MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 99. Adek dan Akak


__ADS_3

Jakarta


Sepasang suami istri paruh baya duduk bersama di ruang keluarga. Layar televisi lebar tengah menayangkan sinetron. Hanya sebagai pemanis suasana agar tak terlalu senyap di ruangan yang besar itu. Sebab nyonya rumah sama sekali tak memperhatikan tayangan televisi. Sibuk memutar otak untuk membuat rencana dan keputusan penting. Sementara tuan rumah asyik sendiri berselancar dengan ponsel dalam genggaman juga kacamata baca bertengger di hidung.


"Arggh--" Pekikan kekesalan terdengar keluar dari mulut wanita dengan beberapa uban yang mulai tampak. Indikator harus cat ulang rambut segera. Dia adalah Mama Indah.


"Kenapa sih, Ma." Theo, sang suami menolehkan wajah dengan kening mengkerut. Kali ketiga mendengar istrinya itu mendecak sehingga mengusik konsentrasinya membaca berita bisnis.


"Pa, sengon sudah mulai ditebang. Sudah kebayang itu si Rahma bakal dapat duit banyak. Selama ini Mama bersikap baik sama dia supaya hatinya tersentuh buat balas budi. Nyatanya lempeng-lempeng aja. Terakhir Mama bilang bilang akan operasi di Singapore dengan biaya 100 juta, itu perempuan kok gak peka sih. Mama udah habis kesabaran, Pa." Indah berjalan mondar-mandir dengan tangan berkacak pinggang. Wajah dengan kulit kencang hasil sentuhan klinik skin care, tampak memerah sebab geraman kemarahan.


"Jadi maunya Mama gimana?" Theo menyimpan ponsel dan kacamata di meja. Bertumpang kaki menatap sang istri. "Jangan uring-uringan terus nanti darah naik lagi, Ma."


"Ck, kasih ide dong, Pa." Indah mendelik mendengar ceramah standar yang sering ia dengar. "Selama ini Papa cuma manut-manut aja sama ide Mama. Sekarang udah waktunya bikin sikap sama si Rahma. Udah punya laki arsitek kaya, masih aja pelit. Papa juga setahun lagi pensiun...kita bakal butuh uang banyak, PAPA." Indah mengeluarkan unek-unek dengan menekankan ucapannya.


"Pa, gimana kalau kita ambil Dika pas Rahma lengah?"


"Sama aja nyulik, Ma." Theo menggeleng tidak setuju. "Kita bisa dipidanakan, Ma. Pakai jalur kekeluargaan aja."


"Seperti gimana? Selama ini Mama membuang ego dengan baik-baikin Rahma. Si Diki juga kecil-kecil udah sombong gak mau salaman apalagi digendong. Udah enek kudu terus-terusan akting." Kembali duduk menghempaskan bokong dengan kasar.


"Oke-oke...Papa akan support Mama untuk mendapatkan hak. Mumpung besok weekend, kita temui dia!" Tegas Theo yang merasa sudah waktunya turun tangan membantu.


Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah tangga. Indah dan Theo menolehkan wajah.


"Alex mau kemana lagi? Baru juga sehari di rumah." Omelan Theo menyambut langkah kaki Alex yang datang mendekat.


"Mau ke Bandung, Pa. Ada bisnis sama temen di sana."


"Besok aja bareng. Kita juga mau ke Bandung nemuin Rahma. Mama sama Papa sepakat mau ngomong minta hak. Kesal nunggu si Rahma inisiatif ngasih dengan sukarela." Indah menimpali.


"Bagus, Ma. Jangan sampe nanti dikuasai suami barunya." Timpal Alex tersenyum menyeringai. "Aku harus ke Bandung sekarang, Ma. Urgent. Besok aja kita ketemu di Bandung."


"Ya sudah. Hati-hati bawa mobilnya!" Theo menengahi. "Nunggu apalagi?!" Melihat Alex bergeming sembari cengengesan.


"Bagi duit buat nambah modal. 20 juta aja, Ma...Pa. Ini prospek bagus. Aku bakalan untung gede nih, 10 kali lipat." Alex mengangkat seluruh jari dengan penuh keoptimisan.


