MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 6. The New You


__ADS_3

Mizyan melangkahkan kaki dengan penuh percaya diri menuju ballroom hotel tempat berlangsungnya acara malam final Architect Community (AC) Award 20xx. Ia baru bergabung menjadi anggota sejak memutuskan menetap di Indonesia, lebih tepatnya di Bandung. AC yang berkantor pusat di Jakarta, tahun ini menjadikan Bandung sebagai tempat acara penganugerahan karya terbaik. Acara tahunan ini diselenggarakan guna memotivasi para arsitek untuk menghasilkan karya yang kaya inovasi.


Di dekat meja resepsionis, seorang wanita cantik bergaun hitam tanpa lengan, berdiri sambil tersenyum lebar menyambut langkah Mizyan yang kian mendekat.


"Kirain nggak akan datang..."


Leony, wanita cantik berdarah oriental itu menyambut Mizyan dengan pelukan cipika cipiki. Namun sebelum ekspektasinya terwujud, Mizyan menahan gerakannya.


"Sorry, Leon." Mizyan menggeleng.


"Sorry-sorry..." Leony tertawa kecil. "Gue lupa...you are the new you." Ia pun beralih hanya menjabat tangan Mizyan. Lalu keduanya saling bertanya kabar sebab sudah lama tidak bertemu muka.


"Hhh, tumben kayak cewek." Mizyan menilik tampilan Leony dari atas sampai bawah. Biasanya wanita dihadapannya itu selalu tomboy.


"Kondisional lah..." jawab Leony santai. "Kali aja lo fall in love." lanjutnya sambil menaik turunkan kedua alisnya.


"Nggak ***** gue." Mizyan memutar kedua bola matanya sambil bergidik. Membuat Leony memukulkan tas yang ditentengnya ke lengan Mizyan.


"Jason mana?" Mizyan beralih menanyakan partner tim Leony yang tak pernah lepas mengawal wanita tomboy itu kemanapun pergi.


"Udah nunggu di dalam. Kita masuk yuk"


"Sudah dimulai acaranya?"


"Belum. Kayaknya nunggu lo datang baru mulai."


"Lebay." Mizyan mendecak sebal dengan jawaban asal temannya itu.


Keduanya memasuki tempat acara usai memperlihatkan barcode undangan kepada petugas. Acara yang dihadiri sekitar 200 tamu undangan terpilih dari seluruh Indonesia tampak hampir memenuhi seluruh kursi yang tersedia. Mizyan dan Leony mendapatkan nomer urut kursi yang berdampingan. Di kursi belakang Leony sudah ada Jason menyapa keduanya.


"Yes. Sepertinya kita jodoh."


Mizyan tertawa sumbang mendengar celetukan Leony usai keduanya duduk manis. Ia sudah tahu dengan tabiat nyablak teman kuliah asal Surabaya itu yang kini bergabung di perusahaan properti milik orangtua dan mendirikan team arsitek sendiri.


"Awas lo pada kalau mesum, gue jitak." Jason mencondongkan badan berbisik memberi ancaman di tengah Mizyan dan Leony. Tentu saja itu sebagai joke di antara mereka bertiga.


Mizyan menyempatkan pula bertegur sapa dengan sesama tamu beda kota, sampai tiba sang pembawa acara memulai opening dengan meminta ketua AC memberikan sambutan. Satu persembahan lagu yang dibawakan penyanyi papan atas Indonesia usai sang ketua mengakhiri sambutannya, menjadi jembatan menuju pembacaan nomine tahap pertama.


Nomine kategori bangunan hunian pribadi - sub kategori proyek skala kecil adalah...


MC menyebutkan 3 perusahaan arsitek yang terpilih menjadi nominasi.


Dan pemenangnya adalah.....


Tepuk tangan bergemuruh kala perusahaan arsitek asal Jakarta menjadi pemenang dan perwakilannya didaulat naik ke atas panggung untuk mendapatkan hadiah simbolis uang juga piala.


