
Jakarta
Pak Hari menyambut dengan hangat kedatangan Nico dan rombongan di ruang kerjanya. Nico memperkenalkan Suci sebgai istrinya juga Rahma dan Dika sebagai istri dan anaknya Malik.
"Sebelumnya saya ucapkan turut berduka cita atas meninggalnya pak Malik." Advokat berusia 60 tahun itu tulus mengucapkan bela sungkawa terhadap Rahma.
"Terima kasih, Pak." Rahma sedikit menganggukkkan kepala. Mendadak kesenduan menguasai hatinya.
"Pak Hari tahu Malik meninggal dari siapa?" Nico bertanya dengan tatapan penuh selidik. Merasa penasaran.
"Ibu Indah, ibunya Malik datang ke sini. Waktu itu bilangnya Malik sudah meninggal 7 hari."
Rahma dan Suci saling pandang mendengar penuturan sang pengacara.
"Mau apa dia ke sini?" Nada bicara Nico tampak menandakan kekesalan mendengar nama itu.
Pak Hari tersenyum, tampak bersikap tenang. "Bu Indah menanyakan kabar warisan milik Malik dari mantan suaminya. Saya bilang sudah lepas tangan pengurusan warisan itu. Dokumennya sudah tidak di tangan saya."
"Saya nggak bohong toh. Emang dokumennya ada di brankas bukan di tangan," lanjutnya terkekeh.
"Sudahlah jangan bahas yang itu. Nggak penting." Paj Hari mengibaskan tangannya untuk tidak melanjutkan pembahasan tentang ibunya Malik.
"Bu Rahma, ada amanah dari Pak Malik untuk Bu Rahma dan ananda Mahardika." Pak Hari mulai pada inti pembicaraan. Ia memanggil sekretarisnya untuk membawakan dokumen.
"Pak Malik datang ke sini pada saat divonis sakit kanker stadium 3. Dia meminta saya mengurus pengalihan tanah miliknya menjadi hibah untuk istri dan anaknya. Begitu pintanya waktu itu."
Tak ada yang bersuara selama pak Hari menjelaskan. Rahma, Suci dan Nico tampak menyimak dengan fokus apa yang disampaikan sang pengacara.
"Saya sudah mengurusnya dengan PPAT (Pejabat Pembuat Akta Tanah) di wilayah Bogor tempat tanah berada. Ini silahkan dibaca dulu Bu Rahma sebelum ditandatangani. Untuk surat dalam amplop, itu titipan dari Pak Malik. Bisa dibaca nanti di rumah."
Dengan ragu dan jantung berdebar, Rahma menerima uluran dokumen dari tangan Pak Hari. Ia membuka map dengan rasa tegang. Matanya kini tertumbuk pada amplop putih panjang yang rapat. Lalu di bawahnya ada 2 lembar kertas bermaterai. Surat Pernyataan Hibah.
Suasana hening tercipta selama Rahma membaca Surat Pernyataan Hibah untuknya dan untuk Dika yang kini tengah anteng dengan mainannya. Matanya berkaca sebab haru mengetahui almarhum suaminya itu begitu memikirkan masa depan ia dan Dika. Apalagi melihat bubuhan tandatangan dan nama lengkap Malik di bawah;
^^^Pihak Pertama^^^
^^^Yang Menghibahkan^^^
^^^Johan Al Malik^^^
__ADS_1
Membuat hatinya berdesir, rindu mendadak menyeruak, dan setitik air lolos terjatuh dari sudut matanya.
"Sudah jelas kan, Bu Rahma?" Suara sang pengacara memecah keheningan. "Sekarang silahkan tandatangani. Untuk Mahardika karena masih dibawah umur, boleh diwakilkan Bu Rahma."
Pak Hari pun meminta Nico dan Suci mengisi 2 kolom di bawah yang masih kosong sebagai saksi ke 3 dan ke 4. Sementara saksi ke 1 adalah sang pengacara sendiri, dan saksi ke 2 adalah orang kepercayaan yang mengelola tanah di Bogor.
"Simpan baik-baik 2 sertifikat ini Bu Rahma. Semoga tidak ada pihak keluarga Pak Malik yang menggugat. Kalaupun mau menggugat akan kalah, surat hibah ini sudah kuat secara hukum. Tapi kalau sertifikatnya hilang, itu bahaya."
Hampir 2 jam lamanya perbincangan bersama Pak Hari di ruang kerjanya. Bahkan sang pengacara memberi gambaran nilai tanah seluas 15ribu m2 atau 1.5 hektar itu yang dibagi 2. Tanah seluas 1 hektar untuk Mahardika Al Malik dan 0.5 hektar untuk Cut Mutiara Rahma. Dengan harga pasaran tanah sekarang, nilai totalnya adalah 37.5 Miliar. Belum termasuk ribuan pohon sengon yang ditanam di lahan tersebut. Rahma hanya termangu tanpa kata mendengar penjelasan sang pengacara.
****
Usai keluar dari kantor advokat, sepanjang jalan Rahma diam membisu dan melempar pandangan kosong ke kaca jendela. Pikirannya dipenuhi oleh kenangan bersama almarhum. Ia teringat kala pertama kali Malik akan mengajaknya ke Bogor untuk melihat kebun kayu sengon. Namun ia urung ikut sebab mendadak sakit. Kali kedua akan diajak di bulan berikutnya, ia mual muntah sebab hamil muda. Akhirnya sama sekali belum pernah tahu letak kebun sengon. Hal yang tak disangkanya kini adalah luasnya kebun sengon itu membuatnya menganga. Dulu Malik tidak mengatakan berapa luas tanah yang dimilikinya di Bogor itu.
