MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 154. Akhir Kisah


__ADS_3

5 tahun kemudian.


Tok tok tok.


Suara ketukan di pintu kamar kos terdengar. Bukan hanya sekali, berubah gedoran berkali-kali dan semakin keras diiringi panggilan nama penghuni kos.


Seorang wanita tua yang sedang meringkuk memakai daster berbalut sweater, menggeliat malas. Wajah yang kusam dengan garis-garis halus di kening dan sudut mata. Serta flek hitam di kedua pipinya yang tirus dan kendor. Rambut yang memutih dan acak-acakan. Sama sekali tak ada gairah untuk merawat diri.


Ia bangun dari kasur busa lantai dengan perlahan sebab kedua lututnya sudah mengalami pengapuran. Berjalan ke arah pintu dengan tertatih sebab tubuhnya pun telah ringkih.


"Eh mpok, saya mau nagih duit sewa kos. Mpok dah janji mau bayar hari ini." Pemilik kos langsung pada tujuan begitu pintu terbuka. Penghuni kosan itu sudah 3 bulan nunggak membayar sewa. Dan hari ini batas waktu kesabaran terakhir. Sesuai perjanjian, jika tidak bisa bayar maka harus angkat kaki dari kamar itu.


"Minta waktu seminggu lagi ya, Mbak. Saya pasti bayar. Lagi nunggu anak saya pulang." Sahut si penghuni kamar kos yang tak lain adalah Indah.


"Eh Mpok Indah, saya sudah bosen dikasih janji-janji mulu. Nunggu anak pulang segala. Anakmu pulang dari penjaranya masih lama 16 tahun lagi," sarkas pemilik kos.


Indah nampak terkejut. Bagaimana bisa pemilik kos itu tahu tentang keluarganya. "Eh mbak, jangan sembarangan ngomong ya. Anak saya lagi kerja di luar negeri. Saya ini keluarga kaya. Hanya sekarang lagi apes aja harta benda kena maling."


"Alah...mpok, udah miskin masih sombong. Serapih-rapihnya nyimpen ******, baunya kecium juga. Anakmu itu dipenjara karena menipu. Sudah lah, jadi mana duitnya?" Sang pemilik kos menengadahkan tangan.


"Sekarang belum ada. Minta waktu lagi lah seminggu!" Indah mencoba negosiasi.


Sang pemilik kos menghela nafas panjang. "Kesabaran saya dah habis, mpok. Maaf mpok harus keluar sekarang juga. Ada orang lain yang mau nyewa ini kamar. Saya dah rugi banyak ini, dah habis toleransinya. Silakan Mpok keluar!"


Ucapan terakhir pemilik kos mengiringi langkah Indah keluar dari pintu gerbang kos. Langkahnya tertatih sembari menenteng tas berisi pakaian dan bekal uang yang sudah menipis. Mencoba dihemat untuk tetap bisa makan tiap hari. Kehidupan yang berubah drastis 180 derajat sejak peristiwa pertengkaran Theo dan Alex.


Kala itu, suami dan anaknya bungkam tak mau menceritakan masalah yang sedang menimpa. Namun seminggu kemudian, telepon dari kantor Theo yang ia angkat menjadi titik awal tersibaknya pengkhianatan suaminya itu.


"Mohon maaf Bu, jajaran direksi memutuskan Pak Theo harus pensiun dini karena di grup WA kantor sudah tersebar hasil check up kesehatan bahwa Pak Theo mengidap HIV. Ini membuat seluruh karyawan resah dan mengancam akan melakukan mogok kerja jika Pak Theo masih bekerja di perusahaan."


Indah menyusuri trotoar di siang hari yang terik dengan pikiran kosong melayang ke masa lalu. Sebuah berita yang membuatnya syok dan penyakit jantungnya kumat. Seminggu lamanya harus dirawat di rumah sakit.


"Maafkan Papa, Ma. Papa menyesal....semua terjadi setelah Mama gak bisa lagi memenuhi kebutuhan batin Papa."


Setitik air jatuh membasahi pipi. Perih itu terungkit lagi sekarang. Indah terus berjalan hampa, mengikuti kemana kaki melangkah. Kilasan masa lalu bagaikan layar lebar terpampang di depan mata.


"Kami petugas dari Bank BCD, mau memasang plang dan segel. Mulai hari ini rumah ini disita."