Nomine kategori bangunan hunian pribadi - sub kategori proyek skala besar adalah..."


Kembali riuh tepuk tangan terdengar mengiringi pemenang kategori tersebut naik ke atas panggung.


Sebuah lagu dipentaskan kala break menuju pengumuman nomine berikutnya. Mizyan mulai merasakan tegang serta harap-harap cemas menanti MC membacakan nomine. Ia dan L&J Achiteam yang merupakan rintisan Leony dan Jason masuk dalam nomine kategori yang sama. Waktu yang ditunggunya pun tiba.

__ADS_1


Nomine Kategori Bangunan Hunian Publik – sub kategori Proyek Skala Besar – Medium, adalah:


Nagaya Villa karya L&J Achiteam


The Latansa Resort karya Mizyan Abdillah


Mataram Beach Resort karya PT. Pavilla


Dan pemenangnya adalah......Mizyan Abdillah dengan karya The Latansa Resort.


"Nggak salah kan kalau gue muji, you amazes me." Leony melakukan standing applause dan menyalami Mizyan dengan penuh euforia.


****


Mizyan menggulung lengan kemeja hitamnya hingga sikut. Jas yang dikenakannya ia simpan di jok mobil usai mengikuti acara award sampai akhir. Ini adalah kontes pertama yang ia ikuti. Dengan ijin dan dukungan Kemal sang owner resor, ia mendaftarkan karya yang ia buat dengan teliti dan sepenuh hati selama 4 bulan lamanya. Tak disangka malam ini menyabet juara pertama dan berhak mendapatkan hadiah uang 100 juta.


Bersama Leony dan Jason, ketiganya kini melangkah memasuki cafe untuk merayakan kemenangan. Lebih tepatnya Leony dan Jason yang memaksa Mizyan untuk mentraktir makan-makan sebagai selebrasi.


"Besok kita balik ke Surabaya"


"Kagak ada waktu lagi."


Benar juga ucapan Jason. Akhirnya Mizyan memutuskan membawa kedua temannya itu ke cafe zero. Sebab di sana tidak ada minuman beralkohol yang sengaja ia hindari.


"Silakan pesan sepuasnya!"


"Gue ke belakang dulu!"


"Bro, gaya amat. Dari mana kamu?" Willi menyambutnya dengan adu tos.


"Abis acara award. And I'm the winner." Mizyan mengacungkan telunjuknya sebagai simbol juara pertama. Juga memperlihatkan foto di ponselnya kala ia mencium piala sambil memegang simbolis hadiah uang.


"Gile...congrats, bro. You're deserve it (pantas mendapatkannya)." Willi memberi pelukan sambil menepuk-nepuk punggung Mizyan.


Ia tak bisa lama-lama bersama Willi sebab 2 temannya sudah menunggu. Begitu sampai di tempatnya duduk, sudah ada makanan dan minuman memenuhi meja.


"Gue coba hidangan termahal di sini."


"Nggak bikin lo bangkrut kan?"


Ujar Leony dengan santainya sambil menikmati special macaroni schotel yang masih hangat.


"Beli sekalian sama cafenya juga no problem."


"Njirrr kesombongan lo kumat lagi."


Tanggapan Jason membuat ketiganya tertawa lepas. Sebab teringat saat dulu pulang dari kampus dan singgah di sebuah cafe. Mizyan yang dulu prihatin, kerja sebagai sopir angkot untuk membiayai kuliahnya, dengan percaya diri mentraktir Leony dan Jason di cafe. Pertanyaan Leony dan jawabannya dulu sama persis dengan yang barusan terucap. Bedanya, dulu ia cuma omdo (omong doang), sampe akhirnya Leony yang sudah kaya dari lahir, membayar semuanya.


"Lo masih ingat aja, Jas." Sahut Mizyan di sisa tawanya yang masih ada.


