MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 73. Test Drive


__ADS_3

Witing tresno jalaran soko kulino (cinta tumbuh karena terbiasa), adalah ungkapan yang cocok untuk 2 insan bernama Mira dan Fahmi. Hari bahagia yang dirasakan Mizyan dan Rahma dirasakan juga oleh 2 orang yang awalnya iseng berkirim dan berbalas pesan. Ini jumpa kedua bertatap muka usai pertemuan malam itu di Merdeka Walk, Medan kala Mira menemani Rahma dan Fahmi menemani Mizyan. Namun komunikasi yang mulanya dijalin oleh Fahmi pelan tapi pasti disambut oleh Mira.


Sepanjang acara keduanya yang duduk di kubu berlawanan saling mencuri pandang dan melempar senyum. Keberanian bertatap muka lewat video call menciut kala bertemu langsung. Sebab grogi melanda, efek samping dari getar-getar cinta yang memompa kerja jantung berdetak tak beraturan.


"Barapa lama tinggal di Bandung?" Fahmi menatap wanita cantik dan anggun dengan dresscode gaun berwarna dusty pink. Keduanya duduk memisahkan diri dari keriuhan sembari menikmati red velvet kemasan cup dari stan nya Citarasa yang menyajikan berbagai varian dessert.


"Kalo nikahnya Rahma jum'at depan berarti pulangnya nanti selesai nikahan. Kalau kamu?" Mira menatap pria yang langsung menghampirinya begitu rangkaian acara telah usai.


"Besok sore pulang ke Balikpapan. Karena malamnya boss ada schedule meeting dengan investor asal Malaysia."


"Andainya bisa cuti, aku ingin tetap di Bandung seminggu ini biar bisa ketemu kamu tiap hari." Binar yang ada di netranya menggambarkan betapa ia masih rindu untuk bisa berdekatan seperti ini. Apalah daya tugasnya sebagai tangan kanan boss Kemal mengharuskannya selalu mengawal kemanapun sang boss pergi.


Mira tersedak suapan krim lembut yang menjadi toping red velvet. Wajahnya memerah entah karena efek tersedak atau karena ucapan Fahmi barusan.


"Pelan-pelan dong." Fahmi terkekeh sembari menyodorkan air mineral kemasan gelas. Mira hanya tersenyum meringis.


"Terus ke Bandung lagi kapan?!" Ujar Mira usai menyeka sudut bibrnya dengan tisu. Ada kekecewaan yang enggan untuk ditampakkan sebab malu. Hubungannya sejauh ini masihlah status teman.


"Rencananya kamis siang. Boss Kemal akan memboyong 2 anaknya juga untuk hadir di pernikahan Mas Mizyan."


"Nanti temani aku jalan-jalan di Braga ya. Sumpah deh pengen banget ke sana. Udah ngebayangin nikmatin senja di sana, sambil ngopi ditemenin bidadari cantik bernama Mira Thania." Fahmi tersenyum simpul sembari menatap lekat wanita di sampingnya yang wajahnya tengah merona.


"Ish, Bang Fahmi pinter gombal ya." Mira memalingkan wajah ke arah lain untuk menyamarkan rona di wajahnya. Tetiba jantungnya berdetak lebih kencang disebabkan ucapan manis pria beralis tebal dengan postur tegap bak paspampres itu. Tak menyangka pria yang terlihat selalu serius jika sedang mengawal bossnya itu ternyata sosok yang hangat dan humoris.


****


"Hap. Ketangkap deh---" Alek mengangkat Dika yang tengah bermain petak umpet dengan para sepupunya. Ia menggendong Dika dan mencium pipi gembulnya.


"Atu mau tulun!" Dika meronta bahkan mengusap pipi bekas dicium omnya itu.


"Nanti dulu dong. Om kan kangen sama Dika. Ikut Om ke Jakarta ya. Nanti Om beliin mobil-mobilan keren buat Dika." Alex menepuk-nepuk punggung Dika agar tidak terus meronta.


"Nda mau. Atu mau tulun." Dika menggembungkan pipinya bersiap untuk menangis sebab Alex tidak mau melepaskannya.


"Papa---hiks." Kedua tangannya terentang begitu Mizyan datang mendekat. Buliran air mata lolos membasahi pipi diiringi terisak.


Mizyan meraih Dika ke dalam dekapannya. Mengusap-ngusap punggung bocah itu yang menyembunyikan wajah di balik lehernya. Matanya tajam menatap Alex yang tersenyum sinis padanya. Ia mencondongkan badan sembari berkata dingin dan pelan. "Anak kecil saja bisa tau mana yang tulus mana yang modus."


Alex terpancing. Wajahnya memerah menahan marah. "Lo yang modus. Buru-buru kawin biar dapet kuasai warisan kebon sengon kan?!" Lanjut tersenyum menyeringai. "Apa bedanya kita ha ha--"


"Jelas kita beda kelas." Mizyan pun berlalu membawa Dika pergi dengan sengaja menyenggol sedikit bahu Alex. Sementara Alex mengepalkan kedua tangannya, merasa terhina dengan sikapnya Mizyan.


