MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 70. Counting Down


__ADS_3

Mizyan mengantarkan lebih dulu maminya ke apartemen dan menyaksikan kedua wanita yang disayanginya itu saling berpelukan kala berpisah. Senyum yang tersungging diantara keduanya menandakan kebahagiaan. Ia pun turut bahagia melihatnya.


Ia menyampaikan ulang rencana mengkhitbah Rahma pada Pak Badru dan Uma kala mengantarkan Rahma pulang. Yaitu pada hari jum'at pukul 2 siang. Tentunya kedua orangtua Rahma menyambutnya penuh syukur.


"Aku pulang ya. Mau ke pesantren ngabarin ustad Ahmad mumpung belum malam." Ia menatap Rahma yang mengantarnya sampai teras.


"Jangan tidur larut, Bun. Besok pagi kita harus hunting WO."


"Iya. Hati-hati nyetirnya." Rahma mengulas senyum tipis. Masih malu mengucapkan bentuk perhatiannya pada Mizyan.


Mizyan mengangguk. Bibirnya mengucap kata I love you tanpa suara sebelum melangkah menuju mobilnya. Sungguh gestur romantis yang membuat Rahma meremang dan merona pipinya.


Tiba di pesantren Mizyan menuju rumah utama, berharap Abah sudah pulang dari safari dakwahnya. Di teras, ia berpapasan dengan Olla yang baru keluar dari rumah. Dua pasang mata saling bersirobok. Olla menundukkan pandangan dan mengangguk sebagai tanda permisi melewati tubuh Mizyan dengan buru-buru.


"Olla, tunggu!"


Yang dipanggil menghentikan langkahnya tanpa membalikkan badan. Ada mendung menggelayut di kedua bola matanya yang tak ingin diperlihatkan pada pria bule itu.


"Olla, aku mau bicara sebentar." Mizyan berdiri di depan gadis manis berkerudung biru muda. Menatapnya tajam. Ia melihat adanya perubahan pada sikap Olla.


"Maaf aku buru-buru mau ke mini market. Kalau mencari uwa ada di dalam, tadi sore baru datang." Jawabnya datar.


"5 menit saja, please!" Mizyan menunjuk pada 4 buah kursi rotan dengan meja bundar di tengahnya. Olla pun mengalah.


"Kamu pasti sudah dapat kabar dari pak Yunus." Mizyan mengamati Olla yang menunduk dan mengangguk lemah.


"Maafkan aku Olla. Kamu wanita yang baik, soleha. Tapi hati ini sudah memilih pada siapa jatuh cinta. Aku hanya bisa menganggapmu seperti adik. Maaf---" Mizyan menghela nafas berat. Sebenarnya ia tidak ingin berada pada situasi ini. Harus mengecewakan dan mematahkan perasaan seseorang.


Olla mengangkat wajahnya dan terkekeh dengan hati perih. "Aku yang salah kok. Terlalu berharap pada manusia. Hati sudah takabur akan mendapat jawaban yang membahagiakan. Sampai lupa meminta petunjuk pada Allah. Jadinya kecewa berat dan patah hati."


"Aku doakan semoga kamu dapat jodoh terbaik."


"Siapa wanita yang beruntung itu?" Olla mengalihkan pembahasan usai mengaminkan dengan lirih.


"Kamu salah. Akulah yang beruntung mendapatkan dia."


"Hari ini aku akan pamit kepada Abah dan Umi, tidak tinggal lagi di pesantren. Kalau kamu bersedia ikut mengantar khitbah jumat depan, kamu bisa berkenalan dengannya." Mizyan permisi meninggalkan Olla yang masih tercenung di tempat duduknya.


Di ruang tengah, ustad Ahmad mendengarkan cerita Mizyan mulai dari meminta maaf sebab tidak memenuhi keinginan orangtua angkatnya itu. Sebagai orangtua bijak, keduanya memaklumi alasan yang disampaikam sang mualaf. Dan Mizyan pun mengutarakan keinginannya agar Abah dan keluarga bersedia mengantar mengkhitbah jum'at depan.


"Jika nak Mizyan sudah yakin dengan pilihannya, abah dan umi tidak kecewa. Tentunya akan mendukung."


