MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 53. Zonk


__ADS_3

Tujuh hari berlalu sejak Mizyan menyatakan perasaannya. Rahma berdiri di depan jendela kamarnya menatap pohon mangga yang belum berbuah tepat berada sejajar dengan kamarnya juga pandangan yang lurus tembus ke jalan terhalang pagar jeruji besi. Di luar pagar sana biasanya menjadi tempat terparkirnya mobil sport merah jika bertamu ke rumah. Dan ia melihatnya terakhir kali tujuh hari yang lalu. Merasa ada yang hilang.


Ia menyaksikan dedaunan tanaman keladi aneka warna dan corak bergoyang-goyang sebab tertimpa rintik hujan pagi hari yang dingin. Menatapnya, membuat teringat pada peribahasa bagai air di daun keladi. Seperti itu pula yang terjadi dengan perasaannya, berubah-rubah tak konsisten. Ia masih menyimpan kenangan dan rindu pada almarhum Malik. Namun tak dipungkiri kehadiran Mizyan telah berhasil merobohkan satu persatu benteng kokoh di hatinya. Kala ia bangun lagi keteguhan hati, seketika rontok lagi jika sudah bertemu om buyenya Dika itu.


Mizyan benar-benar serius menjaga jarak. Dengan alasan memberinya ruang untuk berpikir. Semalam Dika ngotot ingin menghubungi om buye dengan ponselnya sebab ayah Badru belum pulang dari rumah Suci. Rahma pun menghubungi nomer Mizyan sekaligus menguji konsistensi orang itu dalam membuat aturan. Faktanya, Mizyan benar-benar konsisten tak menjawab sambungan video darinya.


Rahma beralih membuka lemari meja rias. Dua lembar kertas hasil menggambar Mizyan yang disaksikan Dika 4 hari yang lalu itu, ia kira hanya goresan gambar kartun atau gambar gunung dengan hamparan sawah. Tatkala ia membereskan gelas di meja ruang tamu, pandangannya terbentur pada kertas dengan sketsa gambar wajah mirip sekali Dika. Ia bahkan tersenyum tulus mengagumi karya arsitek profesional itu. Nggak menyangka mahir juga membuat sketsa wajah. Ia beralih membuka kertas kedua dibelakangya. Ia tertegun tanpa kedip melihat kertas kedua, mendadak tangannya gemetar.


We have different past time. But now, I want to talk about our future. Could you marry me? ---- Mizyan.


(Kita punya masa lalu yang berbeda. Tapi sekarang, aku mau bicara tentang masa depan kita. Maukah kamu menikah denganku?)


Tulisan itu tepat berada di bawah sketsa hitam putih wajahnya yang tengah tersenyum malu. Yang mampu memberi efek dadanya sesak sebab berbagai rasa berkecamuk dan tangannya gemetar tak bertenaga kala memegang kertas.


Ia menghembuskan nafas panjang. Dielusnya kertas yang menurutnya berharga itu sebab ada karya seni dan kalimat bermakna tentunya.


"Rahma, udah siap belum?!" Suara ketukan di pintu kamarnya diiringi teriakan Uma membuatnya memasukkan kembali 2 lembar kertas itu ke dalam lemari kecil meja riasnya. Ia bergegas keluar kamar usai menyambar tas yang akan dibawanya ke Bogor bersama Ayah.


"Dika sama nenek dulu ya. Nggak boleh rewel, oke?" Rahma menciumi kedua pipi Dika yang mengantarnya sampai teras. Bersyukur Dika mau dibujuk agar tidak ikut sebab perjalanan jauh dan masih asing alamat yang akan ditujunya.


"Nda, nanti tetemu om buye ya ya ya plis---" Dika membulatkan matanya dengan sorot penuh harapan dan keriaan sambil menggelayut manja di lengan bundanya yang masih berjongkok mensejajarinya. "Atu tangen Om Buye. Nda tangen juja?!"


Rahma tak menjawab. Hanya menjawil pipi bakpau anaknya itu dengan gemas. Kenapa sedikit-sedikit selalu saja dikaitkan dengan om buye.


Gerimis masih belum reda. Namun tak menyurutkan niatnya untuk pergi ke Bogor yang sudah tertunda 2 kali kala kedatangan mama Indah dan kesibukan di toko. Dengan iringan doa dari Uma dan lambaian tangan riang Dika, ia dan Ayah memulai perjalanan.


