MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 71. Kupinang Kau Dengan Bismillah


__ADS_3

Mizyan menjadi saksi bertemunya kedua orangtuanya yang berpisah belasan tahun lamanya tanpa ada jalinan silaturahmi. Ya, Papi Mark dan Mami Kanti serta Papa Suryo bertemu dalam jamuan makan siang di sebuah restoran atas inisiatifnya. Kecanggungan yang awalnya tercipta kala bertemu muka dan bersalaman, mencair seiring obrolan bergulir. Usia dan kedewasaan membuat ketiganya tak lagi menengok dan mengungkit masa lalu. Mereka duduk bersama untuk kebahagiaan anak tercinta.


H-1 menuju khitbah, Mizyan bisa duduk santai dengan keluarga sebab persiapan untuk besok sudah kelar. Hantaran sudah berjajar rapih di apartemennya hasil kreasi Mami dan Rade. Padahal ia sudah menyuruh menggunakan jasa seserahan saja agar tidak capek apalagi sebelumnya sibuk berbelanja barang hantaran, tapi keduanya menolak. Berdalih ada kepuasan tersendiri bisa mempersembahkan kreasi untuknya itu. Yo wes ia manut dan hasilnya pun excelent.


Ponsel Mizyan berdering. Panggilan dari Kemal yang mengkonfirmasi jika dia dan istri serta asistenya sudah berada di hotel. Sebuah kabar menggembirakan untuknya sebab fixed, orang-orang terdekat bisa hadir mengantarnya besok. Ponselnya kembali berdering, kali ini panggilan video dari Bunda Dika. Senyumnya terkembang dengan praduga yang tidak meleset jika yang menghubunginya pasti Dika.


"Papa--sini sekalang yaaa!" Wajah Dika yang merajuk dengan bibir mengerucut memenuhi layar begitu ia beralih ke meja lain agar leluasa berbicara.


"Ada apa Dika?" Mizyan mengernyit melihat kemudian muncul wajah anak-anak sepantaran Dika di belakangnya. Ada 3 orang, 1 perempuan dan 2 laki-laki kembar, tampak saling dorong dan cekikikan.


Baru faham alasan Dika memintanya datang sebab dikompori 3 orang anak di belakangnya yang bilang bahwa papanya akan datang sore ini. Membuatnya tersenyum geli. Dasar bocah.


"Papa datangnya besok siang ya karena hm---" Mizyan berpikir alasan yang bisa dimengerti oleh Dika. "Karena Papa mau bawa oleh-oleh, hadiah buat Dika dan Bunda yang buanyak. Dika mau hadiah kan?"


"Atu mau-mau--"


Ia pun bisa bernafas lega melihat lagi senyum riang Dika yang bisa menerima alasannya. Selanjutnya seperti biasanya ia menjadi penonton dan pendengar bocah itu bercerita. Kali ini mengabarkan situasi di rumah yang lagi banyak orang dan banyak bunga-bunga. Ia pun faham berarti ada crew WO yang bekerja.


"Dika, Bunda mana?" Sudah 3 hari tak bertemu muka. Hanya berkomunikasi lewat ponsel tanpa menatap sebab Rahma tidak mau video call. Jadi Rindu .


"Nda di kamal lagi pecel." Dika mempraktekan kedua tangannya menguyel-nguyel wajah.


"Hah, pecel apa?" Keningnya mengkerut mencoba menerka maksud bocah kriwil itu. "Maksudnya makan pecel?"


"Bukan pecel, Dika. Facial."


Mizyan melihat anak perempuan yang ia kenal sebagai anaknya Nico, mengoreksi. Ia pun terkekeh. Jadi teringat tulisan pedagang di pinggir jalan dengan spanduk kain yang lebar. Pecel Lele Lamongan.


"Miki, kamu pulang dulu aja. Istirahat buat persiapan besok. Mami ada urusan lain dulu, pulangnya malam. Morgan ikut Mami."


