
Sebuah Villa nan klasik dengan nuansa serba kayu jati berdiri kokoh di atas bukit. Villa dengan landscape gunung salak dan hamparan padi yang hijau milik warga setempat juga miliknya, serta padang rumput tempat mengembala sapi miliknya pula, sungguh menawarkan ketenangan bagi siapapun yang singgah. Sunyi dari kebisingan kendaraan, hanya ramai oleh suara alam yang berasal dari kicauan burung, primata, dan hewan kecil lainnya.
Seorang pria berumur lebih dari setengah abad tengah berlari siang dengan track jalan setapak yang dikelilingi rimbunnya pepohonan, mengelilingi seputaran villa. Di belakangnya ikut pula berlari seekor anjing berjenis German Shepherd Dog, yang setia mengawal tuannya. Berukuran besar, lincah, pintar, dan protektif, anjing ini sudah setia mengabdi 5 tahun lamanya. Toby, nama anjing penjaga itu, dapat diandalkan untuk menghalau orang yang berniat jahat untuk mencuri meski hanya baru gelagat saja.
Sebuah motor trail dengan suara raungan mesin yang khas berhenti di dekat pria yang tengah melakukan colling down usai berlari dengan keringat yang masih bercucuran di wajah bulenya. Si Toby hanya menatap dengan lidah menjulur dan diam di tempatnya sebab kenal dengan orang yang turun dari motor trail tersebut.
"Pak, Mizyan ada di desa ini. Datang bersama Pak Yunus." Pria yang tak lain adalah asistennya yang bernama Rangga memberikan laporan sesuai berita yang didapat dari anak buahnya.
Mark Cornelius, nama pria paruh baya yang terlihat lebih muda dari usianya sebab rajin berolahraga, tampak menghentikan gerakan stretching nya tanpa menolehkan wajah menghadap sang asisten.
"My son----" Gumamnya pelan dengan seulas senyum mengiringi. Meski lirih namun Rangga masih bisa mendengar intonasi bahagia bossnya itu.
"Mungkin sudah saatnya Pak Mark bertemu anak kesayangan bapak itu." Rangga, saksi utama yang selalu mendampingi Mark Cornelius, betapa orangtua itu menyayangi sang anak dengan caranya. Meski merasa tak habis pikir, kala 3 tahun yang lalu berhasil mendapatkan jejak anaknya tapi memilih memantau dari jauh. Tak mau menunjukkan diri.
"That's right." Mark mengangguk. "Ini yang aku harapkan, dia yang datang menemukanku. Datang ke rumah yang akan menjadi miliknya kelak." Bola mata berwarna hazel itu tampak menerawang mengingat Michael kecil yang riang kala diajak berkuda di tempat wisata kuda di Semarang.
"Biarkan dia datang ke peternakan. Ajak dia berkeliling naik kuda seolah sedang mencari aku di sana. Baru nanti bawa ke villa."
Rangga menganguk patuh. Ia pun menaiki kembali motor traillnya yang tampak garang, dengan memakai helm cross untuk keamanan utama. Raungan nyaring knalpot memecah kesunyian bukit hijau. Ia menerbangkan motor trailnya di jalan tanah dan bebatuan yang menurun, untuk ke bawah melewati jalan desa menuju peternakan sapi.
"Toby, came on." Mark mengajak anjingnya berjalan santai menuju villa di mana ada pos penjagaan di dekat gerbang masuk yang selalu memantau keamanan seputaran villa.
****
"Perut harus full tank dulu sebelum menuju peternakan. Soalnya lumayan jauh," ujar Ibu Nur usai menyajikan menu makan siang di meja makan yang dibantu oleh Olla. Ada ikan nila goreng dadakan yang dijaring dari kolam belakang rumah serta tumis terong ungu yang masih panas. "Punten ya Mizyan, menunya saaya-aya (seadanya).
"Duh, saya malah ngerepotin semuanya." Mizyan tersenyum meringis menatap silih berganti Pak Yunus dan Ibu Nur serta Olla. Merasa tidak enak hati.
"Jangan bicara gitu. Anggap kita ini keluargamu juga. Jadi jangan sungkan." Lanjut Ibu Nur.
__ADS_1
"Ayo A iyan, mumpung masih hangat." Olla menengahi pembicaraan ibunya dan Mizyan agar acara makan segera dimulai. "Mau aku ambilkan apa?" tawarnya menatap wajah pria blasteran yang tampak fresh usai sholat Duhur di masjid bersama ayahnya.
"Makasih, Olla. Biar aku ambil sendiri," sahut Mizyan dengan senyum manisnya. Ia menyendok nasi plus nila goreng yang hangat menggugah selera makannya.
Pak Yunus melarang Mizyan membawa mobilnya sebab medan yang dilalui tidak semuanya beraspal mulus. Akan ditemukan jalan berlubang dan berbatu. Tidak cocok untuk mobil dengan bumper rendah seperti milik Mizyan.
"Kita ke sana pakai motor. Biar ringkas." Ujar Pak Yunus sambil membuka kunci pintu garasi dan mendorong pintu besi itu setengahnya.
Mizyan membelalakkan mata menatap 2 motor yang berjajar di garasi. Ada motor trail dan motor tiger. Ia lebih tertarik mendekati motor trail Kawasaki KLX yang gagah berwarna hijau kombinasi hitam. "Wah, pak Yunus hobinya nge trail ternyata."
