MELUKIS SENJA

MELUKIS SENJA
Bab 110. Misi Percomblangan


__ADS_3

Bandung


Ponsel yang tersimpan di atas meja menggelepar. Mizyan menghentikan menggambar sketsa bangunan villa. Project Surabaya joint job dengan temannya, Jason. Senyumnya mengembang melihat nama pemanggil yang tampil di layar. Rangga calling.


"Ga, awas! Harus ngasih kabar baik!" Todong Mizyan usai menjawab salam yang diucapkan Rangga di ujung telepon. Nampak antusias dan tidak sabar menunggu laporan asisten ayahnya itu.


Terdengar helaan nafas panjang sebelum menjawab. "Saya mending disuruh kerja lembur daripada jadi duta perjodohan. Mana saya juga jones."


Mizyan tergelak lepas mendengar nada keluhan Rangga. "Tenang Jon, jodohmu soon to be."


"Bu Fatimah sudah datang, Mas. Awalnya Pak Mark tidak mau terima tamu yang tanpa janji dulu. Saya sudah jelasin jika kedatangan ibu pemilik rumah tahfidz itu karena disuruh Mas Mizyan. Sepertinya sebentar lagi Papi Mas akan telpon deh."


Lagi-lagi Mizyan mengulas senyum lebar. Misinya baru dimulai. Ia sudah meminta pendapat Rahma akan rencana menjodohkan sang ayah dengan pemilik rumah tahfidz yang bangunannya sedang direnovasi itu.


"Sayang, dulu Papi mengawasiku dari jauh. Termasuk mencari tahu profil wanita yang sedang aku dekati. Yaitu kamu. Makanya begitu aku minta izin untuk melamar kamu, Papi gak pakai pikir panjang. Langsung mengiyakan karena sudah tahu CV kamu."


"Sekarang giliran aku ingin mencarikan jodoh untuk Papi. Aku berharap Papi mau nikah lagi agar ada teman hidup, tidak kesepian. Karena kita tidak bisa tiap minggu datang ke Bogor nemenin Papi."


"Pertama kali ketemu dengan Bu Fatimah, aku langsung respect. Aku udah nyuruh orang menggali informasi tentang CV Bu Fatimah. Dia janda mati usia 45 tahun, tidak punya anak kandung. Attitude bagus, lembut keibuan dan tentu saja cantik. Hopely, bisa mendorong Papi memantapkan hati untuk meraih hidayah."


"Aku dukung, Mas. Bu Fatimah emang terlihat baik dan santun. Tapi pelan-pelan aja, buat senatural mungkin. Minta bantuan Mas Rangga juga. Kita harus pakai trik. Jangan terlihat kalau kita sedang berperan jadi mak n pak comblang. Kita gunakan pepatah jawa, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino."


"Hallo, Mas---"


Suara Rangga di ujung telepon membuyarkan lamunan tentang percakapannya dengan Rahma tiga hari yang lalu.


"Ah iya. Sekarang Papi udah nemuin Bu Fatimah belum?" Mizyan kembali fokus pada sambungan teleponnya.


"Belum. Bu Fatimah masih menunggu di ruang tamu. Pak Mark sedang menerima telepon dulu di ruang kerja."


"Eh Mas, sudah dulu. Pak Mark sudah keluar." Terdengar suara Rangga yang direndahkan seolah takut terdengar orang lain.


"Oke, Ga. Update terus ya." Mizyan menyimpan lagi ponselnya di atas meja dengan raut wajah sumringah.


"Papi, jangan bergelut terus dengan pekerjaan dan buku-buku bacaan. Papi harus merasakan kebahagiaan sejati dengan berhijrah dan menikah lagi." Batinnya melangitkan do'a berharap Allah menerangi hati sang ayah selebar-lebarnya dengan cahaya hidayah.


Pintu ruang kerja di dorong dari luar. Rahma masuk membawa nampan berisi teh dan cemilan sore.


"Happy banget, ada apa?" Rahma menautkan kedua alis melirik sang suami yang tengah senyum-senyum di kursi kebesarannya. Ia menata 2 gelas teh dan piring berisi lapis legit dan pie buah di meja sofa.


Mizyan beranjak berpindah duduk di sofa bersisian dengan Rahma. Menceritakan hasil percakapannya dengab Rangga barusan dengan wajah berbinar.


Rahma menyimak. Tak kalah senang mendengar misi percomblangan dimulai.


"Dika mana, Bun?" Mizyan melongok pintu ruang kerja yang terbuka sambil menyeruput tehnya. Tapi tidak ada sesiapa di luar.


