan menjawab ucap salamnya. "Pasti nyari ponsel ya?!" tebak Ibu yang tampak girang melihat sosok tampan berdiri di depan pintu. Sejak pertama kali melihatnya di pesantren, dalam hatinya ada asa ingin menjadikan Mizyan sebagai menantunya.
"Ibu tahu?!" Mizyan membelalakkan mata dengan binar bahagia. Sebelum ke sini, papinya sudah menyuruh Rangga untuk mengerahkan karyawan di peternakan, barangkali ponselnya jatuh kala berkuda. Namun nihil.
"Olla melihatnya di meja. Ibu suruh simpan aja di kamarnya." Sahut bu Nur sambil menyuruh Mizyan masuk.
"Alhamdulillah. Aku kira jatoh di jalan." Mizyan bernafas lega. "Olla kemana, Bu?"
"Lagi ngetrail baru aja keluar......kangen katanya."
Mizyan tersenyum kagum. "Hebat juga hobinya ya, bu. Kapan-kapan kita barengan ngetrail deh."
Ibu mengangguk diiringi senyum semringah. Apalagi hatinya bersorak senang, kemungkinan nanti putrinya akan makin dekat dengan pemuda blasteran itu.
"Wah ada Mizyan." Pak Yunus datang menghampiri ke ruang tamu berpapasan dengan Ibu Nur yang akan ke kamar Olla. "Gimana-gimana kemarin itu.... bapak penasaran sampe susah tidur. Pengen telpon tapi ternyata hapemu ketinggalan." Ia pun duduk berhadapan dengan wajah yamg antusias.
"Alhamdulillah, Pak. Benar itu papi saya."
"Alhamdulillah, Ya Alloh----" Pak Yunus mengangkat kedua tangan penuh syukur lalu mengusapnya ke muka.
Ibu Nur datang dan menyerahkan ponsel kepada Mizyan. Ia sempat mendengar suaminya berucap syukur. "Ibu turut bahagia, akhirnya Mizyan bisa berjumpa bapak kandungnya. Padahal kami silaturahmi ke pesantren sering lho tapi kita tidak pernah ketemu. Andainya ibu dan bapak ketemu dari dulu sama kamu, pasti udah bisa mempertemukan. Pak Emsi itu terkenal juragan sapi di sini." Pungkas Ibu Nur dengan wajah lega merasa ikut berbahagia.
"Begitulah takdir." Sahut Pak Yunus. "Gusti Alloh sudah mengaturnya. Jika kita sabar dengan ujianNya, in shaa Alloh akan indah pada waktunya."
Mizyan mengangguk. Membenarkan ucapan ayahnya Olla itu. Ia pun mengucapkan banyak terima kasih dengan sepenuh hati kepada mereka.
"Saya sangat berhutang budi pada bapak dan ibu." Mizyan menatap pak Yunus dan Ibu Nur silih berganti. Tangannya masih menimang ponsel yang mati. "Saya tidak tahu harus balas budi seperti apa saking senengnya. Ah, pokoknya kalau bapak sama ibu perlu bantuan saya tolong bilang ya! Jangan sungkan."
Pak Yunus menggeleng. "Kami ikhlas menolong. Sudah sewajarnya sesama manusia apalagi sesama muslim saling menolong. Nggak usah merasa hutang budi gitu."
Mizyan permisi melesat sejenak untuk mengambil charger di mobilnya. Pikirannya tengah dihantui rasa was-was terhadap Dika dan bundanya. 2 hari tanpa kabar....
Mereka mencemaskanku nggak ya?!
Ia menatap ponsel yang baru terisi 2%. Tak sadar dirinya mendecak. Tak sabar, merasa smartphonenya bodoh.
*****
Para pembaca yang melewatkan LIKE hampir 1rb an orang. Alhamdulillah ya, setelah diingatkan jadi ada kesadaran. 😍
Begitulah kita ini....harus saling mengingatkan, dengan sopan santun nggak perlu gas gasan ya. Aku pun sama suka ada keliru dlm menulis dan makasih udh diingatkan ya 😊
Nih, aku kasih super kenyang lho sbg ucapan makasih. 😉
Alhamdulillah, 50 bab sudah. And than...siapkan diri sport jantung for next episode 😎
__ADS_1
Semoga dilancarkan ya Alloh. Aamiin