"Alhamdulillah, makasih Abah, Umi." Kelegaan terpancar di wajah Mizyan. Ganjalan terakhir di hatinya lepas sudah. Semua restu dari para orangtua sudah dikantongi.


"Yan, teteh pernah nadzar mau bawa hantaran gurame. Siap-siap mudik ke Tasik dulu ini mah." Sarah yang dari tadi menjadi pendengar, mulai berkomentar.

__ADS_1


Mizyan tertawa. "Jangan repot-tepot, teh Sarah. Bisa ikut nganter juga aku sudah seneng."


"Ah, pokokna mah lihat saja nanti."


Suasana yang santai berubah menjadi sendu kala Mizyan mengutarakan maksud untuk pamit meninggalkan pesantren. Tinggal kembali di apartemennya.


"Mizyan, kamu itu biasa pamit pergi lama ninggalin pesantren tapi kan datang lagi." Umi menunjukan rasa sedihnya. "Sekarang kamu pamit tidak akan kembali, umi merasa kehilangan." Matanya mulai berkaca.


"Saya tidak akan melupakan abah dan umi juga pesantren. InsyaAllah akan tetap datang ke sini saat kajian ahad atau hari-hari biasa."


Berat dan sedih dirasa hati kala pergi dengan diiringi tatapan orang-orang yang dianggapnya seperti keluarga. Selain Abah dan Umi yang melepas di teras, ada Sarah dan Azis yang juga berdiri. Ditambah Dado yang masih terisak sedih, berdiri memyembunyikan wajah, memeluk tihang.


Mizyan hanya membawa pakaian dan barang-barang penting. Ia menghibahkan semua fasilitas miliknya yang berada di paviliun.


"Dado pengen motor matic warna merah kan?" Mizyan mendekati lagi Dado yang tampak sangat bersedih. Menepuk-nepuk bahunya. "Besok aku akan kirim motor matic merah, hadiah buat Dado. Sudah---jangan nangis lagi."


Dado menyusut mukanya yang basah dengan ujung lengan baju kokonya. Menyeruput lagi ingusnya ke dalam hidung. Senyumnya terkembang setelah mendengar iming-iming hadiah dari Mizyan.


"Dado boleh peluk A Iyan dulu gak?" Ia pun memeluk usai mendapat anggukan Mizyan. "Aa Iyan makasih udah baik sekali sama Dado. Dado bakalan kangen Aa---"


****


Persiapan menuju langkah khitbah berjalan dengan lancar tanpa kendala. Mizyan dan Rahma menemukan WO yang cocok dengan konsep keduanya. Sempat beradu argumen kala Mizyan menawarkan acara diadakan di hotel tali Rahma memilih di rumah. Mizyan menginginkan dekorasi yang mewah tapi Rahma menginginkan sederhana. Pihak WO tersenyum mendengar perdebatan kliennya itu. Dengan sabar menjadi pendengar dan memberi masukkan untuk keduanya. Jadilah diambil jalan tengah. Simple elegant.


Lain halnya Mizyan yang juga punya kesibukan sendiri. Ia tengah memilih mobil baru yang pas untuk keluarga kecilnya nanti. Meski berat melepas mobil sport merah yang menemaninya selama ini, tapi rasa semangat menatap masa depannya lebih dominan. Ia putuskan menjual mobil kesayangannya itu. Sebab mobil itu menjadi saksi bisu masa lalunya berpetualang membawa penumpang perempuan-perempuan seksi. Sehingga memutuskan menjual untuk menghapus jejak hitam masa lampau.


"Oke, aku pilih ini saja!" Mizyan menunjuk BMW hitam series X jenis SUV dengan pertimbangan cocok disegala medan.


"Mantep, bro. Cocok dengan gaya lo." Owner dealer yang juga temannya itu acungi jempol.


"Gue pengen surat-suratnya cepet jadi, bro. jangan lama-lama!"


"Siap. Besok pagi langsung diurus. 2 hari beres."


Mizyan mengangguk setuju. 2 hari berarti pas jum'at sudah terpasang flat nomer asli. Ponsel yang dipegangnya kini berdering. Bang Kemal calling.


"Le, bapakmu kapan datang ke Bandung?" Kemal menyerobot begitu telponnya diangkat.


"Kamis, bang. Kenapa?"