"Bisnis apaan bisa untung sebanyak itu?" Theo menatap curiga.


"Bisnis cafe, Pa. Bandung kan jadi destinasi kuliner. Aku sama temen mau join bikin tempat ngopi yang cozy dengan pangsa pasar medium-low konsumen. Sudah dikalkulasi profit yang bakalan di dapet."


"Wah, hebat kamu sayang." Indah berdiri memberi pelukan sebagai ucapan selamat. "Akhirnya anak Mama gak manja lagi gak nganggur lagi." Kedua tangannya beralih memegang bahu Alex dengan tatapan penuh kebanggaan. 20 juta pun ditransfer saat itu juga ke rekening Alex.


****


Bandung


Mengakhiri kesalahfahaman dengan aktifitas ranjang, larut dan hanyut dalam lautan nikmat tak bertepi. Menjadikan pagi ini pagi yang full semangat. Moodboster buat Mizyan untuk menampilkan skill yang belum diketahui Rahma.


Dengan bersiul riang, Mizyan membuka pintu kulkas. Memeriksa bahan masakan yang tersedia sebagai stok. Dalam freezer ada daging ayam dan sapi, serta salmon. Di storage sayuran diantaranya ada jeruk nipis dan lemon juga jeruk peras dan sunkist.


Lalu beralih membuka lemari kitchen set atas, berisi bumbu yang tertata rapih. Membaca satu persatu nama pada tiap botol kemasan.


"Okay. Let's do it," gumamnya diiringi lagi siulan. Membiarkan pintu lemari bumbu terbuka lebar untuk memudahkan mengambil bumbu yang akan dipakai. Sengaja berdiam di dapur modern desainnya itu. Mumpung Rahma masih di kamar menemani Dika mandi pagi.

__ADS_1


Memakai apron warna coklat, Mizyan mencuci 3 potong ikan salmon, seadanya yang ia temukan di dalam kulkas. Meniriskan sejenak lalu menyiapkan wadah berukuran sedang. Ia campurkan saus teriyaki, kecap manis, perasan jeruk nipis, dan minyak sayur, gula, dan garam ke dalam mangkuk. Mengaduk rata, sama sekali tidak ada kekakuan.


Mizyan memasukkan ikan salmon ke dalam campuran bumbu. Memastikan saus melumuri seluruh bagian ikan dengan sempurna. Sambil menunggu marinasi selama kurang lebih 15 menit hingga bumbu meresap, ia mengambil mentimun dan wortel untuk dibuat acar.


Lihai dan gesit. Seperti itu gambaran pria yang memakai kaos hitam slim fit berbalut apron coklat. Tengah berkutat dengan 2 tungku kumpor gas yang menyala berisi alat masak griil pan dan fry pan. So sexy.


"Wah wangi apa ini... harum banget ih." Suara Rahma dari kejauhan terdengar. "Wow surprise---Papa lagi masak?!" sambungnya yang datang dengan Dika, menghampiri ke dapur. Nada tidak percaya dan takjub menjadi satu begitu berdiri di samping suaminya yang cekatan membalikkan salmon di griil pan.


"Special menu for wifey." Mizyan memberi kecupan di pipi Rahma. Melanjutkan mengetes rasa masakan acar yang sudah meletup-letup airnya.


"Adududuuuh, hubby....hati adek meleleh jadinya." Rahma melorotkan tubuhnya. Seolah lututnya melemas tak mampu menyangga tubuh yang merasa terbang sebab tersanjung. Menjadi terduduk di lantai.


"Hi hi hi--- Nda unyu hi hi hi---" Dika yang tubuhnya harum aroma minyak telon malah terkikik menyaksikan tingkah bundanya itu. Disambung Mizyan yang ikut tertawa lepas sebab kekonyolan istrinya itu.


"Ishh, malah pada ngetawain." Bibir Rahma cemberut, kembali berdiri. Setengah berlari meninggalkan dapur, tak lama datang lagi membawa ponsel. "Momen yang sayang untuk dilewatkan. Aku rekam ya, Papa!" sambungnya bersiap menyentuh icon kamera.