"Hei, Anda salah alamat. Saya tidak pernah mengagunkan sertifikat rumah ini. Tolong lepas lagi plangnya!"


"Ini buktinya, Bu. Pinjaman atas nama Alex Maximus. Dari awal pinjam sama sekali belum membayar cicilan. Dan saudara Alex sudah menerima putusan sita."


Bukan itu saja kejutan yang Indah terima. Ia yang tidak pernah lagi bertemu Alex sejak rumah disita, sebulan kemudia mendapat kabar jika anak tirinya itu ditangkap polisi atas kasus jual beli mobil bodong dan penipuan judi online. Ketok palu hakim memutuskan hukuman penjara 20 tahun.


"Aku tidak mau hidup miskin, Pa. Kamu dan anakmu harus tanggung jawab! Kamu udah khiananti pernikahan kita, anakmu sudah mencuri rumahku. Dasar bapak dan anak breng sek." Indah meradang sembari memegang dada kirinya sebab jantungnya berdebar kencang dan nafasnya sesak.


Dan Theo hanya bisa mematung. Ia memang mengaku bersalah sudah memberikan sertifikat rumah pada Alex demi menutupi aibnya. Nasi sudah menjadi bubur. Dalam hitungan bulan setelah Alex dipenjara, Indah mengajukan gugatan cerai terhadap Theo. Tiga bulan proses sidang cerai, hakim mengabulkan keinginannya.


"Tak ada kata maaf untuk sebuah pengkhianatan." Kata terakhir diucapkan Indah di depan Theo sebagai ucapan selamat tinggal.


Kesedihan bertubi-tubi menimpanya. Perusahaan travel miliknya bangkrut sebab korupsi besar yang dilakukan manajernya. Membuat semua investor mencabut sahamnya dan menyita kendaraan travel dan aset perusahaan yang masih ada.


Lelah dan depresi. Indah terduduk di bawah pohon yang rindang. Tanpa pemasukan, seiring waktu barang berharga dan uang terkikis untuk kontrak rumah mewah dan biaya hidup serta biaya pengobatannya. Dan kini menjadi tunawisma sebab terusir dari rumah kosan yang murah. Lelehan air mata tak bisa dibendung. Meratapi nasib hidup yang menimpanya. Batinnya sungguh tertekan.


"Ahahaha...." Indah tertawa. "Hei, kalian pada gak tau saya ya. Saya ini nyonya besar. Sosialita gitu lho," ujarnya berteriak pada pejalan kaki dan pemotor yang lewat di depannya.


Orang-orang yang melihatnya hanya geleng-geleng kepala. "Dasar orang gila," maki seseorang sambil meludah di depan Indah.


"Alex diisolasi di penjaranya karena ODHA. Theo kemarin mati karena komplikasi AIDS stadium 4, hmmm syukurin." Indah meracau, lalu tertawa-tawa dan bertepuk tangan penuh kepuasan.


"Malik----" Mendadak teringat akan anak kandungnya. Keriangan Indah berubah kesedihan. Ia pun menangis, meraung, berteriak memanggil-manggil nama Johan Al Malik.


"Malik....maafin Mama." ujar Indah diantara sedu sedannya. "Sekarang Mama restui kamu nikah sama Rahma. Ayo sini nak peluk Mama," ujarnya bangkit menarik tangan lelaki yang akan menyebrang jalan.

__ADS_1


"Hei, orang gila lepasin!" Pemuda itu terkaget dan menghentak tangan. Sampai Indah oleng dan jatuh terduduk di aspal.


Sebuah mobil dinas sosial yang sedang rajia gelandangan, pengemis dan ODGJ berhenti. Pemuda tadi menunjukkan Indah pada petugas.


"Malik...kenapa kamu tega sama Mama." Indah berteriak saat petugas menyereretnya masuk dalam mobil bak terbuka.


"Sudah diem duduk tenang sama teman-temanmu tuh." Hardik petugas yang membuat tubuh Indah menciut di pojokkan mobil. Nasibnya akan berakhir di rumah singgah Dinas Sosial.


****


Bandung


Tangan Mizyan nakal menggerayangi dada Rahma yang sedang memakaikan dasi. Pagi ini ia akan berangkat ke kantor PT. MR Architeam. Perusahaan bidang arsitektur yang ia dirikan sejak 2 tahun yang lalu. Permintaan klien yang terus meningkat sudah tak mampu dihandle sendiri. Butuh kerja team sehingga ia pun merekrut orang-orang terpilih menjadi timnya. Di dalam gedung yang sama terdapat pula kantor PT. BKS, kantor pusat perusahaan kayu milik Papi Mark yang sudah diwariskan padanya. Sehingga Mizyan memiliki rangkap jabatan direktur di dalam gedung yang sama agar menghemat mobilisasi.