Mizyan yang baru duduk bergabung lagi tampak berpikir. Benar juga apa yang dikatakan maminya. "Papi mau main ke apartemenku?" Pandangannya beralih menatap Papi Mark.


"Next time. Papi juga ada urusan dulu."


Akhirnya Mizyan pulang sendiri ke apartemen. Sempat menelpon Kemal mengabari akan mampir ke hotel tempatnya menginap. Namun Kemal pun menolaknya sebab ada meeting setengah jam lagi.


Masih sore tapi di apartemen sendirian. Bingung mau mengerjakan apa lagi setelah menyelesaikan detail gambar 3 dimensi sebuah rumah mewah pesanan klien di Jakarta.


Ia menjentikkan jari. Satya!


Oke aku calling dia.


"Sat, sibuk nggak? Temani aku ngobrol, boring nih. Aku di apartemen. Bisa ya?!"


"Sorry, Yan. Aku lagi meeting. Ketemu besok aja ya!"


Bip.


Sambungan sudah diputus oleh Satya padahal ia baru saja membuka mulut ingin memelas.


Heran. Semua orang pada sibuk.

__ADS_1


****


Hari yang ditunggu tiba. Mendadak rasa tegang melanda melihat semua orang telah berkumpul di lobi apartemen. Mizyan turun dengan digandeng Mami Kanti yang semalam baru pulang ke apartemen jam 9 tanpa menceritakan sudah ada urusan apa ketika ia bertanya.


"Papi--" Paling pertama mendekati dan memeluk papi Mark yang mendapat balasan sama diiringi tepukan di punggungnya.


"Good looking." Sorot mata Papi Mark menunjukkan kebanggaannya menatap anak satu-satunya yang gagah dalam balutan baju batik lengan panjang berwarna basic biru muda model slimfit. Dipadukan dengan celana panjang hitam. Aura ketampanan san anak makin naik.


Menyusul ia menyalami ustad Ahmad dan Umi yang datang bersama Sarah dan Azis suaminya serta Olla.


"Maafkan A Fakhri dan teh Ratna tidak bisa ikut karena di Bekasi ada acara." Azis menyampaikan salam dari kakaknya itu.


"Gak papa, kang. Makasih kang Azis dan teh Ratna udah sempetin datang."


Mizyan beralih menatap Olla dan menganggukkan kepala. "Olla, makasih ya udah mau ikut."


"Sama-sama, A." Balas Olla singkat diiringi senyuman tipis.


Giliran Dado yang senyam senyum menunggu disapa oleh Mizyan.


"Dado, makasih ya udah mau nganter aku." Keduanya adu tos dan Mizyan memeluk pemuda bertubuh gemuk itu.


"Sama-sama Aa Iyan. Dado juga makasih motornya bagus sekali."


Mizyan menepuk-nepuk bahu Dado sembari tersenyum. "Dirawat ya motornya!"


"Le--- ganteng skali kau." Kemal menyambut pelukan Mizyan dengan takjub melihat perubahan pria yang sudah dianggapnya adik itu. Berapa bulan tidak bertemu tampak ketampanan sang adik makin berlipat naik.


Satya mengingatkan waktunya berangkat sembari mengkonfirmasi kabar dari Arya. "Bro, Arya and the genk mau langsung ke lokasi. Gak ikut konvoi."


"Oke kalau gitu kita jalan. Sudah tidak ada yang ditunggu." Mizyan masuk ke dalam mobilnya. Dengan Kemal yang bertindak sebagai driver sesuai permintaan Kemal sendiri.


Semua hantaran sudah dimasukkan ke dalam mobil khusus. Dengan mengucap bismillah, rombongan pun konvoi mobil dengan dikawal mobil patwal polisi.


****


"On the way, bun."


