
Tidak terikat kerja dengan aliansi atau perusahaan manapun membuat Mizyan bebas mengatur waktunya sendiri. Ia menjadi arsitek dan konsultan mandiri yang siap diundang dan joint partner kapan saja menyesuaikan jadwalnya. Namanya sudah berkibar dan dikenal secara nasional di kalangan pengusaha juga sesama arsitek. Dikenal pula di luar negeri melalui prestasi karyanya dalam berbagai lomba. Juga sebagai ex pegawai prestisius perusahaan arsitektur ternama Amerika.
Pagi ini ia bersama Rahma mengantarkan Dika ke rumah Ayah Badru. Uma sebelumnya menelpon Rahma meminta agar Dika dititipkan bersama Uma saja setiap akan pergi ke toko. Awalnya ia merasa keberatan, khawatir merepotkan Uma sebab Dika sangat aktif.
"Itu memang keinginan Uma, Mas. Kalau di rumah katanya Uma ada hiburan dengan keriangan Dika. Juga sekalian ngajarin Dika mengaji sambil main."
Penjelasan Rahma membuatnya mengangguk faham. Usai mengantar Dika, ia pun mengantar Rahma ke toko Citarasa untuk pertama kalinya setelah menikah. Memperhatikan dari tempat duduknya di sofa kala Rahma duduk di meja kerja berhadapan dengan Fitri yang tengah memberi laporan.
"Accountingnya bagus." Mizyan mengomentari usai meneliti sepintas berkas pembukuan yang ada di meja setelah Fitri turun ke lantai bawah.
"Aku belajar dari orang-orang yang kompeten." Sahut Rahma singkat. Yang sebenarnya kalau dijelaskan ia belajar dari ayahnya Dika yang seorang sarjana manajemen. Namun merasa tidak enak hati untuk berkata jujur.
"Mas, mau dibikinin minum dulu?" Lanjut Rahma ketika melihat Mizyan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Ia sudah tahu jika satu jam lagi sang suami ada meeting bersama seorang selebgram di hotel Hilton.
"Boleh deh. Teh hijau aja." Sembari merogoh ponsel yang bergetar di saku blazernya. Jason calling. Seketika Mizyan teringat jika pada saat resepsi, Jason dan Leony tidak datang.
"Hallo, Jas---"
Rahma membawa nampan berisikan segelas teh hijau untuk suaminya yang duduk di sofa. Menyimpannya di meja tanpa bersuara sebab sang suami tampak serius berbicara di telepon. Takut mengganggu, ia beranjak dari duduknya namun Mizyan menggenggam jemarinya. Dengan isyarat anggukan kepala memintanya duduk lagi. Ia pun menurut.
"Oke. Aku akan berusaha bantu lo. Sekarang sabar aja dulu. Beri dia waktu untuk sendiri." Mizyan mengakhiri sambungan telepon sembari menarik dan menghembuskan nafas panjang.
Rahma menatapnya dengan sorot penasaran, apa yang menyebabkan suaminya seolah punya beban usai menerima telepon.
"Temen kulliah aku, Jason dan Leony datang dari Surabaya sehari sebelum pernikahan kita. Tapi pas waktunya keduanya tidak hadir." Mizyan menerangkan tanpa diminta. Tangannya memainkan jemari Rahma, mengusap cincin yang tersemat di jari manis istrinya itu.
"Lalu?!" Rahma mulai tergelitik untuk mengetahui kelanjutannya.
"Sayang, jangan marah atau cemburu ya!" Mizyan mengecup punggung tangan Rahma. "Waktu malam itu kamu bilang merasa nggak enak hati, aku memang mengalami sedikit masalah. Aku menemui Leon di coffee shop....." Ia pun menceritakan sejujurnya apa yang terjadi malam itu. Tentang ajakan Leon untuk minum, namun ditolaknya lalu gadis itu mengungkapkan perasaan cinta, sampai kemudian ia pergi meninggalkan Leon yang mabuk dan dipapah Jason.
__ADS_1
"Jason gak bisa nahan diri lihat Leon yang mabuk dan tampil polos menggodanya. Jadilah one night stand."
Rahma menutup mulutnya, kaget. "Terus Leon marah dan membencinya. Dan Jason merasa bersalah gitu?!"
Mizyan mengangguk. "Jason siap tanggung jawab. Sejak kuliah dia cinta sama Leon tapi tidak pernah diungkapin. Sekarang Leon menjauhinya. Aku bilang sabar dulu, beri kesempatan untuk sendiri. Aku akan berusaha menyatukan mereka. Moga aja bisa."
"In syaa Allah, niat baik menolong teman, Allah akan mudahkan." Rahma mengulas senyum dan tatapan hangat yang membuat Mizyan kembali mengecup punggung tangannya.
Waktubya pergi meeting. Rahma ikut berdiri, menilik penampilan Mizyan yang sudah paripurna. Hanya mengusap bagian lengan yang sedikit kusut. Lainnya sudah perfect.
"Selebgramnya cantik dan seksi. Jaga mata ya, Mas!" Rahma sadar akan ketampanan sang suami. Wajar jika banyak kaum hawa menyukai juga tergila-gila. Apalagi ia ingat waktu kajian, para emak terang-terangan mengharapkan Mizyan menjadi menantunya. Ia yang dulu cuek, tidak menyangka malah sosok yang diidolakn para emak itu kini menjadi teman tidurnya.