"Rahma, nih minum." Suci yang duduk di sampingnya bertukar dengan Dika yang ingin duduk di depan, menawarkan sebotol air mineral.
Rahma menerimanya dengan tatapn yang lurus ke depan sambil menyandarkan kepala ke belakang.
"Andai boleh memilih, aku tidak menginginkan harta ini, aku ingin tetap bersama bang Malik sampai menua bersama." Rahma menghembuskan nafas panjang.
Suci mengusap bahu Rahma. "Yang sabar. Takdir hidup setiap orang berbeda-beda. Kamu pasti bisa melewati ini semua. Jangan mengangis lagi. Kamu masih punya Dika." lanjutnya sambil memeluk Rahma yang tampak meneteskan air mata.
Nico yang mendengar pembicaraan di belakang, memilih diam dan fokus memeperhatikan jalan. Sesekali ia mengusap-ngusap rambut Dika yang berceloteh sendiri kala melihat hal yang menarik perhatiannya di jalanan.
"Ateu masih kangen Dika, jangan dulu pulang dong. Nginep lagi ya pliiisss." Salma menggendong Dika dan menciumi pipinya dengan gemas kala mengantar sampai teras rombongan yang akan pulang ke Bandung.
"Atu mau pulang. Mau lali pagi sama om buye." Dika menjawab dengan menggoyang-goyang kepala. Sementara Rahma belum keluar, masih membereskan baju kotor bekas pakai.
"Om buye?! Siapa itu---" Salma menautkam kedua alisnya menatap Dika yang memainkan ujung jilbabnya.
"Om buye, om atu----"
Suci yang mendengar percakapan keduanya tertawa sebab melihat Salma yang tampak bingung mendengar jawaban Dika.
"Maksudnya apa sih?!" Kini Salma menatap Suci yang tertawa.
"Sepertinya ada yang lagi ngedeketin Rahma." Suci berkata pelan takut didengar Rahma. "Kemarin terciduk vidcall Rahma keliatan malu. Kayak udah akrab, apalagi Dika deket banget kayaknya."
Salma ber oh ria tanpa suara. "Syukurlah kalau Rahma udah bisa move on." sahutnya tak kalah pelan.
__ADS_1
"Hei, ada apa pada bisik-bisik---- jangan-jangan gibahin aku ya." Rahma muncul menenteng kopernya, melewati Suci dan Salma untuk menuju mobil yang usai dipanaskan.
"Teh Salma lagi nanya siapa itu om buye, om atu yang dimaksud Dika barusan." Teriak Suci ke arah Rahma yang tengah memasukkan koper ke bagasi.
Rahma lalu mendekat sambil berkacak pinggang, pura-pura kesal terhadap Suci yang senyum-senyum menggodanya.
"Bukan siapa-siapa. Dia cuma temennya ayah."
"Seumuran Om Badru maksudnya?!" Suci mengernyit tak percaya.
"Ya nggak lah....masih muda." Rahma terkaget sendiri dengan spontanitas pembelaannya terhadap om buye. "Ah sudahlah, ayo kita berangkat."
Salma maupun Suci mengulum senyum melihat gelagat Rahma yang grogi.
"Dika ayo masuk!" Manda berteriak sambil melambaikan tangan dari balik kaca mobil. Membuat Dika memberontak turun dari gendongan ateu Salma.
"Dadah Dika....dadah Manda..." Raka dan Rayi melambaikan tangan terhadap Dika dan Manda yang melongokkan kepala dari kaca jendela, membalas melambaikan tangan.
"Hati-hati di jalan!" Candra dan Salma pun melambaikan tangan melepas kepergian saudaranya pulang ke Bandung.
Candra melirik Salma yang berdiri di sisinya dengan bibir mengerucut. "Jangan minta cium di sini dong," bisiknya menggoda sang istri.
"Abang aja yang mesum." Salma mencubit pinggang Candra sampai mengaduh. "Aku tuh sedih ditinggal mereka, masih sono (kangen)." ujarnya dengan tangan menggelayut manja di lengan Candra yang berjalan memasuki rumah.
****
Rahma merebahkan badan di ranjang, meluruskan tubuh yang lelah usai perjalanan sekitar 3 jam lebih Jakarta-Bandung. Lebih cepat, sebab weekday jalanan lebih lengang. Begitu tiba di rumah, ia langsung menceritakan kepada Ayah dan Uma hasil pertemuannya bersama Pak Hari sampai detail.
"Simpan baik-baik dokumen berharga itu." Ayah mewanti-wanti usai menyimak ceritahya.
Ia memperhatikan Dika yang anteng di lantai memainkan 3 robot sapi. Tidak ada kata cape, begitu turun dari mobil anaknya itu berlari ke kamar untuk menemui 3 sapi kesayangannya.
"Om buye, atu mau di suuuun." Dika mengangkat satu induk sapi, lalu memgadu kepalanya dengan anak sapi seolah mencium anaknya.
"Dika sini bobo siang dulu!" Rahma menepuk kasur sisinya agar Dika naik.
"Om buye, tunggu dulu. Nda juja mau di suuuuun." Dika naik ke ranjang sambil membawa 'om sapi' dan menciumkannya pada pipi bundanya.
Rahma geleng-geleng kepala melihat kelakuan Dika memainkan sapinya.
__ADS_1
"Kenapa Dika suka sama om buye sih?!" Ia menepuk-nepuk punggung Dika yang kini menelusup di dadanya.
Dika merubah posisi tidurnya menjadi telentang. Tangannya terulur menggosok-gosok pipi bundanya. "Kan om buye om atu---om Nda juja." jawab Dika polos. Namun membuat Rahma menelan salivanya dengan susah payah.