Pak Yunus terkekeh lalu menggelengkan kepala. "Saya nggak berani pakainya. Itu mainannya Olla."
"Wah, serius pak?" Mizyan kembali membelalakkan mata dengan sorot tak percaya.
"Dulu Olla tuh tomboy. Waktu SMA, kalau yang lain ke sekolah pakai motor matic, Olla pakai trail. Lebih menantang, katanya. Tiap libur sekolah nge track ke gunung salak, ikut komunitas."
Mizyan mengangguk-ngangguk takjub. Tak menyangka jika dibalik keanggunan berbusana muslimah, Olla memiliki hobi yang memacu adrenalin.
Benar kata Ibu Nur, perjalanan menuju peternakan sapi cukup jauh dari pemukiman penduduk. Untung perut full tank.
"Eh ada pak Yunus." Seorang sekuriti yang merupakan tetangga Yunus menyapa dengan riang kedatangan tokoh masyarakat di kampungnya itu. "Ada keperluan apa ke sini, Pak?"
"Saya mau bertemu pak Emsi, Jang. Ada nggak?"
"Bapak-bapak, mangga teras ka lebet wae (silakan masuk saja)." Ujar seseorang datang tergopoh-gopoh sambil membukakan pintu gerbang peternakan sapi dengan plang terpasang bertuliskan PT. MC Indonesia.
Meski ada kerut heran tergambar di kening Yunus sebab tidak ada protokol pemeriksaan di pos jaga seperti biasanya. Malahan langsung disuruh masuk.
Mizyan malah tak berkata apapun. Ia penasaran dengan lingkungan peternakan yang tampak kecil dari luar tapi begitu memasuki pintu gerbang setinggi 2 meter itu tampak luas dengan jajaran kandang sapi di kiri dan kanan dan di kejauhan. Tampak pula aktifitas para pekerja yang sibuk memberi pakan. Ada pula yang tengah membersihkan kandang.
__ADS_1
Seorang pria berkuda datang mendekati Yunus dan Mizyan. Kuda berwarna coklat itu tampak meringkik kala rangga melakukan pengereman mendadak dengan menarik tali pelana. "Siang pak Yunus, apa kabar?" sapanya begitu turun dari kuda sambil menjabat tangan menyalami Yunus dan Mizyan.
"Saya mau ketemu Pak Emsi, Rangga." Sahut Yunus usai menjawab sapaan Rangga. "Ini ada yang pengen ketemu beliau." Tunjuknya pada Mizyan yang berdiri di sampingnya.
"Oh gitu. Tadi pak Emsi ada di sana." Sahut Rangga menunjuk jauh pada hamparan rumput di mana sebagian sapi tengah dibebas liarkan. "Ayo.saya antar ke sana."
Dua ekor kuda datang dituntun 2 orang karyawan peternakan. Rangga menyuruh Yunus dan Mizyan menaiki kuda tersebut sebab akan cape jika berjalan kaki.
Mizyan menatap seksama setiap kandang yang dilewatinya dengan berkuda secara berjalan santai. Ia melihat ada jenis sapi limosin yang besar-besar juga di kandang yang lain ada pula sapi lokal. Begitu sampai ke paling ujung tempat pengembalaan, rasa deg degan di dadanya makin keras bertalu. Ia sudah sangat penasaran melihat sosok wajah owner peternakan itu.
"Aduh maaf, barusan ada kabar kalau pak Emsi sudah pulang ke villa. Maaf---" Rangga tampak memperlihatkan sorot penyesalan menatap silih berganti terhadap Yunus dan Mizyan.
"Terus gimana?" Mizyan untuk pertama kalinya bersuara dengan nada kecewa.
"Hanya 1 orang yang bisa ke rumahnya. Jadi siapa yang mau ikut bersama saya?"
"Saya saja. Karena saya yang ada perlu terhadapnya." balas Mizyan terhadap Rangga.
Pak Yunus menepuk bahu Mizyan untuk memberi dukungan sebelum ia pulang menaiki motor sendirian. Sebab Mizyan akan ikut Rangga menaiki mobil menuju villa.
Sepanjang jalan menuju villa tak ada obrolan sama sekali. Keduanya saling diam. Mizyan tengah berpikir keras dengan hati deg degan begitu mobil memasuki gerbang villa. Berpikir apa yang harus dilakukannya jika benar orang yang akan ditemuinya adalah ayahnya. Ia sama sekali tak menikmati kesejukan dan keindahan villa itu sebab hati dan pikirannya tengah berkecamuk.
"Ayo!" Rangga menyadarkan Mizyan yang masih berdiri termenung di samping pintu mobil untuk mengikuti langkahnya menuju pintu masuk dengan hiasan ukiran jepara.
"Pak, tamunya sudah datang." Begitu kalimat Rangga yang didengar Mizyan entah ditunjukkan pada siapa. Sebab matanya tengah membelalak tajam pada potret besar yang terbingkai di dinding tembok.
"Papi----" Ucapnya dengan bibir bergetar dan langkah yang makin mendekat ke arah figura besar itu. Untuk meyakinkan pandangannya jika potret berpenampilan koboy itu adalah benar Mark Cornelius, sang ayah yang dicarinya.
"My son----"
__ADS_1
Ia membalikkan tubuh begitu mendengar suara yang familiar ditelinganya meski belasan tahun tak mendengarnya lagi. Tampak pria paruh baya berwajah bule berdiri tegap sejajar dengannya sambil merentangkan kedua tangan dan tersenyum lebar.