"Diem dong, Pa. Gak beres-beres nih dasi." Rahma mengerucutkan bibir. Posisi dasi miring lagi sebab Mizyan banyak gerak.


Cup.


Mizyan mengecup bibir tipis yang menggemaskan itu. Yang tak pernah bosan dicicipi selama hampir 7 tahun usia pernikahan.


"Adeeekkk....sepatu Abang sebelah lagi manaaa." Teriakan Dika di bawah, sampai terdengar ke kamar utama di lantai 2.


Rahma menghela nafas panjang. "Ya salam, Mentari bikin ulah apalagi dia." Ia mengusap dada. Harus ekstra sabar menahan kejengkelan menghadapi keusilan anak keduanya itu.


"Mentari itu foto copy Miki waktu kecil. Yang sabar ya, sayang." Rahma teringat ucapan Mami Kanti saat berlibur di rumahnya 6 bulan yang lalu. Sekalian menengok Morgan yang kuliah di kampus Dipati Ukur.


"Ayo kita liat!" Mizyan merangkum bahu Rahma keluar dari kamar. Menuruni anak tangga dengan santai mengingat sang istri sedang hamil anak ketiga.


"Abang, ada apa?" Rahma dengan lembut menyapa Dika yang duduk di sofa dengan kesal.


"Sepatu Abang gak ada sebelah. Pasti diumpetin adek." Dika menatap tajam Mentari yang mengelayut manja di lengan Papa Buye.


Giliran Mizyan yang menatap tajam anak gadis berkulit putih, berambut coklat pirang itu. "MENTARI PUTRI ABDILLAH!"


Mentari menyimpan sepatu di depan kaki kanan Dika. "Maafin adek ya, Bang. Jangan marah ya bestie---" ujarnya sembari mendekatkan wajah imutnya ke depan wajah abangnya yang sedang ngambek.


Membuat Dika tertawa sebab sang adik terus menggodanya.


"Janji jangan ulangi lagi ya!" Dika menerima uluran jari kelingking sang adik yang mengajaknya damai.


"May...." sahut Mentari sembari berlenggak-lenggok centil. "Maybe yes maybe no---" si centil pun berlari ke ruang makan untuk sarapan lebih dulu.


Mizyan dan Rahma saling pandang, sama-sama menggedikkan bahu. Dibalik kejahilan Mentari, sebenarnya dia adalah anak yang cerdas dan sangat menyayangi abangnya.


Usai sarapan bersama. Mizyan bersiap berangkat ke kantor. Ada Kevin sang asisten yang menunggunya di kursi teras.


"Aku mau sekolahnya diantar Papa." Rengek Mentari bergeming di ruang tamu. Tidak mau masuk ke dalam mobil yang dikemudikan Mang Timan, sopir pribadi keluarganya.


"Oke. Tapi pulangnya dijemput Mang Timan ya. Soalnya Papa harus lembur." mizyan mengalah pada keinginan anak gadisnya yang duduk di bangku TK B.


"Yes. Abang ayok naik mobil Papa!" Mentari menarik tangan abangnya usai mencium tangan dan perut bundanya.


"Sayang, Papa berangkat dulu!" Mizyan memeluk Rahma dan mencium keningnya. Terakhir mencium perut yang membuncit berusia 6 bulan itu.


"Jangan telat maka siang dan makan malam, Pa." Rahma mengingatkan Mizyan yang seminggu terakhir ini selalu lembur. Melepasnya di teras dengan ritual mencium tangan suaminya itu dengan khidmat.


Malam hari selepas magrib menjadi jadwal rutin mengaji untuk Dika dan Mentari. Dika akan menghubungi Oma Ima lewat sambungan video. Belajar tahsin jarak jauh diakhiri setoran hafalan surat juz amma. Bergabung dengan Om Kay dan Onty Kei. Dan selalu saja berisik dan berlomba untuk jadi yang pertama setor hafalan. Beruntung Oma Ima selalu bisa menenangkan keempat bocah, anak dan cucunya itu. Tidak sampai ada yang ngambek.


