MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 28. Holiday in Bali (2)


__ADS_3

Mizyan dan Kemal duduk satu meja menikmati makan malam di tepi pantai. Tak hanya mereka berdua, ada pula tamu hotel baik turis lokal ataupun turis mancanegara yang mengisi meja-meja yang lain di cafe and resto berkonsep indoor dan outdoor itu.


"Mau cerita nggak, siapa foto anak dan cewek berhijab yang ada di hape kau?!" Tanya Kemal disela menikmati menu khas Bali berupa ayam betutu dengan rasa rempah yang gurih dan pedas menyegarkan.


Mizyan tak langsung menanggapi. Memilih menikmati pula sajian khas Bali lainnya. Ia menggigit sate lilit yang terbuat dari daging yang dicincang dengan tambahan bumbu rempah lalu dililitkan ke tusukan bambu. Berpadu sambal matah dan nasi putih yang hangat. Rasanya sungguh luar biasa enak.


"Itu satu paket, ibu dan anaknya." Mizyan mulai angkat bicara usai menghabiskan makanannya. "Suaminya meninggal belum sampai satu tahun."


"Dan kau suka padanya?" tebak Kemal dengan mengarahkan pisau daging ke depan dada Mizyan.


Mizyan mengangguk tanpa ragu. "Mudah mendapatkan hati anaknya. Tapi sulit mendapatkan hati ibunya. Butuh strategi dan kesabaran."


"Kenapa nggak cari yang singgle? Kau punya modal. Pengen istri 4 juga tinggal tunjukkan pesonamu, mudah." Kemal tertawa lepas melihat Mizyan yang mendelik.


"Soal hati nggak bisa dipaksakan. Dan hatiku telah terpikat padanya." Mizyan mengulas senyun kala seraut wajah ketus melintas di pikirannya. "Dia wanita baik, dari keluarga taat beragama. Pokoknya layak diperjuangkan."


"Ah gila kau. Jawabannya bikin aku mati kutu. No coment dah." Kemal angkat tangan. Menyerah mendengar jawaban diplomatis bak seorang Arjuna yang memperjuangkan cinta.


"Untuk kebahagiaan kau, aku akan dukung." Kemal menatap serius. "Kau sudah aku anggap seperti adikku. Butuh bantuan apa buat naklukin dia? Ngomong aja."


"Thanks, Bang. Do'akan saja."


Kemal tertawa sumbang diiringi gelengan kepala. "Aku sering maksiat, banyak dosa. Nggak yakin Tuhan akan dengar do'aku."


"Jadi Abang sadar kalau Abang banyak dosa?!"


"Iyalah. Setiap abis melakukan, aku inget ini dosa. Suka ada rasa menyesal juga. Tapi jarak 2 minggu kemudian ngulang lagi. Nggak bisa nahan *****, Le." Keluh Kemal diiringi kepulan asap rokok yang langsung bias tersapu angin.


Mizyan menggeleng kala Kemal menawarkan rokok. Memilih mencicipi desert yang ada di meja. "Itu artinya Abang masih punya iman. Hanya saja masih kalah sama *****."

__ADS_1


"Guruku pernah menyampaikan, orang yang cerdas adalah orang yang mampu menahan hawa nafsunya."


"Aku salut sama kau. Mualaf, tapi begitu sungguh-sungguh mendalami Islam."


"Tapi aku, menjadi muslim sejak lahir tapi suka lalai. Sholat kadang-kadang, maksiat jalan. Jadi malu aku." Pungkas Kemal tersenyum meringis.


"Tak ada kata terlambat untuk berubah, Bang. Aku juga lagi belajar menjadi orang bener."


"Ayo Bang, kita hijrah sama-sama. Mumpung Allah masih menutupi aib kita."


Mizyan memberi support agar Kemal segera kembali ke jalan yang lurus. Berhenti dari kebiasaannya main perempuan.


"Baiklah, asal kau bantu aku."


Dan subuh ini menjadi sholat pertama bagi Kemal setelah belasan tahun hanya melaksanakan ibadah wajib itu asal-asalan dan jarang-jarang. Kadang sholat agar dilihat istri dan anak-anaknya kala di rumah. Di luar itu ia lalai disibukkan oleh pekerjannya. Menjadi lupa kala hidup miskin begitu taat beribadah dan giat berdo'a. Harta berlimpah membuatnya terlena, jauh dari Allah.


"Maju, Bang!" Mizyan mempersilakan Kemal maju ke depan ke posisi imam. Bahkan sebelumnya ia harus sabar membangunkan Kemal yang malah melekatkan selimut begitu tubuhnya digoyang-goyangkan agar bangun.


Mizyan pun maju menjadi imam dengan 2 makmum, Kemal dan Fahmi.


Ada hal yang harus dipastikannya pagi ini. Mizyan bersiap pergi ke pantai Kuta. Ia meminjam mobil pick up milik operasional resor untung membawa surfing board yang ia sewa.


"Mau ikut surfing, Bang?" tawar Mizyan kepada Kemal begitu siap berangkat dengan mengenakan celana pendek dan kaos oblong.


