
"Met sore Jeng Fatma--" Indah menyapa Uma yang baru saja muncul ke teras bersamaan dengan ia dan Theo memasuki pekarangan.
"Eh, Bu Indah, Pak Theo.....mari masuk." Uma melakukan cipika cipiki dengan Indah dan bersalaman dengan Theo. Sekadar basa basi bertanya kabar dan mempersilakan tamunya masuk ke dalam rumah.
Ada keterkejutan di wajah Indah begitu masuk ke ruang tamu sudah berkumpul banyak orang. Ada Pak Badru dan Mizyan sedang berbincang. Entah apa yang mereka bahas. Rahma, Suci dan Nico pun terlihat anteng dalam obrolan. Tampak ada penambahan kursi duduk yang masih kosong. Theo bersikap santai saja. Ini kali kedua ia sengaja menyambangi rumah itu. Bersama sang istri turit menyalami penghuni ruang tamu.
"Nico, tumben-tumbenan bisa ketemu di sini." Sapaan Indah dengan wajah ramah pada Nico, orang yang terakhir disalaminya.
"Lagi main aja tante, udah lama gak ketemu Om Badru dan Uma." Sahut Nico dengan senyum ramah mengikuti gestur sang tamu. Padahal ia memang sengaja mau ikut sidang keluarga atas nama sahabat almarhum Malik.
"Dika di mana, Rahma?" Indah memandang sekeliling sebab mendengar suara cekikilan khas anak-anak tapi tidak melihat orangnya. "Mama gak bawa apa-apa. Ada ini buat Dika." sambungnya menyerahkan paper bag pada Rahma.
"Makasih, Ma. Padahal gak usah repot-repot." Rahma menerima uluran paper bag. "Dika lagi main sama sepupunya. Sebentar dipanggil dulu." Sembari berlalu menuju ruang keluarga, dimana Dika dan Manda sedang anteng dengan mainan terhampar di karpet.
"Dika, ada Oma Indah dan Opa Theo. Salim dulu yuk, sayang. Bentar aja--" Rahma dengan lembut membujuk sang anak sebab sebelum-sebelumnya selalu susah untuk menurut. Cuek.
Sama seperti sebelumnya, dijawab Dika dengan menggedikkan bahu. Tetap fokus menyusun balok marble run bersama Manda.
"Yeay, jadi Dika." Manda berseru girang kala balok berwarna warni terang telah tersusun. "Taroh gundu nya di atas!" Sambungnya memerintahkan Dika untuk menyimpan gundu.
Gundu pun bergerak dari susunan yang tinggi ke yang rendah. Membuat Dika dan Manda berteriak heboh sembari bertepuk tangan. Kerja keras menyusun balok sesuka hati, berhasil menggelindingkan gundu dengan lancar.
Rahma menghela nafas panjang. Kehadirannya malah dicuekkin anak-anak. Jangan sampai mengesankan Dika tidak dididik sopan santun. Meski sikap cuek anaknya itu hanya berlaku pada keluarga mama Indah.
"Manda, temani Dika salim dulu sama Oma Indah dan Opa Theo. Mau ya anak cantik?" Kali ini Rahma merayu lewat Manda. Mencoba keberuntungan agar Dika luluh.
"Dika ayo aku temenin. Kata Mama juga anak kecil harus salim sama yang lebih tua." Manda menarik tangan Dika yang akhirnya berdiri dengan ogah-ogahan.
Kehadiran Dika dan Manda diiringi Rahma ke ruang tamu, menghentikan sejenak obrolan santai yang sedang berlangsung antara dua orang tua paruh baya, lasangan Ayah Uma dan I dah Theo. Indah melambaikan tangan kepada Dika, menarik tubuh bocah itu ke pangkuan usai mencium tangannya dengan buru-buru.
"Sebentar dong...Oma kan kangen sama Dika." Indah menahan tubuh Dika yang meronta turun.
Dika menggeleng dan meronta lagi. "Atu mau cama Papa--" Ia berpindah menuju Papa Buye dan menggelayut di lengan.
