
Tiba di Bandung, Mizyan langsung menuju apartemennya. Rumah tinggal yang sudah jarang ditinggali dan hanya sebentar disinggahi. Sebab ia lebih betah tinggal di pesantren. Kenapa? Sebab pesantren memberinya kehangatan kekeluargaan dan memotivasi untuk memperdalam ilmu agama.
Tentunya orientasi hidup berubah seiring usia bertambah. Ia tak lagi suka dengan kesendirian. Makanya memutuskan meninggalkan kemewahan apartemennya. Memilih kesederhanaan hidup di pesantren.
Tapi itu dulu, sekarang masa depannya sudah jelas. Apartemen akan menjadi tempat tinggalnya lagi. Sebab ia tak akan lagi sendiri, ada anak dan istri, soon....
Mizyan tak mengabaikan perawatan apartemennya. Ada Dado yang selalu rutin membersihkan sehingga setiap ruangan tak ada debu sedikitpun. Ia cek kamar yang akan diperuntukkan maminya selama tinggal di Bandung. Apartemennya hanya ada 2 kamar tidur, kamar pribadinya dan kamar bebas.
Masih ada waktu leluasa sebelum menjemput Mami Kanti ke bandara setelah mendapat kabar penerbangannya mengalami delay. Ia arahkan mobil menuju toko Citarasa usai mendapat konfirmasi dari Fitri jika Rahma ada di toko.
Miss to meet you, dear. Tersenyum sambil mengetuk-ngetuk stir mobil.
"Mas Mizyan, selamat datang." Fitri menyapa dengan ramah diiringi senyum cerah begitu melihat mas bule mendekat ke tempatnya duduk di belakang meja kasir.
Mizyan membalas dengan anggukan. "Rahma ada di mana?"
"Di atas sama Dika, Mas. Mau saya panggilkan?" Fitri meraba interphone di meja untuk bersiap menghubungi bossnya.
Mizyan menggeleng. "Nggak usah. Aku mau surprise in Rahma." Ia melambaikan tangan tanda pamit dan melenggang menuju tangga. Ia tidak tahu jika Fitri dan karyawan lain senyum-senyum di belakangnya sebab dapat cuci mata gratis, juga beberapa pasang mata kaum wanita pengunjung toko menatapnya tanpa berkedip.
Di atas, Rahma mendampingi Dika yang duduk manis di sofa. Ia tengah mengajari sang anak mengaji secara hafalan. Intens dilakukan setiap hari meski di waktu yang tak tentu tergantung mood anaknya itu.
لِاِ يْلٰفِ قُرَيْشٍ ۙ
li`iilaafi quroiisy
Hanya dipancing dengan satu ayat, Dika melanjutkannya dengan lancar dan lantang meski pengucapan masih cadel. Diselesaikannya sampai ayat terakhir yang berjumlah 4 ayat.
"Maa sha Allah, anak soleh bunda." Rahma mengecup kening Dika dengan penuh kebanggaan. Ia menolehkan wajah ke arah pintu yang terbuka dengan kedua alis bertaut. Indra pembaunya samar mencium aroma parfum yang familiar.
Gak mungkin. Dia kan di Bogor.
Semalam sampai menjelang siang ini, tak ada kabar dari Mizyan. Efek kangenkah? Sehingga tersugesti merasai aroma parfum yang sudah dikenalnya.
"Nda, telepon papa buye atu---"
Lamunannya terburai oleh rengekan Dika yang mengguncang lengannya.
"Tunggu papa buye yang telpon ya. Lagi sibuk kayaknya."
Dika memanyunkan bibirnya. "Atu tangen papa buye. Nda tangen juja?" Ia mendongak menatap bundanysa dengan pipi mengembung dan bibir mengerucut.
"Nda tangen papa buye juja?" Dika mengulang lagi pertanyaannya dengan raut wajah penuh keingintahuan sebab bundanya masih diam.
"Iya. Bunda juga kangen---saaangat merindu." Rahma menjawil hidung Dika yang super kepo itu. "Dika harus berdoa sama Allah kalau pengen papa buye cepet pulang."
Dika mengangkat kedua tangannya. "Ya Allah, Atu tangen papa buye, Nda juja tangen papa buye. Ajak papa buye pulang ya Allah. Aamiin..." pungkasnya sembari mengusap wajah.
Rahma tersenyum simpul dibuatnya sekaligus haru. Betapa anaknya itu sudah jatuh hati pada Mizyan yang dianggap sebagai sosok ayah.
Mizyan tentu medengar interaksi ibu dan anak itu, semuanya. Mulai dari Dika yang mengaji sampai barusan berdoa sebab ia menguping di samping ambang pintu yang terbuka. Hatinya begitu meluapkan keriaan.
