MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 77. Gas Tipis-Tipis


__ADS_3

Mizyan menutup pintu kamar rapat-rapat yang otomatis terkunci. Kamar luas dengan fasilitas serba lux mulai satu set sofa memghadap TV LED ukuran besar, meja makan, dan tentunya ranjang pengantin king size dengan hiasan buket bunga segar terpajang di nakas. Tangannya menarik jemari Rahma yang akan melangkah, menahannya. Hingga keduanya saling berhadapan di depan pintu.


Rahma balas menatap Mizyan yang kini menggenggam kedua tangannya. Pandangan bola mata hazel itu begitu lembut dan menghanyutkan. Bahkan nafas aroma mint terasa hangat menyapu wajahnya sebab jarak yang semakin dekat. Berdua dalam suasana seperti ini membuat tubuhnya menegang dengan jantung bertalu kencang.


"Mas, aku mau ganti baju dulu, gerah."


"Sebentar. Aku masih belum puas memandangmu." Tangan Mizyan terulur menyusuri pipi, lalu merangkum wajah dengan kedua tangan. Membuat Rahma memejamkan mata merasakan tubuhnya menjadi meremang.


"So pretty, wifey." Dikecupnya kening Rahma yang baru hitungan jam sah sebagai istrinya. Lalu beralih mengecup kedua pipinya penuh sayang. Rindu yang beberapa hari terpendam, terobati sudah.


"Mas, aku mau buka-buka ini dulu--" Rahma menunjuk mahkota juga asesoris yang menempel di gaun pengantin yang dikenakannya sekaligus untuk menormalkan kerja jantungnya yang tak beraturan. "Kita juga belum sholat ashar, keburu akhir."


"Oke, sayang. Kita berjamaah ya. Aku bantuin bukanya." Mizyan menuntun tangan Rahma untuk duduk di depan meja rias. Ia terlebih dulu membuka pakainnya dengan cepat sebab tidak ribet. Menyisakan kaos dalam dan celana boxer melekat membungkus tubuh tegapnya.


Rahma yang tengah melepas asesoris di lehernya melihat dari pantulan cermin, berusaha menundukkan wajah yang merona malu.


"Kamu gemesin deh, sayang. Masih aja malu-malu. Gimana kalau aku sekalian gak pakai baju?!" Mizyan yang berhasil membuka mahkota di kepala Rahma sepertinya menangkap gelagat canggung istrinya itu. Jadi kesempatan untuk menggodanya. Alhasil mendapat hadiah cubitan di lengan. Mizyan tertawa senang.


"Ganti bajunya mau di kamar mandi." Rahma bersiap berdiri usai membersihkan make up di wajah. Namun bahunya ditahan Mizyan.


"Di sini aja, sayang. Kita kan sudah halal untuk saling melihat." ujar Mizyan beradu tatap dengan Rahma dari pantulan cermin.


Rahma berpasrah mengalah. Dibukanya kerudung berikut melepas ciput. Menampakkan rambut hitam yang dicepol. Semua itu tak luput dari perhatian Mizyan.


"Aku ambil baju ganti dulu, Mas." Sorot mata Rahma memohon agar Mizyan melepas usapan tangan kekar itu di rambutnya. Dan begitu terlepas, ia mengambil gamis santai dari kopernya dan terbirit-birit masuk kamar mandi. Yang membuat Mizyan terkekeh sembari geleng-geleng kepala.


"Allahu Akbar---" Mizyan memulai takbiratul ihram, dengan Rahma berdiri di belakang sebagai makmum. Menjadi titik awal dirinya tak hanya sebagai imam sholat tapi juga imam keluarga mulai hari ini.


Bahagianya membuncah tak terperi begitu usai sholat, Rahma mengulurkan tangan, mencium tangannya dengan takzim. Ia pun meletakkan tangan di ubun-ubun sang istri, membacakan doa sunahnya pengantin baru. Satu kecupan di kening menjadi penutup selesainya doa.


"Aku mau bikin teh, mas mau minum apa?" Rahma menyimpan mukenanya, mernyisir serta menggulung lagi rambut panjangnya ke atas.


"Teh hijau aja, sayang."


Rahma mengangguk meski mungkin tidak terlihat Mizyan yang tengah mengecek ponsel. Di meja pantry sudah ada tea bag berbagai varian rasa juga kopi. Ia memilih teh chamomile. Dua gelas disiapkan dan diisi masing-masing kantong teh hijau dan teh chamomile.