"Nginep di rumah or hotel? Kalau di hotel aku mau nginep di tempat yang sama."


"Di hotel, Bang." Mizyan menyebutkan nama hotel. "Abang kapan datang ke Bandungnya?"


"Nanti dikabari lagi. Dah ya aku mau meeting!"

__ADS_1


Mizyan mengerutkan kening. Tumben Bang Kemal menelponnya buru-buru.


Di rumah Rahma.


H-1, dengan mengucap bismillah Rahma menurunkan figura foto yang berada di ruang keluarga. Berupa foto keluarga kecil dimana dirinya dan almarhum Malik mendekap baby Dika. Ia pun beralih menurunkan semua figura yang ada di kamarnya. Sebuah kotak khusus sudah disiapkannya. Ia menyusun figura berbagai ukuran itu bersama album foto serta sebuah buku diary. Terakhir ponsel milik Malik yang sempat dipakainya pun dimasukkan. Sebab di dalam gelarinya banyak foto candid dirinya dalam berbagai kesempatan, hasil jepretan Malik.


"Abang, aku simpan kenangan kita di kotak ini." Rahma mengelus permukaan kotak coklat yang sudah dikuncinya.


"Kelak jika Dika sudah besar akan aku ceritakan kalau Dika punya ayah yang hebat seperti Abang. InsyaAllah----abang adalah sejarah yang tidak akan dilupakan begitu saja." Ia memeluk kotak persegi panjang yang baru dibelinya itu. Yang akan tahan disimpan bertahun-tahun lamanya. Mataya terpejam seolah berusaha meluruhkan rasa yang masih ada di hati agar turut masuk ke dalam kotak itu.


"Semangat melangkah di hidup baru." Usapan lembut dibahunya membuat Rahma membuka mata. Ada Suci, Salma, dan Mira duduk melingkarinya. Menatapnya dengan anggukan kepala agar tegar menyongsong masa depan.


"Mulai hari ini belajarlah meninggalkan masa lalu di belakang. Tutup rapat kenangan manis itu dan simpan di sudut hati terdalam. Sekarang masa depanmu bersama Miki."


Tetiba ucapan Mami Kanti terngiang kembali di telinganya.


*InsyaAllah, aku sudah siap*.


Rahma memeluk ketiga saudara yang selalu ada untuknya, mensupport nya.


"Aku kangen Rahma yang ceria seperti dulu lho. Kapan adanya ya. Apa setelah dilamar ya. Mau order dong." Suci memgaduh mendapat cubitan dari Rahma di lengannya


"Adek cantik, ayo teteh bantu facial biar besok glowing." Salma pun turut mencairkan suasana haru yang tercipta. Ia mengeluarkan perlengkapan skin care dari tas make up. "Biar Mas mu besok menganga menatap calon istrinya yang makin bening sebening kristal." pungkasnya memperagakan ekspresi yang mungkin dilakukan Mizyan besok.


"Ish, Teh Salma mah. Nggak gitu juga kali. Itu gaya lebay."


Tingkah Salma berhasil menciptakan gelak tawa memenuhi kamar.


Diluar, para petugas WO tengah bekerja memasang partisi dan dekorasi. Halaman rumah dan setengah jalan blok D digunakan untuk area acara.


Sementara di dapur, Uma dan Hamidah adiknya yang dari Medan tengah menyelesaikan membuat bika ambon. Uminya Suci membuat kue timphan khas Aceh dibantu Ceu Imas yang semangat sambil mempelajarinya.


"Manda...Papa atu besok mau datang. Yeay---" Dika berseru riang di tengah bermainnya bersama para sepupu. Ada Manda dan si kembar Raka dan Rayi.


"Oh ya, nama papanya Dika siapa?"


"Papa buye. Papa atu, papa nda juja." Dika menyahut dengan berapi-api.


"Papa aku namanya papa Candla." Raka tak kalah ingin mengenalkan papanya.


"Papa aku namanya Papa Nico. Nanti sore pulang dari kantor mau ke sini. Kenapa papa buye gak datang nanti sore aja? Besok kelamaan dong."


Dika terdiam dengan kening mengkerut seolah berpikir. "Atu mau telpon papa buye." Ia beranjak dari karpet dengan berteriak-teriak mencari bundanya.


...to be continue...

__ADS_1


__ADS_2