"Of course. Waktu ngedate sama cewek yang ternyata banci juga gue masih inget."

__ADS_1


Kali ini Mizyan dan Leony yang mentertawakan kesialan Jason yang berhasil dikerjai oleh Mizyan yang dulu alias Michael.


Mizyan menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. "Gue minta maaf sama kalian atas kelakuan gue dulu." Ia berkata dengan binar kesungguhan. Ia mengakui kesalahan hidup yang banyak di masa lalu yang tanpa arah, bersikap jahil, dan mengikuti arus pergaulan bebas.


"Ishh, apaan sih jadi mellow gini." Leony menepiskan tangan di depan wajah sebab mendadak suasana menjadi hening.


"Bukan cuma lo yang punya masa lalu buruk. Kita juga sama kalee."


"And I'm apreciate with the new you."


"Muka lo keliatan shining and berkali lipat naik ketampanan lo. Cius lho!" Leony mengangkat 2 jarinya sebagai pernyataan kesungguhan.


Tengah malam, mizyan baru pulang ke rumahnya di komplek pesantren usai mengantarkan kedua temannya ke hotel. Satpam yang berjaga membukakan pintu gerbang untuknya. Tak lupa ia membawakan makanan untuk 2 orang petugas jaga yang dengan senang hati menerimanya.


Ia membuka pintu paviliun dengan kunci cadangan. Tampak Dado sudah lelap di kasur busa yang digelar di atas karpet. Terdengar dengkuran keras dengan mulut setengah terbuka, membahana dikesunyian malam. Ia yang awalnya merasa terganggu sampai tidak bisa tidur, makin lama makin terbiasa bisa beradaptasi dengan suara dengkuran Dado.


Mizyan meletakkan piala di atas meja. Ia duduk di singgasananya dengan kaki diselonjorkan ke depan. Tak menyangka, jika niat ikut kontes dengan nothing to lose tanpa beban, malah menjadikannya juara. Ia mengirimkan chat kepada Kemal, mengucapkan terima kasih berikut mengirimkan fotonya saat di podium.


Pandangannya bersirobok pada box berwana orange di ujung meja. Ia baru ingat, 2 box sudah diberikan kepada Umi. Ia meraih box bertuliskan Citarasa yang berisi pie buah.


"Ini toko kue favorit aku sama Mas Satya."


"Kuenya enak-enak lho."


Ucapan Rade yang antusias, terngiang kembali.


Ia menggigit sampai tengah, pie buah pertama. Mencoba merasai dengan memejamkan mata untuk memberi penilaian. Tekstur lembut, manisnya sedang, gurih susunya terasa, ditambah segarnya toping buah kiwi dan anggur lumer di mulut. Delicious.


Tak sadar dirinya mengacungkan jempol sambil mata tetap terpejam.


"Ownernya mbak Rahma. Yang suaminya meninggal itu..."


"Ini Mizyan sahabat saya."


"Kalau ketemu di jalan, jangan lupa menyapanya."


Sosok wajah imut menggemaskan yang bersembunyi di belakang ibunya, yang menatapnya malu-malu tiba-tiba hadir di pikiran. Membuatnya tersenyum tanpa sadar. Ia pun tersenyum untuk yang kedua kali, kala terbayang anggukan dan senyum tipis wanita itu.


Cantik kan?


Ia spontan mengangguk kala suara hati bertanya padanya.


"Astagfirullah hal'adziim..."


Pekik Mizyan terperanjat sambil duduk tegak. Ia mengusap wajah dengan kasar. Apa yang dilakukannya dari tadi?


Pie buah di dalam box tersisa 6. Itu berarti ia sudah menghabiskan 4 pie selama matanya terpejam.


Huft.


Ia beranjak mengambil air minum. Bukan untuk mengusir rasa kering di tenggorokan saja. Tapi juga mengusir bayangan yang tadi sempat singgah di pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2