Grep.

__ADS_1


Belitan tangan di perutnya membuat Rahma menjengit kaget. Mizyan memeluknya dari belakang dengan hidung mancung itu menggesek lehernya.


"Mas, geli ih--" Rahma merajuk sembari menjauhkan kepalanya. Sensasi geli dan gelenyar yang ditimbulkan membuat hawa panas menjalar ke seluruh tubuh.


Mizyan mengulas senyum tipis sembari beralih menciumi rambut Rahma. Pengalaman ilmu tingkat expert dengan cepat dan akurat mengetahui salah satu titik sensitif Rahma. Pelukan di perut rata itu semakin dieratkan dengan gerakan telapak tangan mengusap memutar, perlahan turun ke bawah pusar lalu turun lagi ke pangkal paha. Meremas perlahan di sana. Bukan hanya untuk memberikan sensasi fly buat Rahma tetapi juga sembari merasakan respon inti tubuhnya yang menggeliat pelan tapi pasti. Lagi ia mengulas senyum tipis begitu merasakan tubuh Rahma bergetar dengan erangan lirih lolos terdengar. Titik sensitivitas kedua ia save di dalam otaknya.


"Mas, lepas dulu. Aku mau seduh air panas, bahaya kalau seperti ini." Nafas Rahma terdengar putus-putus mencoba menahan sensasi nikmat yang raganya menuntut diperlakukan lebih. Nagih.


Mizyan menurut. Melepaskan pelukannya tapi beralih memainkan sisi rambut yang terjuntai tidak terikat dan jatuh di sisi wajah cantik Rahma.


"Aku tunggu di sofa." Ia mengecup pipi sebelum berlalu meninggalkan sang istri yang telah selesai menyeduh. Tidakkah ia tahu jika tubuh Rahma dari tadi merasakan banyak sensasi akibat ulah seenaknya itu.


Masih ada waktu 1 jam lagi sebelum berpindah kamar lain di mana tim MUA melakukan lagi tugas kedua, merias sang pengantin untuk sesi resepsi.


"Masih panas, Mas." Rahma menggeleng melihat Mizyan yang akan mengambil gelas tehnya.


"Kalau gitu, aku cicipin ini yang ini aja dulu--" Mizyan merapatkan duduk. Merangkum wajah Rahma dengan mata terpusat pada satu titik. Bibir tipis yang menggoda.


Cup, satu kecupan sebagai opening. Rahma membatu dengan mata terpejam. Tak mungkin menolak keinginan Mizyan sebab jiwa raganya telah halal untuk suaminya itu.


"Buka matanya, sayang. Look into my eye." Suara Mizyan terdengar lirih dan berat. Rahma menurut, membuka mata sehinga saling beradu dan menjerat.


Dengan bibir yang mengunci, ia posisikan diri berada diatas. Mengungkung tanpa membebani yang dibawahnya. Me ma gut penuh penjiwaan, pelan tanpa tergesa-gesa. Namun menimbulkan tarikan nafas yang memburu untuk keduanya. Dilepaskan sejenak pagutannya untuk memberi kesempatan Rahma menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.


"Bilang kalau gak nyaman, cantik." Tangan Mizyan membelai wajah halus selembut kulit bayi itu penuh perasaan. Batinnya telah berteriak girang penuh syukur kepada Tuhan. Yakin 100 persen, alat yang sangat berharga di tubuhnya telah pulih, sehat walafiat.


Nothing imposible with Allah.


The miracle of marry you.


Bertubi-tubi Mizyan menghujani kecupan lembut di seluruh wajah Rahma. Luapan rasa bahagia dan syukur, yang hanya dia yang tahu. Dengan menikahi Rahma, menjadi obat alami impotensi yang dideritanya beberapa bulan lamanya. Sugesti maupun prasangka baik yang ia bangun bahwasannya Allah sedang merevitalisasi pusakanya. Kini terbukti sudah, berfungsi pada waktunya.


"Minum dulu, sayang." Mizyan membantu membangunkan Rahma yang terbaring tak berdaya dengan rambut berantakan karena ulahnya. Wajah putih itu merona seperti tomat yang membuat ia selalu tak bosan memandangnya. Dua gelas teh habis tak bersisa. Petualangan yang baru dimulai, dan mampu membuat kering tengorokan.


