
Satu jam usai kepergian tamu, Mizyan dan Rahma serta Nico pun undur pamit pulang pada Ayah dan Uma. Meninggalkan rumah dengan nafas kelegaan sebab masalah telah dituntaskan. Sembari mengantarkan Nico pulang tentunya sekalian menjemput Dika. Sampai di rumah Nico disambut keriangan Dika dengan kebiasaannya menubrukkan badan.
"Gimana beres?" Sambutan pertanyaan dari Suci kala semuanya duduk di sofa.
"Alhamdulillah, beres. Termasuk si Alex pun masuk penjara karena kasus narkoba. Ada beritanya di tv." Nico yang menjawab.
Suci tentu saja terkejut. "Terus reaksi tante Indah gimana?"
"Tadi sih belum tahu. Gak tahu sekarang kemungkinan sudah ada kabar dari polres." Nico membenahi posisi duduknya sebab Manda naik kepangkuannya. Ikut-ikutan seperti Dika yang menggelayut manja pada Mizyan.
Tidak lama-lama Mizyan dan Rahma berada di rumah Nico sebab sudah larut malam. Bahkan Dika beberapa kali menguap.
Sampai di apartemen sembari menggendong Dika yang terlelap sejak di mobil, Mizyan memasuki kamar bernuansa biru putih kamarnya Dika. Menidurkan perlahan berdampingan dengan boneka sapi opa yang biasanya selalu dipeluk sepanjang tidur. Perlahan pula membuka sepasang sepatu yang masih lekat di kaki bocah kriwil itu. Rahma menyusul masuk mendekati lemari untuk mengganti baju Dika yang sudah asem oleh keringat, berganti piyama tidur.
"Sayang, aku ke ruang kerja dulu." Mizyan mengecup kening Dika yang sedang dibuka celananya oleh bunda Rahma.
Rahma menganggukkan kepala.
Cape bermain membuat sang anak tidak terpengaruh dengan proses pergantian baju. Tetap lelap bahkan kini memeluk boneka kesayangan pemberian Opa Mark. Satu kecupan di kening serta mengganti lampu penerangan dengan yang redup dilakukan Rahma yang kemudian perlahan menutupkan pintu kamar.
"Ucapin makasihnya dengan benar."
Rahma tersenyum simpul mengingat perkataan menjurus mesum sang suami saat di teras. Ia menatap wajahnya di cermin. Memulai ritual membersihkan wajah dengan dua tahap, cleanser dan toner. Beralih ke kamar mandi untuk membersihkan badan yang lengket dengan mandi air hangat. Ia terkaget kala pintu kamar mandi didorong dari luar. Mizyan masuk dengan hanya menggunakan celana da lam.
"Yaah...padahal pengen mandi bareng." Desah Mizyan melihat Rahma yang melilitkan handuk menutupi tubuh polosnya.
"Aku udah dari tadi. Bye---" Rahma mengerling nakal sembari melambaikan tangan berjalan menuju pintu.
Tak lama Mizyan keluar hanya dengan melilitkan handuk di pinggang. Berjalan menyugar rambut yang setengah kering usai digosok-gosok dengan handuk kecil. "Hmmm---" Respon pertama kala melihat Rahma berdiri di depan meja rias mengenakan lingerie merah yang menerawangkan keindahan di dalamnya.
"Aku suka Nda yang nackal seperti ini." Mizyan memeluk Rahma dari belakang. Bibirnya menyusuri leher putih yang terekspos bebas sebab rambut panjang yang dicepol. Beralih mengecupi punggung yang terbuka diselingi gigitan-gigitan kecil. Keintiman keduanya terpantul di cermin.
"Aku ambilkan bajumu dulu, Mas." Rahma menahan tangan Mizyan yang akan melorotkan tali tipis lingerienya. Warming up yang dilakukan suaminya itu sudah membuat kulitnya meremang dan bibirnya mendesah.
"Aku gak butuh baju. Ada selimut hidup yang akan menghangatkan sepanjang malam." Tanpa aba-aba Mizyan beralih menggendong tubuh yang sudah memantik api gairahnya itu. Rahma memekik kaget, memukul manja dada sang suami yang dengan ringan membawanya berpindah naik ke ranjang. Tak peduli handuk yang melilit di pinggang melorot dengan sendirinya, tergeletak di bawah ranjang.