Membuat Mizyan berbisik di telinga, Dika tampak mengangguk. Ia berhasil membujuk Dika sebab belum menyalami Theo. Tanpa beban, Manda pun mengikuti menyalami sang tamu. Kedua bocah itu berlalu melanjutkan permainannya.
Suci mengikuti Rahma yang pergi ke dapur untuk membuat teh. "Rahma, anak-anak aku bawa pulang aja. Biar gak ganggu sidang. Kayaknya bakalan lama nih urusannya. Masih obrolan warming up dari tadi." pungkasnya dengan santai mengambil satu pisang yang ada di meja.
Rahma tampak berpikir sembari menuangkan air panas pada poci teh celup. "Boleh juga. Nanti aku jemput sambil pulang."
__ADS_1
Dengan mengambil jalan keluar lewat pintu samping, Suci menuntun Manda dan Dika keluar. Melewati pekarangan terdengar samar-samar obrolan mulai serius. Ia mempercepat langkah menuju mobil yang terparkir di tepi jalan sebab dua bocah yang dituntunnya tertawa-tawa keras. Dika membicarakan tema sapi pada Manda dengan banyak gaya.
"Neng Suci, mau kemana nih bawa si cantik dan si ganteng?"
Suci spontan mengusap dada, terkejut tiba-tiba Ceu Imas melongokkan kepala dan berbicara dari balik pintu pagar besi.
"Ish, Ceu Imas bikin kaget aja." Menggeleng melihat tetangga Uma itu malah cengengesan. "Mau pulang Ceu, Dika mau main di rumah Manda." Tangannya merogoh kunci mobil dari dalam tas. Menekan remote dan membukakan pintu untuk anak-anak agar masuk.
"Uma lagi santai gak ya? Eceu mau ketemu Uma." Ceu Imas menghampiri Suci yang baru menutupkan pintu mobil tengah.
"Uma lagi ada tamu dari Jakarta. Mending besok lagi aja ya, ceu!" sahut Suci sembari berjalan menuju pintu kemudi.
"Oh lagi ada pembicaraan penting ya, Neng?" Ceu Imas mengikuti langkah Suci, mulai mengorek-ngorek.
Suci yang sudah membuka pintu, tersenyum tipis. "Biasalah...obrolan keluarga. Permisi ya Ceu, saya mau pulang keburu hujan." Pungkasnya menunjuk pada langit yang mulai gelap oleh mendung yang bergelayut. Buru-buru masuk dan menutup pintu mobil untuk menghindari pertanyaan berikutnya.
****
"Rahma, maksud Mama ke sini untuk membahas soal almarhum." Indah akhirnya mengalah pada situasi. Yang tadinya berharap cukup ngobrol dengan Rahma, ditemani Mizyan gak masalah. Namun malah semua orang bergeming duduk di tempatnya masing-masing. Padahal ia sudah memberi dua kali isyarat.
Malah dengan santainya Nico berceletuk. "Tante, kami akan mendengarkan apa yang mau disampaikan. Kami ini keluarga, harus tahu langsung. Apalagi kalau menyangkut almarhum Malik, aku orang terdekatnya wajib tahu!"
Indah menghela nafas panjang dengan raut muka berubah sedih dan mata sayu. "Malik, anak kandung saya satu-satunya. Dia saya lahirkan dengan disambut sukacita, dirawat sejak kecil hingga besar, dibiayai pendidikan sejak play grup sampai kuliah S2. Memang dulu saya tidak merestui Malik menikah denganmu, Rahma. Sampai hubungan ibu dan anak renggang gara-gara Malik lebih memilihmu. Sampai dia meninggalpun, hubungan kami belumlah normal." Sembari menyeka sudut mata yang berair dengan tisu yang tersedia di meja.
