MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 119. Saturday Night


__ADS_3

Bogor


Bermain golf di wilayah Bogor Barat setengah hari lamanya bersama kawan klub. Selanjutnya memenuhi undangan kolega sesama keturunan Jerman di komplek perumahan elit kawasan Sentul, berupa undangan tea time. Menjadi kegiatan Papi Mark akhir pekan ini. Tentu tak lepas dari buntut yang selalu mengekori, Rangga setia menemani.


Keuntungan membersamai seorang Mark Cornelius adalah Rangga juga bisa melakukan aktifitas yang sama dengan sang boss. Ikut bermain golf secara gratis, makan makanan yang sama dan di meja yang sama. Sebab Mark memperlakukan Rangga seperti keluarga, bukan bawahan. Termasuk ikut pula menikmati tea time atau disebut pula afternoon tea di kediaman keluarga keturunan Jerman kolega boss Mark. Rangga sudah biasa menikmati fasilitas kelas atas.


Perjalanan pulang dari Sentul menuju rumah villa berjarak tempuh 2 jam lamanya diiringi guyuran hujan. Alunan musik jazz diputar pelan dan dinikmati Mark sebagai genre musik favoritnya. Nampak dari jari yang bergerak mengetuk-ngetuk paha.


"Ga, kira-kira makanan apa yang cocok dikirim ke rumah tahfiz lagi hujan gini?!" Mark membuka percakapan di tengah alunan


lagu jazz berjudul Rainbow in Your Eyes miliknya Al Jarreau.


"Untuk siapa, Pak?" Rangga melirik sekilas penumpang di belakangnya dari rear vision mirror. Meluruskan lagi pandangan ke depan menatap jalan raya yang padat merayap di malam minggu.


"Ya untuk anak-anak di sana." Jawab Mark cepat.


Oh, kirain untuk Bu Fatimah.


Tapi mana berani Rangga menggoda bossnya itu. Biar terucap dalam hati saja.


"Menurut saya sih pizza cocok, Pak."


"Oke. Beli yang big box, secukupnya menurutmu." Mark menyetujui ide sang asisten.


"Siap, Pak. Apa kita beli ke gerainya sekarang atau delivery order saja? Kalau ke gerainya akan menunggu lama sekitar 1 jam an." Rangga memperlambat laju mobil sebab 500 meter lagi akan melewati gerai pizza.


"Delivery aja. Tapi alamatnya ke villa. Nanti kamu aja yang antar langsung ke rumah tahfiz." Tegas bossy Mark.


"Saya pesankan dulu, Pak." Rangga menepikan mobil ke bahu jalan untuk berhenti sejenak. Mengeluarkan ponsel untuk order pizza melalui aplikasi.


"Hm...Ga, pesan juga 1 box khusus untuk Bu Ima." Mark memberi perintah dengan nada datar.


Nah kan, bener kan...ada udang di balik terasi. Si boss mah masih gengsi aja. Hadeuuuh level 10 segeralah....


"Tambah untuk semua pegawai di villa!"


Rangga menyahut mengiyakan. Menambahkan lagi pesanan 1 big box pizza untuk orang villa serta 1 box spesial untuk Bu Ima. Bibirnya mengulum senyum selama proses pesenan itu. Untungnya wajah yang menghadap ke depan serta pencahayaan remang malam tidak akan terlihat oleh sang boss yang duduk di kursi penumpang belakang. Langsung melakukan pembayaran agar begitu diterima security villa tidak akan repot lagi.


Mobil kembali melaju membelah jalan raya yang basah dengan curah hujan yang berkurang kini berubah gerimis. Padahal Rangga berharap hujan semakin lebat agar orang-orang yang punya pasangan tidak jadi bermalam mingguan. Sebagai penghormatan pada dirinya yang jones. Rangga tertawa tanpa suara, mentertawakan pikiran jahat yang tiba-tiba melintas.


"Met malam, Bu Ima. Ehm, apa saya mengganggu?!"


Rangga membelalakkan mata, mengecilkan volume player musik, memasang tegak kedua telinga untuk mendengar percakapan sang boss yang terdengar menyebut nama Bu Ima. Kedua tangannya tapis memainkan setir sehingga mobil dalam kecepatan sedang itu melaju dengan halus. Konsentrasinya kini terbagi dua, pada jalanan dan pada percakapan telepon sang boss.


"Hanya mau bilang, nanti Rangga akan ke tempat Bu Ima. Mau ngasih sedikit makanan untuk anak-anak."


"Ah nggak merepotkan kok. Kebetulan saya lagi di kota jadi sekalian jajan."


"Hm, Bu Ima sudah makan malam?!"