****


Perjalanan sampai ke Bogor berjalan lancar tanpa hambatan. Mobil yang dikemudikan Ayah Badru telah memasuki gapura selamat datang diperkampungan sesuai alamat yang dipegang Rahma. Navigasi berdasarkan google map sangat membantu memandu rute menuju kampung tersebut.


"Yah, di depan ada warung. Aku mau tanya alamat." Rahma menunjuk warung kecil dimana ada tiga orang ibu-ibu sedang duduk-duduk santai sambil menggendong anak balita. Ayah pun memelankan laju mobil sampai tiba di depan warung yang dimaksud.


Rahma turun dan mengucapkan salam pada para ibu rumahtangga yang ia tangkap tengah mengeluh membicarakan kreditan panci set yang belum bisa terbayar minggu ini. "Punten, bu ibu mengganggu waktunya. Saya mau tanya rumahnya Pak Ojak dimana ya?" Ujarnya sambil mengulas senyum ramah pada kumpulan emak-emak berdaster yang memperhatikannya dari atas sampai bawah.


Terdengar ketiganya berikut pemilik warung saling bersahutan berbicara dan berdebat dengan logat sunda yang baru ia dengar yang membuatnya roaming sebab mereka bicara dengan cepat. Berbeda dengan logat sunda warga Bandung seperti yang biasa ia dengar.

__ADS_1


"Punten bu ibu, bisa pakai bahasa Indonesia aja? Saya tidak mengerti semua kalimatnya." Rahma tersenyum meringis mendengar penjelasan berbahasa sunda dengan sebagian kosakata yang asing di telinganya.


"Di sini nama Ojak ada 2. Ojak codet sama Ojak kicimpring. Teteh mau ke Ojak yang mana?" Salah seorang berinisiatlif mewakili menjelaskan.


Rahma teringat akan isi surat Malik yang diberikan pengacara. Ada ciri fisik yang disebutkan mengenai orang kepercayaan almarhum suaminya itu bahwa ada bekas jahitan di samping sudut bibir kanan.


"Sepertinya Ojak codet." Jawab Rahma dengan nada bicara setengah ragu.


"Kalau Ojak codet kerjaannya ngurus kebon orang Jakarta. Kalau Ojak kicimpring yang punya usaha bikin kicimpring."


"Ah iya, Ojak codet. Saya sudah yakin." Rahma berbinar setelah mendengar penjelasan lebih rinci tentang profesi. Ia pun mengucapkan terima kasih kepada kumpulan emak berdaster itu sambil menyelipkan 2 lembaran merah usai bersalaman. "Hatur lumayan buat jajan bakso...dibagi 4 ya."


Tentu saja mereka sangat senang dan mengucapkan terima kasih dengan girang.


"Yah, satu kilo lagi ada masjid. Terus ada gang, kita masuk ke sana." Rahma melaporkan hasil bertanya barusan. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang melibas jalan aspal kampung yang cukup bagus.


Mereka tak menyadari jika ada mobil yang menjaga jarak mengikutinya sejak dari Bandung sampai tiba di warung tempat Rahma bertanya tadi. Tawa riang seisi warung terhenti seketika kala seorang pria yang mengenakan topi dan berjaket coklat turun dari mobil dan menghampiri. Tampak orang itu menginterogasi apa saja yang ditanyakan Rahma saat tadi.


"Eh, itu----" Rahma terkejut seketika dengan telunjuk mengarah ke depan jalan kala sebuah mobil melintas cepat dari arah berlawanan. Lalu ia memutar tubuh ke belakang menyaksikan mobil sport merah yang kini makin menjauh dan terhalang 2 motor sehingga ia tak bisa membaca plat nomor yang sudah dikenalnya tanpa harus dihafalnya. Sekadar untuk meyakinkan penglihatannya tadi.


"Ada apa, Rahma?" Ayah menoleh dengan kedua alis bertaut bahkan menghentikan mobilnya ke pinggir jalan melihat sang anak yang memekik kaget.


Mungkin halusinasi aja.


"Rahma, kenapa?" Ayah menatap khawatir terhadap anaknya yang kini memejamkan mata dan menggelengkan kepala.


"Aku liat mobilnya-----" Rahma menggantungkan ucapannya. Terlalu malu untuk menyebutkan nama pria yang tanpa kabar sejak seminggu ini. "Eh bukan, Yah. Tadi salah liat." Ia pun mengajak Ayah melanjutkan perjalanan yang sebentar lagi sampai ditujuan sebab warna hijau kubah masjid sudah terlihat.