"Sayang, jangan dong!" Mizyan menoleh sesaat sembari menggeleng. Ia baru saja mematikan api, lalu memindahkan salmon yang sudah matang ke piring saji yang sudah disediakannya.


Rahma abai. Ia mulai melakukan rekaman video dengan mengambil posisi dari samping agar terlihat sosok chef juga menu yang dimasak.


"Morning, Kak. Mau tau dong sejak kapan akak guanteng ini punya skill masak? Akak berbakat jadi chef lho, Kak."


Mizyan tergelak. Merasa geli dan gemas dengan gaya wawancara Rahma yang kini mengclose up wajahnya.


"Adek baru tau ya, akak ini jago masak sejak dulu." Menoleh ke arah kanan sejenak mengambil sauce pan. "Tinggal di negeri Paman Sam membuat akak harus mandiri. Gak mau tiap hari makan fast food, gak sehat. Gak mau sering makan di resto, gak ramah di dompet. Pas punya temen seorang chef. Jadi akak balajar darinya. And than, masak-masak sendiri....makan-makan sendiri...cuci baju sendiri....tidur pun sendiri 🎶" Pungkasnya bersamaan dengan mematikan api sebab sisa bumbu marinasi yang dipanaskan di sauce pan mendidih.


Rahma tak kuat menahan tawa sembari memegang perut. Mizyan dengan santai malah bernyanyi dangdut sembari bergoyang pinggul. Membuat Dika pun bergoyang mengikuti gaya papa buye. Suasana dapur terbuka menghadap mini bar dan meja makan itu semakin seru dengan keriangan.


Mizyan mengambil alih ponsel. Beralih merekam dengan kamera depan sembari memegang piring saji Salmon Teriyaki.


"Ini menu spesial untuk adek yang semalam nackal menggoda akak. And I really like it. You deserve it." Mizyan mnyerahkan piring saji ke tangan Rahma. Dan memberi kecupan di kening dengan satu tangan teracung memegang ponsel.


"Ahhh, akak. Adek terharu...sangat terharu." Rahma mendekatkan piring saji Salmon Teriyaki ke hidung. Mencium aromanya sambil terpejam meresapi sebab spesial buatan chef Mizyan. "Makasih, hubby. I love you." sambungnya dengan satu tangan melingkar memeluk rapat. Dengan berjinjit mengecup pipi sang chef yang tampak sumringah.


"Nda--- atu juja mau dipeyuk!" Dika melonjak-lonjak dengan kedua tangan diangkat. Protes dengan kemesraan orangtuanya yang seolah melupakan keberadannya.


Rahma dan Mizyan tergelak bersama. Mizyan menyerahkan ponsel pada Rahma. Beralih mengangkat tubuh Dika dan menggendongnya. "Ada yang jealous nih." sembari mencium pipi bakpau dan mencium dada untuk menghirup wangi telon yang menyegarkan.


****


Aura bahagia terpancar sempurna pada wajah keluarga kecil itu. Dengan sepenuh hati Rahma melayani sarapan pagi sang suami dan anak. Menyendokkan nasi ke piring dan mengambilkan lauk spesial buatan suami romantis yang selalu memberinya kejutan.


"Delicious, Papa." Rahma mengacungkan 2 jempolnya. Tulus memuji Mizyan. Perpaduan bumbu yang pas membuat rasa salmon teriyaki dan acar mentimun begitu meresap di mulut.


"Enyak, Papa." Dengan mulut penuh Dika ikut-ikutan memuji. Ia makan sendiri tidak mau disuapi.


Mizyan tersenyum lebar dengan hidung memgembang mendapat apresiasi anak istrinya itu.


Kembali pada rutinitas. Usai makan Mizyan bersiap mengantar Dika kepada Uma, mengantar Rahma ke toko. Tetiba ponsel yang baru diraihnya dari nakas berdering. Video call dari Mami.


"Mam, apa kabar?" Kalimat pembuka Mizyan dengan wajah sumringah begitu menatap wajah ibunya di layar.