Mizyan menuju Rahma yang menatapnya dengan kedua alis terangkat melihat Dika yang digendong tampak cemberut dan terisak. "Alex maksa pengen gendong tapi Dika nya gak mau jadinya nangis."


"Biar sama aku aja, Mas. Kayaknya ngantuk juga tadi belum bobo siang."


Mizyan menggeleng. "Gak papa. Biar sama aku aja." Sambil berdir diusap-usapnya lagi punggung Dika yang memang kini wajahnya tampak sayu dan menguap.


"Bener-bener udah cocok jadi ayah, Le." Kemal acungkan jempol. Ia dan istrinya mendekat untuk pamit pulang ke hotel bersamaan dengan rombongannya tadi. "Kamu pulang sekarang atau nanti?"


"Nanti aja bang abis magrib." Mizyan pun mengucapkan terima kasihnya pada Kemal dan Sita.

__ADS_1


"Sepertinya mau test drive ya?!" Kemal mengerling. Yang lalu mendapat cubitan sang istri di lengannya sebab ia faham akan joke suaminya itu.


Mizyan memelototkan matanya. Rahma mengernyit tidak mengerti. "Test drive?!" ujarnya bingung dan menatap Mizyan meminta penjelasan.


"Itu---Mizyan kan ganti mobil baru. Kayaknya mau ngajak Rahma test drive makanya mau pulang ntar." Ngeles Kemal sembari terkekeh.


Membuat Mizyan yang tadinya was-was berubah plong mendengar alasan yang dibuat-buat Kemal.


"Boss, ijin. Aku pulangnya nanti juga ya." Fahmi menaik turunkan alisnya merayu Kemal yang menatapnya dengan kening mengkerut.


"Kau mau jadi obat nyamuk?!"


Mizyan tertawa melihat Fahmi yang menggaruk tengkuk dengan senyum meringis. "Bang, lihat ke kanan. Tuh cewek yang lagi ngobrol sama Uma, itu sepupunya Rahma alias yang diincer Fahmi."


Semuanya mengikuti arahan pandangan Mizyan termasuk pula Rahma. "Mira?! kagetnya, lalu menatap Fahmi. "Wah, dulu tukeran no hape lanjut ternyata ya--"


"Eh kita masih temenan kok belum lebih." Elak Fahmi sebab kini dirinya jadi bahan godaan.


****


Mizyan telah pulang selepas magrib bersama Fahmi. Rahma menyaksikan betapa telatennya Mizyan mengemong Dika yang rewel sampai tertidur pulas. Terlihat tulus menyayangi anaknya itu. Hantaran cantik berjumlah 20 kotak memenuhi kamarnya. Berisikan barang-barang branded untuknya juga untuk Dika. Ditambah lagi hantaran lauk pauk berupa gurame hias yang besar-besar dan parsel buah yang ditata di ruang makan.


"Ini mah lamaran serasa nikahan. Kewren--" Komentar riang Salma yang menyapukan pandangan menelisik isi setiap kotak. Ada baju, tas, sepatu, dan lain-lain. "Jadi pengen dilamar lagi hi hi."


"Ehem." Deheman Candra membuat Salma membalikkan badan sebab kaget. Tak menyangka jika Candra mengekorinya masuk ke dalam kamar Rahma.


"Eh ada Papa Candra. Maksud aku pengen dilamar 2 kali sama Papa ya ya--" Salma mengerjap-ngerjapkan mata menggoda suaminya yang melipat tangan di dada.


"Rame banget---aku masih kebagian gak?" Mira nongol di ambang pintu menatap semua orang yang ada di dalam kamar.


"Cie ada yang mau nyusulin Rahma." Suci beralih menggoda Mira. Semua mata kini tertuju pada gadis yang masih berdiri di ambang pintu dengan kening mengkerut.


"Hah, nyusul ke mana? Kan itu Rahma." Mira pura-pura tidak peka dengan maksud Suci.


"Nyusul dilamar sama babang Fahmi lah." Giliran Rahma yang menggoda.


Mira menggeleng. "Itu fitnah. Tapi aku aminkan ajah." ujarnya sembari ngacir ke luar. Membuat Rahma dan yang lainnya terkekeh.


.


.


Persiapan singkat hanya ada waktu 6 hari menjadi waktu yang padat acara untuk calon penganten. Semalam Rahma membuat list nama yang akan diundang. Yang diluar kota seperti Eva di medan akan dikirimkan udangan digital. Dan sabtu pagi ini Mizyan telah menjemputnya untuk fitting baju pengantin di butik rekomendasi Rade. Meski sempat merajuk, Dika akhirnya menurut untuk tidak ikut sebab banyak acara seharian ini khawatir bosan dan rewel.


"Bun, mau minta mahar apa?" Mizyan menatap Rahma sejenak sebelum menyalakan mesin mobilnya.


"Apa aja yang penting tidak memberatkan Mas." Rahma merasa tidak mau neko-neko. Keseriusan Mizyan dalam lamaran kemarin ditambah dengan hantaran yang bernilai total puluhan juta, sudah cukup menambah keyakinan untuk menghadapkan hati padanya.


