MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 91. Ruang Hampa Mark Cornelius


__ADS_3

Rangga duduk di ruang tamu sendirian. Menunggu Pak Yunus yang tengah dipanggilkan oleh Olla. Iseng menyapukan pandangan pada deretan foto yang terpajang di atas bufet. Lalu terpusat pada foto gadis tengah tersenyum manis dengan pakaian wisuda berlatar belakang piramida Mesir.


"Mangga diminum dulu, kang Rangga. Bapak baru pulang dari empang, bersih-bersih dulu." Suara Olla membuyarkan konsentrasi Rangga yang kemudian duduk lagi di kursinya. Sudah ada 2 gelas teh tersaji di meja.


"Kamu lulusan Al Azhar?" Rangga lebih tertarik memastikan foto yang baru dilihatnya. Dijawab Olla dengan anggukkan.


"Hebat--." Hanya satu kata yang lolos sebagai penggambaran rasa kagum Rangga pada gadis manis berkulit kuning langsat itu.


"Alhamdulillah." Olla tersenyum tipis.


"Gak ngajar?" Rangga memecah kebisuan yang seaaat tercipta.


"Hari ini jadwal libur." sahut Olla menjawab sekadarnya.


Pak Yunus datang dan menyalami Rangga dengan ramah sembari menanyakan kabarnya juga kabar pak Emsi. Yang dijawab Rangga dengan kabar baik.


"Saya tidak bisa berlama-lama, Pak. Seperti biasanya mau menyampaikan sumbangan dari Pak Emsi untuk bulan ini." Rangga menyimpan amplop coklat di meja. Rutinitas sumbangan untuk kegiatan keagamaan dan kemakmuran masjid. Dimana Pak Yunus sebagai ketua DKM nya.


"Satu lagi dari Mas Mizyan, sumbangan untuk janda tua dan anak yatim di kampung ini. Saya titip sama bapak juga ya. Biar Pak Yunus yang kordinasi dengan Pak RT." Ia pun menyerahkan ampop putih, disimpan sejajar dengan amplop coklat.


"Jazakallah Khairan Katsiran. Saya terima amanah ini. Semoga pak Emsi dan keluarga mendapat keberkahan, panjang umur dan disehatkan selalu."


Yang diaminkan oleh Rangga juga Olla.


"Nak Mizyan lagi ada di Bogor ya?" Pak Yunus tampak antusias mendengar lagi nama itu.


Rangga mengangguk. "Siang ini mau pulang kembali ke Bandung. Katanya titip salam untuk bapak dan ibu."


Pak Yunus mengangguk, kembali menitip salam balik. Berbeda dengan raut wajah Olla yang tersenyum getir mendengar nama itu. Ternyata sampai hari ini pun masih belum bisa melupakan lelaki yang diangankan bisa menjadi pendamping hidupnya itu.


"Rangga orangnya serius tapi baik. Asisten setia pak Emsi." Pak Yunus berkomentar tanpa dipinta usai mengantar kepulangan Rangga sampai teras.


"Asisten atau sopir?" Olla mengerutkan kening. Menoleh terhadap sang ayah yang berdiri di sisinya. Keterangan yang berbeda seperti yang diucapkan Rangga padanya kala bertemu di kebun sengon.


"Asisten. Dia memang suka nyupirin untuk pak Emsi, bukan berarti sopir. Dan satu lagi, masih bujangan." Pak Yunus menepuk bahu sang anak sebelum berlalu masuk ke dalam rumah.


Olla tercenung. Teringat ucapan Rangga yang mengulurkan tangan mengajak berteman. Bahkan pria itu tahu jika dirinya tengah patah hati. Ia hanya menghela nafas panjang. Masuk ke dalam rumah sembari menutup pintu.


Motor trail yang ditunggangi Rangga berhenti di samping motor trail Mizyan yang tengah mengawasi kelanjutan menebang kayu di hari ke 2. Lalu melangkah mendekati Mizyan yang tengah memberi intruksi kepada kepala pengawas lapangan.


"Ada salam balik dari Pak Yunus." Ujar Rangga begitu kepala pengawas berlalu pergi sembari menganggukkan kepala. "Kamu tahu kalau Olla sudah pindah ngajar di Bogor?" Lanjutnya sembari mensejajari langkah Mizyan menuju saung.


"Oh ya? Kirain tetap ngajar di pesantren ustad Ahmad. Sejak kapan?" Mizyan sedikit penasaran dengan berita yang dibawa Rangga.


"Sejak kamu menikah."


Mizyan mengangkat bahu. Tidak mau memperpanjang membahas Olla yang bisa ditebaknya jika gadis itu patah hati karenanya sehingga tidak hadir saat pernikahan.