Malam minggu menjadi waktu libur mengaji. Rahma membebaskan anak-anak bermain gadget dalam pengawasan. Duduk bersama di ruang keluarga. Seperti malam minggu ini, Rahma tiduran manja di pangkuan Mizyan. Sementara Dika dan Tari anteng bermain game di karpet.


Mizyan. Seberapa pun padatnya jadwal pekerjaan, ia akan meluangkan akhir pekan sebagai family time. Baginya, mengumpulkan pundi-pundi rupiah tak akan ada puasnya. Keluarga lah harta yang paling berharga dari apapun.


Minggu pagi. Mizyan bersiap mengantar Dika berlatih inline skate. Kesukaan si sulung sejak kecil bermain sepatu roda, membuat Papa Buye mengarahkan Dika mengikuti sekolah inline skate sejak umur 5 tahun. Duduk di bangku kelas 1 SD memulai ikut kejuaraan dan berhasil menyabet juara ke 2. Skillnya terus diasah untuk menjadi atlit profesional kedepannya.

__ADS_1


"Bunda, Abang mau mampir dulu ke tempat Ayah ya." Dika meminta izin saat berada di teras bersiap berangkat.


"Boleh, sayang. Jangan lupa mendo'akan ya!" Sahut Rahma sembari mengusap rambut Dika yang tak nampak lagi kriwilnya sebab dipotong pendek mengikuti aturan sekolah.


Mentari datang sambil berlari mendekap boneka Micky mouse. "Abang, aku ikut ya plis," ukarnya sembari mengayun-ngayunkan tangan abangnya.


"Kakak Tari jangan ikut. Bentar lagi Om dan onty mau datang. Kasian kan gak ada temannya." Rahma memberi pengertian pada calon kakak itu. Dan Mentari pun mengangguk mengerti.


Semakin beranjak besar, wajah tampan Dika semakin mirip dengan Papa Buye. Orang tak akan mengira jika keduanya tak ada ikatan darah. Namun ikatan batin yang kuat membuat dua pria tampan beda generasi itu selalu kompak dalam penampilan dan kesukaan.


Berjongkok berhadapan di depan pusara, Mizyan memberi keleluasaan pada Dika yang selalu bercerita setiap mengunjungi sang ayah kandung. Dan ia selalu ada untuk mengantar Abang Dika berziarah.


"Ayah, hari ini abang mau latihan inline skate, untuk persiapan lomba bulan depan di Bali, Yah. Bismillah, abang bisa!" Dika memulai bercerita dengan semangat usai berucap salam.


"Nah kalo besok abang mau lomba hafiz di sekolah. Abamg udah berlatih sama Oma Ima. Insya Allah abang siap, Yah."


"Abang gak masalah gak jadi juara, Yah. Abang lagi nabung pengen buatin rumah buat ayah di surga."


Dika masih berlanjut bercerita tentang kegiatannya. Berakhir dengan mengangkat tangan mendo'akan Ayah Malik sebelum beranjak pergi. Dan mencium nisan bertuliskan Johan Al Malik


"Sudah, Bang?!" Mizyan menatap si sulung yang masih berjongkok. Dan dijawab dengan anggukkan.


"Let's go, Pa!"


Mizyan menyusuri jalan sambil merangkum bahu Dika keluar dari kawasan TPU dengan pusara seragam berumput hijau tertata rapih.


"Abis latihan kita ke mall ya!"


"Yes, Pa. Hunting kado buat ultah Bunda kan?!" Dika mendongak menatap Papa buye dengan wajah sumringah.


"Sure!" Mizyan menerima tos high five si sulung Dika yang nampak riang.


...T A M A T...


...***************...


Ungkapan cinta dan terima kasih yang mendalam kepada :




Allah Swt. Tempat kita bersandar memasrahkan segala pengharapan di jalan yang diridhoi Nya. Alhamdulillah, novel ini selesai bi idznillah.




Keluarga. Yang tak bisa ku sebut satu persatu. Mereka selalu ada membersamai dalam suka serta menjadi perisai dalam kesusahan dan duka.




All fans Melukis Senja. Terima kasih atas keikhlasan memberi dukungan dalam bentuk apapun. Hanya Allah sebaik-baik pemberi balasan.




Undur pamit. Mohon maaf masih banyak kekurangan pada isi cerita. Sampai jumpa di karya berikutnya.


Big Love 😍

__ADS_1


Me Nia


__ADS_2