Rasanya belum lama Rahma menerima pesan dari Mizyan. Tapi kini suara MC yang mempersilakan rombongan untuk duduk di kursi yang sudah disediakan terdengar sampai kamar Rahma. Meski ini pernikahan kedua, tapi prosesi lamaran yang dirayakan meriah seperti ini menjadi pengalaman pertama. Ayahnya Dika dulu melamar secara sederhana, diantar keluarga Nico.


Ah, rasa tegang yang sedari tadi melanda kini bertambah dengan debaran kencang jantungnya. Ia menautkan kedua tangannya sembari memejamkan mata. Mensugesti diri untuk tetap tenang dan tidak gugup.


"Canciknya calon manten---" Salma masuk ke dalam kamar dengan mata membelalak penuh kagum. Sentuhan apik MUA yang tengah finishing merapihkan kerudung membuat Rahma yang jarang ber make up tampak pangling. Makin cantik dan anggun dalam balutan gaun berwarna biru muda.


"Teh Salma bisa aja. Aku tegang lho teh." Rahma menempelkan telap tangannya yang dingin ke punggung tangan Salma.


"Tenang-tenang---" Ia mendudukkan Rahma di tepi ranjang usai sang MUA permisi keluar kamar.


"Sok atuh tarik nafas dulu biar tidak tegang---" Salma memberikan intruksi tarik nafas dari hidung, buang nafas dari mulut. Diulang lagi seperti itu sampai 3 kali.


"Gimana sekarang?"

__ADS_1


Rahma mengangguk. "Bismillah teh." Ia menggosok-gosokan telapak tangannya diiringi senyum yang menandakan keadaannya sudah tenang.


Suci masuk bersama Dika yang berlari menghampirinya. "Nda-Nda---, ada papa buye hi hi--" Dika terkikik girang sembari meloncat-loncat. "Nda ayo tetemu Papa--" Tangannya menarik lengan bundanya sebab sudah tak sabar ingin menghampiri tapi tadi dicegah oleh tante Suci. Harus sama-sama bunda.


"Emangnya papa buye papanya siapa?" Salma sangat senang menggoda Dika yang selalu memberi jawaban sama setiap kali ditanya.


"Papa buye papa atu, papa nda juja--"


Salma dan Suci tergelak dengan jawaban Dika yang sudah seperti jargon saja. Rahma hanya mesem-mesem.


"Udah ah, Rahma udah ditunggu tuh." Suci menyudahi senda gurau yang dilakukan Salma terhadap Dika. "Dika tuntun tangan Bunda ya. Nanti pas keluar Dika senyum sama semua orang. Oke?" Sambil keluar kamar, Suci memberi arahan kepada sang keponakan yang terlihat riang berjalan menggenggam tangan kiri bundanya.


Di luar, lantunan ayat suci Al Quran selesai dibacakan. Mizyan duduk tegak diapit Papi Mark dan Mami Kanti. Di depannya terhalang meja ada Pak Badru dan Uma Fatma dengan kursi di tengahnya yang masih kosong sebab Rahma belum keluar. Gerak gelisah tampak dari mata Mizyan yang sesekali melirik ke arah pintu.


Dan itu dapat ditangkap oleh sang pembawa acara sehingga berkesempatan menggoda Mizyan. "Mas Mizyan nyari apa Mas? Kok lirik lagi lirik lagi ke pintu--"


Sontak para tamu mentertawakan Mizyan yang hanya bisa tersenyum meringis menaggapi guyonan MC.


"Pengen langsung akad katanya. Mumpung ada pak ustad." Mizyan mengenali suara celutukan di belakangnya itu. Suara Ricky yang menyebalkan. Itu berarti rombongan Arya sudah datang. Ia hanya bisa nyengir kuda di tengah riuh tawa para tamu rombongannya.


Mizyan berdiri menatap kedatangan Rahma dan Dika yang dibimbing oleh Suci usai pembawa acara mempersilakan keluar. Terpukau? Pastinya. Ibu dan anak dengan outfit senada itu menebar senyum manis sepanjang berjalan menuju kursi. Ia pun balas menyunggingkan senyum khasnya begitu pandangannya bersirobok kala duduk berhadapan.