"Mas, boleh aku dekatin Olla?" Rangga menatap Mizyan yang tengah meneguk air mineral.


Membuat Mizyan menoleh sembari mengernyit. "Kenapa minta ijin sama gue. Gue bukan bapaknya." Lanjut menonjok bahu Rangga diiringi tawa dan gelengan kepala.


Rangga menggaruk kepala yang tak gatal. "Maksudku, Mas pasti tahu kan kalau Olla pernah suka sama kamu. Jadi apa gak masalah kalau aku mengambi alih, berusaha mencuri hatinya."


Mizyan memiringkan posisi duduknya, menatap serius terhadap Rangga. "Olla gadis baik, taat beragama. Gue dukung niat lo mendekatinya. Insyaallah seiring waktu dia bisa move on menerima kehadiran cowok yang serius terhadapnya."


"Ganbatte!" (Semangat). Mizyan mengajak adu toss.


"Gambarimashou!" (iya, akan berjuang) Rangga menyambut adu toss dengan senyum sumringah.


****


Rahma menutup panggilan teleponnya dengan Fitri yang mengabari ada order 250 box snack dari kantor bank nya Dimas. Namun sekarang bukan sang kepala langsung yang datang ke toko tapi menyuruh bawahannya. Ia mengulas senyum tipis, bersyukur Dimas tetap profesional bisa mengesampingkan urusan pribadi dan pekerjaan. Tidak lantas mundur jadi pelanggan toko meski cinta ditolak.


Sepi sendirian. Mizyan masih belum pulang mengontrol penebangan kayu. Dika ikut Papi Mark ke peternakan untuk terakhir kali sebelum pulang ke Bandung. Rahma turun dari villa menuju kebun organik mini di halaman samping kiri. Alunan musik dangdut terdengar dan chef Iwan tampak asik menggoyangkan kepala sembari memetik sayuran yang sudah layak dipanen.


"Eh ada nyonya Mizyan--" Iwan mendongak begitu mendengar deheman.


"Om Wanda rajin amat." Rahma menatap kagum dengan aneka sayuran dan buah strawberi yang berjajar rapih dan tampak subur dan terawat. Berkat tangan dingin sang peramu masakan untuk mertuanya itu. Ia membiasakan panggilan Om seperti yang diajarkan pada Dika meski awalnya Iwan keukeuh ingin dipanggil inces.

__ADS_1


"Aku kan masak ada waktunya. Daripada bengong mending berkebun dan taraaa.....inilah hasil karyaku." Iwan merentangkan kedua tangan dengan bangga. "Lagian pak Mark sukanya makanan fresh dan serba organik makanya aku dibantu suaminya bi Cicih bikin kebun mini ini."


"Hm, pantesan Papi keliatan bugar dan awet muda. Punya ahli gizi rupanya--" Rahma mengacungkan jempol pada Iwan yang tampak tersenyum senang mendapatkan pujian.


"Neng Rahma mau bawa buat ke Bandung gak?" Iwan memperlihatkan keranjang berisi pakcoy, sawi, tomat dan strawberi yang tampak segar baru dipetik.


"Mau banget Om Wanda." Rahma berseru girang. Bersamaan dengan ponselnya berdering. Papa Buye calling.


Rahma pamit meninggalkan Iwan yang tengah memisahkan sayuran untuknya sebab Mizyan sudah pulang dan berada di kamar.


"Mandi lagi, mas?" Rahma menatap Mizyan yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit di pinggang. Tampak buliran air masih menetes dari rambut membasahi tubuh atas yang polos.


"Iya sayang, gerah. Tadi serbuk kayu pada nempel di baju, gak nyaman kalau gak mandi lagi." Mizyan ikut duduk di di sisi Rahma yang tengah memakan strawberi.


"Mau?" Rahma menawarkan satu butir yang tersisa. Mendekatkannya ke mulut sang suami yang langsung melahapnya. "Seger ya, sayang?" Ia tersenyum menatap Mizyan yang merem dengan kening mengkerut sebab sensasi asam manis yang dirasa.


Mizya membawa tubuh Rahma duduk di pangkuan. "Makin seger ditambah ini---" Tanpa aba-aba meraup bibir ranum yang selalu menjadi candu. Me ma gut lebih dalam mengecap aroma strawberi di mulut istrinya itu. Rahma memejamkan mata, membalasnya dengan menghisap bibir tegas yang selalu memberikan sentuhan lembut namun menggetarkan sukma. Membuat Mizyan semakin berhasrat dan bergelora mendapat perlawanan seperti itu.


"Nda---Nda---"


"Papa---"


"Nda Lahma---"


"Papa Buye---"


Rahma lebih dulu tersadar mendengar teriakan Dika memanggil-manggil. Sang anak akan memanggil nama lengkap orangtuanya jika belum juga ada sahutan. Diurainya ciuman panas itu yang sesaat mendapat penolakan dari Mizyan dengan menahan tengkuknya.