Sebelum memasuki gang, Ayah memepetkan mobil ke bahu jalan yang sempit agar tak menghalangi lalu lintas kendaraan yang lewat sebab lebar jalan kampung lebih kecil dibanding jalan raya.


****


Setengah enggan Mizyan mengikuti kemauan Papi Mark yang mengajaknya mengunjungi pabrik pengolahan kayu yang berada di kecamatan berbeda di jalur jalan nasional.


"Kamu harus tahu kalau papi punya 2 usaha, peternakan sapi dan kayu. Some day, it's yours."

__ADS_1


Mizyan menoleh sekilas sang papi yang menumpang di mobilnya. Tampak pria paruh baya yang berpenampilan perlente dan awet muda itu sangat menikmati perjalanan usai keluar dari gerbang villa.


"Papi harus selalu sehat dan panjang umur biar bisa manage 2 perusahaan jadi makin sukses. Makin besar profit makin banyak orang susah yang dibantu. Balancing."


Mark mengangguk setuju dengan teori sukses ala anaknya itu. "Miki, Papi butuh skill kamu untuk menghandle pabrik kayu."


Mizyan menggelang. "Passion aku di dunia arsitektur. Aku enjoy jadi tukang gambar keliling." Pungkasnya penuh kebanggaan. Ia mempercepat laju mobilnya kala jalanan kampung tampak lengang agar segera memasuki jalan raya.


"Prinsipmu akan berubah dengan sendirinya, after you have a wife and child."


Mizyan langsung mengatupkan bibir usai mendengar ucapan papinya itu. Di tengah fokusnya mengemudikan mobil, pikirannya menerawang. A wife and child , mengingatkannya pada Rahma dan Dika. Menjaga jarak dengan Rahma, menahan diri untuk tidak menggodanya, membuatnya tersisa juga. Rindu? Of course.


Apa kabar, my wife....soon to be.


Hopely, tak sampai 2 bulan hatimu luluh terbuka untuk menerimaku.


Bukan Mizyan namanya kalau tidak selalu penuh optimisme. Bukan hanya pada urusan asmara tapi juga diaplikasikan di bidang pekerjaannya.


Briefing mendadak digelar Mark di kantor yang satu lokasi dengan pabrik pengolahan kayu. Manajer dan para staf kantor dikumpulkan untuk mengumumkan sekaligus memperkenalkan Mizyan sebagai anak kandungnya yang harus dikenali oleh semuanya.


Usai ramah tamah dan berkeliling melihat aktifitas ratusan karyawan, Mizyan mengajak sang ayah untuk kembali ke villa sebab harus melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. Ia sama sekali belum tertarik dengan cara kerja duduk manis seharian di belakang meja di ruang kantor. Ia lebih betah bekerja dalam suasana non formal, bebas dimana saja.


Semburat jingga di cakrawala seolah menaungi laju mobil sport merah kembali memasuki jalan perkampungan. Pesawahan yang hijau menjadi pemandangan yang menyegarkan mata sebelum kemudian melewati deretan rumah penduduk yang padat.


"Slowly--- tiap sore banyak anak-anak main ke jalan." Mark mengingatkan Mizyan untuk mengurangi kecepatan mobil.


Benar saja, di jalanan depannya tampak anak-anak bermain berkejaran. Membuatnya harus waspada dan memelanlan laju mobilny sebab khawatir ada anak yang terjatuh di jalan.


"Wait----!" Mizyan mengerem setelah melewati sebuah mobil Outlander warna hitam yang terparkir di dekat masjid. Merasa kenal.


"Whats wrong, Miki?" Mark menatapnya heran.


"Nothing, Papi." Mizyan tidak bisa lama-lama memusatkan perhatian pada plat nomor mobil itu sebab terhalang oleh anak-anak yang bermain juga suara klakson dari belakang yang menyuruhnya maju.


Sampai di villa, terdengar suara adzan magrib berkumandang bersahutan dari masjid setiap kampung. Rasa penasaran menghantui dengan mobil yang dilihatnya tadi. Ia bergegas turun lagi ke kampung bawah usai sholat, dengan menggunakan motor, untuk memastikan lagi benarkah itu mobilnya Rahma.

__ADS_1


Zonk.


Ia mendapati kenyataan jika mobil sudah tidak ada lagi di tempatnya.


__ADS_2