Rahma mendorong wajah Mizyan yang lekat me ma gut bak lintah. Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebab kehabisan nafas. Tangannya menepuk bantal di sisinya. Meminta suaminya berpindah ke sana. Mizyan pun menurut.
__ADS_1
"Malam ini aku yang akan memberi menu spesial mulai appetizer, main course, and dessert." Bisik sensual Rahma beralih mengungkung di atas. Jemarinya bergerak memberi pijitan-pijitan kecil di area dada turun perlahan ke bawah.
"Ok, ladies. Aku pesan 2 paket, hmm---" Jawab Mizyan sembari memejamkan mata menikmati servis spesial itu.
****
Seminggu berlalu, dilalui dengan suasana tenang tanpa kekhawatiran. Setelahnya urusan dengan keluarga Indah selesai dan sama sekali tidak ada kontak lagi. Tak peduli dengan perkembangan kasus Alex dan kabar keluarganya bagaimana sekarang. Selama tidak ada yang mengusik ketentraman keluarga kecilnya, Mizyan pun tidak akan mengganggu kehidupan orang lain.
Janjinya mengunjungi Mami Kanti di Semarang ditunaikan tepat waktu. Kedatangannya disambut Mami dan Papa Suryo serta Morgan dengan sengaja menjemput ke bandara. Bersalaman serta berpelukan saling melepas rindu, semua wajah kentara dipenuhi kebahagiaan.
"Dika, masih ingat sama Om nggak?" Morgan berjongkok di depan bocah kriwil yang kini rambutnya dipotong lebih pendek. Wajah baru.
Dika balas menatap dengan tangan menggelayut di lengan sang bunda. "Om Molan." jawabnya diiringi anggukkan kepala tanda yakin.
Membuat semua orang tertawa bahkan Morgan tergelak keras. Gemas dengan kecadelan Dika. Sepanjang jalan menuju rumah, diisi obrolan santai. Morgan dan Dika duduk di jok belakang. Celotehan dan kikikan tawa Dika terdengar sebab Om nya itu menunjuk benda-benda menarik sepanjang jalan yang dilalui dengan bergaya lucu.
"Kalian akan lama kan di sini?" Penasaran Mami Kanti saat mengantarkan sampai ambang pintu kamar tidur.
"Bisanya 4 hari, Mam. Mau lanjut lagi ke Bogor ada urusan project penting." Sahut Mizyan meminta pengertian pada sang ibu.
Mami Kanti benar-benar tidak menyia-nyiakan kesempatan berkumpul dengan anak dan mantunya itu. Meski hari pertama di rumah saja, malamnya semua anggota keluarga mengadakan barbeque di halaman belakang sambil bercanda ria. Hari kedua Mami mengajak shopping ke Paragon, salah satu mall terbesar di Semarang. Mendengar kata shopping, Mizyan tersenyum meringis sembari menggaruk kepala yang tidak gatal. Menemani Rahma shopping di Bandung aja bikin kaki pegal-pegal, akhirnya setiap mengantar belanja memilih menunggu di cafe. Lah sekarang dua orang wanita yang shopping bareng, kebayang lupa waktu.
"Aku nganter aja ya, kalau udah selesai nanti jemput. Ini mau ngerjain layout. Kalian have fun aja sampe puas." Mizyan beralasan. Memilih menjadi driver mengantarkan Mami dan Rahma serta Dika jam 10 pagi ini. Sementara Morgan sekolah dan Papa Suryo ke kantor.
Apa yang dibayangkannya kenyataan. Selepas magrib ponselnya berdering. Rahma memintanya jemput ke mall 1 jam lagi.
Untung aja gak ikut, bisa bete.
Mizyan menggelengkan kepala. Antara salut dan heran kok bisa-bisanya perempuan kakinya punya kekuatan lebih saat dipakai shopping. Ia menjemput bersama Morgan yang juga ingin ikut.
Pandangannya takjub menatap 2 wanita yang disayanginya masuk ke dalam mobil dengan wajah ceria tidak ada raut lelah sambil menenteng banyak paper bag. Beralih menatap Dika yang digendong Morgan juga riang sambil berceloteh menceritakan permainan yang dicobanya.
"Kalian tadi di mall tidur siang dulu? Seger gitu gaj keliatan cape." Mizyan melirik dari rear vision mirror pada penumpang yang duduk di jok tengah.