Rahma tak bisa menolak apalagi berucap. Perlakuan lembut dan pelan Mizyan membuatnya terbuai dan melayang. Ia kembali di dorong rebah di sofa sebab Mizyan yang baru hitungan jam menjadi suaminya, melakukan lagi permainan.


Hembusan nafas hangat terasa di leher dengan lidah yang menyusuri setiap inti sampai ke ceruk. Rahma melenguh dengan kedua tangan mencengkram kuat punggung Mizyan yang kali ini menindih rapat tanpa celah tapi sama sekali tidak membebaninya. Hanya gundukan keras yang terasa membebani pas di bagian inti tubuhnya. Lenguhan berikutnya lolos, rasanya ingin meluapkan dengan menjerit keras saking luar biasa sensasi yang dirasa akibat olah bibir Mizyan yang beralih membungkam mulutnya, menyesap dengan rakus tanpa kasar.

__ADS_1


Bel pintu kamar berbunyi sekali, dua kali, tapi abai. Seolah tak terdengar sebab sepasang pengantin berada di atas awan belum terhempas ke bumi. Jeritan bunyi ponsel di atas meja akhirnya mampu mengusik kesadaran Rahma dari buaian memabukkan itu.


"Mas, sebentar. Hapeku bunyi terus." Rahma menginterupsi Mizyan yang mulai bergerilya membuka resleting depan gamisnya.


Mizyan membantu mengambilkan ponsel dengan melihat nama yang tertera di layar. Suci calling.


"Hallo, Suci---" Rahma mendengar suara tangis Dika begitu panggilan tersambung.


"Rahma, aku depan pintu. Dika nangis nih."


"Oh, tunggu bentar."


"Mas, pakai celana dulu. Ada Suci ke sini baqa Dika yang nangis. Rahma menatap Mizyan yang hanya mengenakan boxer dengan bagian depan tampak menonjol.


Mizyan mengangguk. Mengecup bibir kilat sebelum bangun dari duduknya.


Rahma beranjak menuju cermin. Merapihkan bajunya, mengikat rambutnya, terakhir memakai fasmina asal melilit di leher. Tak lupa mengusap wajah agar terlihat normal.


"Nda---Atu cali Nda, cali Papa, hiks...."


Protes Dika menjadi sambutan pertama begitu Rahma membuka pintu.


"Ulu---sayangnya Bunda." Rahma membungkuk, membawa Dika dalam pelukannya. "Tadi kan Dika lagi asyik main sama Manda, sama Nana. Bunda tinggalin dulu soalnya mau ganti baju. Anak soleh gak boleh manyun dong." Sembari mengecup puncak kepala Dika penuh sayang.


"Sorry ya penganten diganggu dulu. Udah dibujuk Dika nya keukeuh bilang mau sama papa atu papa nda juja." Mira yang ikut mengantar tertawa menirukan ucapan Dika.


"Ehm, itu bibir keliatannya agak bengkak ya. Gak mungkin ada nyamuk deh di sini." Suci berkata pelan takut terdengar orang lain.


"Ish, rese. Sana kalian pergi." Rahma memukul lengan Suci yang tengah terkikik dengan Mira. Setelah 3 langkah pergi malah terdengar 2 orang sepupunya itu tertawa lepas. Membuat Rahma geleng-geleng kepala dengan wajah yang merah.


"Papa---atu cali-cali Papa." Dika masih saja protes dengan bibir mengerucut menyambut kedatangan Mizyan yang baru keluar kamar mandi usai mencuci muka.


Mzyan mengangkat Dika tinggi-tinggi. Wajah mungil yang memberengut itu pun berubah tertawa lepas begitu badannya digerak-gerakkan seperti pesawat terbang.


Setelah cukup, Mizyan menurunkan Dika dan mendekapnya di pangkuan sembari duduk di samping Rahma yang sedari tadi mengawasi. "Sekarang Dika udah sama Papa, sama Bunda. Jangan manyun lagi, oke!" Tangan kanannya diangkat ke udara dan disambut Dika ber high five.


"Atu mau bobo ama Nda ama Papa juja!" Dika beringsut turun dan berlari menaiki ranjang.

__ADS_1


Mizyan menatap Rahma dengan tatapan memelas. Yang dibalas Rahma dengan mengangkat bahu.


__ADS_2