MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 80. Main Course


__ADS_3

Setengah hari ini waktu terisi dengan kebersamaan bertiga. Dika bisa dikasih pengertian jika main sepatu rodanya nanti di rumah sepulang dari hotel. Sebagai gantinya Dika mendominasi sang bunda menggelayut manja seolah lama tidak bertemu. Membuat Mizyan hanya bisa mepet-mepet badan, curi kesempatan memeluk istrinya itu.


Sesekali mencuri ciuman kala Rahma beranjak ke kamar mandi dan ia mengekorinya. Ataupun kala rebahan di ranjang dan berebut posisi dengan Dika yang memeluk bundanya dari depan. Dan ia kebagian memeluk Rahma dari belakang sembari bermain-main mengecup leher sang istri.


Makan siang menjadi ajang berkumpulnya 2 keluarga sekalian perpisahan dengan Papi Mark dan Kemal yang akan pamit pulang. Kalau mami Kanti akan pulang esoknya.


"Sembuh kan, Le?" Sempat-sempatnya Kemal berbisik di kala banyak orang berdiri di lobi hotel menunggu mobil jemputan datang.


Mizyan membalas dengan kedipan mata. Memang yakin sembuh meski masih merana belum bisa gas pol.


"Rumah Papi rumahmu juga. Kalau bisa tinggal saja di Bogor bantu Papi urus perusahaan.." Mark merangkul bahu Mizyan yang membukakan pintu mobil untuknya.


"Aku udah betah tinggal di Bandung. Tenang, Pih. Nanti kita bolak balik Bandung-Bogor." Sahut Mizyan


"Papi tunggu kalian di Bogor secepatnya." Lanjutnya sembari mengusap kepala Rahma yang berbalut jilbab usai sang menantu mencium tangannya.


Juga mengusap rambut kriwil Dika yang menggemaskan. "Dika, Opa punya kuda. Nanti kalau Dika ke Bogor kita naik kuda. Mau nggak?"


"Nda, atu mau tuda--" Dika mendongak menatap sang bunda meminta persetujuan.


Rahma mengangguk sembari tersenyum. Mizyan mengusap puncak kepala Dika. "Nanti naik kuda juga sama Papa. Papa akan ajak Dika lihat-lihat sapi yang banyak."


Membuat bocah itu berjingkrak-jingkrak senang begitu mendengar ada banyak sapi disebut.


Kemal dan istrinya pun sama, sebelum memasuki mobil, meminta pengantin untuk bisa liburan ke Balikpapan. Yang dijawab Mizyan dengan janji suatu saat nanti akan ke sana.


"Mi, gak naik?!" Mizyan menatap heran ke arah Fahmi yang usai menyimpan bagasi malah berdiri di pinggir mobil.


"Mau stay di Bandung dulu, Mas. Cuti 2 hari." Fahmi tersenyum simpul tatkala boss Kemal melongokkan kepala dari jendela mobil.


"Dia lagi punya project di sini. Mau nembak anak orang." sahut Kemal. "Le, bantu awasin si Fahmi. Kalau sampe mainin perasaan perempuan, gantung aja dia di fly over."


Membuat Mizyan, Rahma, dan Fahmi tertawa. Kloter kedua sudah melaju jauh meninggalkan hotel. Giliran rombongan keluarga Ayah Badru yang bersiap pulang. Dika masih mengerucutkan bibir dengan melingkarkan tangan di leher Papa Buye yang menggendongnya. Bocah itu tengah dibujuk agar mau ikut liburan ke kebun binatang bersama Manda dan si kembar Raka Rayi.

__ADS_1


"Dika ayo tulun. Duduknya di mobil aku ajah." Raka menarik-narik kaki Dika yang enggan turun dari gendongan.


"Di mobil aku juga boleh. Kan nanti Dika bobonya di rumah aku. Nanti kita beli kelinci ya Dika." Manda ikut membujuk sepupunya itu.


"Papa halus itut, Nda juja---" Protesnya sembari menatap sang bunda dengan sorot mata berharap penuh.