Mami memukul bahu Mizyan pelan dari belakang. "Enak aja tidur dulu....kita itu keliling-keliling cuci mata yang bikin lapar mata. Pengen belanja lebih banyak dari ini tapi Rahma bilang beli yang dibutuhkan aja jangan hedon katanya. Aahh Mami berasa disentil tapi jadi salut deh sama istrimu ini." Pungkasnya tersenyum lebar memuji prinsip menantunya itu.
"Iya Mam, apa yang dibilang Rahma benar. Hidup boros, senang membuang-buang harta untuk hal yang sia-sia termasuk meniru perbuatan setan, menjadi saudaranya setan." Mizyan mengingatkan sang ibu dengan menyampaikan kutipan ayat Al Qu'an.
__ADS_1
"Wah Mami harus banyak belajar dari kalian." Mami Kanti tidak merasa tersinggung malah respect dengan perilaku anak dan menantunya itu.
****
Jakarta
Seorang pengacara memasuki ruang kantor Theo. Orang yang diutus untuk mengurus kasus anaknya, Alex. Yang masih ditahan di Polrestabes Bandung selama 9 hari lamanya. Belum dibuatkan BAP sebab tarik ulur negosiasi oknum polisi dan pengacaranya Alex.
Theo membuka kacamatanya,.mengucek mata yang lelah sebab banyaknya pekerjaan ditambah kurang tidur. Semalam istrinya terbangun di jam 2 dini hari merasakan nyeri dada. Saat mengalami serangan jantung di Bandung waktu itu, Indah di rawat selama 2 hari. Hasil diagnosa menyatakan jika istrinya itu terkena jantung koroner.
"Pak, mereka minta 300 juta. Tapi bukan untuk membuat Alex bebas, tidak bisa katanya terlalu riskan terendus wartawan soalnya kasusnya sudah menjadi berita di tv. Alex bisa diperingan kasusnya sebagai pemakai narkoba jadi hukumannya cuma rehabilitasi selama 6 bulan. Menurut saya ini lebih baik daripada dijerat 2 pasal, pengedar bisa dipenjara maksimal 5 tahun. Barang buktinya kuat."
Theo mengurut-ngurut pelipisnya. Merasa stres dengan masalah Alex dan kondisi Indah hang kini sedang diantar ke rumah sakit ditemani asistennya.
"Oke. Deal. Saya akan transfer uangnya ke Pak Rudi." Dengan helaan nafas berat, keputusan pun diambil. Meraih ponselnya di laci untuk mentransfer uang kepada pengacaranya itu.
"Baik, pak. Saya akan langsung ke Bandung sekarang juga." Pengacara Rudi berdiri bersiap pergi dari ruangan Theo.
"Bilang pada Alex, kalau mamanya sakit mikirin dia, jadi jangan buat ulah lagi. Saya baru bisa nengok kalau Alex sudah dipindah ke pusat rehabilitasi."
Sang pengacara menganggukkan kepalanya. Melenggang pergi menenteng tas kerja meninggalkan ruangan kliennya itu.
Sudah menjadi rahasia umum, jika hukum buatan manusia bisa diperjualbelikan. Asal ada cuan.
Pintu ruangan Theo kembali ada yang mengetuk.
"Masuk--" sahut Theo tetap fokus melanjutkan memeriksa berkas yang menumpuk di meja.
Asisten yang mengantar istrinya Theo masuk dan duduk di depan meja sang manajer Theo.
"Pak, Bu Indah sudah saya antar pulang ke rumah. Dokter spesialis menganjurkan untuk melakukan pasang ring jantung karena arteri koroner Ibu Indah dipenuhi banyak plak, sehingga menghalangi aliran pembuluh darah. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh kolesterol dan zat lain yang menempel pada dinding arteri." Asisten menjelaskan dengan rinci.
"Kamu sudah nanya estimasi biaya?" Tanya Theo dengan muka kusut.
"Sudah pak. Biaya operasi plus rawat inap masa pemulihan selama 6 hari di ruang VIP. Totalnya 100 juta. Bu Indah yang minta ruang rawat VIP. Lusa jadwalnya pemasangan ring."
Membuat Theo meremas rambutnya, merasakan kepalanya makin berdenyut pusing.
__ADS_1