"Saya menyesal dengan takdir yang menimpa ini. Andai kamu atau Malik bilang dari awal tentang penyakit kanker itu, pasti saya akan selalu ada di dekatnya. Mengisi waktu untuk memperbaiki hubungan. Makanya dulu waktu tahu Malik meninggal, saya marah sama kamu, nyalahin kamu." Sorot tajam Indah yang berubah emosional dengan serak sedih menatap Rahma. Wanita cantik yang tampak berkaca sebab hatinya yang melow tersentuh drama kepiluan sang mantan mertua.
Mizyan menautkan jemarinya dengan jemari Rahma yang terasa dingin. Memberi ketenangan dan kekuatan pada sang istri yang tampak berkaca-kaca. Keduanya saling pandang sekilas, dan Mizyan menganggukkan kepala. Isyarat mengingatkan jangan terbawa perasaan, jangan terbawa drama, seperti yang sudah ia katakan saat menjemput ke toko.
"Tante, maaf. Ini kok jadi mentah lagi bahasannya." Nico menginterupsi ucapan wanita paruh baya yang selalu terlihat stylish itu. "Aku gak mau ya kalau harus mengorek-ngorek lagi masa lalu. Kasihan Malik yang sudah tenang. Karena pastinya senjata akan mengarah pada tante sendiri." Masih tetap bersikap tenang tapi tegas.
"Ehmm---" Mizyan berdehem. "Bu Indah, bisa to the point aja. Apa yang Ibu inginkan?!" Menohok langsung pada ulu hati sang tamu yang sudah merangkai kata-kata manis siap tersembur dari bibir bergincu merah itu.
"Maaf ya, kamu memang suami Rahma yang sekarang. Tapi untuk urusan ini, kamu sebaiknya tidak ikut campur, jadi pendengar aja." Theo yang sedari tadi menjadi pendengar, mulai membuka suara.
"Maaf Pak Theo, apapun permasalahan yang menyangkut Rahma dan keluarganya, menjadi urusan dan tanggungjawab saya juga!" Lugas namun tetap bersikap tenang, Mizyan membalas ucapan Theo.
Indah tampak menoleh pada suaminya dan memberi isyarat mata. Theo mengatupkan bibir, meraih gelas tehnya yang sedari tadi dianggurkan.
"Sudah jalan 15 bulan Malik pergi. Selama ini saya sabar menunggu itikad baik dari kamu, Rahma." Indah masih memfokuskan menatap mantan menantunya itu dengan sikap tenang dan nada bicara mengiba. "Kamu dan Dika mendapatkan semua warisan Malik. Saya nol. Meskipun pengacara sudah menguatkan secara hukum, saya mengetuk hati nurani kamu, Rahma. Masa tega saya ibu kandungnya tidak diberi sepeserpun. Mana sebentar lagi saya harus operasi ke Singapore butuh uang 100 juta." Pungkasnya dengah iringan helaan nafas berat.
__ADS_1
"Saya juga tahu kalau Malik punya saham di perusahaan kamu, Nico." Indah beralih menyerang Nico. "Kalian kok pelit gak mau ngasih sekedar buat beli pulsa juga." Kali ini menyerang sekaligus Nico dan Rahma.
Rahma masih diam seribu bahasa. Sebab Nico lebih dulu membalas serangan. "Tante, kekayaan yang Malik punya adalah hasil kerja kerasnya. Aku ralat dulu ya, kuliah S2 Malik pakai uang sakunya sendiri. Tante waktu itu memilih menikah dengan Om Theo dan stay di Singapore. Padahal Malik jelas-jelas tidak setuju."
"Hei, Nico. Kenapa jadi ngebahas ke sana!" Giliran Theo memotong ucapan Nico dengan nada sedikit tersinggung.
"Sebentar, Om. Jangan motong dulu!" Nico mengangkat tangan ke depan, mengubah posisi duduknya lebih tegak. "Tante lebih sayang sama si Alex, anak tiri Tante. Apapun keinginannya selalu dipenuhi. Sementara Malik yang kuliah S2 sambil kerja harus transfer duit tiap bulan sama tante. Alasannya biaya hidup di Singapaore mahal, gaji Om Theo gak cukup. Jadi jangan muter balikkan fakta, TANTE INDAH! Aku dan Malik selalu terbuka dalam segala urusan." Tegas Nico penuh penekanan.