Usrad Ahmad menyampaikan khutbah singkat sebelum prosesi lamaran dimulai. Dilanjutkan sambutan dari pihak laki-laki yang disampaikan langsung oleh Mark. Mengutarakan akan maksud dan tujuan kedatangan rombongannya yaitu melamar Rahma.


Giliran Mizyan yang diberi sodoran mic untuk menyampaikan langsung niatannya. Sebelumnya ia menatap penuh sayang terhadap Dika yang berwajah sumringah dan tampak ingin mendekatinya. Namun ditahan oleh bundanya. Beralih menatap hangat penuh cinta terhadap wanita cantik bersinar yang duduk anggun di sisi Dika dan tengah menundukkan wajah.


"Yang saya hormati Bapak Teuku Badru Ali dan Ibu Fatma." Mizyan memulai bicara dengan tenang dan lugas.


"Bismillahirrahmanirrahiim...Saya Mizyan Abdillah, dengan segala kerendahan hati memohon ijin untuk menyampaikan keinginan saya melamar putri bapak dan ibu bernama Cut Mutiara Rahma sebagai calon istri saya. Juga memohon ijin melamar cucu bapak dan ibu yang bernama Mahardika Al Malik sebagai calon anak saya."


"Apa yang saya sampaikan tulus dari hati. Tidak ada paksaan ataupun tekanan dari siapapun. Untuk itu bersediakah bapak dan ibu menerima pinangan saya terhadap Cut Mutiara Rahma dan Mahardika?"


Suasana khusyu dan hening bahkan para tamu pun berhenti mengobrol selama momen Mizyan berbicara menyampaikan lamaran.


"Yang saya hormati Pak Mark Cornelius dan Ibu Sukanti. Yang saya cintai ananda Mizyan Abdillah. Kami haturkan terima kasih atas niat baik yang barusan disampaikan. Namun ijin dari kami selaku orangtua Rahma, kami kembalikan jawabannya kepada putri kami." Pak Badru menolehkan kepala terhadap Rahma yang masih menundukkan wajah.


"Anakku, Cut Mutiara Rahma. Bagaimana...maukah menerima pinangan dari Mizyan Abdillah?"


Rahma memegang mic dengan tangan berkeringat. Ia sadar, jawaban yang akan diberikan menjadi pembuka langkah kehidupan barunya. Untuk sampai ke tahap ini tentunya ia tidak gegabah. Shalat istikharah dan hajat dilakukan untuk meyakinkan hati dan memantapkan keputusan.


"Bismillahirrahmanirrahiim---" Rahma mengangkat wajah. Memandang pria yang duduk di hadapan dan tengah lekat menatapnya. Bibir tipisnya mengucap lirih. "In shaa Allah, saya bersedia."


Senyum sumringah terlukis di wajah Mizyan yang mengusap muka penuh syukur. Dika turun dari kursinya dan berlari memutari meja menuju Mizyan.


"Papa---" Ditubruknya kaki papa buye yang sejak tadi ingin ia hampiri. Yang lalu diangkat oleh Mizyan menjadikan Dika duduk dipangkuannya. Didekapnya erat, diciuminya kedua pipi bakpau bocah itu. Sebagai penyaluran rasa bahagianya.


"Wah-wah panggilannya sudah Papa ya." Bung MC mendekat ingin menggoda lagi. "Adek, emang nama papanya siapa sih?" lanjutnya mendekatkan mic ke bibir Dika.


"Papa Buye. Papa atu, papa nda juja---"


Suaranya yang kencang sontak menciptakan gelak tawa para hadirin. Rasa haru yang baru saja tercipta kala pinangan diterima berubah tawa sebab lucu dengan sikap polos Dika.

__ADS_1


__ADS_2