"Bobo lagi. Barusan udah minum obat." Sahut Rahma yang sejak semalam begadang sebab Dika batuk pilek dan agak demam. Sang anak sering terbangun oleh batuk. Alhasil Rahma dan Mizyan ikut terjaga dan rutin mengecek kondisi badan sang balita yang menjadi pendiam namun tidak rewel saat sakit.

__ADS_1


Mizyan yang nampak khawatir, semalam mengajak Rahma untuk membawa Dika ke dokter atau memanggil dokter Rendi. Namun Rahma yang lebih berpengalaman dalam merawat anak, menolak dengan wajah tenang. Ia lebih tahu akan kondisi badan sang anak. Dan butuh berkali-kali meyakinkan Mizyan, jika obat yang ada di kotak P3K sudah lengkap untuk mengobati sakit akibat pancaroba itu.


"Panasnya udah turun, batuknya udah jarang, tinggal pileknya aja. Untuk sementara mandinya dilap pakai air anget aja." Lanjut Rahma yang hari ini memutuskan di rumah saja. Begitu pun Mizyan membatalkan meeting dengan kliennya. Mengganti dengan meeting virtual di ruang kerjanya demi menemani anak istri di rumah.


Mizyan mengangguk. Lega dengan perkembangan Dika yang tadi siang ceria dan meminta main sepatu roda. Namun Rahma tidak mengijinkan. Sebab malamnya bisa kambuh lagi demamnya. Menjadi ilmu baru buat Mizyan bagaimana cara menangani anak sakit.


Ponsel di atas meja kerja menggelepar. Mizyan berdiri, melangkah tergesa menuju meja.


"Sayang, telpon dari Papi." Mengacungkan ponselnya dengan menahan senyum.


****


Bogor


Mark selesai dengan telpon bisnisnya. Duduk sejenak di kursi kerjanya dengan punggung direbahkan ke sandaran kursi. Terperanjat cepat, hampir lupa ada tamu yang sedang menunggunya. Ia bangkit dan sekilas merapihkan penampilan pada cermin dengan bingkar kayu ukir yang tergantung di dinding. Pria paruh baya yang masih nampak gagah dengan gurat ketampanan yang masih melekat meski garis-garis halus nampak pada kening juga sudut mata.


Memasuki ruang tamu, Mark menatap sang tamu dari jarak jauh sampai langkah yang makin mendekat. Memperhatikan seksama wanita dewasa yang duduk dengan kepala menunduk sambil memainkan jemari.


"Ehmm. Selamat sore." Mark menyapa lebih dulu. Membuat sang tamu terperanjat kaget dan langsung berdiri.


"Sore, Pak. Mohon maaf mengganggu waktunya." Fatimah membuka suara dengan gugup sebab mendapat tatapan tajam dari sepasang mata hazel yang terasa menghujam. Membuatnya harus menelan saliva dan menundukkan pandangan untuk menenangkan rasa yang tegang.


"Ada yang bisa saya bantu, Bu---" Mark menggantung ucapan. Lupa akan nama yang dijelaskan Rangga sebelumnya. Jika tamunya itu disuruh Mizyan datang menghadapnya.


"Fatimah. Nama saya Fatimah, Pak. Saya ke sini disuruh Pak Mizyan memperlihatkan berkas ini." Fatimah mulai tenang dalam berucap. Mengangkat berkas yang ada di samping tempat duduknya.


Mark baru sadar jika keduanya mulai berbincang masih dengan posisi berdiri berhadapan terhalang meja. Ia pun mempersilahkan tamunya duduk.


"Bagian ruang dalam musholla desainnya masih flat tanpa variasi. Pak Mizyan meminta Anda yang membuat desain interior yang artistik katanya." Fatimah membuka berkas yang tadi ditunjukkan. Memperlihatkan halaman ke 10 berupa layout musholla bagian dalam.


"Kenapa saya?!" Mark nampak terkejut dengan kening mengkerut menatap lembar layout itu.


Fatimah menggeleng. "Saya tidak tahu. Mungkin Anda bisa tanyakan langsung pada putra Anda." Menundukkan pandangan lagi menghindari tatapan tajam yang seolah memindai keseluruhan penampilannya.


Mark menghela nafas. Termenung sejenak sambil memperhatikan tamunya yang sering menciutkan bahu dan menundukkan pandangan seolah takut terhadapnya.


Apa aku keliatan galak sampai dia menciut gitu.


