MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 30. Secercah Asa


__ADS_3

Rahma mengerutkan kening. Beralih menatap ayahnya yang tertawa dengan bahu terguncang lalu mengacak rambut Dika yang baru saja dirapihkannya.


"Om sapi siapa, Yah?"


Belum juga mendapat jawaban dari Ayah, Uma datang dari dapur membawa sepiring ubi bakar dan duduk bergabung. "Ada apa sih--- dari tadi Uma dengar Dika rame banget ketawa-ketawa. Sekarang Ayah yang ketawa." ujarnya menatap Ayah yang kini tersenyum mesem.


"Barusan Mizyan telpon Ayah, nanyain kabar Ayah sama Uma, terus kangen sama Dika juga."


"Salam sama Uma, katanya."


"Sama Ayah cuma ngobrol sebentar. Dika sama Mizyan yang anteng ngobrol."


"Oh, jadi Om sapi itu dia?!" Rahma mengulum senyum. Geli juga mendengar kepolosan Dika memberi nama panggilan Mizyan.


Kasihan banget, ganteng-ganteng disebut om sapi.


Ia masih mengulum senyum sambil menyembunyikannya dengan menunduk mencium puncak kepala Dika yang anteng dengan mainan mobil-mobilan kecil.


"Namanya bukan Om sapi, sayang. Tapi Om Mizyan." Rahma mengoreksi jangan sampai dikira ia mengajarkan ucapan yang tidak sopan."


Dika menggendikkan bahunya. "Om sapi, Nda." Ia pun turun dari pangkuan Bunda menunjukkan sapi yang ada di lantai. "Ini atu, ini Nda, ini Om."


Rahma faham dengan maksud anaknya. "Iya sapi itu dari Om. Tapi Om nya jangan dipanggil Om sapi. Nggak boleh, nanti Om nya ngambek gimana," pungkasnya memperhatikan Dika yang menatapnya dengan bingung.


"Om Miz - yan." Ia mengejanya perlahan agar diikuti oleh Dika. Namun berapa kali diulang, anaknya itu tampak kesulitan mengucap.


"Om Mam."


"Om Miman."


"Om ayam."


Membuat ia tertawa lepas sebab Dika tak berhasil menyebut nama Mizyan dengan benar. Malah lebih parah, Om ayam.


"Panggil om bule aja deh. Dika bisa?"


"Om buye?!" Dika menatap bundanya, seolah meminta penilaian atas ucapannya.


"Nah gitu aja lebih bagus." Rahma menjentikkan jarinya. "Daripada om sapi, om ayam," ujarnya masih tertawa geli dengan bahu terguncang menahan ledakan tawa.


Ayah dan Uma yang tengah memakan ubi dari tadi menyaksikan Rahma yang tertawa senang. Keduanya saling tatap dan tersenyum tipis penuh arti.

__ADS_1


"Manis banget ubi bakarnya. Uma beli di mana?" Rahma yang awalnya hanya mencicipi, menjadi tertarik menambah lagi.


"Namanya ubi Cilembu. Tadi pembantunya dokter Gunawan ngirim. Katanya oleh-oleh pak dokter dari Rancaekek," jelas Uma yang juga menikmati legitnya ubi cilembu.


Kala malam menjelang, Rahma bersiap mengeloni Dika yang sudah jam 9 tapi masih betah bermain. Hatinya tergelitik, ingin tahu tentang Mizyan sebab yang ditanyakan kabar hanya Ayah, Uma, dan Dika. Sementara ia tidak disebut.


"Barusan Mizyan telpon Ayah, nanyain kabar Ayah sama Uma, terus kangen sama Dika juga."


Terngiang kembali ucapan Ayah sore tadi.


"Dika tadi bicara apa aja sama Om?" Rahma mulai mengusap-ngusap rambut Dika. Kebiasaan yang akan mengantarkan sang anak cepat tidur.


"Om buye, Nda?" Dika menatap bundanya sambil tangannya terulur memainkan kancing baju.


"Iya Om buye." Rahma spontan terkekeh. Mendadak teringat lagi ucapan dika tadi sore yang polos memanggil Mizyan dengan sebutan om sapi.


"La ha sia, Nda---"


"Eh- eh...anak bunda udah belajar main rahasia-rahasiaan segala." Ia menggelitik perut Dika dengan gemas yang membuat anaknya itu tertawa geli. Tapi tak lama, jangan sampai Dika kembali ceria hingga enggan tidur. Ia pun mengusap-ngusap lagi rambut anak kesayangannya itu yang kini memeluknya.


"Hm, Om bule nya ada di mana sih?"


Sebetulnya pertanyaan itu ingin sekali ditanyakan kepada Ayah sore tadi, sebab ayah seolah akrab sekali dengan Mizyan sampai saling berkomunikasi segala. Namun ia merasa malu untuk menanyakannya.


Bobo yang nyenyak jagoan Bunda. Jadilah anak yang soleh.


Rahma mencium kening Dika yang tampak tenang dalam lelap. Ia beringsut turun dari ranjang dengan pelan, jangan sampai mengganggu kenikmatan tidur buah hatinya itu. Malam ini ia menguatkan hati untuk menyelesaikan membaca diary bersampul hitam, kenang-kenangan dari almarhum suaminya. Siapa tahu ada amanah yang sangat penting di lembar berikutnya.