"Dika udah pulang, Mas. Tuh dengar manggil-manggil!" Rahma mengatur nafas yang tersengal sembari menyuruh Mizyan memasang telinga.


"Tanggung, sayang--" Mizyan mengeluh. Mengarahkan tangan Rahma ke bawah dengan menyingkap handuk yang masih melilit di pinggangnya.


"Salah siapa yang mulai." Rahma memeletkan lidah. Berdiri dari pangkuan Mizyan diiringi kekehan mendengar sang suami mengaduh. Ia bergegas keluar kamar usai merapihkan baju dan jilbabnya untuk menemui Dika sebelum sang anak menangis sebab tak kunjung menemukannya.


"Dika, Bunda di sini--" Rahma menahan langkah Dika yang hendak ke dapur.


Dika membalikkan badan dan berlari riang menuju sang bunda. "Nda, atu dibeli hadiah sama Opa." Sembari menarik tangan bunda Rahma menuju ruang tamu untuk menunjukkan hadiah yang diberikan Opa Mark.



Bersamaan dengan Mizyan dan Papi Mark datang dari arah berlwanan ikut bergabung menyaksikan Dika yang tampak polos mengekspresikan kebahagiaan.


Dika memeluk bonekanya sembari tertawa girang. "Nda, atu mau bobonya sama sapi. Nda bobonya sama Papa."


Rahma hanya mengulas senyum. Ia mengusap rambut Dika, tergugu dengan keinginan buah hatinya yang mulai menunjukkan kemandirian. Seperti makan yang tak mau lagi disuapi.


"Udah bilang makasih sama Opa?" tanya Rahma mengingatkan. Dan dijawab anggukkan kepala oleh Dika yang menatap Opa Mark sembari tersenyum.


Tiba waktunya pulang selepas makan siang bersama. Mark sebenarnya berat melepas kepergian anak dan menantu serta cucunya itu. Seminggu ini suasana villa begitu berwarna dan lebih hangat dengan kehadiran mereka. Dari teras, ia memperhatikan anaknya yang berkemas memasukkan barang-barang ke dalam bagasi.


"Papi, kami pulang dulu. Jaga kesehatan, Pi. Jangan tidur larut terus." Usai mencium tangan dengan takzim dan memeluk hangat, Mizyan mengingatkan papinya yang beberapa kali terlihat masih di ruang kerja kadang di perpustakaan ketika ia terbangun jam 2 malam.


"Oke." Mark hanya membalas pendek. Ia pun menerima uluran tangan Rahma yang mencium punggung tangannya. Tak lupa kebiasaannya mengusap kepala sang menantu dengan rasa sayang.


Giliran Dika yang terakhir mencium tangan Opa Mark yang tadi pagi sempat berkeliling peternakan sembari menunggang kuda bersama.


"Opa, nitip sapi atu, sapi nda, sapi papa, sapi opa juja yaaa! Halus kasih makan yang buanyaaak ya Opa!" Dika mengabsen sekelompok sapi yang diingatnya tadi tengah digembala oleh pegawai peternakan. Dimana 4 ekor sapi itu dianggapnya sebagai satu keluarga sebab ada 1 ekor yang masih kecil bermanja-manja pada induknya.


Sontak Mark tertawa lepas begitu juga Mizyan dan Rahma. Mark mengangkat tubuh bocah menggemaskan itu. Menciumi pipi chubynya dengan sangat gregetan.


"Dika sama opa aja di sini ya. Nanti tiap hari nengok sapi sambil naik kuda."


Dika menggeleng. "Nanti atu kesini lagi sama Nda sama Papa juja." Sembari tangan mungilnya menggosok-gosok rambut kasar di rahang Opa Mark.


****


Satu jam yang lalu baru saja menerima telepon dari sang anak. Mengabarkan jika sudah sampai Bandung dengan selamat. Membuat Mark bernafas lega dan berucap syukur.


Merasa ada sesuatu yang hilang. Kembali pada kebiasaan awal, makan malam hanya berdua ditemani Rangga tanpa suara. Seminggu kemarin 4 atau 5 kursi terisi penuh, sebab Rangga kadang bergabung kadang tidak. Makan dalam suasana hangat dan penuh canda tawa terutama diramaikan oleh celotehan Dika. Kini hanya terisi 2 kursi, sisanya tak bertuan.

__ADS_1


Waktu terasa lambat merambat menuju pagi. Mark yang kembali mengalami insomnia terus-menerus menatap jam dengan mendesah. Jam 11 malam. Namun kantuk belum juga menyerang padahal ia sengaja memeriksa neraca keuangan perusahaan di laptopnya berjam-jam agar mata cepat lelah. Nihil.