"Kamu ngomong apa, Nico--" Indah mulai gusar dengan ucapan Nico yang memojokkannya.
"Sekarang Tante ke sini minta hak sama Rahma?" Nico tersenyum sinis. "Aku dan Malik sama-sama investasi di properti. Malik mempercayakan dokumen 2 unit rumah di Cibubur disimpen sama Tante. Nyatanya dipakai agunan ke bank tanpa ijin. Terus macet dan harus dijual karena disita. Itu uangnya 8 M tahun 2012, tante makan sendiri dengan alasan buat bisnis berlian. Malik mengalah, hanya bisa gigit jari. Jadi wajar kalau Malik gak nulis surat wasiat untuk tante. DELAPAN MILIYAR ZAMAN 2012, TANTE." Pungkasnya dengan merentangkan jari berjumlah 8 dengan emosi yang mulai terpancing. Ayah Badru menepuk bahu Nico, mengingatkan agar tetap tenang.
Sungguh fakta baru yang membuat Rahma terhenyak. Tak menyangka jika dulunya almarhum sang suami harus kerja keras demi gaya hidup sang ibu. Ada perih yang mengiris hati. Mendadak terbayang keceriaan yang selalu menghiasi wajah tampan Malik. Ternyata dibalik itu menyimpan masa lalu kehidupan keluarga yang hambar. Korban broken home.
Indah sudah kena skakmat oleh Nico. Ia menelan saliva berkali-kali dengan ketegangan nampak di wajahnya.
"Sudahlah, itu sudah menjadi cerita masa lalu. Jangan diungkit. Saya rasa wajar jika istri saya menggunakan uang anaknya. Hitung-hitung balas budi anak pada ibunya." Theo menimpali untuk menyelamatkan muka sang istri.
"Ma, aku masih menghormati Mama sebagai ibunya bang Malik." Rahma mulai membuka suara setelah mencerna semua percakapan yang menaikkan tensi darah. "Sebutkan saja berapa angka yang Mama minta sekarang."
"Sebutkan juga angka balas budi jasa melahirkan sampai menyekolahkan. Tapi ini untuk pertama dan terakhir Mama meributkan harta. Kasihani Bang Malik yang sudah tenang, Ma!" Ia mencoba menyentuh hati seorang ibu yang tidak tulus, tapi malah mengungkit yang harusnya menjadi fitrah kaum ibu. Malah meminta balas budi.
"Saya mendukung keputusan istri." Mizyan menimpali tanpa melepas tautan jemari tangannya. "Bu Indah gak perlu akting sakit dan harus operasi untuk dapat uang 100 juta. Saya orang yang tidak suka dibohongi. Saya tahu pasti kegiatan sehari-hari Anda. Hati-hati ucapan bisa menjadi do'a!" Dengan sikap tenang dan lugas, ia menatap tajam Indah yang tampak pias melihat foto-foto yang kini dijajarkan di meja.
************
Attention Please!
~Grup Chat (GC) Me Nia adalah sarana silaturahmi, saling berbagi ilmu, juga hiburan antar fans dari berbagai wilayah Indonesia.
~Baca RULES/ATURAN jika sudah di acc sebagai member. Jika gak faham bertanyalah.
~Silent reader (Sider) yg melanggar aturan, seperti nyomot hadiah tanpa terimakasih & sudah beberapa kali ditegur tapi tetap abai, dengan terpaksa author sendiri yg KICK demi kenyamanan bersama.
~Yg masih menunggu acc, harap pastikan lagi kesungguhan niat ingin masuk GC ya. Aku gak butuh quantitas tapi kualitas.
~Maafkeun jika aku harus tegas. Plis jangan baperan bin pundungan 😉
Me Nia
__ADS_1