"Assalamualaikum---" Ia berdiri di ambang pintu dengan satu tangan disembunyikan ke belakang. Senyum khasnya tersungging begitu melihat Rahma dan Dika terkaget melihat kemunculannya.
"Papa---"
__ADS_1
"Papa Buye---"
Dika memekik girang lalu berlari dan seperti biasa menubruknya. Meninggalkan bundanya yang terkesiap sembari menjawab salam dengan pelan.
Mizyan tertawa sebab Dika melonjak-lonjak dalam gendongannya saking senangnya. Ia pun mendekat dan duduk di samping Rahma.
"Untuk bunda yang katanya sangat merindu---" Ia memberikan setangkai mawar merah yang disembunyikan di balik punggung. Membuat wajah penerimanya pun memerah dan tersenyum malu.
"Mas kok udah pulang? Apa tidak jadi ke Semarang?" Antara tidak percaya, heran, sekaligus senang tergambar di wajah Rahma.
"Karena ada yang ngangenin aku makanya pulang cepet." Mizyan tersenyum menggoda Rahma yang wajahnya kian memerah.
Berarti benar aroma parfum tadi. Bukan halusinasi.
"Serius ih. Jangan-jangan orangtuamu gak setuju karena statusku---"
Ucapan Rahma menggantung sebab Mizyan menempelkan telunjuk di bibir sebagai kode untuk diam.
"Papi merestui, Bun. Hari ini rencananya aku pergi ke Semarang tapi batal karena Mami semalam telpon kalau hari ini akan datang. Pengen liburan di Bandung katanya. Bentar lagi aku akan jemput ke bandara."
Rahma mengangguk-angguk. Kelegaan terpancar di wajahnya.
"Papa jangan pelgi agii---" Dika menggelayut manja di lengan Mizyan. "Atu mau main sepatu loda cama papa." Mata beningnya mengerjap-ngerjap merayu.
Mizyan mengacak-ngacak rambut Dika. Gemas dengan gaya merajuk bocah itu. "Besok kita main sepatu rodanya ya. Hari ini Papa mau jemput Oma dari Semarang. Nanti deh Papa kenalin sama Dika juga Bunda." Ia mengecup kening bocah itu sebagai bentuk rasa sayangnya.
Hanya 1 jam berada di toko, ia pamit pergi lagi sebab sudah waktunya menjemput Mami Kanti ke bandara.
"I love you, Dika."
"Ay lap yu tu, Papa." Riang Dika. Tangan mungilnya menyambut adu tos yang dilakukan papa buye.
****
"Welcome to Bandung, Mami and Morgan." Mizyan membukakan pintu apartemennya dengan gaya tour guide. Ia mengajak keduanya mendekat ke jendela. Pemandangan kota Bandung terhampar jelas. Ditambah lokasi apartemennya yang strategis dekat dengan bandara sehingga setiap saat bisa melihat pesawat yang terbang rendah melakukan take off juga landing.
"Keren, Mas." Tampak kekaguman di wajah Morgan yang baru pertama kali ke Bandung. "Itu menuju bandara yang tadi ya?" Ia menunjuk pesawat yang melintas dan terbang rendah bersiap landing.
"Iya. Dari sini ke bandara cuma 2 km, ke stasiun deket, ke mall juga deket." Mizyan memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana.
"Berapa lama libur sekolah?" Ia memperhatikan adik tirinya yang masih mengamati pemandangan.
"2 minggu, Mas."
"Di bawah ada taman, kolam renang juga tempat nge gym, di atas ada sky garden. Kamu bisa jajal sampai puas" Mizyan mempresentasikan fasilitas yang ada di apartemennya itu yang sayang untuk dilewatkan. "Baru nanti puas-puasin keliling Bandung deh."
Mami Kanti yang tidak lama berada di dekat jendela, memilih melihat-lihat keseluruhan ruangan apartemen samg anak, tampak tersenyum bahagia menyaksikan kedua anaknya bisa akrab.
Sore hari saat suasan santai, bahkan Morgan asyik sendiri Live IG di dekat jendela. Mizyan mendekati Mami Kanti yang akan bersiap memasak dengan bahan makanan yang baru datang dipesan lewat jasa kurir.
"Mami, sebetulnya rencanaku hari ini mau ke Semarang nemuin Mami. Alhamdulillah malah Mami yang datang." Mizyan bersandar pada dinding menyaksikan maminya mengiris bawang bombay.