Namun tak lama tanda tanya di hatinya. Ia permisi sebentar untuk menelpon sang anak di ruang kerja.


"Miki---" Ucapannya menggantung di udara sebab sang anak keburu menjawab cepat.


"Papi, Bu Fatimah sudah datang ya?!"


"Iya. Jelasin sama Papi maksudnya apa?" Mark melekatkan ponsel di telinganya.


"Gini, Pi. Aku sedang handle banyak project. Jadi minta tolong Papi yang mendesain interior mushollanya. Itu memang masih kosong, aku lupa kelewat waktu itu. Please ya Pi. Desainnya udah ditungguin soalnya." Suara Mizyan di ujung telpon terdengar berharap. Ia mempunyai bakat menggambar tentunya warisan dari sang ayah. Papi Mark juga dulu seorang arsitek. Namun memilih banting setir jadi pengusaha ekspor impor karena kecewa banyak desain karyanya dijual teman satu timnya dan kabur tanpa jejak menggondol uang milyaran.

__ADS_1


"Papi udah lupa cara menggambar." Mark mengelak untuk membantu anaknya itu.


"Papi jangan bohong. Itu kan desain ka'bah musholla di dalam villa buatan Papi. Aku sangat menyukainya serasa berada di Mekah. Sekarang tolong buatkan juga buat musholla rumah tahfidz, Pi. Papi bisa bertukar pikiran dengan Bu Fatimah mengenai konsepnya."


Kini Mark gak bisa mengelak setelah sang anak mengungkit hasil karyanya. Ia pun menyanggupi di akhir percakapan jarak jauh itu.


Di ruang tamu, Fatimah mendongak melihat kedatangan lagi sang tuan rumah.


"Baiklah, Bu Fatimah. Saya akan buatkan desainnya. Tapi saya butuh sharing pendapat dengan Ibu untuk konsepnya. Jangan sampai gambar yang saya buat menyalahi etika keislaman."


"Tapi sekarang mau Magrib. Besok bisakah datang ke sini lagi lebih siang agar sekalian desainnya bisa selesai hari itu juga."


Fatimah nampak berpikir keras. Mempertimbangkan permintaan Pak Mark. Orang yang sudah dikenal namanya dari mulut ke mulut sebagai dermawan namun baru kali ini bertatap muka langsung dengan orangnya.


"Insya Allah, Pak. Jam berapa saya harus datang?" Mendongak menatap lurus sang tuan rumah.


"Besok jam 2 siang."


Fatimah menganggukkan kepala.


"Kalau begitu saya permisi pulang, Pak Mark." Fatimah berdiri dan mengatupkan kedua tangan di dada dengan mengulas senyum tipis.


Mark terpana sesaat, melihat senyum yang baru terbit dari bibir tamunya itu. Menjadi kejutan sebab dari tadi ia menyaksikan wajah yang tegang dan gestur yang takut-takut terhadapnya.


"Pulang pakai apa, Bu Fatimah." Baru jali ini Mark menyebut nama sang tamu dengan lengkap.


"Tadi naik motor diantar adik. Sekarang mau minta dijemput lagi. Minta izin untuk nunggu di teras ya, Pak?" Fatimah mengepit tasnya. Bersiap melangkah menuju pintu keluar.


"Diantar Rangga aja pakai mobil. Gak usah telpon adiknya. Ini udah gelap mau hujan, khawatir bu Fatimah kehujanan di jalan." Tangannya dianglat sebagai isyarat. Menahan sang tamu yang membuka mulut untuk menjawab. Mark berteriak memanggil nama Rangga. Orang yang sebenarnya dari tadi mengintip dengan merekam video untuk dilaporkan pada Mizyan.


"Ya, Pak." Rangga datang dengan gestur normal seolah baru datang dari arah dapur.


"Antar dulu Bu Fatimah pulang!"


Perintah yang tidak boleh dibantah tentunya. Rangga mengangguk dan mengajak Fatimah untuk mengikutinya.


"Duh, saya jadi merepotkan Bapak nih." Fatimah tersenyum meringis.


Mark menggelengkan kepala.


"Hati-hati di jalan, Bu Fatimah."


Fatimah mengangguk dan mengulas senyum lebih lebar. "Saya permisi---Assalamu'alaikum." Merundukkan kepala sesaat, lalu berjalan mengikuti Rangga.


Mark terpana untuk kedua kali mendapat senyum yang enak dipandang itu.


"Wa'alaikum salam." Mark delay menjawab disaat sang tamu sudah tak terjangkau pandangan mata.

__ADS_1


Who is she?


__ADS_2