"Bunda sama Papa akan nyusul besok ya, sayang. Sekarang main rame-rame dulu sama Manda, sama Raka dan Rayi. Mau ya anak soleh Bunda." Rahma mencium pipi sang anak, merayunya. "Pasti seru di kebun binatang ada gajah yang hidungnya panjang. Ada rusa, nanti sama Dika kasih makan wortel."


"Besok Papa kasih hadiah kalau Dika nurut apa kata Bunda." Mizyan turut membujuk. "Deal?!" Ia membuka telapak tangan. Cukup lama menunggu Dika untuk mau beradu tos.


Akhirnya setelah cukup lama diam, Dika menepukkan telapak tangan mungilnya. Deal.


Iring-iringan 2 mobil meninggalkan lobi hotel menuju kawasan Coblong untuk mewujudkan keinginan anak-anak pergi ke kebun binatang. Khususnya untuk mengamankan sejenak Dika agar tidak merecoki pengantin baru.


****


"Ya Allah--" Rahma memekik kaget. Baru saja masuk kamar dan pintu ditutup, tiba-tiba Mizyan menggendongnya. Berputar-putar penuh keriaan.


"Please, turunin, Mas. Nanti pinggangmu encok gimana." Rahma tertawa lepas sebab Mizyan menghentikan mengayun dan beralih menggesek-gesekkan hidung runcing ke ketiaknya. Jelas saja merasakan sensasi geli.


"Enak aja encok. Aku bukan manula." Dengan gemas digigitnya dagu bulat istrinya itu.


Sampai di tepi ranjang, barulah Mizyan menurunkan tubuh Rahma perlahan. Sampai terbaring nyaman di atas kasur dan ia pun mengungkung di atasnya tanpa membebani. Sentuhan bibir tanpa aba-aba mendarat di kedua pipi. Memberikan kecupan-kecupan kecil berulang kali yang kemudian bergeser me ma gut bibir yang ranum menggoda. Bibir tipis itu, menjadi salah satu bagian tubuh yang mulai menjadi candu. Ingin selalu mereguknya.


"Sayang, apakah harus sholat sunnah lagi? Kemarin kan sudah." Mizyan menjeda aktifitasnya. "Gak usah ya?!" Antara bertanya dan meminta persetujuan, ia menatap Rahma yang tengah membuka kerudungnya.


Rahma menjawab dengan anggukkan. "Tapi jangan lupa berdoa."


"Mas, apa nggak nanti malam aja?" ujar Rahma sembari mengatur nafas yang tersengal akibat kehabisan pasokan oksigen sebab Mizyan melakukannya lagi dengan rakus namun penuh kelembutan. Yang mampu mengalirkan sengatan listrik ke seluruh tubuh.


"Sekarang ya sekarang. Nanti malam beda lagi." Sorot mata Mizyan tampak berkabut gairah dengan kedua tangan merangkum wajah sang istri di bawahnya. Ia mengangkat badan sejenak dengan bertumpu pada kedua lutut. Membuka kaos yang dikenakannya sehingga bertelanjang dada. Melempar kaosnya sembarang arah.


Rahma tidak protes lagi. Merelakan Mizyan menyentuh raganya setelah sebelumnya mampu menyentuh hatinya. Mampu menembus benteng yang nyatanya rapuh dan tidak kokoh. Sentuhan bibir tegas yang menyusuri setiap inci tubuhnya, begitu membuai dan memabukkan. Entah berada dimana rasa diri saat ini sebab ia merasakan jiwa raganya melayang dengan kebahagiaan tak terperi.

__ADS_1


Seprai tak lagi rapih akibat remasan tangan Rahma yang menahan sensasi foreplay yang tak kunjung usai dibuat Mizyan. Suara-suara lirih mendayu yang lolos dari bibir Rahma, membuat Mizyan semakin bersemangat melakukan eksplorasi.


"Mas, aku---" Lirih Rahma sembari memandang dengan mata sayu. Entah sudah berapa kali Mizyan menerbangkannya ke langit ke tujuh. Tubuhnya sudah lemas bermandikan keringat. Namun Mizyan sama sekali tak kentara raut lelah.


"Now, sayang." Mizyan mengangguk mengerti dengan isyarat sang istri. Keduanya kini larut dalam nikmatnya penyatuan. Nikmat yang bernilai ibadah sebab tersimpul dalam ikatan halal pernikahan.