"Untung Mami konfirmasi dulu ya. Kalau tidak, bisa silang arah." Mami melanjutkan mengiris bawang putih usai mendongak sesaat menanggapi.
"Mi, aku mau menikah."
__ADS_1
Ucapan Mizyan yang tiba-tiba tanpa aba-aba membuat Mami Kanti menghentikan kegiatannya. Menatap sang anak yang masih bersandar di dinding yang juga tengah menatapnya.
"Miki, ini serius?" Mami ingin meyakinkan lagi dengan raut wajah yang tampak tekejut sekaligus senang.
"Of course, Mam. Aku sudah menemui Papi ke Bogor dan Papi merestui pilihanku. Sekarang aku minta restu Mami untuk melamar wanita itu."
"Siapa dia? Mami pengen ketemu dulu!"
****
Mizyan tiba di rumah Rahma jam 9 pagi. Semalam ia sudah mengabari Rahma bahwa ingin mengajak Dika ke apartemennya. Kini ia mendapati Dika sudah berpenampilan rapih dan cute. Juga terlihat girang menyambut kedatangannya.
"Bun, aku mau ngenalin dulu Dika sama Mami. Nanti giliran ngenalin kamu nunggu Papi datang ke Bandung. Sabar ya." Mizyan mengulang alasan sama seperti yang diutarakan semalam sembari menerima tas perlengkapan Dika berisi mainan dan baju ganti.
"Sebenarnya yang gak sabar siapa coba?!" Rahma memutar bola matanya. Semalam saat ber video call bahkan Mizyan yang beberapa kali mengeluh dan mendesah ingin segera mengkhitbah minggu ini juga.
Mizyan tertawa lepas. Ia kena skakmat dengan jawaban Rahma.
"Mas, Dika belum boleh main gadget." Rahma mendikte aturan yang diterapkan untuk anaknya itu. "Jam 12 jadwalnya bobo siang, harus diusap-usap rambutnya baru bisa lelap. Eh jangan lupa ajak pipis dulu. Dika tidak makan fast food, jadi aku bawain bekal aja lauk kesukaannya di tas."
Mizyan manggut-manggut. Penjelasan Rahma dianggapnya sebagai latihan menjadi seorang ayah siaga. "Siap, Bun." Ia pun pamit tidak hanya pada Rahma tapi juga pada Pak Badru dan Uma yang mengantar sampai teras.
Sementara Rahma mengantar sampai ke mobil sembari membantu menempatkan Dika di toddler car seat yang sengaja dibeli Mizyan sebelumnya. Memasang sabuk pengaman sembari memastikan Dika duduk nyaman.
Rahma beralih menatap Mizyan yang berdiri di sampingnya memperhatikan cara memasang sabuk car seat. "Mas, nitip Dika ya. Kalau rewel kabarin aja." Ini pertama kalinya Dika pergi sendiri dengan orang lain yang bukan keluarga. Kala semalam Mizyan meminta ijin, tanpa ragu ia membolehkan.
"Tenang, Bun. Dika pergi dengan papanya. So, akan kujaga dengan nyawaku." Senyum khasnya tersungging di bibir. Sangat tidak baik untuk kesehatan jantung Rahma sebab membuahkan desiran dan degupan tak beraturan.
"Let's go, boy!" Mizyan menoleh ke belakang kala mesin sudah dihidupkan, menatap penumpangnya.
"Lesgow, Papa." Dika mengacungkan kedua jempolnya dengan riang. "Papa, halus bismillah dulu bial belkah---"
Mizyan mengacungkan jempol. Ucapan Dika mambuatnya tersadar pada hal yang kadang lupa dilakukan. Bismillahirrahmanirrahiim, satu kata yang dahsyat maknanya.
Dan yang membuatnya makin cinta tentu saja pada sosok yang membentuk karakter Dika.
Rahma, kamu memang the best mom.
****
Catatan author :
Keberkahan amal dimulai dari Bismillah.
Arti Bismillahirrahmanirrahim ini secara umum adalah untuk meniatkan segala sesuatu yang dilakukan atas nama Allah. Bismilah juga bisa berarti memohon restu atau kelancaran pada Allah.
Toddler car seat adalah kursi keamanan yang dirancang untuk balita usia 1-4 tahun.
To readers tersayang,
Bukan hanya papa buye yg gak sabaran pengen halalin bunda Dika. Banyak reader juga sampe DM aku 😃
Sabar ya, jangan minta buru2 halal. Masih ada urusan yang hrs dikerjakan papa buye.
Last but not least, makasih banyak utk semua dukungan dan berbagai hadiah yang diberikan pada story ini.
__ADS_1
Peyuk onlen dariku 😍
Me Nia