Mark berpindah ke perpustakaan. Hobinya membaca buku membuat lemari yang menjulang tinggi penuh dengan berbagai tema buku yang tebal baik berbahasa Inggris juga Indonesia. Baik ekonomi, sejarah tokoh dunia, sampai teologi.


Meski ia sendiri sudah memegang satu keyakinan, namun kegelisahan mengusik relung hati yang terdalam beberapa tahun terakhir ini. Sehingga ia mempelajari semua agama melalui buku, membuat perbandingan satu dengan lainnya. Dan ketertarikannya mengerucut pada buku tentang Islam.


Mark mengambil satu buku, duduk di kursi kebesarannya. Murad Hoffman, tokoh Jerman yang merupakan profesor dengan jabatan duta besar. Salah satu mualaf dunia yang bukunya saat ini Mark genggam. Ia rindu membaca kisahnya kembali. Bagaimana gegernya masyarakat Jerman kala Murad Hoffman memplubikasikan bukunya : Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif).


Mark sangat kagum dengan konsistensi sang tokoh di tengah reaksi keras di Eropa terutama cibiran media massa dan masyarakat Jerman. Namun sang tokoh gigih membela Islam yang menjadi tuntunan hidupnya.


Mark meraba dada. Hatinya sungguh masih labil dalam membuat keputusan. Ia bahagia dan mendukung jalan hidup yang ditempuh Mizyan alias Miki, sang anak kesayangannya. Tapi dirinya sendiri masih penuh pertimbangan.


Satu jam berada di perpustakaan. Mark memutuskan istirahat di kamarnya yang luas. Wewangian aromaterapi dinyalakan untuk pengantar tidur dengan rileks dan lelap. Ia menghindari konsumsi obat tidur sebab tidak baik akan efek sampingnya.


Satu jam memejamkan mata, menghirup uap aromaterapi, tak juga membuat kantuk datang. Malah membuat mata pegal.


Meditasi dengan dzikir.


Tetiba terngiang ucapan lembut sang menantu kala kemarin sharing di gazebo.


"Bisa pula sebagai terapi jika mengalami insomnia. Tidak perlu meminum obat tidur, cukup memfokuskan hati dan pikiran dengan berdzikir maka lama-lama akan tertidur dengan sendirinya."


Mark menautkan kedua alis dengan mata nyalang menatap plafon kamar.


"Oke. Let's try it."


Setelah menimbang-nimbang, daripada mata melek terus sampai pagi. Ia mengingat arahan sang menantu. Dipejamkannya mata, memfokuskan hati dan pikiran pada satu titik konsentrasi. Sembari menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan;


Laa Ilaha Illallah----


.


.


.


Tok tok tok


Tok tok tok


"Tuan---tuan baik-baik saja?"


Mark merasa mendengar suara bi Cicih memanggil-manggilnya. Ia enggan membuka mata sebab tidurnya begitu nikmat. Malah mempererat selimut menarik sampai leher.


Tok tok tok


"Pak--- Pak Mark baik-baik saja?"


Gedoran di pintu terdengar lebih keras. Diiringi suara Rangga yang panik. Mark memutuskan bangun dengan mata setengah terpejam. Sungguh orang-orang sudah menggnggu tidurnya yang rasanya belum lama.


"Ada apa?" Mark membuka pintu dengan raut kesal.


"Pak Mark sakitkah? Ini sudah jam 9 pagi tumben belum keluar kamar. Saya takut bapak kenapa-kenapa di dalam." Rangga menatap cemas, memindai sang boss dari ujung rambut sampai ujung kaki.


"Astaga." Mark terjengit menatap jam di dinding, memandang kaca jendela kamar yang masih tertutup gorden namun sinar terang mentari pagi menembus sela daun gordeng.


"Saya tidur pulas sampai gak ingat apa-apa, Ga." Mark tersenyum lebar. Merasakan badan yang lebih bugar dan pikiran yang lebih tenang dari biasanya.


Rangga menghela nafas plong. Bi Cicih yang bertugas tiap pagi membereskan kamar ikut tersenyum lega.


...****...


Readers tersayang,


Dua hari kemarin aku sakit. Alhamdulillah skr sudah lebih baik. Makasih utk support doa dari pembaca setia. Sbg balasan, aku kasih up panjang x lebar nih.


Oh y, yg minat gabung menjalin silaturahmi di grup chat Me Nia, syaratnya dukung selalu smua karyaku terkhusus Melukis Senja yg On Going ini. Dengan cara beri like, hadiah, vote & komen.


Mari saling support krn membaca di platform ini GRATISSSS.

__ADS_1


Ada Mom Imas Perwati yg akan review anggota baru sblm di verifikasi.


laf u all 😍


__ADS_2