Rangga ingin terbatuk. Sebisa mungkin menahan dengan mengatupkan bibir rapat-rapat. Dengan dada turun naik menahan dorongan batuk yang ingin meledak. Takut dikira meledek, padahal iya.


Gustiiiii.....kalah gue mah.

__ADS_1


Tanpa sadar Rangga geleng-geleng kepala dengan lemah dengan wajah merana.


"Ok kalau gitu, sudah dulu ya Bu Ima. Udah azan ya, selamat menjalankan ibadah sholat isya dan selamat beristirahat."


Sepi.


Berarti sambungan telepon sudah berakhir. Rangga tak berani memastikan dari spion bagaimana mimik wajah boss Mark saat ini, takut terciduk. Memilih memandang lurus fokus ke jalanan.


"Rahma, apa Mizyan lagi bersamamu?"


Hm, sekarang Pak Mark menghubungi menantunya.


****


Bandung


Rahma menuntun Dika berjalan mendekat menuju meja yang posisinya dekat dengan aquarium. Mizyan mengekori di belakangnya sambil berbicara dengan seseorang di ujung telepon.


"Finally, bisa ketemu lagi---" Rade berseru riang, berdiri keluar dari meja menyongsong Rahma dengan tangan terentang untuk memeluk.


"Mba Rahma, apa kabar?" Berlanjut melakukan cipika cipiki.


"Alhamdulillah. Mba Rade apa kabar juga?" Rahma membalas peluk cium dengan binar bahagia dan juga kerinduan yang kentara.


"Rade aja ah jangan pake mba. Canggung kesannya." Rade menggeleng tidak setuju.


"Sama aku juga. Rahma aja, jangan pake mba. Tos dulu!" Rahma membuka telapak tangan mengajak ber highfive.


Keduanya lanjut tertawa bersama, masih berdiri sambil berpegangan tangan. Berbincang heboh dengan tema tanya jawab seputar perawatan kulit. Mengabaikan para pria yang ber say hallo dengan singkat dan kebagian tugas mengawasi anak-anak yang mendekati kaca aquarium.


Mizyan ikut memperhatikan dan terkekeh. "Cewek memang gitu kali ya." Sahutnya dengan mengangkat kedua bahu.


Bersamaan dengan Rahma dan Rade menolehkan wajah dan baru tersadar jika anak dan suami sudah duduk manis. Mereka menyusul duduk. Rahma menyalami Satya, juga Rade yang menyalami Mizyan, saling bertanya kabar.


Menu makan malam sudah dipilih dari daftar menu yang dibawakan seorang waiter. Sambil menunggu pesanan datang, obrolan santai tercipta diantara mereka berempat. Sementara Dika dan Nana pun anteng dengan perbincangan khas anak balita, membahas boneka ikan Nemo yang dipegang Nana.


Malam minggu identik dengan meningkatnya pengunjung di restoran ini. Dengan dominasi pengunjung adalah rombongan keluarga, sesuai dengan tema Resto Family. Alunan live musik genre pop lawas mengiringi suasana homy dengan meja-meja yang hampir penuh pengunjung.


Dika sudah beberapa kali merajuk pada bundanya ingin turun dari kursi untuk bermain di play ground yang ada di area belakang resto. Nana pun melakukan hal yang sama, merajuk terhadap Mama Rade. Barulah usai makan mengabulkan keinginan dua bocah itu.


Tinggal Mizyan dan Satya yang tetap berada di meja. Pembicaraan kedua pria tampan itu tak jauh dari soal hobi dan perkembangan bisnis properti.


"Bro, apa ada rencana yang kavling dibikin rumah?!" Satya mengalihkan bahasan pada 2 kavling milik Mizyan yang berada satu lokasi dengan perumahan tempat tinggalnya.


Melihat Mizyan yang diam, Satya bisa menebak jika sahabatnya itu belum punya planing ke arah sana. "Biar anak-anak kita tiap hari main bareng. Sama anaknya Nico juga. Rahma pasti seneng bisa dekat dengan sepupunya." Yang dimaksud Satya adalah Suci.


"Sekedar masukan saja, apartemen kurang cocok untuk perkembangan sosialisasi anak kecil. Gak ada halaman bermain, sulit dapat teman main. Pada ngurung diri penghuninya. Ya, meskipun di perumahan juga banyak yang individualis. Tapi kalau kita jadi tetanggaan, anak dan istri kita akan berbaur dan bertambah akrab. Kalau kita tinggalin kerja ke luar kota bakalan tenang, Bro."


Mizyan menyimak dan mencerna masukan Satya. Sebuah pencerahan yang membuat kepalanya mengangguk-ngangguk.