"Berarti terserah aku?!"


Rahma mengangguk.

__ADS_1


"Oke." Mizyan mengulas senyum. Dengan ucap bismillah ia lajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Rahma.


"Mas, aku mau minta izin ya?" Kemarin sore ia menyetujui permintaan Mizyan. Yang mana mulai hari ini harus terbuka komunikasi, saling mengabarkan kemana pun mau pergi.


"Minta izin apa, Bun?" Mizyan menoleh sekilas dan kembali fokus pada padatnya jalan raya di setiap akhir pekan seperti ini.


"Kalau mas bolehin, sebelum kita nikah, aku ingin berkunjung ke makam ayahnya Dika untuk yang terakhir kali." Rahma was-was menatap wajah Mizyan untuk melihat reaksinya. "Tapi kalau mas gak ngijinin, gak papa aku nurut kok." Ia begitu takut calon suaminya itu salah faham dengan niatannya.


Mizyan menoleh sekilas sembari mengulas senyum. "Sekarang aja yuk mumpung cuaca belum panas. Aku juga ingin mengunjungi ayahnya Dika."


Rahma menghela nafas lega. Kekhawatirannya jika Mizyan akan tersinggung, tidak terbukti. Ia meminta berbelok dulu menuju toko florist untuk membeli bunga sedap malam dan bunga mawar untuk taburan.


Rahma menundukkan kepala di depan pusara. Mengaminkan doa yang khusyu dipanjatkan oleh Mizyan yang berjongkok di sampingnya. Merasa terenyuh dengan inisiatif Mizyan yang memimpin do'a dengan tulus.


Abang, hidup baruku tinggal menghitung hari. Semoga dialah lelaki saleh sesuai do'a yang abang panjatkan dulu. Aku pun selalu berdo'a agar Abang senantiasa dalam RahmatNya. Berada dalam raudatul jannah. Semoga kelak kita berkumpul kembali bersama golongan orang-orang saleh.


Rahma menaburkan kelopak bunga mawar merah di atas pusara yang berhiaskan rumput hijau yang tertata rapih. Seikat bunga sedap malam yang setengah mekar di sandarkan di batu nisan.


My brother, Johan Al Malik. Tanggungjawab Rahma dan Dika sekarang ada di pundakku. Aku akan menyayangi dan menjaganya dengan nyawaku. Istirahatlah dengan tenang. InsyaAllah surga tempatmu.


Mizyan mendongak menatap Rahma yang berdiri. "Sudah, Bun?"


"Sudah, yuk."


Mentari yang hangat menyapa dua insan yang berjalan bersama undur diri dari pusara, meninggalkan komplek TPU yang bersih terawat.


Mizyan menepikan mobilnya ke bahu jalan begitu melewati jalan raya yang rindang dengan pohon-pohon peneduh yang berjajar.


"Mas, kenapa berhenti?" Rahma mengernyit heran. Ia terkaget kala Mizyan meraih tangan kanannya, menggenggam erat.


"Mas--" Rama menggeleng. Menarik tangannya yang digenggam. Namun tidak bisa sebab pegangan Mizyan begitu erat.


"Sekali ini saja aku memegang tanganmu, please!" Pinta Mizyan dengan sorot memelas.


"Just wanna say, I love you Rahma. Now and forever---" Tatapan yang hangat, suara yang berat sebab menyampaikan isi dari lubuk hati. Tangan yang digenggamnya itu dikecupnya penuh perasaan, dalam dan lama. Membuat pemilik tangan halus itu pun diam tak bergerak seakan terhipnotis. Suasana syahdu yang dimanfaatkan Mizyan sembari merasakan impuls yang menjalar melesak menuju inti tubuh, terasa menggeliatkan saraf-saraf yang mati.


Cukuplah test drive seperti itu. Semangat dan percaya dirinya kini naik lagi. Hatinya bersorak riang. Sugesti diri, yakin nanti akan bangun sempurna.


"Mas, lepas ih. Takut ada setan." Wajah Rahma yang seperti kepiting rebus, membuat pikiran Mizyan kembali berpijak di bumi. Ia mengurai genggamannya.


"Ah, maafin aku ya, Bun. Terlalu excited bikin aku gak sabar nunggu jum'at depan." Mizyan mengusap mukanya. Hanya dia yang tahu arti gesturnya itu.


"Aku janji gak akan menyentuhmu lagi sebelum halal nanti. Jangan marah ya, Bun!" Diacungkannya dua jari dengan wajah menyesal takut Rahma marah karena perlakuannya barusan.


"Kapan kita jalannya, Papa. Keburu siang nih." Rahma bersidekap tangan di dada dengan santainya.


Terbalik. Kini Mizyan yang membeku dengan mata membulat mendengar ucapan calon istrinya itu.


"Let's go, sayang."


Draw. Kini Rahma yang mengatupkan bibir. Salah tingkah mendengar panggilan mesra calon suaminya itu.

__ADS_1


__ADS_2