Apa yang diucapkan Mizyan bukanlah joke. Malamnya berlanjut lagi season kedua usai berjamaah sholat isya. Padahal masih terhitung siang, belum jam 8 malam. Bahkan Rahma baru menata hidangan makan malam yang diantar roomboy. Namun Mizyan menghampiri dan memeluknya dari belakang. Tanpa terengah, Rahma digendongnya menuju ke sofa.


Dengan wajah merajuk Rahma memukul pelan dada Mizyan sebab ia terkaget lagi dengan ulah suaminya itu yang seenaknya membawa pergi padahal mau baru mengisi satu gelas air putih. "Mas, makan dulu." Rahma menggeleng dan menahan tangan Mizyan yang akan membuka simpul tali piyama.


"Ini sebagai appetizer." Mizyan mengedipkan sebelah mata dengan tatapan nakal. Hidangan pembuka versinya yaitu membawa Rahma duduk di pangkuan dan menghadapnya. Ia melakukan apa yang ingin dilakukannya.


Setelah mandi bersama dan menatap jelas dari ujung rambut sampai ujung kaki, ia makin candu dan memuja. Seketika timbul posesif, hatinya tak rela jika laki-laki lain melihat dan menyentuh kemolekan istrinya itu. Sesuai namanya, Cut Mutiara Rahma. Busana muslimah yang dikenakan melindungi isinya. Ibarat kerang berisikan mutiara yang putih bersinar dan berharga mahal. You're mine.


"Mas, aku laper---"


Melihat Rahma yang merajuk dengan sorot memelas, Mizyan menghentikan aktivitasnya. Ia lupa diri, baru sadar akan sikapnya yang agresif. Dipeluknya dengan erat tubuh Rahma yang wangi sebagai akhir sesi appetizer. Sekarang butuh asupan gizi untuk nanti sesi main course.


Masa bodoh dengan dunia luar bagi dua insan yang tengah mereguk manisnya menjadi pengantin baru. Sejak siang tadi masuk kamar sampai malam ini keduanya tak lagi keluar. Gorden tertutup sempurna sejak sesi percintaan siang dimulai. Tidak tahu lagi rupa senja dan pekatnya malam. Apakah diluar hujan atau cerah semuanya tidak menjadi perhatian. Sebab dunianya kini hanya seluas ruangan president suite yang berubah layaknya surga dunia.


"Mas, sejak kapan punya tato?" Jemari halus Rahma menelusuri tato berupa tulisan di dada kiri Mizyan yang kini duduk bersandar di kepala ranjang. Dan ia menyandarkan kepala di sela ketiak sang suami yang tengah memejamkan mata meresapi manisnya main course yang masih terasa. Sejuknya pendingin ruangan tak mampu menyerap atmosfer panas yang tercipta. Terbukti dua tubuh polos berbalut selimut itu basah oleh keringat setelah berakhir sesi kedua, 2 jam lamanya.


"Sudah lama, waktu mau kuliah. Masa-masanya labil menjalani hidup." Mizyan mencium puncak kepala Rahma dengan segenap rasa cinta dan sayang yang dimiliki. "Kalau kamu keberatan, aku akan menghapusnya."


Rahma mendongak, sehingga manik hitamnya bersirobok dengan manik hazel. "Kalau bisa dan tidak ada efek samping, aku ingin tubuhmu bersih. Jangan ada tato terlukis di badan. Lukis namaku saja di hatimu." Senyumnya terkembang sembari wajah merona merah.


"My God. Bunda atu pandai gombal juja. Bikin aku baper---" Mizyan dengan gemas memencet hidung Rahma yang terkekeh-kekeh. Lalu mengecup bibir yang telah bengkak karena ulahnya itu, dengan rasa bahagia yang membuncah di dada.


...Seeing your smile is happiness for me. Meanwhile, having you is the most beautiful gift in my life."...


...(Melihat senyummu adalah kebahagiaan bagiku. Sementara, memilikimu adalah hadiah yang paling indah dalam hidupku.)...


...Mizyan Abdillah...

__ADS_1


__ADS_2