"Miki---" teriak Mami Kanti memasang wajah ditekuk. "Kapan kalian mau ke Semarang. Ini udah sebulan lebih Mami nunggu. Tega ya....sama Mami." Pungkasnya dengan wajah cemberut. Mengabaikan pertanyaan sang anak yang menanykan kabarnya.

__ADS_1


Mizyan terkekeh melihat maminya merajuk. Sejenak memalingkan wajah memanggil Rahma dan Dika yang baru keluar dari kamar dengan penampilan rapih siap pergi.


"Sayang, Mami marah nih. Gara-gara kita belum ke Semarang." Sambut Mizyan begitu Rahma duduk di sisinya dan Dika menyusup berdiri di tengah-tengah.


Rahma mengulas senyum lebar menatap ibu mertua di layar. "Mami, gimana kabarnya? sehat kan?"


"Tidak begitu baik, Rahma. Karena nahan kangen sama kalian bertiga. Kapan dong berkunjung ke Semarang. Ke Bogor pasti sudah ya?" todong Mami dengan suara memelas di depan sang menantu. Ia pun menyapa Dika sembari melambai-lambaikan tangan diiringi senyuman.


"Mami, Insya Allah minggu depan kita ke Semarang." Mizyan yang merangkum bahu Rahma, membuat keputusan. Tidak mau maminya merasa tak adil sebab sudah lebih dulu mengunjungi Papi Mark di Bogor. Membuat Mami Kanti berubah tersenyum sumringah.


Obrolan santai masih berlanjut sampai 15 menit lamanya. Bukan tidak betah, Mami Kanti memilih menyudahi sambungan video sebab melihat tampilan anak dan mantu serta cucu sambung yang bersiap pergi.


Giliran ponsel Rahma yang berdering di dalam tas usai sambungan dengan Mami Kanti terputus.


"Mas, dari Mama Indah." Rahma memperlihatkan layar ponselnya.


"Loud kan, sayang!" sahut Mizyan dengan wajah tenang.


Rahma mengangguk.


"Hallo, Ma. Apa kabar?" Rahma menyapa usai berdehem sebelumnya.


"Kabar baik Rahma. Oh ya, Mama mau konfirmasi, Mama sama Papa Theo mau ke Bandung sekarang. Ada perlu penting sama kamu. Ada waktu sore ini ketemu kan, Rahma?" Suara Mama Indah terdengar serius.


Rahma menatap Mizyan yang tampak menganggukkan kepala. Membaca kode mulut yang mengucapkan di rumah Ayah.


"Iya bisa, Ma. Aku tunggu di rumah Ayah. Mama kabari aja kalau sudah keluar tol. Kali aja aku belum pulang, masih di toko."


"Oke, Rahma. Mama bersiap dulu. Bye---"


Rahma kembali menatap Mizyan dengan kedua alis bertaut kala sambungan diputus dari sebrang. "Ada apa ya, kedengarannya serius sekali."


"Kita liat aja nanti. Jalan yuk!" Mizyan memilih bersikap biasa di depan Rahma dengan otak yang mulai merangkai rencana.


****


PENGUMUMAN


Dalam rangka bersyukur novel MJ menuju 100 bab. Juga dalam rangka ucapan terima kasih pada seluruh pembaca setia yag selalu support. Aku akan ngadain kuis berhadiah pulsa di bab 100 nanti. Kuis akan diadakan di GC Me Nia. Ingat ya, kuisnya di GC.


So, yg belum gabung di GC segera ajukan diri. Tapi inga-inga lg ya syarat masuk GC nya.


~ Syarat masuk GC : pembaca setia yg rajin memberi like, vote & hadiah. Juga sering atau sesekali komen. Claim via DM othor jika rajin mendukung tp belum di acc masuk GC krn antrian yg hrs diseleksi admin @Imas Perwati lumayan banyak.


Q : Sombong, thor. Pakai seleksi segala.


A : Jangan salah faham. Ini demi menjaga kondusifitas dari akun2 pembuat onar. Di GC, kita saling silaturahmi, bahagia n tertawa bersama.


Sampai ketemu di Bab 100. InsyaAllah.


😍😍😍


Me Nia

__ADS_1


__ADS_2