Kemal menggeleng. "Aku banyak kerjaan. Lagian di sana banyak bi ki ni berseliweran. Tak ada penyaluran. Udah kau usir ciwiknya." Pungkasnya dengan mata mendelik sebal.


"Dasar otakmu, Bang. Nggak bisa jauh dari se lang ka ngan." Mizyan berbalik badan kala sudah membuka pintu ruangan. "Ingat, hijrah Abang baru dimulai. Jangan macam-macam!" Ancamnya dari ambang pintu dengan gerak tangan menibas leher.


"Iya Bule, iya. Bawel dah. Sana pergi!" Kemal mengibaskan tangannya untuk mengusir Mizyan yang masih berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


"Have fun!


Mizyan masih mendengar teriakan Kemal begitu berjalan meninggalkan private room itu. Ia hanya tersenyum tipis. Kepergiannya ke pantai Kuta selain ingin surfing juga untuk eksperimen diri.


Matanya berbinar melihat suguhan deburan ombak yang memacu adrenalinnya. Sudah ada anak-anak pantai juga turis asing yang tengah berselancar dengan view terbitnya sang mentari. Ia melakukan warming up terlebih dahulu dengan berlari di bibir pantai lalu melemaskan otot-otot.


Bak peselancar profesional, ia melakukan teknik paddling, mendayung papan surfing dengan posisi badan tengkurap dan kedua tangannya mengayuh menuju ke tengah pantai, menyongsong datangnya gelombang ombak tinggi. Dan ia pun berdiri, meliuk-liuk bermanuver mengikuti alur ombak yang bergerak bergulung. Ia seolah tengah berkendara di atas ombak dengan kecepatan penuh. Kembali ia mendayung papan selancar, menunggu gulungan ombak berikutnya yang datang lebih tinggi. Puas satu jam lamanya ia berada di tengah pantai, membiarkan tubuh atas bertelanjang dada terkena terpaan hangatnya mentari pagi. Tanpa mengabaikan etiket surfing, ia pun bergiliran bersama surfer lainnya mendayung menuju puncak ombak.


Mizyan tidur telentang berjemur di pasir pantai, mengatur nafasnya agar kembali normal usai olahraga ektrim yang memacu adrenalin dan menguras tenaganya itu. Lalu lalang perempuan berbi ki ni, berjemur dengan telentang atau telungkup menjadi pemandangan biasa dan apatis. Sebagai pria normal, di mana ia kini diapit perempuan seksi di kiri dan kananya, tentunya membuat hasrat terpancing.


Ia hanya tersenyum tipis mendapat pujian salah satu bule seksi yang memuji atraksi surfingnya. Gestur tubuh yang menggoda dengan ajakan berkenalan dan mengajak hang out di Hard Rock Cafe nanti malam. Ia menolaknya dengan halus dan sopan. Setelah merasa cukup eksperimen yang dilakukannya, ternyata terbukti jika 'si junior' tak bergeming tetap tidur nyenyak. Ia pun memilih kembali ke resor dengan wajah kecut dan otak yang dipenuhi rencana untuk segera berkonsultasi ke dokter.


Tiga hari sudah ia berada di Bali, liburan sambil tetap bekerja. Bersamaan dengan Kemal pun akan kembali pulang ke Balikpapan usai liburan sekaligus memantau keadaan resornya.


"Bareng aja, Le. Aku antar pulang ke Bandung." Tawar Kemal yang akan pulang menggunakan jet pribadi.


"Aku tidak pulang ke Bandung, Bang. Mau lanjut ke Semarang, ada urusan lagi." Sahut Mizyan tanpa mengalihkan perhatiannya dari laptop sebab ia tengah mengirimkan email kepada kliennya.


"Cepet halalin tuh gebetan. Biar kau betah di rumah, nanti bikin kantor sendiri, nggak terus-terusan nomaden."


Mizyan tertawa sumbang mendapat cibiran dari pria yang sudah dianggap sebagai kakaknya itu. Ia pun bersiap begitu Fahmi datang mengabari jika mobil yang akan mengantarnya ke bandara sudah standby di luar lobby.


"Bang, awas jangan tobat sambel setelah kita berpisah!" Ia mewanti-wanti kala pamit kepada Kemal. "Aku nggak lihat, tapi Allah selalu lihat. Jangan sampai Abang mati pas lagi maksiat."


Kemal menghela nafas panjang. "Bismillah, Le. Semoga aku bisa istiqomah."


"Sering-sering ngumpul dengan orang soleh, Bang.. Jauhi lingkungan pergaulan yang memberi pengaruh buruk. Itu akan membantu keistiqomahan." Pungkas Mizyan yang melakukan perpisahan dengan berpelukan.


"Sampai ketemu bulan depan di Medan."

__ADS_1


"InsyaAllah, Bang." Mizyan mengacungkan jempolnya dan berucap salam sebagai pamitan terakhir.


Sepanjang perjalanan menuju bandara, ia berselancar di dunia maya mencari informasi mengenai dokter andrologi yang ada di Semarang. Merupakan salah satu kota besar yang akan ditujunya untuk mencari jejak orangtuanya.


__ADS_2