****


Semarang


Mizyan merasa semangat dan optimismenya kembali naik usai mendapat moodboster. Hanya dengan berbicara dengan Dika, bocah laki-laki yang telah mencuri perhatiannya. Lebih dari setengah jam ia becanda ria. Bahkan sempat membuatkan gambar sesuai permintaan Dika, yaitu badut. Jadilah ia mengambar badut dengan perut buncit dan bibir dower. Dan begitu ditunjukkan hasilnya, Dika tertawa-tawa senang.


Ini hari kedua ia berada di Semarang. Semalam sudah dipikirkan tempat mana lagi yang akan dikunjunginya. Yang pertama akan dituju adalah kampung Kauman, untuk mencari jejak teman sekolahnya yang cukup akrab meski ia dulu tidak punya sahabat dekat.


Pekerjaan tetap tak boleh terbengkalai. Ia fokuskan konsentrasi di depan laptop usai free breakfast di restoran hotel. Sampai tak terasa waktu sudah menjelang Dhuhur, ia pun bergegas turun untuk berjalan kaki menuju masjid Agung. Ia tak ingin melewatkan menikmati momen sholat berjamaah di masjid Agung mumpung berada di Semarang.


Sekali lagi, do'a penuh pengharapan dipanjatkan dengan khusyu. Agar dimudahkan urusannya dalam mencari jejak orangtua, ia memohon kepada Allah dengan merendahkn hati usai melaksanakan sholat sunah ba'da Dhuhur. Sebab selepas ini ia akan mencari lagi keberadaan ibunya, ayahnya kemudian.


"Bu Sukanti dan keluarganya pindah setelah rumahnya terjual."

__ADS_1


"Sekeluarga?!" Mizyan mengernyit. "Nama suaminya dan anaknya siapa ya, pak? Terus pindah ke mana?" Lanjutnya mencecar tukang becak yang sudah mangkal 10 tahunan di wilayan itu. Ia sangat penasaran.


"Nama suaminya Pak Suryo. Katanya sih suami kedua. Suami pertamanya dulu orang luar. Kalau nama anaknya nda tahu, waktu itu masih kecil kira-kira usianya 3 tahunan, laki-laki."


"Mas siapanya keluarga itu. Kenapa tanya-tanya?"


"Saya kerabat jauh dari Bandung."


"Oh dari Bandung toh? Tapi wajah mas bule kayak orang luar?!"


Mizyan hanya tersenyum meringis dan mengepalkan 2 lembar uang 100 ribu ke tangan tukang becak itu sebelum pamit pergi.


"Astagfirullah, maaf-maaf tidak sengaja." Mizyan menahan lengan orang yang ditabraknya yang hampir tersungkur sebab dia berjalan di pelataran masjid sambil melamun, mengingat percakapannya dengan tukang becak kemarin.


"Mas, nggak apa-apa?" Ia menatap laki-laki yang menunduk tengah mengamati ponsel yang jatuh sebab ditabraknya. "Ponselnya rusak nggak? Saya akan tanggung jawab, mas."


"Kalau jalan jangan mela----"


Pria yang ditabraknya itu tak menyelesaikan kalimatnya, menggantung begitu saja kala beradu tatap dengan Mizyan. Tampak keterkejutan tergambar di wajahnya. Sama halnya Mizyan yang juga terkejut melihat wajah pria yang kini jelas terlihat berdiri berhadapan.


"Michael kan?!" Tunjuk pria itu tepat ke hidung Mizyan.


"Ibnu kan?!" Tunjuk Mizyan dengan mata membelalak. Tanpa dikomndo berbarengan keduanya mengangguk.


"Oalah, Miki---- slama iki kowe ning ndi ae (selama ini kamu kemana aja)." teriak orang yang bernama Ibnu itu usai keduanya berpelukan sambil menepuk punggung masing-masing, melepas kangen.


Ibnu, teman SMA yang akan dicarinya sekarang ini ke kampung Kauman, ternyata Allah mudahkan pertemuannya di pelataran masjid Agung. Sungguh Mizyan merasa sangat bersyukur. Ia pun mengajak Ibnu menuju restoran yang masih berada dalam satu komplek masjid agar bisa mengobrol dengan leluasa.


****


Dear pembaca setiaku,


Novel ini baru hadir September, hampir 1 bulan dan belum mendapatkan level yang layak dari platform.


Jika suka dengan story ini, aku mau meminta tolong dukungan readers untuk memberikan LIKE & VOTE sebanyak-banyaknya di akhir bulan ini (khusus minggu ini saja kok, selanjutnya gimana ikhlasnya readers 😁) agar bulan depan NT memberikan level karya yang layak. Hingga aku pun makin semangat up 😄


Sebagai balasan kebaikan readers, insyaAllah hari ini aku luangkan waktu utk double up sbg ucapan terima kasih.


Semangat Senin. Semangat beraktifitas utk semuanya.


Salam

__ADS_1


Me Nia


__ADS_2