"Sebenarnya niat untuk bikin rumah sudah ada tapi slow. Denger penjelasanmu barusan jadi pencerahan buat aku." Mizyan mengacungkan jempol sebagai tanda terima kasih sudah diingatkan.


Di tempat play ground, Rahma dan Rade mengawasi dari dekat anak-anak yang masuk ke dalam rumah-rumahan berujung perosotan. Tingkah 2 bocah yang aktif itu membutuhkan kewaspadaan tingkat tinggi di tengah berbaur dengan anak-anak lainnya.

__ADS_1


Rahma merogoh ponsel di tasnya yang terdengar berdering. Membaca nama yang tampil di layar. Papi Mark calling.


"Rade, nitip Dika sebentar ya. Ada telepon dari mertua." ujar Rahma.


"Oke, santai aja." Rade membulatkan kedua jarinya.


Rahma beranjak ke tepi mencari tempat yamg tidak berisik.


"Hallo, Papi---"


"Rahma, apa Mizyan lagi bersamamu?" terdengar sahutan suara sang mertua di ujung telepon.


"Iya. Kita lagi dinner bareng teman. Tapi aku sekarang lagi di play ground bareng Dika. Mas Mizyan lagi ngobrol sama Mas Satya. Kenapa, Pi?" Rahma, dengan raut wajah penasaran melekatkan ponselnya di telinga.


"Baguslah. Gini----"


Rahma menyimak ucapan panjang Papi Mark. Manggut-manggut tanda faham bahkan sesekali tersenyum lebar.


"Oke, Pi. Aku siap bantu."


"Iya, Papi juga jaga kesehatan ya. Sampai ketemu di Bandung." Rahma mengakhiri dengan wajah sumringah.


Sudah cukup 2 jam lamanya temu kangen. Rahma Mizyan dan Satya Rade berpisah di parkiran sebab pulang berlawanan arah. Dua bocah, Dika dan Nana dengan baju yang basah oleh keringat, mulai menguap karena lelah dan ngantuk mulai mendera. Masuk ke dalam mobil masing-masing sambil melambaikan tangan dari balik kaca jendela.


Baru perjalanan pulang 10 menit Dika sudah tepar di kursi khususnya. Mizyan memperhatikan dari spion sambil mengulas senyum. Dengan terikat sabuk pengaman, kepala bocah kriwil iti terkulai ke samping.


"Dika seneng banget lho Mas, main bareng Nana. Akur ditambah usianya seumuran. Tadi ngobrol sama Rade rencana nanti sekolahnya bareng." Rahma melaporkan sebagian obrolannya dengan Rade tadi.


"Gimana kalau sekalian tetanggan juga. Kamu mau nggak?!" Sahut Mizyan menanggapi, tanpa memalingkan wajah.


"Maksudnya?!" Rahma merasa ambigu.


"Kita kan punya aset 2 kavling di sana. Pilih, Bunda lebih seneng tinggal di apartemen atau mau rumah dengan halaman luas di depan dan belakang, ada kolam renangnya juga." Mizyan masih santai berucap dengan tatapan lurus ke depan.


Rahma memiringkan badan menatap sang suami dengan wajah berbinar.


"Kalau boleh memilih, aku mau rumah dengan halaman luas di depan dan belakang, biar anak-anak kita bisa bermain lepas. Plus ada kolam renangnya juga."


"Siap, Nyonya. Sang arsitek akan bersiap menggambar rumah sesuai impian Nyonya." Mizyan menoleh sekilas dengan senyum manis tersungging di bibir.


"Berarti aku akan dekat sama Suci dan Rade juga. Aghhh senengnya." Rahma menjalin jemarinya di depan dada dengan senyuman paling lebar. "Makasih sayang, surprise malam minggunya." Didekatkan wajah dan mencium pipi kiri Mizyan dengan mesra.


Mizyan menoleh sekilas dengan tersenyum menaikkan kedua alis. Lanjut mengusap puncak kepala Rahma dengan sayang.


"Mas, stop dulu di apotek!" Rahma menunjuk neon box bertuliskan nama apotek berjarak 20 meter lagi.


"Mau beli apa, sayang?" Heran Mizyan sambil menepikan mobil ke tempat parkir.


"Persediaan paracetamol habis. Bentar ya!" Bergegas Rahma membuka pintu mobil.


Masuk ke dalam apotek dan disambut ramah oleh pegawai. Rahma menyebutkan merek paracetamol untuk anak dan dewasa.


"Ada tambahan lagi, teh?" ujar pegawai apotek usai menyodorkan paracetamol sirup dan tablet.

__ADS_1


"Sama tespek minta 4 macam merk berbeda!" Sahut Rahma yang sebelumnya menolehkan dulu wajah ke arah pintu keluar masuk.


__ADS_2