Mizyan terkekeh. Mencolek hidung mungil sang istri yang kentara mengkhawatirkannya. "I don't care dia cantik dan seksi. Bagiku kamu yang lebih cantik dan seksi dari wanita manapun." Ia memeluk pinggang Rahma sampai rapat dengan tubuhnya. "Apalagi kalau lagi mendesah, makin seksi." Pungkasnya sembari mengedipkan sebelah mata.
"Mesum ih--" Rahma memukul pelan dada Mizyan dengan kedua pipi yang merona.
"Kalau sempet nanti mau sekalian mampir ke dokter. Mau hapus tato." Rahma hanya mengangguk sebab bibirnya sudah di pa gut secara lembut dan perlahan. Namun efeknya panas mejalar ke seluruh tubuh. Moodboster yang menjadi pengantar Mizyan berangkat menemui kliennya yang akan membangun rumah baru.
Meeting yang alot sebab klien beberapa kali mengubah konsep gambar yang diinginkan. Ditambah selebgram itu melakukan live Ig, memamerkan jika dirinya sedang meeting bersama arsitek ganteng untuk membangun istananya. Sampai banyak komentar netijen yang menjodohkan. Menyebutnya sebagai pasangan serasi. Namun ada pula segelintir netijen yang tahu jika sang arsitek baru menikah.
Dengan sabar dan bersikap profesional, Mizyan mendengarkan ekspektasi yang diharapkan sang selebgram seksi itu. Terkesan sengaja mengulur waktu agar bisa berlama-lama duduk satu meja. Mizyan tahu itu sebab ia pernah ahli bahasa tubuh wanita. Bahasan tertunda break makan siang bersama sang artis dan manajernya. Sambil menunggu hidangan datang, ia pun pamit ke mushola untuk menunaikan sholat Duhur.
"Omg. Udah ganteng, sholeh lagi." Si selebgram melongo tak percaya. Dikira si blasteran itu gaya hidupnya bebas.
Dua jam lebih meeting baru usai dengan kata deal. Mizyan keluar dari lobi hotel sembari membuka blazernya. Menampakkan t-shirt putih fresh body yang membungkus tubuh tegapnya, serta kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya. Langkahnya terhenti di jarak 3 meter dari mobilnya sebab ada seseorang yang berdiri di samping mobil dan menatap tajam ke arahnya.
Orang itu yang tak lain adalah Alex, berjalan mendekat dan berkata tegas. "Gue mau nagih janji lo."
"Gue ngejanjiin apa?" Mizyan meladeni sembari bersikap tenang. Berdiri saling berhdapan.
__ADS_1
Alex mendecak. "Jangan pura-pura bego. Pasti Rahma udah nitipin dokumen tanah warisan dari Malik di brangkas lo. Iya kan?!"
"Cukup serahin satu sertifikat punya Dika. Dan urusan kita selesai." Pungkas Alex dengan gaya pongah.
"Kalau nggak, mau apa?" Tantang Mizyan dengan tatapan waspada dibalik kacamata hitam yang dikenakannya.
Alex pun merogoh ponsel dan memutar rekaman percakapan waktu pertemuan pertama kalinya dengan Mizyan di sebuah cafe.
"Sorry waktuku tidak banyak. Gue lagi ada urusan. Lo mau ngomong apa?"
"Oke, to the point. Lo deketin Dika untuk dapetin emaknya bukan?"
"Urusannya sama lo apa?"
"Lo jawab aja dulu. Yes or no?!"
"Yes."
"Sudah gue duga. Lo udah tahu kalau Rahma janda kaya. Rahma dan anaknya punya warisan banyak dari Malik. Kalau bukan untuk kuasai hartanya ngapain lo deketin janda. Cewek SMA juga gak akan nolak pesona lo bukan? Secara lo kan casanova." Terdengar di rekaman itu suara Alex tertawa mengejek.
"Terus kalau sudah tahu lo mau apa?"
Alex menyimpan ponsel kembali ke waist bag nya diiringi senyum kemenangan. "Gue tidak bodoh seperti yang lo kira. Tinggal kasih rekaman ini ke Rahma dan lo siap-siap dibenci dan ditinggal pergi. Dan gue akan jadi pahlawan buat Rahma." Ia tersenyum menyeringai, merasa diatas angin.
Mizyan mengatupkan bibir dengan kedua tangan mengepal. Tentu saha rekaman itu tidak utuh masih ada percakapan lanjutan dimana Alex meminta kesepakatan. Ia mengakui kecolongan, menganggap remeh lawan.
"Sebulan lagi panen sengon dimulai bukan? Gue berbaik hati kasih waktu sampai panen selesai. Asal bagi-bagi duit hasil jualnya. Liat saja kalau gak ngasih!" Ancam Alex sembari berlalu meninggalkan Mizyan.
"Hei, nyokap lo sakit sakit apa? Sampe harus ada duit 100 juta bulan depan. Tau aja bulan depan Rahma bakal banyak duit. Moga aja cepet mati biar gak jadi operasi." Ledek Mizyan menahan langkah Alex yang baru berjalan 4 langkah.
__ADS_1
Alex membalikkan badan dengan wajah merah padam. "Bukan urusan lo!" Kemudian mimik wajahnya berubah sebab tertawa iblis. "Gue pastiin Rahma bakal ngasih tuh duit. Secara wanita bodoh itu hatinya terlalu lembut dan perasa." Sembari pergi dengan melambaikan tangan penuh kepuasan.